
Malam semakin larut, dingin, karena langit
terus mencurahkan air matanya sejak sore tadi, ditambah lagi ruangan itu ac
menyala sedari pagi. Novi melirik jam di ujung kanan tampilan monitornya, sudah
jam 3 dinihari.
Novi mulai merasakan kantuk menyerangnya,
matanya mulai berat, tapi mengingat kewajibannya, dia tetap berusaha untuk
menahan rasa kantuk itu. Sudah beberapa hari ini dia bekerja di sebuah warnet
milik sepupunya yang buka selama 24 jam. Dan malangnya, Novi harus menjaga
warnet itu saat malam hari.
awalnya ia enggan, tapi setelah diyakinkan
oleh sepupunya bahwa warnet itu aman di malam hari, maka akhirnya Novi terpaksa
menurutinya. Mau gimana lagi, Anto -sepupunya itu- itu bekerja malam hari
disebuah pabrik di daerah bekasi, dan baru bisa menggantikannya menjaga net itu
sepulang kerja sampai tengah hari, sedangkan Dimas yg biasa shift malam di net
itu sedang pulang ke kampung halamannya.
Malam itu cuma ada seorang pemuda yang sedang
main di warnet itu, usianya kira2 sebaya dengan calon suaminya di kampung.
Sejak sore pemuda itu sudah datang dan memang sejak awal Novi bekerja di net
tersebut, pemuda itu memang selalu datang sore hari dan baru pulang saat azan
subuh berkumandang.
Dia sempat berpikir tentang apa kerja pemuda
tersebut, karena dalam benaknya, tidak mungkin pemuda itu bekerja di siang hari
karena malam harinya dia selalu bergadang di net ini. Tapi dia sadar, inilah
kota besar, pemudanya tidak seperti di kampungnya yang biasa berada di masjid
saat malam tiba. Dia merasa beruntung karena calon suaminya adalah seorang
aktifis dakwah, sama seperti dirinya.
"Mbak, teh botol 1 ya?" Suara itu
mengagetkannya.
"Oh, iya Mas, silahkan." Jawabnya
"Loh kuncinya mana Mba?"
"Oh, iya, ini Mas" Jawab Novi sambil
menyerahkan kunci yang lupa diberikannya.
di Net tersebut, Lemari Es tempat penyimpanan
minuman memang sengaja dikunci karena seringnya para user yg tidak bertanggung
jawab mengambil minuman tanpa membayar saat sang operator sedang lengah.
Pikiran Novi kembali menerawang kepada sosok
calon suaminya. Lelaki yg sebenarnya sudah lama dia kenal, tapi baru bisa dia
dengar suaranya saat proses lamaran tepat 1 minggu sebelum Novi berangkat ke
Jakarta untuk bekerja pada sepupunya pemilik warnet ini.
Dia sengaja bekerja di jakarta menjelang
pernikahannya, Untuk menghindari hal2 yang tidak diinginkan, pikirnya.
Ya, dalam pikirannya,bisa saja mereka
terjerumus di dalam dosa.. Wong yang mereka yg baru pacaran saja bisa melakukan
hal2 nekad, apalagi dirinya yg sudah bertunangan. Walaupun dia yakin dia dan
calon suaminya tak mungkin melakukan hal2 yg dilarang agama meskipun mereka
sudah resmi bertunangan dan pelaksanaan akad nikahnya sendiri tinggal 2 minggu
lagi. Intinya, 2 minggu itu masih mungkin terjadi hal2 yg tidak diinginkan
olehnya.
"Tuh kan, bengong lagi, lagi mikirin apa
seh, Mba?? tiba2 pemuda itu sudah berada di sampingnya lagi, dan lebih
membuatnya kaget lagi.
"Eh, engga Mas, ada apa? Ada yg bisa saya
bantu?" jawabnya tergagap
"Itu mba, tolong Share-in file yg ada di
foldernya Dimas dong. Penting nih."
"Oh iya, sebentar ya" Novi pun
meraih Mouse dan mencari folder yg dimaksud, tapi entah karena apa, pemuda
tersebut tiba2 berkata "eh, maaf Mba, biar saya aja deh yg cari, gak enak
sama mba, mba kesana aja dulu sebentar."
