
Sebaiknya pembaca Portal Seks membaca kisahku sebelumnya, "Kenangan di Bali" sehingga dapat
mengikuti jalan cerita ini.
*****
Setelah permainan cintaku dengan Evi sore itu,
kami jadi sering melakukannya apabila ada kesempatan. Kadang kami bercinta di
Kamar Evi dan kadang di kamarku. Evi yang masih berusia 22 tahun itu bercerita
tentang hilangnya kegadisannya oleh pacarnya ketika masih SMA. Menurut
ceritanya dia dijebak pacarnya untuk minum-minum ketika perayaan ulangtahunnya
yang ke 17. Ketika dia mulai mabuk dia dibawa pacarnya dan di perkosa di hotel.
Tragisnya dia diperkosa secara bergantian oleh 2 orang teman pacarnya saat itu.
Paginya setelah sadar dia di antar pulang dan
pacar maupun kedua temannya menghilang entah kemana. Setelah lulus SMA akhirnya
dia memutuskan untuk kuliah di Bali jurusan hotel dan tourisme. Sejak kuliah di
Bali pun dia sudah beberapa kali melakukan sex dengan beberapa teman
kuliah-nya. Hubungan kami pun cuma sebagai teman, tidak lebih, hubungan kami
berdasarkan suka sama suka. Mungkin karena usia ku yang lebih muda. Hanya saja
aku dapat previlege untuk tubuhnya kapan saja aku mau. Hubunganku dengan Evi
pun tidak diketahui oleh Silvi kakaknya yang sudah bekerja di salah satu hotel
di kawasan Jimbaran.
Silvi, tidak kalah cantiknya dengan Evi.
Keduanya memiliki kulit yang putih bersih. Silvi lebih dewasa dalam pembawaan
dan enak juga diajak ngobrol. Karena Silvi juga cantik aku sering bercanda
dengan Evi mengatakan ingin tahu rasanya bila berhubungan dengan Silvi. Evi kadang
tertawa dan kadang marah kalo aku berkata begitu. Walau marah, Evi akan hilang
kemarahannya kalau kucumu lagi.
Seperti halnya sore itu, Ketika aku baru
pulang kuliah, kulihat kamar Evi terbuka tetapi tidak ada orang didalamnya.
Karena situasi kost yang sepi akupun masuk ke kamarnya dan mendengar ada yang
sedang mandi dan akupun menutup pintu kamar Evi. Sudah seminggu lebih aku
menginap di Denpasar karena sedang ujian akhir.
Setelah pintu kututup, kupanggil Evi yang ada
dikamar mandi.
"Vi, lagi mandi yah? tanyaku basa-basi.
Tidak ada jawaban dari dalam kamar mandi.
Akupun melanjutkan.
"Kamu marah yah Vi?, Maaf yah aku gak
kasih tahu kamu kalo aku mau nginep di Denpasar. Hari ini aku mau buat kamu
puas Vi. Aku akan cium kamu, bikin kamu puas hari ini. Aku aka.
"Mandi kucing kan kamu Vi mulai dari
ujung rambut hingga ujung kaki." Rayuku.
Masih tidak ada jawaban dari dalam kamar
mandi.
"Vi, ingat film yang dulu kita tonton
kan. Aku akan bikin kamu puas beberapa kali hari ini sebelum kau rasakan
penisku ini Vi. Aku akan cium vaginamu sampai kau menggelinjang puas dan
memohon agar aku memasukkan penisku".
Terdengar suara batuk kecil dari dalam kamar
mandi.
"Vi, kututup pintu dan gordennya yah
Vi". Akupun berbalik dan menutup gorden jendela yang memang masih terbuka.
Ketika gorden kututup, kudengar pintu kamar
mandi terbuka. Akupun tersenyum dan bersorak dalam hati. Setelah aku menutup
gorden akupun berbalik. Dan ternyata, yang ada dalam kamar mandi itu adalah
Silvi, kakak Evi, yang baru saja selesai mandi keluar dengan menggunakan
bathrope berwarna pink dan duduk diatas tempat tidur dengan kaki bersilang dan
terlihat dari belahan bathropenya.
Kaki yang putih terawat, betisnya yang indah
terlihat terus hingga ke pahanya yang putih, kencang dan seksi sangat menantang
sekali untuk dielus. Belum lagi silangan bathrope di dadanya agak kebawah
sehingga terlihat dada putih dan belahan payudaranya. Kukira ukuran Branya
sedikit lebih besar dari Evi, karena aku belum pernah menyentuhnya.
