Senin, 04 Juni 2012

Kenangan [part.1]

0 komentar
Portal Seks

Ujian kenaikan kelas telah berakhir dan dengan nilai raport yang pas-pasan aku pun merangkak naik ke kelas 3. Berbeda denganku, Sonya, yang kali ini nilai raportnya naik dan menjadi rangking 3 di kelasnya melenggang mulus naik ke kelas 2 SMP, begitu juga dengan adiknya, Tia, yang nilai raportnya sama bagusnya dengan kakaknya, naik ke kelas 3 SD. Hal ini membuat bapak dan ibu Sis merasa gembira dan bangga terhadap anak-anak gadisnya.

"Tia, Sonya, papa dan mama sangat bangga pada kalian yang rajin belajar selama ini, untuk itu papa akan mengajak kalian berlibur ke Bali!" kata Pak Sis yang disambut dengan sorakan kebahagiaan oleh Tia dan Sonya.

"Si abang juga harus ikut ya Pa!" kata ibu Sis kepadaku yang langsung ditimpali oleh Pak Sis, "Iya, kamu juga harus ikut karena kata ibu, selama ini kamulah yang selalu membantu Tia dan Sonya dalam belajar, jadi kamu juga pantas mendapatkan hadiah!"

"Maaf Pak, Bu, kelihatannya saya tidak bisa ikut kali ini karena saya harus ke Jakarta berkumpul bersama keluarga, saya sudah kangen untuk bertemu ayah ibu serta adik-adik" Jawabku.

"Iya ya Pa, si abang ini khan sudah lama bersama keluarga kita, jadi dia pasti ingin berkumpul dengan keluarganya selama liburan ini." Kata Ibu Sis.

"Baiklah kalau begitu, sampaikan salam kami kepada orang tuamu ya!" Kata Pak Sis.

"Baik Pak!" jawabku.

Akhirnya, aku pun bisa berkumpul kembali dan menikmati masa liburan yang menyenangkan bersama keluargaku. Selama berlibur, kadang-kadang aku teringat masa indah bersama Sonya, di mana aku selalu memberinya kenikmatan oral seks sampai tubuh kecil itu menggelinjang-gelinjang tak karuan kala getar orgasme yang dahsyat melanda dirinya. Selama itu pun aku tidak pernah menagih janji Sonya untuk mengajak adiknya agar mau kuberikan pelajaran "os" ku. Setiap ada kesempatan yang menurutnya "aman" ia pasti memintaku untuk "memberinya", dan tentu saja selalu kuturuti karena aku juga sangat menikmatinya. Semakin hari permintaannya semakin sering, mungkin seiring dengan bertambah dewasanya Sonya dan hormon-hormon tubuhnya pun mulai aktif mengakibatkan nafsunya pun meningkat sampai-sampai terkadang aku harus menolaknya karena menurutku keadaan di rumah sedang "belum-aman".

Selain memberinya "os", aku juga sering mengajaknya menonton film yang bertema blowjob dan cumshots sambil memberinya semacam pengertian. Aku sangat berharap bahwa suatu hari nanti Sonya dengan kesadarannya sendiri, tanpa paksaan mau mengkaraoke milikku. Reaksi Sonya ketika menonton film-film tadi sebenarnya biasa-biasa saja karena memang ia telah sering kali kuperlihatkan adegan seperti itu, tetapi reaksinya berubah ketika suatu hari aku memperlihatkan kepadanya film bukkake jepang yang kupinjam dari temanku yang memang anak orang kaya itu.

Aku berani mengajaknya nonton malam itu karena bapak dan ibu Sis sedang menginap di luar kota sedangkan si Was, pembantu, sudah tidur di kamar belakang. Biasanya ketika menonton film blowjob dan cumshots, Sonya masih bisa bersenda gurau denganku sambil menggelitiki pinggangku dengan jarinya yang nakal secara tiba-tiba di tengah adegan yang sedang seru sehingga suasana pun berubah jadi canda dan tawa yang sering pula kuakhiri dengan memberinya "os".

Kali ini Sonya tampak terlihat serius, ia bertanya mengapa banyak sekali laki-lakinya yang hanya mengenakan celana dalam saja sedangkan perempuannya hanya satu dengan berpakaian semacam jas hujan yang tipis di ruangan yang besar itu. Aku pun segera menjelaskan bahwa tidak perlu khawatir, perempuan itu tidak akan disakiti, lalu kudekap dia dari samping sambil menemaninya menonton.

Kali ini tidak ada canda dan tawa karena Sonya terlihat sangat serius, ia sangat ingin mengetahui apa yang akan terjadi selanjutnya terhadap wanita tadi. Aku tersenyum kagum melihat rasa keingintahuan yang sangat besar dari gadis kecil yang cantik ini, sambil masih kudekap kubelai lembut kedua lengannya.

Terlihat di layar kaca, para pria melakukan onani dan mengeluarkan spermanya di dalam sebuah gelas besar yang sekarang mulai terisi setengahnya, sementara wanita satu-satunya dalam ruangan tadi juga tengah sibuk memberikan blowjob kepada beberapa pria lain yang tempatnya agak jauh dari gelas besar tadi.

Aku melihat raut kebingungan pada wajah Sonya mengenai apa sebenarnya yang sedang ia tonton, tetapi ia berusaha untuk tidak bertanya kepadaku seolah-olah ia ingin menemukan sendiri jawaban dari kebingungannya. Sonya terlihat takjub tatkala ia melihat bahwa gelas besar itu telah terisi penuh dengan sperma seluruh laki-laki yang ada di ruangan itu.