Novi jd bingung, dia pun melangkah sedikit
menjauh, dalam hatinya, mungkin itu file rahasia yg tidak boleh dilihat oleh
siapapun, kecuali oleh Dimas. Setelah beberapa saat, pemuda itu berdiri dan
kembali mempersilahkan Novi duduk di bangku operator tersebut.
"Udah Mba, Makasih ya."ucapnya
sambil berlalu meninggalkan NOvi.
Novi kembali menatap jam di pojok kanan bawah
monitor, hampir 1/2 4. berarti, 1 jam lagi sepupunya pulang, dan dia bisa
istirahat setelah sholat subuh di rumah pamannya yg kira2 berjarak 100 meter
dari net itu.
tiba2 dia teringat sesuatu, tadi sore, sebelum
berangkat Anto sempat memintanya untuk memindahkan file2nya ke folder baru.
Setelah membuat folder baru,dia mulai mencari file2 milik Anto yg ternyata
bertebaran dimana-mana,tak terasa, saat azan subuh pekerjaan itu baru selesai,
benar2 si Anto itu, brantakan sekali sih orangnya.. PIkirnya dalam hati.
Tak lama, Anto masuk ke net, dia masih
keliatan segar meskipun baru pulang kerja.
"Gimana Nov? Rame Gak?? " Tanyanya
"Cuma ada 1 orang, itu yg biasa main dari
sore sampai pagi."
"Oh si Toni ya?" Biasa dia mah. Ya
udah km sana istirahat."
"Iya, aku pulang dulu ya.. Novi pun mulai
beranjak meninggalkan warnet menuju rumah sodaranya tersebut, keluarga
saudaranya tersebut pasti belum pada bangun, yah mau gimana lg, dia hanya
menumpang di rumah tersebut, mau bicara apa pun terasa tidak enak, untung saja
dia diberi pegangan kunci cadangan, jd dia tak perlu membangunkan orang2 yg
masih terlelap dalam tidurnya tersebut.
Esoknya
HUjan kembali turun sejak sore, dan kini
ditambah dengan suara petir yg sesekali menggelagar di atas sana.
Lagi-lagi, sama seperti kemarin, cuma ada si
pemuda yg bernama Toni di net itu.
Waktu menunjukkan pukul 1 dinihari ketika
tiba2 saja listrik padam.
"Yah Mba, gimana neh??" Kata Toni
setengah berteriak. Novi tidak menjawab apa2, dia sibuk mencari lilin untuk
menerangi ruangan itu.
"Payah deh, lagi seru2nya pake mati lampu
segala lagi," kata Toni yg sudah berdiri tak jauh dari Novi.
"Ada lilin, MBa??
"Ada ini baru ketemu, ini saya lg cari
koreknya"
"OH, ini aja, saya ada korek kok."
sigap tangan Toni menyalakan korek dan
mengarahkan apinya ke sumbu lilin yg disodorkan NOvi. Lalu lilin itu
ditempatkan tak jauh dari meja server. Lumayan menerangi ruangan tersebut.
Toni meraih bangku yg ada disamping, lalu
duduk disamping Novi.
Novi sempat merasa tidak nyaman dengan kondisi
tersebut, sebagai seorang akhwat - wanita yg aktif dalam kajian dan kegiatan
dakwah - suasana seperti itu jelas sangat tidak berkenan dalam hatinya.
Berdua2an dengan seorang pria yg tidak dikenalnya, dalam keadaan gelap dengan
penerangan bermodalkan secercah cahaya lilin, wew, jelas sangat tidak nyaman
baginya.
Tak sekalipun ia pernah mengalami saat2
seperti itu, tapi mau bagaimana lagi, keadaan memaksa, tak enak rasanya
mengusir langganan yang setiap malam selalu datang ke warnet itu seperti Toni.
Mereka diam, tak ada hal yang bisa dibahas
sebagai bahan pembicaraan.
setengah jam berlalu dalam keheningan, dan
listrik belum juga menyala. Kehiningan berlalu saat Toni meminta kunci kulkas.
"Haus nih mba, aku ambil minum ya."
untung saja Novi sudah hapal tempat kunci itu
biasa diletakkan, tak lama, kunci itu sudah berada di tangan Toni. Toni
bergegas mengambil minuman dan membuka tutup botolnya.
NOvi terperangah ketika Toni memberikannya
sebotol teh bot**l kepadanya.