"Evi sedang ke Yogya, dia sedang Praktek
kerja selama 2 bulan" Kata Silvi sambil memainkan tali bathrope-nya.
"Jadi selama ini kamu suka make love ya
sama Evi, padahal aku percaya kamu tidak akan begitu sama adikku"
"Maaf Mbak, aku gak tahu kalo yang
didalam itu Mbak Silvi" Kataku sambil mataku memandang wajah Silvi.
Rambutnya yang hitam sepundak tergerai basah.
Dada yang putih dengan belahan yang terlihat cukup dalam. Paha yang putih mulus
dan kencang hingga betis yang terawat rapih. Kalau menurutku Silvi boleh
mendapat angka 8 hingga 8,5.
"Lalu kalo bukan Mbak kenapa?, Kamu
enggak mau mencium Mbak, buat Mbak puas, memandikucingkan Mbak seperti yang
kamu bilang tadi?" Tanya Silvi memancingku.
"Aku sih mau aja Mbak kalo Mbak
kasih" Jawabku langsung tanpa pikir lagi sambil melangkah ke tempat tidur.
Sebab sebagai laki-laki normal aku sudah tidak kuat menahan nafsuku melihat
sesosok wanita cantik yang hampir pasti telanjang karena baru selesai mandi.
Belum lagi pemandangan dada dan putih mulus yang sangat menggoda.
"Kamu sudah lama make love dengan Evi,
Ren?" Tanya Silvi ketika aku duduk di sebelah kirinya. Aku tidak langsung
menjawab, setelah duduk di sebelahnya aku mencium wangi harum tubuhnya.
"Tubuh Mbak harum sekali", kataku
sambil mencium lehernya yang putih dan jenjang.
Silvi menggeliat dan mendesah ketika lehernya
kucium, mulutku pun naik dan mencium bibirnya yang mungil dan merah merekah.
Silvi pun membalas ciumanku dengan hangatnya. Perlahan kumasukkan lidahku ke
dalam rongga mulutnya dan lidah kami pun saling bersentuhan, hal itu membuat
Silvi semakin hangat.
Perlajan tangan kiriku menyelusup ke dalam
bath robenya dan meraba payudaranya yang kenyal. Sambil terus berciuman kuusap
dan kupijat lembut kedua payudaranya bergantian. Payudaranya pun makin mengeras
dan putingnyapun mulai naik. Sesekali kumainkan putingnya dengan tanganku
sambil terus melumat bibirnya.
Aku pun mengubah posisiku, kurebahkan tubuh
Silvi di tempat tidur sambil terus melumat bibirnya dan meraba payudaranya.
Setelah tubuh Silvi rebah, perlahan mulutku pun turun ke lehernya dan tanganku
pun menarik tali pengikat bathrope-nya. Setelah talinya terlepas kubuka
bathropenya. Aku berhenti mencium lehernya sebentar untuk melihat tubuh wanita
yang akan kutiduri sebentar lagi, karena aku belum pernah tubuh Silvi tanpa
seutas benang sedikitpun. Sungguh pemandangan yang indah dan tanpa cela sedikit
pun.
Payudaranya yang putih dan tegak menantang
berukuran 36 C dengan puting yang sudah naik sangat menggairahkan. Pinggang
yang langsing karena perutnya yang kecil. Bulu halus yang tumbuh di sekitar
selangkangannya tampak rapi, mungkin Silvi baru saja mencukur rambut
kemaluannya. Sungguh pemandangan yang sangat indah.
"Hh" Desah Silvi membuyarkan
lamunanku, Aku pun langsung melanjutkan kegiatanku yang tadi terhenti karena
mengagumi keindahan tubuhnya.
Kembali kulumat bibir Silvi sambil tanganku
mengelus payudaranya dan perlahan-lahan turun ke perutnya. Ciumanku pun turun
ke lehernya. Desahan Silvi pun makin terdengar. Perlahan mulutku pun turun ke
payudaranya dan menciumi payudaranya dengan leluasanya. Payudaranya yang kenyal
pun mengeras ketika aku mencium sekeliling payudaranya.
