![ABG [portal seks]](http://gambar-telanjang.wen9.com/memek-ngangkang/memek-ngangkang4.jpg)
Namaku Memed, awas jangan salah menyebut
namaku menjadi memek, ketika itu (tahun 1978) umurku baru 12 tahun, namun
anehnya hasrat seksualku telah begitu kuat, sehingga kadang sulit untuk
diredam. Imajinasiku kadang demikian melambung mengkhayalkan hal-hal yang tidak
layak dipikirkan dan dikhayalkan anak seusiaku. Hasrat seksual itu sering
muncul begitu saja tanpa sebab yang jelas.
Pernah, suatu malam ketika keluargaku sedang
menonton TV. Kebetulan ruang nonton TV dalam keadaan gelap, karena lampunya
dimatikan, hanya diterangi oleh cahaya dari layar TV. Menjelang tengah malam
semuanya tertidur, kecuali aku. Aku melihat adikku Tuti, dua tahun di bawahku,
tepat berada di sampingku. Entah kenapa tiba-tiba hasrat seksualku muncul
tiba-tiba. Tanganku merayap, menyibakkan rok yang dipakai adikku, tanganku
perlahan-lahan meraba-raba belahan memek di balik celana dalamnya, yang
tentunya masih bersih belum tumbuh bulu sedikit pun. Keberanianku semakin
muncul, karena tidak ada reaksi dari adikku, kulepaskan tangan sambil sedikit
memiringkan tubuhku dan kucium bibirnya, tak ada reaksi.
Karena khawatir ketahuan yang lain, apa lagi
kalau adikku bangun, kuhentikan aktivitasku. Namun, debaran dada semakin
meledak-ledak, karena hasrat yang sangat sulit dibendung, tapi rasa takut
mengalahkan hasratku yang meledak-ledak.
Bayangan dan hasrat semalam tenyata masih
terbawa sampai esok harinya. Kepala terasa berat, menahan hasrat yang demikian
menekan. Sampai jam empat sore bayangan-bayangan kejadian malam malah semakin
menggila. Akhirnya aku mencari akal bagaimana melampiaskan hasrat tersebut. Aku
pergi ke belakang rumah dengan maksud untuk bermain sekedar menepis bayangan
semalam. Sesampainya di belakang, aku melihat dua ekor kambing betina.
Tiba-tiba muncul pikiran yang sebelumnya belum
pernah singgah, aku dekati kambing itu dan menatapnya dengan seksama, khususnya
bagian belakangnya, bagian yang tertutup ekornya. Kupegang dan kuusap-usap
bagian punggungnya dan terus ke arah belakang, sementara itu kontolku telah
sedemikian ngaceng di balik celana pendek yang kupakai.
Anehnya kambing itu diam saja ketika memeknya
kuusap-usap, seperti menikmatinya. Selama tanganku meraba-raba memek kambing
itu, pandanganku melihat-lihat jangan-jangan ada orang di sekitar situ dan
memergoki apa yang kulakukan. Lima belas menit kemudian, setelah yakin tidak
ada orang, kubuka resleting celanaku perlahan-lahan dan mengeluarkan kontolku
yang telah sedemikian ngaceng. Kontolku langsung keluar, karena memang aku
tidak pernah memakai celana dalam. Aku mulai memakai celana dalam setelah aku
kelas tiga SMP, dua tahun kemudian.
Perlahan-lahan kudekatkan kontolku dan
kugosok-gosok ke memek kambing itu. Perasaan enak terasa di ujung kontolku,
entah mengapa, mungkin karena imajinasiku membayangkan bahwa memek yang sedang
kugesek-gesek itu adalah memek adikku. Setelah merasa puas menggosok-gosok
kontolku, kumasukkan pelan-pelan kontolku ke dalam memek kambing betina itu,
hingga akhirnya masuk semua.
Ketika kontolku telah masuk semua, kambing itu
mengembik, namun suaranya terasa agak lain, lebih menyerupai erangan. Kukocok
pelan-pelan, takut mbek itu berontak dan kabur, karena tidak diikat. Namun
kambing itu tetap diam, malah terasa kambing itu seperti menggoyang-goyangkan
pantatnya dan menekan badannya ke arah belakang, sehingga kontolku semakin
dalam memasuki memek kambing itu. Sambil mengocok kontol, mulutku
menyebut-nyebut nama adikku, kadang teman-teman perempuan sekelasku, dan siapa
saja perempuan yang melintas dalam ingatanku.
"Oohh.. Tuti, memekmu enak sekali... oh
Mirna.. Henceutmu gurih, oh Maryam sayangku.."
Aku semakin mempercepat kocokan kontolku.
Mungkin karena baru pertama melakukan itu dan imajinasiku yang semakin
menggila, tidak lama terasa ada sesuatu mendesak dari dalam perutku yang
mengarak ke arah kontolku. Seluruh badanku terasa merinding menahan nikmat yang
sulit untuk dikatakan. Dan akhirnya, crot-crot.. Entah berapa kali. Kutekan
tubuhku dengan menarik tubuh kambing bagian belakang karena takut jatuh,
badanku terasa lemas. Setelah agak lama aku membiarkan kontolku di dalam memek
kambing itu, kucabut perlahan, terasa linu namun sangat-sangat enak. Setelah
kejadian itu, bila hasratku kembali muncul aku mendatangi kambing itu. Dan
kulakukan itu hampir tiap hari.