Kali ini terlihat wanita itu mendekati dan berdiri tepat di hadapan gelas besar yang sudah terisi penuh sperma itu dan ia didatangi oleh seorang laki-laki yang memakai baju lengkap (mungkin sang sutradara) yang berbicara pada si wanita tadi yang terlihat mengangguk-angguk dan tersenyum tanda mengerti.

Seusai memberikan mungkin semacam arahan (karena dalam bahasa Jepang, aku jadi kurang ngerti), sutradara itu pun pergi dan kamera didekatkan pada si wanita cantik yang kini sudah memegang gelas besar penuh sperma tadi dengan kedua tangannya. Wanita cantik itu kembali tersenyum di depan kamera dan membungkukkan badan tanda memberi hormat lalu.. lalu ia mulai meminum seluruh sperma yang ada di dalam gelas besar tadi.

Ketika pertama kali aku menontonnya di tempat temanku, aku benar-benar kaget setengah mati akan apa yang kulihat, tapi sekarang aku sudah bisa lebih mengontrol diriku, apalagi sekarang aku berada di depan Sonya. Aku segera melihat ke arah Sonya untuk mengetahui bagaimana reaksinya, dengan mata yang terus menatap ke arah layar kaca kembali terlihat raut wajahnya berubah dari serius menjadi raut wajah orang yang sedang terkejut, matanya terbelalak dan mulutnya membuka tapi tidak terucap satu kalimat pun, yang terdengar hanyalah suara desah keterkejutan, "Haah!?"

Sonya terus memperhatikan si wanita yang pada akhirnya berhasil menghabiskan seluruh sperma yang terdapat di gelas besar itu dengan meminumnya lalu ketika selesai ia tersenyum puas penuh kemenangan dan mengangkat gelas besar yang kini kosong itu tinggi-tinggi dibarengi dengan suara gemuruh tepuk tangan para lelaki yang ikut menyumbangkan seluruh sperma tadi.

Film itu pun selesai dan seperti biasa aku segera membereskan semuanya sementara Sonya terlihat masih duduk sendiri di sofa diam membisu seolah-olah ada sesuatu yang tengah mengganggu pikirannya. Setelah semuanya beres, aku datangi Sonya sambil kupegang kedua bahunya dan bertanya,"kenapa Sonya cantik?" kok kayak orang yang kebingungan sich?" Ia hanya menatapku dengan pandangan kosong tak menjawab pertanyaanku. "Tadi Sonya udah lihat khan bahwa abang tidak bohong!" wanita sangat menyukai meminum sperma dan Mbak yang tadi Sonya lihat sudah membuktikannya!" jelasku.

Sonya tetap diam tidak menjawab dan aku sungguh tidak tahu apa yang dipikirkannya, segera kuangkat badannya dan membawanya ke kamar tidurnya pelan-pelan agar adiknya, Tia, tidak terbangun. Setelah kuselimuti tubuhnya aku mengucapkan selamat tidur sambil sebelumnya kuberi dia ciuman lembut selamat malam di bibirnya yang tipis itu. Semenjak menonton film itu, perilaku Sonya menjadi agak aneh, ia menjadi agak pendiam dan terlihat ia menahan diri untuk tidak meminta "os" padaku.

Aku tahu hal itu dan menghormati keputusannya dan mungkin hal inilah yang membuat hubungan kami semakin dekat dan membuat rasa sayangku padanya semakin besar. Kira-kira dua minggu sampai aku berpisah dengan Sonya karena berlibur, aktivitas "os" untuk Sonya diistirahatkan dan ini membuatku sangat merindukan kehadirannya.

Liburan yang menyenangkan bersama keluargaku berakhir sudah, dan aku sudah harus cepat-cepat kembali ke kota kembang untuk persiapan sekolahku. Sore itu, ketika tiba di rumah, bapak dan ibu Sis menyambutku dengan hangat, mereka menanyakan kabar keluargaku dan kusampaikan bahwa mereka baik-baik saja lalu kuberikan oleh-oleh yang sudah dipersiapkan keluargaku khusus untuk bapak dan ibu Sis sekeluarga.

Aku bertanya ke mana Sonya dan Tia, karena aku tidak melihat mereka lalu ibu Sis menjawab bahwa Sonya dan Tia tadi diantar pergi berenang dan ditemani si Was. Ibu Sis juga merasa kaget ketika mendengar tiba-tiba Sonya ingin mengajak Tia, bapak dan ibu Sis untuk berolah raga renang, karena biasanya Sonya kurang menyukai olah raga.

Aku tersenyum senang mendengarnya karena akulah orang yang menganjurkannya agar berolah raga renang, karena selain menyenangkan berenang bisa membuat tubuh menjadi sehat dan juga membentuk tubuh menjadi indah. Bapak dan ibu Sis kemudian menyuruhku untuk beristirahat di kamar yang biasa kutempati, sementara mereka sibuk membereskan oleh-oleh yang kubawakan. Selesai membereskan barang bawaanku, aku pun tertidur karena lelah. Kira-kira pukul 20 aku bangun dari tidurku lalu beranjak menuju ruang makan, tetapi ketika melewati ruang tengah, aku bertemu dengan Tia dan Sonya yang sedang menonton TV. Mereka terlihat begitu senang melihatku dan langsung keduanya berlari ke arahku.

"Abaang, apa kabar, Sonya kangeen sekali sama abang!" kata Sonya sambil memeluk pinggangku dengan erat.

"Iya, Tia juga kangen sama abang!" kata Tia yang memeluk paha kiriku juga dengan erat.