Tanganku yang sedang mengelus perutnya pun
turun ke pahanya. Sengaja aku membelai sekeliling vaginanya dahulu untuk
memancing reaksi Silvi. Ketika tanganku mengelus paha bagian dalamnya, kaki
Silvi pun merapat. Terus kuelus paha Silvi hingga akhirnya perlahan tanganku
pun ditarik oleh Silvi dan diarahkan ke vaginanya.
"Elus dong Ren, Biar Mbak ngerasa enak
Ren" Ucapnya sambil mendesah.
Bibir vagina Silvi sudah basah ketika
kesentuh. Kugesekan jariku sepanjang bibir kemaluan Silvi, dan Silvi pun
mendesah. Tangannya meremas kepalaku yang masih berada di payudaranya.
"Ahh, terus Ren", Pinggulnya makin
bergyang hebat sejalan dengan rabaan tanganku yang makin cepat. Jari-jariku
kumasukkan kedalam lubang vaginanya yang semakn basah.
"Ohh Ren enak sekali Ren", desah
Silvi makin hebat dan goyangan pinggulnya makin cepat.
Jariku pun semakin leluasa bermain dalam
lorong sempit vagina Silvi. Kucoba masukan kedua jariku dan desahan serta
goyangan Silvi makin hebat membuatku semakin terangsang.
"Ahh Ren", Silvi pun merapatkan
kedua kakinya sehingga tanganku terjepit di dalam lipatan pahanya dan jariku
masih terus mengobok-obok vaginanya Silvi yang sempit dan basah.
Remasan tangan Silvi di kepalaku semakin
kencang, Silvi seperti sedang menikmati puncak kenikmatannya. Setelah
berlangsung cukup lama Silvi pun melenguh panjang jepitan tangan dan kakinya
pun mengendur.
Kesempatan ini langsung kupergunakan secepat
mungkin untuk melepas kaos dan celana jeansku. Penisku sudah tegang sekali dan
terasa tidak nyaman karena masih tertekan oleh celana jeansku. Setelah aku
tinggal mengunakan CD saja kuubah posisi tidur Silvi. Semula seluruh badan
Silvi ada di atas tempat tidur, Sekarang kubuat hanya pinggul ke atas saja yang
ada di atas tempat tidur, sedangkan kakinya menjuntai ke bawah.
Dengan posisi ini aku bisa melihat vagina
Silvi yang merah dan indah. Kuusap sesekali vaginannya, masih terasa basah.
Akupun mulai menciumi vaginanya. Terasa lengket tapi harum sekali. Kukira Silvi
selalu menjaga bagian kewanitaannya ini dengan teratur sekali.
"Ahh Ren, enak Ren", racau Silvi.
Pinggulnya bergoyang seiring jilatan lidahku di sepanjang vaginanya. Vagina
merahnya semakin basah oleh lendir vaginanya yang harum dan jilatanku. Desahan
Silvi pun makin hebat ketika kumasukkan lidahku kedalam bibit lubang vaginanya.
Evi pun menggelinjang hebat.
"Terus Ren", desahnya. Tanganku yang
sedang meremas pantatnya yang padat ditariknya ke payudara. Tnagnku pun
bergerak meremas-remas payudaranya yang kenyal. Sementara lidahku terus menerus
menjilati vaginanya. Kakinya menjepit kepalaku dan pinggulnya oun bergerak
tidak beraturan. Sepuluh menit hal ini berlangsung dan Silvi pun menalami
orgasme yang kedua.
"Ahh Ren, aku keluar Ren", aku pun
merasakan cairan hangat yang keluar dari vaginanya. Cairan itu pun kujilat dan
kuhabiskan dan kusimpan dalam mulutku dan secepatnya kucium bibir Silvi yang
sedang terbuka agar dia merasakan cairannya sendiri.
Lama kami berciuman, dan perlahan posisi
penisku sudah berada tepat didepan vaginanya. Sambil terus menciumnya
kugesekkan ujung penisku yang mencuat keluar CD ku ke bibir vaginanya. Tangan
Silvi yang semula berada disamping bergerak ke arah penisku dan menariknya.
Tangannya mengocok penisku perlahan-lahan.
"Besar juga punya kamu Ren, panjang
lagi" Ucap Silvi di sela-sela ciuman kami.
Sambil masih berciuman aku melepaskan CDku
sehingga tangan Silvi bisa leluasa mengocok penisku. Setelah lima menit akupun
menepis tangan Silvi dan menggesekkan penisku dengan bibir vaginanya. Posisi
ini lebih enak dibandingkan dikocok.