Tiga bulan kemudian, sepulang sekolah ketika
hasratku kembali muncul karena di sekolah melihat temanku yang pingsan dan
dengan tidak sengaja melihat celana dalamnya, hasrat seksualku muncul
sedemikian kuat. Aku pergi ke belakang rumah tempat biasanya sang kambing
merumput, aku tidak menemukannya di sana. Kucari ke tempat lain di sekitar
rumahku juga tidak ada. Di antara rasa penasaran, heran dan hasrat seksual yang
demikian kuat, kutanyakan kepada ibuku. Ia mengatakan bahwa kambing itu setelah
aku pergi sekolah dibawa ayah untuk dijual ke Pak Lurah. Walaupun penasaran aku
tidak bisa bilang apa-apa, namun demikian ternyata tidak juga menyurutkan
hasrat seksualku. Aku kembali ke belakang rumah, mencari akal untuk
melampiaskan hasratku yang tidak kunjung terpuaskan.
Tak jauh di belakang rumahku terdapat kebun
yang ditumbuhi tanaman jagung, luasnya hampir lima hektar. Di situlah biasanya
aku bermain. Aku biasanya bermain sendirian, entah mengapa aku tidak begitu
suka main dengan teman sebaya. Sesampainya di tengah-tengah kebun jagung, di antara
pohon-pohon jagung aku duduk sambil meluruskan kaki. Tanpa sadar tanganku
mengusap-usap kontolku dari luar celana. Karena asyiknya, tanpa kuketahui
tiba-tiba di depanku ada seekor ayam betina yang sedang mencari makan. Entah
pikiran dari mana, tiba-tiba aku punya pikiran untuk menyetubuhi ayam itu.
Pelahan-lahan sambil mengendap-endap kudekati
ayam itu, dan kutangkap. Ternyata ayam itu milik orang tuaku. Karena aku biasa
memberinya makan sehingga ayam itu dengan mudahnya kutangkap, walau pun tetap
saja mau melepaskan diri, mungkin karena merasa diganggu saat sedang
enak-enaknya makan.
Ayam itu kuusap-usap kepala dan punggungnya
supaya diam. Setelah tenang, kubuka resleting celanaku dan kukeluarkan
kontolku. Sambil kupegang ayam itu dengan kedua tanganku, pelan-pelan
kudekatkan pantat ayam itu ke kepala kontolku, dan kutekan pelan-pelan. Karena
kontolku sedemikian ngacengnya dan keras, sedikit demi sedikit kontolku masuk
ke dubur ayam itu, terasa sulit dan pedih-pedih enak, namun kutekan terus. Ayam
itu berontak dan berkotek-kotek serta berusaha melepaskan diri. Kupegang lebih
kencang karena takut lepas, sambil ditekan lebih kuat. Akhirnya seluruh
kontolku masuk. Ayam itu tetap berkotek dan berusaha melepaskan diri.
Pelan-pelan ayam itu kuangkat sedikit dan
kutekan kembali perlahan-lahan dan akhirnya semakin kencang. Aku ingin
cepat-cepat menyelesaikan 'proyek' kecil yang mengasyikkan namun menegangkan
itu. Tak lama kemudian seluruh badanku terasa merinding menahan nikmat yang
sulit untuk dikatakan. Dan akhirnya, crot-crot.. Kutekan ayam itu ke belakang
supaya kontolku masuk lebih dalam. Setelah agak lama aku membiarkan kontolku di
dalam dubur ayam itu, kucabut perlahan, terasa linu namun sangat-sangat enak.
Ternyata, betul kata pepatah, tak ada perempuan, kambing dan ayam pun jadilah..
*****
Suatu hari, entah iblis mana yang
mengantarkanku ke pengalaman yang benar-benar aneh. Aku bermaksud mengembalikan
buku yang kupinjam dari salah seorang teman sekolahku, seorang perempuan, Yuli
namanya. Ia anak tetanggaku yang paling dekat dengan rumahku, oleh karena itu
aku agak berani meminjam buku. Ketika sampai di rumahnya, yang kutemukan hanya
ibunya yang sedang menjemur pakaian. Kutanyakan padanya, ia bilang bahwa Yuli
sedang bermain di belakang rumah atau paling di saung di kebun singkong, sedang
main dengan anjingnya.
Aku pergi ke belakang rumah Yuli, kucari-cari
tidak ada. Lalu aku masuk ke kebun singkong tidak jauh dari situ. Kulihat tak
jauh ada sebuah saung. Kudekati, tapi kudengar suara keluhan atau tepatnya
erangan yang sangat halus, namun kadang-kadang terdengar agak memburu. Aku
heran dan penasaran. Kuintip dari arah belakang saung melalui lubang yang agak
lebar. Kulihat Yuli sedang duduk, tapi rok bagian bawahnya terangkat ke atas,
dan tampak di bawahnya seekor anjing, kutahu nama anjing itu Bleki, sedang
menjilat-jilat kemaluan si Yuli. Mata si Yuli tampak terpejam, dan mulutnya
mengeluarkan suara seperti mengerang keenakan.