"Biar gak ngantuk,"Kata Toni singkat
"Oh, iya makasih mas, ntar biar saya
bayar sendiri ya"
"Ah, jangan, biar saya aja. kan aku yg
ambilin"
"Yah, terserahlah," Akhirnya NOvi
mengalah karena merasa tak enak hati.
dia tak langsung meminumnya karena TOni lebih
dulu bertanya padanya.
"Katanya sebentar lagi mau nikah ya Mba?
"Iya Mas, kok tau? Dari Anto ya?
"Iya, tadi sore dia cerita. Tapi kok 2
minggu lagi nikah, mba malah ke jakarta n kerja disini?
"Ribet Mas ngejelasinnya. Intinya sih,
saya mau nahan diri, itu aja."
"Nahan diri? Nahan diri dari apaan? Tanya
Toni
"Dari nafsu, saya ngga mau melakukan hal2
yg mengundang saya pada maksiat bersama tunangan saya." Jawab Novi
"OH gitu toh, ic ic" Tony manggut2
seolah mengerti, padahal dia kurang paham apa yg dimaksud oleh NOvi.
"Di minum mba minumannya" kata Tony
mempersilahkan Novi untuk meminum minuman yg telah dibelikannya.
merasa tak enak, Novi pun meminum teh
pemberian Toni tersebut. Toni sendiri menatap sambil menyunggingkan senyum.
Tak lama setelah meminum minuman tersebut,
kantuk yg sangat hebat tiba menyerang novi, kepalanya juga terasa sangat berat.
Sempat di lihatnya jam yang baru menunjukkan pukul 2, setelah ia merasakan
matanya tak sanggup lagi menahan rasa kantuk yg mendadak tiba tersebut.
NOvi terbangun saat dia merasakan ada sesuatu
yg meraba payudaranya. dia seperti tersengat oleh listrik ribuan kilowatt saat
dia melihat jubah yg ia kenakan telah terbuka kancing di bagian depannya, dan
dia lebih terkaget2 lagi saat menyadari Toni sedang meraba payudaranya. Bra yg
dikenakannya sdh tidak menutupi 2 bukit indah yg menjulang tersebut.
"Ngapain kamu, tolong hentikan, jgn
macam2 kamu." katanya sambil berusaha menepis tangan Toni yg sedang
menggerayangi payudaranya. Tapi tangannya terasa sangat lemah, ia seperti tidak
punya tenaga untuk mengangkat tangannya sekalipun.
Toni hanya diam, dia tak menjawab apa2. cuma
Tangannya yg terus bergerak, meremas, dan sesekali menyentuh dengan lembut
puting payudara Novi dengan jarinya.
Tak cuma itu, Toni pun mulai menciumi bukit
indah itu, lidahnya mengulum dan menggigit kecil puting susu Novi yang masih
berwarna pink tersebut. Toni tahu betul, puting susu seperti yang ada
dihadapannya pasti belum pernah terjamah oleh lidah, bahkan oleh tangan lelaki
lain.
Toni tak menghiraukan gadis yang terus
berusaha meronta dengan tenaga nya yg lemah itu. Bahkan, tangannya pun mulai
bergerak kebawah, menyelusup masuk ke dalam celana dalam Novi setelah ia
membuka kancing rok yg dikenakan Novi.
Novi sedikit histeris ketika vaginanya
disentuh oleh jemari toni, tapi suaranya jelas tak kan terdengar oleh siapa2,
selain di luar sedang hujan, tak ada bangunan yg ada di dekat warnet itu,
satu2nya bangunan terdekat adalah rumah Anto, tempat Novi menumpang, itu pun
jaraknya lumayan jauh.
Toni mengusap gundukan bukit yg sedikit
berbulu itu, disentuh nya dengan lembut bibir vagina tersebut sampai akhirnya
Toni tak sabar dan segera melepaskan rok dan celana dalam yang membungkus
bagian bawah tubuh Novi.
Novi terus berusaha berontak dengan tenaga
lemahnya, rupanya, minuman yg diminumnya dicampur oleh obat bius oleh Toni,
entah kapan Toni memasukkan obat bius tersebut.
Usaha berontak Novi jelas tidak berarti apa2
bagi Toni, yang ada Toni malah semakin liar menciumi payudaranya.. jarinya pun
mulai berusaha untuk memasuki liang vagina Novi.
Novi menggigit bibirnya ketika dia merasakan
jari tengah Toni perlahan mulai masuk ke dalam vaginanya..