Perlahan aku mulai mengarahkan penisku kedalam
vaginanya. Ketika penisku mulai masuk, badan Silvi pun sedikit terangkat.
Terasa basah sekali tetapi nikmat. Lobang vaginanya lebih sempit dibandingkan
Evi, atau mungkin karena lubang vaginanya belum terbiasa dengan penisku.
"Ahh Rensha.. Begitu sayang, enak sekali
sayang" Racaunya ketika penisku bergerak maju mundur. Pinggul Silvi pun
semakin liar bergoyang mengimbangi gerakanku. Akupun terus menciumi bagian
belakang lehernya.
"Ahh.." desahnya semakin menjadi.
Akupun semakin bernafsu untuk terus memompanya. Semakin cepat gerakanku semakin
cepat pula goyangan pinggul Silvi. Kaki Silvi yang menjuntai ke bawah pun
bergerak melingkari pinggangku. Akupun mengubah posisiku sehingga seluruh badan
kami ada di atas tempat tidur.
Setelah seluruh badan ada diatas tempat tidur,
akupun menjatuhkan dadaku diatas payudara besar dan kenyalnya. Tanganku pun
bergerak ke belakang pinggulnya dan meremas pantatnya yang padat.
Goyangan Silvi pun semakin menjadi-jadi oleh
remasan tanganku di pantatnya. Sedangkan pinggulku pun terus menerus bergerak
maju mundur dengan cepat dan goyangan pinggul Silvi yang semakin liar.
"Ren.. Kamu hebat Ren.. Terus Ren.. Penis
kamu besar keras dan panjang Ren.. Terus Ren.. Goyang lebih cepat lagi
Ren.." begitu racau Silvi di sela kenikmatannya.
Aku pun semakin cepat menggerakkan pinggulku.
Vagina Slvi memang lebih enak dari Evi adiknya. Lebih sempit sehingga penisku
sangat menikmati berada di dalam vaginanya. Goyangan Silvi yang makin liar,
desahan yang tidak beraturan membuatku semakin bernafsu dan mempercepat
gerakanku.
"Mbak aku mau keluar Mbak" Kataku.
"Di dalam aja Ren biar enak" desah
Silvi sambil tangannya memegang pantatku seolah dia tidak mau penisku keluar
dari vaginanya sedikitpun.
"Ahh" Desahku saat aku memuntahkan
semua cairanku kedalam lubang rahimnya.
Tangan Silvi menekan pantatku sambil
pinggulnya mendorong keatas, seolah dia masih ingin melanjutkan lagi, matanya
pun terpejam. Aku pun mencium bibir Silvi. Dengan posisi badanku masih
diatasnya dan penisku masih dalam vaginanya. Mata Silvi terbuka, dia membalas
ciuman bibirku hingga cukup lama. Badannya basah oleh keringatnya dan juga
keringatku.
"Kamu hebat Ren, aku belum pernah sepuas
ini sebelumnya" Kata Silvi.
"Mbak juga hebat, vagina Mbak sempit,
legit dan harum lagi." Ucapku.
"Memang vagina Evi enggak" senyumnya
sambil menggoyangkan pinggulnya.
"Sedikit lebih sempit Mbak punya
dibanding Evi" jawabku sambil menggerakkan penisku yang masih menancap di
dalamnya. Tampaknya Silvi masih ingin melanjutkan lagi pikirku.
"Penis kamu masih keras Ren?" tanya
Silvi sambil memutar pinggulnya.
"Masih, Mbak masih mau lagi?"
tanyaku
"Mau tapi Mbak diatas ya" Kata
Silvi.
"Cabut dulu Ren"
Setelah dicabut, mulut Silvi pun bergerak dan
mencium penisku, Silvi mengulum penisku terlebih dahulu sambil memberikan
vaginanya padaku. Kembali terjadi pemanasan dengan posisi 69. Desahan-desahan
Silvi, vagina Silvi yang harum membuatku melupakan Evi sementara waktu.
Hari itu sejak pukul lima sore hingga esok
paginya aku bercinta dengan Silvi, entah berapa kali kami orgasme. Dan itu pun
berlangsung hampir setiap malam selama Evi belum kembali dari Praktek Kerjanya
di yogya selama 2 bulan lebih. Kupikir mumpung Evi tidak ada kucumbu saja
kakaknya dulu.
TAMAT
Tidak ada komentar:
Posting Komentar