"Halo anak-anak manis, abang juga kangen sama Sonya dan Tia!" kataku sambil membelai sayang kepala keduanya.

"Papa dan mama mana?" tanyaku.

"Sedang pergi!" kata Tia.

"Iya, ke kondangan perkawinan!" Sonya menimpali.

"Kalian kok ngga ikut?" tanyaku lagi.

"Tia capek!"

"Sonya juga bang, tadi khan kita abis berenang, jadi sekarang pengen istirahat sambil nonton kartun di rumah" jelas Sonya.

"Was mana?" tanyaku lagi.

"Udah tidur!" jawab Tia.

"Iya, dia juga khan capek berdiri terus di pinggir kolam ngeliatin kita berenang!" kata Sonya.

"Ya sudah, sekarang makan dulu yuk, abang sudah lapar nich!"

Mereka setuju, tapi dasar manja, Tia tetap bergelayutan di kaki kiriku, sehingga setiap aku melangkah ia pun ikut terangkat oleh kakiku sementara Sonya bergantungan di punggungku, mereka berdua tertawa-tawa gembira dan minta digendong keliling ruang tamu dua kali dulu baru menuju ruang makan, malam itu aku bahagia karena bisa membuat dua bidadari kecilku itu merasa gembira.

Selesai makan dan membereskan ruang makan, kami kembali ke ruang tengah untuk bersantai sambil menonton film kartun bersama-sama. Aku dan Sonya duduk di Sofa, sementara Tia duduk di karpet sambil memegang remote TV.

"Bang, waktu liburan, abang pernah mikirin Sonya nggak?" Sonya bertanya padaku.

Aku menatap ke arahnya dan menjawab "Iya sayang, tentu saja abang teringat sama Sonya dan juga Tia".

Mendengar jawabanku ia tersenyum senang.

"Memangnya ada apa cantik?" tanyaku.

"Iya, soalnya Sonya juga teringat terus sama abang", jawabnya.

"Itu namanya Sonya kangen sama abang" sambutku sambil menyentuhkan punggung tanganku dengan lembut ke pipinya yang mulus.

Tiba-tiba, Tia bangkit dari karpet dan berlari ke arah belakang sofa lalu berdiri tepat di belakangku, ia mengalungkan kedua lengannya di leherku dan menangkupkan wajahnya di pundak kiriku sambil berkata, "abaang, itu ada film hantu di TV, Tia takuut!".

"Tenang Tia, di sini khan ada abang dan Kak Sonya, jadi Tia tidak perlu takut", kataku sambil membelai kepalanya.

Bersambung...



Read More

Sabtu, 02 Juni 2012

The Club

0 komentar
Portal Seks
Seorang anak laki-laki masuk ke dalam suatu klub sex rahasia yang mempromosikan hubungan seks antar saudara, tetapi hanya setelah telah berhubungan kelamin saudarinya.

***

Joseph telah lama menantikan malam ini. Semua orang selalu membicarakan tentang klub itu tetapi tak seorangpun akan mekatakan secara persisn apa yang ada di dalam klub itu. Banyak issue yang mengatakan bahwa sering diadakan pesta sex liar untuk anggota klub.

Pada usia ke 15, ia telah banyak memikirkan masalah sex. Ia juga telah banyak menjumpai para anggota yang susianya sebaya dengannya atau sedikit lebih muda. Malam ini dia berniat untuk mendaftar ke dalam klub itu. akhirnya ia akan menemukan apa yang selama ini diperbincangkan orang.

Tak seorangpun akan menceritakan kepadanya tentang maksud mereka masing-masing. Bermacam-Macam pikiran jelek timbul dikepalanya ketika dia sedang duduk menunggu diluar ruang pertemuan itu. Sampai kemudian mereka memanggilnya untuk masuk keruang tersebut. Ruangan pertemuan itu terletak diluar ruang tidur pimpinan club.

Ia bisa dengar pergerakan dan tertawa genit yang berlangsung di dalam kamar tersebut. Untuk pertama kali dalam hidupnya dia mendengar suara wanita seperti itu. Ia melihat pada dirinya sendiri. Ia telah mengenakan pakaian persis seperti apa yang telah diperintahkan; sepasang celana dan kemeja, dan telanjang kaki tanpa mengenakan sepatu.

Shelly adiknya yang berusia 13 tahun melihatnya ketika dia pergi dan bertanya mau pergi kemana. Dia hanya mengatakan kepadanya agar tidak mencampuri urusannya dan kemudian pergi tanpa mengatakan apapun kepada adiknya yang cerewet itu.

Gagasan untuk melakukan pembuatan itu datang dari para tetangganya. Ia pikir sebaiknya segera bangun dan metinggalkan tempat itu. Akan tetapi sudah terlambat, piintu telah terbuka dimana Ralph. Sang pemimpin muncul dihadapannya. Ia berdiri dengan mengenakan celana pendek memegang topeng Halloween plastik. Ralph kemudia menghampirinya.

"Buka pakaianmu dan pakai ini." katanya sambil memberikan topeng itu.

Joseph tidak dapat menolak. Tapi dia ragu-ragu untuk melepas semua pakaiannya. Ada orang lain disana yang bisa melihatnya telanjang bulat. Tidak pernah sebelumnya ada orang yang melihatnya telanjang, kecuali, dia duga suatu ketika Shelly pernah mengintipnya, tapi dia adalah adiknya sehingga tidak pernah diperhitungkan.

Ralph melihat keraguannya.

"Jika kamu tidak ingin masuk klub, aku tidak memaksanya."

"Tidak, aku benar-benar ingin masuk," kata Joseph segera sambil melepas bajunya.