Aku heran akan tetapi entah bagaimana
tiba-tiba nafsu birahiku muncul dengan tiba-tiba dan kontolku terasa tegang.
Pelan-pelan aku melangkah ke depan saung dan perlahan masuk ke saung itu. Aku
membungkuk dan melihat apa yang dilakukan anjing itu. Tampak memek si Yuli
telah memerah dan basah oleh air liur anjing itu. Memeknya tampak masih bersih
tanpa sehelai pun rambut. Pelan-pelan anjing itu kuusap-usap dan kusingkirkan,
dan cepat-cepat kugantikan tugas yang sedang dilakukan anjing itu. Aku meniru
apa yang dilakukannya terhadap memek Yuli.
"Ehm.. Ohh.."
Terdengar Yuli mengerang agak kencang.
Pelan-pelan kuraba memek Yuli, dan kubuka belahannya. Tampak warna merah muda
yang sangat membangkitkan nafsu birahi itu terpampang di depanku. Berbeda
dengan memek kambing apalagi dubur ayam. Yang ini benar-benar lain dan sungguh
indah. Aku semakin semangat menjilat-jilatnya.
Semakin lama erangan Yuli semakin sering.
Tiba-tiba rambutku terasa ada yang memegang dan kepalaku semakin ditekannya
kuat-kuat.
"Oohh.. Enak.. Shht..!!" Aku semakin
bersemangat.
Tiba-tiba kepalaku dicengkeram dan
digoyang-goyang, terdengar Yuli berkata seperti terkejut..
"Siapa itu..?"
Aku menghentikan aktivitasku dan menengadahkan
kepalaku, tampak Yuli terkejut..
"Apa yang kamu lakukan?" Tanya Yuli,
tapi anehnya seperti tidak ada kesan yang memperlihatkan rasa malu, hanya
keheranan. Melihat itu, muncul keberanianku..
"Menikmati memekmu.."
"Oohh... kamu suka?"
"Suka sekali.. Lalu?" jawabku.
"Bagaimana kalau kita lanjutkan?"
tanya Yuli.
"Boleh?" aku bertanya tak percaya.
"Heem.. Tanggung, tapi jangan
bilang-bilang siapa ya?!"
"Ya.." jawabku sepat.
"Sini lihat kontolmu..!" kata Yuli
enteng.
Kubuka resleting celanaku dan kubuka celanaku.
Maka keluarlah kontolku yang sejak tadi sudah tegang dan keras. Yuli
memegangnya dan menariknya. Aku meringis kesakitan.
"Pelan-pelan dong..!" kataku.
"Aku sudah nggak tahan.. Ohh" ia
berkata setengah mengerang.. Ditariknya perlahan kontolku dan diletakkannya ke
memeknya dan digosok-gosoknya.
"Tekan-pelan-pelan Med..".
Aku menekannya pelan-pelan, tapi tiba-tiba
tumitku yang terlipat menindih batu yang agak runcing, aku kaget karena sakit.
Gerakanku yang tiba-tiba menekan kontolku, sehingga.. Bless... Ahh.. Aku dan
Yuli melenguh berbarengan. Anehnya kontolku bisa masuk dengan lancar. Dan
akhirnya seluruh batang kontolku masuk ke dalam memek Yuli. Terasa kenikmatan
yang sangat berbeda jauh dengan memek Kambing apalagi dubur ayam. Hangat, basah
dan terasa lebih lembut. Setelah dibiarkan beberapa lama, aku menarik dan
menekan secara perlahan, akan tetapi Yuli tampak liar menggoyang ke kiri dan ke
kanan secara bersamaan juga mendorong dan menarik..
Luar biasa, gadis kecil ini belajar dari mana?
Karena gerakan Yuli begitu atraktif, aku tak tahan lagi, dan tak lama
kemudian.. Crot.. Crot.. Aku mengeluarkan spermaku di dalam memek Yuli.. Dan
tampak Yuli pun mengerang dengan kuat.. Orgasme. Akhirnya kami berdua ambruk di
saung itu. Setelah agak lama, aku berkata...
"Kamu hebat dan tampaknya sudah
berpengalaman".
"Ya, berkat kamu dan si Bleki"
"Maksudmu?" tanyaku heran.
"Aku melihat kamu sering ngentot dombamu
itu, aku sering mengintipmu. Karena penasaran aku coba dengan anjingku, yakh
karena aku tidak punya kambing sepereti kamu"
"Oohh.." aku bergumam..
Sejak saat itu, aku sering bermain dengan
Yuli, baik di saung maupun di kebun jagung belakang rumahku. Pengalaman yang
benar-benar aneh..
TAMAT
Tidak ada komentar:
Posting Komentar