Perih.. dan dia pun merasakan ada sesuatu yang
mengalir dari dalam vaginanya..
"Oh, kamu masih perawan ya Nov??"
tanya Toni setelah ia melihat apa yg membasahi jarinya..
bukannya Iba dan menghentikan perbuatannya
Toni kembali memasukkan jarinya. dan mulai menggerakkannya keluar masuk secara
perlahan-lahan, dia melakukannya dengan lembut sambil bibir dan lidah nya tak
berhenti bermain di payudara gadis tersebut.
"argh .... tolong hentikan Ton."
kata Novi terbata-bata.
Nafasnya mulai memburu, tak dapat diingkari,
meski perih, meski kehormatannya sedang direnggut oleh Toni, ada perasaan aneh
yg menyelusup ke dalam sanubarinya.
Perasaan itu semakin menjadi2 saat jemari Toni
semakin bergerak cepat di dalam vaginanya yg terasa semakin licin oleh Toni.
entah karena sebab apa, Novi mulai
menghentikan usahanya untuk berontak, sebaliknya,dia malah menekan kepala Toni
dengan sisa tenaganya... tentu saja hal tersebut semakin membuat Toni terbenam
dalam bukit payudaranya, ciuman dan kuluman Toni pun semakin menggila, Toni
terus menjilati puting yang indah tersebut.
"Arghhhhh..... Ton....ARghhhh"
"Tolong hentikan Toooonnn..."
"Memek km rapat bgt Nov, aku suka, aku
juga suka sama puting susu km.." Jawab Toni sambil tangannya terus
mengocok vagina Novi.
Tubuh Novi seakan mengejang, dirasakannya
gerakan Toni menimbulkan perasaan yang sangat berbeda olehnya..
Rasa sakit yg tadi menderanya seakan telah
hilang, digantikan oleh suatu rasa yg belum pernah ia rasakan sama sekali
sebelumnya.
"Argh argh ......" Nafas Novi
semakin memburu, dia sudah tak dapat lagi berkata apa2...
"ssssssshhhh .... arghhhh." Novi mulai
mendesis, gairah mulai merasuki perasaannya.
Toni sendiri menjadi semakin menjadi, di
ambilnya tangan Novi dan dituntunnya tangan lembut tersebut ke arah penisnya.
Karena mulai dikuasai oleh gairah yg memuncak, tak sadar Novi menuruti pemuda
itu, dielusnya penis Toni yg masih terbungkus celana jins. Tak sadar pula ia
mulai membuka resleting celana tersebut dan menyelusupkan jemarinya ke dalam
celana dalam Toni.
Tubuh nya terus terasa kejang akibat gerakan
jari Toni di dalam vaginanya, gerakan Jemari toni pun semakin cepat, tak sabar,
ia menuntun tangan gadis itu untuk menyentuh penisnya.
"Pegang seperti ini Nov," Katanya
sambil membimbing tangan gadis itu untuk menggenggam penisnya..
"Ya Seperti itu. Arghhh..." Toni
berkata sambil merasakan nikmat ketika Novi mulai menggenggam penisnya.
Novi benar2 telah bergerak berdasarkan
instingnya, perlahan dia mulai menggerakkan genggamannya, dia gerakkan penis
Toni, diputarnya dengan bergairah.
"Arghhh Ton,,, Ton.." Novi meracau
dengan desahan nafasnya yg semakin tak beraturan..
dia benar2 merasakan kenikmatan dari gerakan
jari Toni yg keluar masuk vaginanya yg semakin basah. sesekali Toni menciumi
payudara gadis itu.
Mereka terus bercumbu di tengah temaram lilin,
suara rintik hujan semakin membuat Toni bergairah mencumbui gadis berjilbab
yang akan menikah itu.
Setelah beberapa saat, Toni melepaskan
jarinya, dia juga melepaskan genggaman tangan Novi dari penisnya. Novi menatap
penis Toni yg berjongkok di depannya..
Baru sekali ini ia melihat penis lelaki dewasa
langsung di hadapannya. Toni yg melihat gadis itu menatap penisnya, mulai
meraih kembali tangan gadis itu. Novi kembali meraih penis Toni yg sudah mulai
mengeras.
"Coba dicium Nov, pasti km suka"
katanya pelan, stengah berbisik.