Ralph tersenum melihatnya. "Bagus, segera buka pakaianmu dan pakai topeng."

Joseph segera melepas semua pakaiannya, ia tidak ingin mengambil resiko buat keanggotaan klubnya. Kemudian dia berdiri didepan Ralph tanpa sehelai benangpun kecuali topeng.

Ralph melihat kebawah kearah lemaluan Joseph dan tersenyum kecil,

"Kita akan memperbaikinya segera, ayo masuk kedalam!"

Joseph mengikuti sang pemimpin masuk kedalam kamarnya. Laki-laki anggota klub lainnya ikut masuk, Ada 7 orang didalam kamar itu, semuanya hanya memakai celana pendek. Dan dia segera melihat bahwa diatas tempat tidur ada anak lain yang juga memakai topeng, dan selimut menutupi tubuhnya sehingga dia tidak tahu siapa dia.

"Ini ujian buatmu!" kata Ralph.

Joseph melihat kearah sang pemimpin yang berjalan ke tempat tidur. "Kamu harus lakukan apa yang kita perintahkan. Pertama, kepada semua diruang ini, kalian tidak boleh berbicara apa-apa sampai semuanya selesai."

Ralph memegang ujung sudut selimut dan pelan-pelan menariknya. Joseph segera dapat melihat kemulusan kulit yang hanya dimiliki seorang gadis. Kemudia ketika ia melihat dengan jelas sepasang bukit dada kecil yang menggairahkan, penisnya pun segera bangkit. Ia merasa batang penisnya menjadi lebih keras dan lebih keras lagi ketika melihat semakin banyak bagian tubuh telanjang anak gadis itu. Gadis cilik itu tiba-tiba merasa malu dan segera menutup sepasang buah dada kecilnya itu dengan lengan tangannya.

"Kamu harus tetap terbuka jika kamu ingin masuk kedalam klub." Kata Ralph yang dapat didengar oleh Joseph dengan jelas.

Dan gadis cilik itupun segera menurunkan tangannyanya. Joseph tiba-tiba mernysadari bahwa ia bukan satu-satunya yang akan diproses masuk ke dalam klub malam ini.

"Kemari kamu." Kata Ralph kepada Joseph.

Joseph segera mendekat dan berdiri disamping Ralph sehingga langsung berhadapan dengan tubuh telanjang itu. Dari lekukan tubuhnya itu menunjukan dengan bahwa tubuh anak gadis itu baru mulai berkembang. Joseph benar-benar terpesona melihat tubuh yang sangat menggairahkan ini. Ini adalah juga untuk pertama kalinya ia melihat seorang anak perempuan yang telanjang secara nyata. Ia merasa akan orgasme hanya kerena melihat kemolekan tubuh gadis cilik ini.

Ralph cukup waspada dengan keadaan Joseph. Dia tidak mau membiarkan terjadinya kegagalan pada proses upacara ini, maka segera memberi instruksi yang berikutnya nya. "Aku ingin kamu segera orgasme diatas dadanya."

Kedua-duanya Joseph dan anak perempuan saling berpandangan dengan shock.

"Well, kamu sudah berjanji akan mengikuti perintah kami, segera lakukan itu!" Joseph memang sudah merasakan bahwa penisnya sudah berdenyut-denyut nikmat sebagai tanda bahwa orgasmenya sudah tidak lama lagi, segera mengangguk kearah sang pemimpin, kemudian kembali melihat kearah tubuh anak gadis cilik yang sangat menggairahkan itu, sambil menggusap-usap batang penisnya.

Si gadis cilik cuman bisa diam terbengong-bengong tidak tahu harus melakukan apa. Dan gadis itu mulai tegang dan terangsang melihat anak laki-laki asing yang sedang melakukan onani didepanya. Tanpa disadarinya, tanganya mengusap-usap kulit tubuhnya yang mulus, dan beberapa saat kemudian beberapa kali semburan yang cukup kuat dari sperma Joseph menimpa sepasang bukit dadanya yang baru mulai mengembang itu.

Kejadian itu membuatnya jijik dan sekaligus menggairahkan perasaan birahi gadis cilik ini. Cairan sperma berwarna putih susu yang kental, liat dan lengket itu sepertinya membuat gairah gadis cilik ini semakin membara, juga kepada anak laki-laki asing yang demikian bergairah sehingga orgasme hanya karena melihat tubuhnya yang telanjang bulat itu.

"Ambil sperma itu dan usap-usapkan ke vaginamu sampai kamu juga orgasme." Perintah Ralph pada gadis cilik itu. Sekali lagi keduanya terkejut dan saling pandang. Gadis cilik itu membuka mulutnya untuk mengatakan sesuatu, tapi segera dipotong Ralph. "Ingat instruksi yang pertama, tidak ada yang boleh bicara!"

Pertama-tama gadis cilik itu benar-benar shock, akan tetapi kemudian mulai menhikuti perintah Ralph dengan patuh; meraup cairan sperma didadanya dan mengusapkannya ke vaginanya dan digosok-gosokkannya ke celah-celah vaginanya. Dia memang pernah melakukan onani seperti tu, kadang-kadang juga dengan menggunakan minyak baby oil, tapi tidak pernah terbanyang dalam pikirannya bahwa dia akan menggunakan cairan sperma untuk beronani sampai orgasme. Perasaan malu, takut dan bergairah saling berpacu dalam diri gadis cilik ini tapi segera dilupakannya, dia segera berkonsentrasi untuk membuatnya mencapai orgasme tanpa perduli lagi bahwa hal itu bisa membuatnya hamil.

Joseph juga benar-benar menikmati proses untuk orgasme gadis cilik itu. Penisnya dengan cepat bangkit lagi. Ia kembali mengocok-kocok batang penisnya lagi, tetapi Ralph segera mencegahnya. Joseph jadi gelisah dengan berkobarnya kembali gairah seksualnya, tapi dia menuruti perintah Ralph sambil menikmati pemandangan menggairahkan dari sesosok gadis cilik dihadapannya itu.

Gadis cilik itu sampai menggigit bibirnya untuk menahan agar dia tidak mengeluarkan suara. Gejolak gairah seksualnya benar-benar telah menyelimuti seluruh tubuhnya. Tubuhnya bergetar ketika setapak-demi setapak dia mencapai puncak orgasmenya.

"Perhatikan baik-baik," kata Ralph kepada Joseph. "Usahakan sekuatnya untuk menahan spermamu sampai waktunya nanti kau masukkan kedalam vaginanya dan jadilah ayah dari anak bayimu."

Pernyataan Ralph semakin meningkatkan gairah seksual gadis cilik itu sehingga akhirnya dibarengi dengan keluhan agak keras, tubuh gadis cilik itu mengejang dan bergetar ketika dia mencapai puncak orgasmenya. Beberapa saat kemudia tiubuh itu tergoleh lemas.

"Sekarang aku ingin kamu mengambil keperawanannya seperti juga dirinya mengambil keperjakaanmu."

"Hah?" seru gadis cilik dari balik topengnya. Matanya melotot lebar ketakutan.

Joseph tidak berkata apa-apa selain memandang Ralph dengan penuh keraguan. Ralph hanya mengibas-ngibaskan jarinya pada mereka berdua dan berkata lagi, "Kamu benar-benar ingin di menjadi anggota klub, ya kan?" kedua pasang remaja cilik itupun saling pandang dan kemudian mengangguk hapir bersamaan.

Gadis cilik segera membuka pahanya, yang memberikan tanda kepada Joseph bahwa dia sudah siap. Joseph melihat vagina cilik itu berkilat basah oleh cairan spermanya. Pemandangan itu benar-benar semakin meningkatkan gairahnya, sehingga dengan ragu-ragu diusapnya dengan lembut bagian paling rahasia dari gadis cilik ini. Mereka saling pandang, tapi masing-masing tidak bisa melihat perubahan mimik wajah mereka yang tertutup topeng.

Selama ini Joseph tidak pernah menyentuh seorang gadis, ini pengalaman pertamanya bersama gadis cilik ini, demikian pula si perawan cilik ini. Benar-benar detik-detik yang sangat mendebarkan buat keduanya ketika penis Joseph ditempelkan dan ditekan di gerbang liang kecil vagina itu. Tubuh mereka berdua bergetar seiring dengan deru napasnya yang semakin cepat. Sampai Gadis cilik itu mengerang tertahan ketika pelahan-lahan ujung penis Josep yang bulat melesak masuk keliang sempit itu.

Joseph juga mengerang pelan ketika merasakan jepitan kuat diujung penisnya. Pemuda itu jadi semakin bersemangat menekan penisnya sampai tiba-tiba dia merasa ujung penisnya menabrak dinding keperawanan gadis cilik itu. gadis cilik ini ternyata juga masih perawan tulen seperti juga dirinya.

Joseph benar-benar berjuang keras, disamping berusaha keras menjebol keperawanan gadis cilik ini, dia juga berusaha sekuat tenaga menahan agar spermanya tidak muncrat dulu sebelum menyelesaikan tugasnya. Ini benar-benar perjuangan sulit buat Joseph, karena jepitan dinding vagina gadis cilik itu begitu kuatnya sehingga menimbulkan kenikmatan yang sangat luar biasa, yang benar benar tidak pernah terbayangkan sebelumnya.

Gadis cilik itu juga merasakan perasaan yang serupa. Disamping rasa sakit, dia juga merasakan kenikmatan yang teramat luar biasa sehingga dia tidak mampu lagi menahan diri untuk tidak desisan dan rintihan nikmat yang keluar dari mulutnya. Pinggulnya sampai terangkat-angkat menahan gempuran penis Joseph.

Sesaat Joseph menghentikan gerakannya. Dia perlu konsentrasi sejenak untuk segera menyelesaikan tugasnya. Mereka saling pandang tanpa mengucapkan sepatah katapun. Joseph melihat sorot mata gadis cilik ini memohon dengan amat sangat agar dia segera menuntaskan tugasnya. Perawan cilik ini benar-benar sudah pasrah sepenuhnya untuk menyerahkan keperawanannya apapun yang terjadi.

Joseph menarik sedikit ujung penisnya, kemudian dengan tanpa memberikan aba-aba dia tekan dengan cepat dan kuat penisnya, tembuslah benteng keperawanan gadis cilik ini. Pemuda ini tidak tega memandang mata gadis cilik ini, dia yakin pasti gadis ini merasakan kesakitan, tapi ini adalah cara yang terbaik yang bisa diusahakan. Joseph pun terus menekan penisnya sehingga seluruh batang penisnya tenggelam kedalam liang perawan itu.

Gadis itu sepertinya sudah tidak perduli lagi dengan rasa sakit yang dideritanya, dengan penuh semangat dipeluknya tubuh pemuda itu, pinggullnya digerakkan kekiri dan kekanan mengimbangi gerakan Joseph, sesaat kemudian keduanya menjerit keras hampir bersamaan ketika keduanya mencapai puncak orgasmenya yang paling dasyat. Joseph merasakan betapa spermanya berkali-kali menyemprot kuat didalam liang perawan itu.