Novi menatap penis itu. Ragu karena dia memang
belum pernah melakukannya. Di dorong oleh gairahnya, dia mulai mencium penis
itu, dikecupnya penis Toni. Toni tak diam, dielus nya kepala Novi yg masih
terbungkus jilbab besarnya.
Mullutnya mulai mendesis ketika Novi mulai
mengulum penisnya yg terasa semakin mengeras.
akhirnya, ia tak bisa menahan gairahnya...
Toni akhirnya merebahkan tubuh Novi di lantai, lalu ia merebahkan tubuhnya ke
arah yg berlawanan, ia membentuk posisi 69 yg biasa di lihat di video porno yg
sering dilihatnya.
Novi kembali menjamah penis yg sekarang ada di
depan bibirnya tersebut, Toni pun mulai memasukkan kembali jemarinya ke dalam
vagina Novi. Dia jg menciumi vagina tersebut, memainkan lidahnya di klitoris
gadis itu sambil jarinya tak berhenti bergerak keluar masuk vagina yg semakin
basah itu.
"arrrrghhh... nikmat bgt Nov, arghhh ...
Toni semakin bersemangat menjilati vagina
Novi, jarinya semakin cepat bergerak.
"Arghh Ton... " Novi terus mendesis
di sela kulumannya pada penis Toni.
Mereka terus saling menghisap dan
mempermainkan kelamin pasangannya beberapa saat.
Tak sanggup menahan perasaan yg semakin
membuncah, Toni kembali merubah posisinya.
kini dia berjongkok di depan paha Novi yg
masih berbaring. perlahan dia mengarahkan penisnya ke arah vagina Novi.
"Mauu aphaa km Tonn?" Tanya Novi
terbata
Toni tak menjawab, dia membuka paha gadis
tersebut, dan mulai mendekatkan penisnya...
Novi tak bisa mengelak,dia justru membuka
pahanya lebih lebar... dan dia sedikit histeris ketika penis toni yg membesar
itu mulai perlahan-lahan memasuki liang vaginanya.
"argghhhh .... pelan2 Ton, perih."
"Iya Nov, tahan ya..." jawab Toni
penuh perhatian..
dia terus berusaha memasukkan penis nya ke
dalam vagina Novi.
arghhh ... ssssshhhhh ... memekk kamu rapat
bgt Nov... aku suka ...
pelan tapi pasti akhirnya penis toni berhasil
masuk ke dalam vagina Novi.
"arghhh... Ton ..." Novi mendesis
menahan rasa nikmat yg tiada taranya itu. Tubuhnya bagai terbang ke awang2.
perlahan toni menggerakkan pinggulnya, menggerakkan
penisnya maju mundur di dalam vagina yg semakin terasa becek itu.. semakin lama
gerakannya semakin cepat.. membuat Novi semakin merasa terbang..
Novi pun akhirnya tak bisa diam, gairah
menuntutnya untuk menggerakkan pinggulnya. Mengimbangi gerakan Toni yg terus
menghajar vagina
Mereka saling mendesis merasakan kenikmatan,,,
"arghhh... enak Nov, nikmat bgt"
"Ton .... aku gak tahan" ceracau
Novi sambil menggerakkan pinggulnya semakin cepat. dia benar2 telah kehilangan
akalnya, dia hanya merasakan kenikmatan yg tiada tara saat itu...
Novi terus bergerak, tanganya mulai menekan
pantat Toni, ia ingin penis pemuda itu masuk semakin ke dalam liang vaginanya.
"argghhh Tonnnnnn.... trusssss"
sampai akhirnya, Novi benar2 merasakan
tubuhnya kejang, dia merasa ada yg meledak dalam tubuhnya. dia berusaha menahan
gerak tubuh Toni,, tapi pemuda itu tidak berhennti dan malah semakin
mempercepat gerakannya...
"Tonnnn.... argghhhhhh aku .......
"iya Novv.... argggghhh sabar, aku sudah
mau,,,,,
"arghhhh....."
akhirnya Toni merasakan ledakan itu, dia
hempaskan tubuhnya ke atas tubuh gadis dibawahnya.
Novi memeluk pemuda itu erat. membiarkan penis
yg masih berdenyut itu tetap berada dalam liang vaginanya...
akhwat itu sadar, ia telah khilangan
keperawanan dan kehormatannya yg telah ia jaga selama ini.
Tamat
Tidak ada komentar:
Posting Komentar