Kemudian kedua remaja cilik ini terkulai sambil berpelukan. Mereka dengan jelas mendengar dengan jelas betapa napas pasangannya masih memburu seperti baru selesai lari marathon.

Joseph terkejut ketika melihat sekeliling, Ralph sekarang sudah telanjang bulat sedang ngentot adiknya Cathy dengan buasnya, demikian pula anggota klub lainnya juga sedang ngentot dengan pasangannya masing-masing yang dia kenal sebagai keluarga mereka sendiri.

Tanpa dapat menahan diri lagi, Joseph melepas topengnya sambil berseru, "Apa yang sedang terjadi disini?"

"Joseph?" jerit tertahan gadis cilik dibawahnya. Suara itu begitu sangat dikenalnya.

Dengan penis masih tertanam penuh diliang vagina gadis dibawahnya ini, dia buka topeng gadis ini. Ternyata dia adalah Shelly, adik perempuannya sendiri yang baru berusia 13 tahun. Dia benar-benar tidak memimpikannya untuk berhubungan sex dengan adiknya sendiri.

"Shelly!" hanya itu yang bisa muncul dari mulutnya. Kedua bibir mereka kemudian saling berciuman, saling mengunci dan menghisap dengan ganas, tangan-tangan mereka saling mengelus, meraba dan mengusap ketubuh pasangannya. Joseph merasakan penisnya langsung tegang lagi, dan kembali pinggulnya digerakkan naik-turun. Shelly juga menjadi demikian bergairah, bahkan lebih dari tadi ketika pemuda itu memerawaninya. Dipeluknya tubuh kakaknya dengan penuh kasih sayang, dan pinggulnya digerakkan kekiri-kekanan lebih cepat mengimbangi gerakan pinggul kakaknya.

Kemudian mereka kembali tenggelam dalam arus birahinya, berhubungan intim dengan ritme yang lebih menggelora. Shelly sampai orgasme empat kali lagi sebelum Joseph mencapai orgasmenya yang ketiga. Mereka benar-benar lupa akan keadaan sekelilingnya, dimana semua anggota klub juga sedang berhubungan intim dengan pasangannya masing-masing yang sekaligus juga keluarganya mereka sendiri.

Tapi Joseph dan shelly melakukannya bukan hanya karena dorongan nafsunya, keduanya juga saling mengasihi dan mencintai sepenuh hatinya.

"Ini adalah rahasia terbesar dari klub ini!" kata Joseph kepada adiknya.

"Ya." Jawab Shelly, "Ini juga merupakan rahasia terbesarku, karena akhirnya aku bisa memberikan kasih sayang dan cintaku kepadamu, Joseph."

Katanya sambil mengerling manja dan penuh kasih sayang.


TAMAT

Read More

Cinta Seorang Baby Sitter

0 komentar
Portal Seks
Ini pengalamanku 4 Tahun lalu.

Malam telah larut dan jam telah menunjukan pukul 9 malam. Sedari siang tadi kakakku bersama suaminya menghadiri pertemuan sebuah Network Marketing dan diteruskan dengan pertemuan khusus para leaders.

Untuk menghilangkan suntuk, aku connect ke internet dan berbagai macam situs aku buka, seperti biasa pasti terdapat banyak situs porno yang asal nyrobot. Biasanya aku langsung close karena aku enggak enak dengan kakakku, tetapi malam ini mereka tidak ada dirumah, hanya bersama dengan seorang baby siters keponakanku, namanya Imah baru berumur 18 Tahun dan berasal dari Wonosobo. Memang agak kolotan dan dusun sekali, tetapi kalau aku perhatikan lagi Imah memiliki body yang lumayan bagus dengan wajah yang tidak terlalu jelek.

Kami biasa mengobrolkan acara tivi atau terkadang Im-im (panggilan Imah sehari-hari) aku ajari internet meskipun hasilnya sangat buruk. Entah kenapa malam ini keinginanku untuk melihat situs porno sangat besar dan libidoku naik saat aku lihat foto-foto telanjang di internet, tanpa aku sadari Im-im keluar dari kamar dan berjalan ke arahku entah sudah berapa lama dia berdiri disampingku ikut memperhatikan foto-foto telanjang yang ada di monitor komputer.

"Apa enggak malu ya..?" tanya Im-im yang membuatku kaget dan segera aku ganti situsnya dengan yang "normal". Dengan berusaha tenang, aku minta Imah mengulangi pertanyaannya.

"Itu lho tadi, gambar cewek telanjang yang Mas buat, emangnya nggak malu kalau dilihat orang?"

Memang Imah sangat lugu dan ndusun kalau soal beginian. Dengan santai aku jawab sembari menyuruhnya duduk disebelahku.

"Begini Im, ini foto bukan aku yang buat, orang yang buat ini (sambil aku perlihatkan lagi situs yang memuat foto telanjang tadi), merekakan model yang dibayar jadi ngapain malu kalau dapat duit."

Kemudian Im-im melihat lebih seksama satu per satu foto telanjang itu dengan posisi badan agak membungkuk sehingga terlihat jelas bulatan kenyal panyudaranya, sudah sejak lama aku menikmati pemandangan ini dan aku sangat terobsesi untuk tidur dengan Im-im. Aku tersentak kaget saat Imah bertanya soal foto dimana seorang cowok sedang menjilati vagina cewek.

"Apa nggak geli ceweknya dijilati kayak gitu terus lagian mau-maunya cowok itu jilatin punya ceweknya padahalkan tempat pipis?".

Dengan otak yang sudah kotor aku mulai berfikir bagaimana aku memanfaatkan kesempatan ini dengan baik.

"Gini Im, vaginanya cewek kalau dijilatin oleh cowok malah enak, memang awalnya geli tapi lama-lama ketagihan ceweknya. Kamu belum pernah coba kan?" tanyaku pada Im-im sambil tanganku membuka foto-foto yang lebih hot lagi.

"Belum pernah sama sekali, tapi kalau ciuman bibir dan susuku diremes sudah pernah, aku takut kalau nanti hamil". (memang Im-im sangat terbuka tentang pacarnya yang di Bogor dan pernah suatu hari cerita kalau pacarnya ngajak tidur di hotel tapi Im-im nggak mau).

"Kalau Cuma kayak gitu nggak bakal bikin hamil, gemana kalau kamu coba, nanti kalau kamu hamil aku mau tanggungjawab dan nggak perlu bingung soal uang, terus kalau ternyata kamu nggak hamil, kamu nanti aku ajari gaya-gaya yang ada difoto ini. Gimana?"

Dan Im-im cuma diam sambil lihatin wajahku, sebenarnya aku tahu dia naksir aku sudah lama tapi karena posisi dia hanya babysiters yang membuatnya nggak PD.

"Benar ya.., janji lho?" pintanya dengan sedikit ragu.

Dan dengan wajah penuh semangat aku bersumpah untuk menepati janjiku, meskipun aku enggak ada niat untuk menepati janjiku. Aku putuskan sambungan internet dan mulai "melatih" Im-im dengan diawali teknik berciuman yang sudah pernah dia rasakan dengan pacarnya, sentuhan halus bibirnya yang lembut membuatku membalas dengan ganas hingga tanpa terasa tanganku telah meremas payudara Imah yang memang masih kencang. Desahan halus mulai muncul saat bibirku menelusuri lehernya yang agak berbulu seolah Im-im menikmati semua pelatihan yang aku berikan.

Aku merasa cumbuan ini kurang nyaman, aku dan Imah pindah ke dalam kamar Im-im, perlahan aku rebahkan tubuhnya dan bibirku bergantian menjelajah bibir dan lehernya sedangkan tanganku berusaha membuka kaos dan BH-nya dan kini separoh tubuh Imah telah bugil membuat libidoku tidak karuan. Tanpa ada keluhan apapun Imah terus mendesah nikmat dan tangannya membimbing tangan kiriku meremas teteknya yang bulat sedangkan payudara kanannya aku lumat dengan bibirku hingga terdengar jeritan kecil Im-im. Entah berapa lama aku mencumbu bagian atas tubuhnya dan sebenarnya keinginanku untuk bercinta sudah sangat besar tetapi aku tahu ini bukan saat yang tepat.

Perlahan aku turunkan celana pendek dan celana dalamnya bersama hingga Imah sepenuhnya bugil dan ini yang membuat dia malu. Untuk membuat Imah tidak merasa canggung aku mencumbunya lebih ganas lagi sehingga kini Imah mendesah lebih keras lagi dan tangan kanannya meremas kaosku untuk menyalurkan gairahnya yang mulai memuncak. Bibirku kini mulai menjalar kebawah menuju vaginanya yang tertutup kumpulan bulu hitam, perlahan aku angkat kedua pahanya hingga posisi selakangannya terlihat jelas. Samar-samar terlihat lipatan berwarna merah di vaginanya dan aku tahu baru aku yang melihat surga dunia milik Im-im.

Kini bibirku mulai menjilati vaginanya yang mulai banjir dengan halus agar Im-im tidak merasa geli dan ternyata rencanaku berjalan lancar, desahan yang tadi menghiasi cumbuanku dengan Imah kini mulai diselingi lenguhan dan jeritan kecil yang menandakan kenikmatan luar biasa yang sedang dirasakan babysiters keponakanku. Semakin lama semakin banyak lendir yang keluar dari kemaluannya yang membuatku lebih bergairah lagi, tiba-tiba seluruh tubuh Imah kejang dan suara lenguhannya menjadi gagap sedangkan kedua tangannya meremas kuat kasurnya. Dengan diiringi lenguhan panjang Imah mencapai klimak, tubuhnya bergerak tidak beraturan dan aku lihat sepasang teteknya mengeras sehingga membuatku ingin meremasnya dengan kuat. Setelah kenikmatannya perlahan turun seiring tenaganya yang habis terkuras membuat tubuhnya yang bugil menjadi lunglai, dengan kepasrahannya aku menjadi sangat ingin segera menembus vaginanya dengan penisku yang sedari tadi sudah tegang.

"Imah merasa sangat aneh, bingung aku jelasin rasanya" katanya dengan perlahan.

"Belum pernah aku merasakan hal ini sebelumnya, aku takut kalau terjadi apa-apa," sambil memelukku erat. Sambil kukecup keningnya, aku jawab kekhawatiranya.

"Ini yang disebut kenikmatan surga dunia dan kamu baru merasakan sebagian. Imah nggak perlu takut atau khawatir soal ini, kan aku mau tanggungjawab kalau kamu hamil," sambil kubalas pelukannya.

Sekilas aku lupa libidoku dan berganti dengan perasaan ingin melindungi seorang cewek, kemudian tanpa disengaja tangan Im-im menyentuh penisku sehingga membuat penisku kembali menegang. Wajah Imah tersipu malu saat aku lihat wajahnya yang memerah, kucium bibirnya dan tanpa menunggu komandoku Im-im membalasnya dengan lebih panas lagi dan kini Imah terlihat lebih PD dalam mengimbangi cumbuanku. Teteknya aku remas dengan keras sehingga Im-im mengerang kecil. Kini bajuku dibuka oleh sepasang tangan yang sedari tadi hanya mampu meremas keras kasur yang kini sudah acak-acakan spreinya dan aku imbangi dengan melepas celana pendekku dan segera terlihat penis yang sudah tegang karena aku terbiasa tidak memakai CD saat dirumah. Melihat pemandangan itu, Imah malu dan menjadi sangat kikuk saat tangannya aku bimbing memegang penisku dan setelah terbiasa dengan pemandangan ini aku membuat gaya 69 dengan Imah berada diatas yang membuatnya lebih leluasa menelusuri penisku.

Setelah beberapa lama aku bujuk untuk mengulumnya, akhirnya Im-im mau melakukan dan menjadi sangat menikmati, sedangkan aku terus menghujani vaginanya dengan jilatan lidahku yang memburunya dengan ganas. Karena tidak kuat menahan rasa nikmat yang menyerang seluruh tubuhnya, Im-im tak mampu meneruskan kulumannya dan lebih memilih menikmati jilatan lidahku di vaginanya dan aku tahu Imah menginginkan kenikmatan yang lebih lagi sehingga tubuh bugilnya aku rebahkan sedangkan kini tubuhku menindihnya sembari aku teruskan bibirku menjelajahi bibirnya yang memerah.

Perlahan tanganku menuntun tangan kanan Im-im untuk memegang penisku hingga berada tepat di depan mulut vaginanya, aku gosok-gosok penisku di lipatan vaginanya dan mengakibatkan sensasi yang menyenangkan, erat sekali tangannya memelukku sambil telus mengerang nikmat tanpa memperdulikan lagi suaranya yang mulai parau. Vaginanya semakin basah dan perlahan penisku yang tidak terlalu besar mendesak masuk ke dalam vaginanya dan usahaku tidak begitu berhasil karena hanya bisa memasukkan kepala penisku. Perlahan aku mencoba lagi dan dengan inisiatif Im-im yang mengangkat kedua kakinya hingga selakangannya lebih terbuka lebar yang membuatku lebih leluasa menerobos masuk vaginanya dan ternyata usahaku tidak sia-sia. Dengan sedikit menjerit Imah mengeluh,

"Aduh.., sakit. Pelan-pelan dong" dengan terbata-bata dan lemah kata-kata yang keluar dari mulutnya. Saat seluruh penisku telah masuk semua, aku diam sejenak untuk merasakan hangatnya lubang vaginanya.

Perlahan aku gerakkan penisku keluar-masuk liang vaginanya hingga menjadi lebih lancar lagi, semakin lama semakin kencang aku gerakkan penisku hingga memasuki liang paling dalam. Berbagai rancauan yang aku dan Imah keluarkan untuk mengekspresikan kenikmatan yang kami alami sudah tidak terkendali lagi, hampir 15 menit aku menggenjot vaginanya yang baru pertama kali dimasuki penis hingga aku merasa seluruh syaraf kenikmatanku tegang. Rasa nikmat yang aku rasakan saat spermaku keluar dan memasuki lubang vaginanya membuat seluruh tubuhku menegang, aku lumat habis bibirnya yang memerah hingga Im-im dan kedua tanganku meremas teteknya yang mengeras. Akhirnya aku bisa merasakan tubuh Im-im yang lama ada dianganku.

Kami berdua tergolek lemah seolah tubuhku tak bertulang, kupeluk tubuh Imah dengan erat agar dia tidak galau dan setelah tenagaku pulih aku berusaha memakaikan baju padanya karena Im-im tidak mampu berdiri lagi. Saat aku hendak mengenakan CD aku lihat sedikit bercak merah dipahanya dan aku bersihkan dengan CD ku agar Im-im tidak tahu kalau perawannya sudah aku renggut tanpa dia sadari.

Kami berdua melakukan hal itu berulangkali dan Imah semakin pintar memuaskanku dan selama ini dia tidak hamil yang membuatnya sangat PD. Tanpa disadari 2 tahun aku menikmati tubuhnya gratis meskipun kini Imah tidak menjadi babysiters keponakanku sebab kakakku telah pindah rumah mengikuti suaminya yang dipindah tugaskan ke daerah lain. Sekarang Im-im menjadi penjaga rumahku dan sekaligus pemuas nafsuku saat pacar-pacarku tidak mau aku ajak bercinta.

Saat lebaran seperti biasa Imah pulang kampung selama 2 minggu dan yang membuatku kaget dia membawa seorang cewek sebaya dengan Imah dan bernama Dina yang merupakan sepupunya. Memang lebih cantik dan lebih seksi dari Imah yang membuatku berpikir kotor saat melihat tubuh yang dimiliki Dina yang lugu seperti Imah 2 tahun lalu. Pada malam harinya, setelah kami melepas rasa kangen dengan bercinta hampir 2 jam, Imah tiba-tiba menjadi serius saat dia mengutarakan maksudnya.

"Mas, aku sudah 2 tahun melayani Mas untuk membereskan urusah rumah dan juga memberikan kepuasan diranjang seperti yang aku berikan saat ini," Imah terdiam sejenak.

"Aku ingin tahu, apakah ada keinginan Mas untuk menikahiku meskipun sampai saat ini aku tidak hamil. Apa Mas mau menikahiku?"

Aku terhenyak dan diam saat disodori pertanyaan yang tidak pernah terlintas sedikitpun selama 2 tahun ini. Lama aku terdiam dan tidak tahu mau berkata apa dan akhirnya Imah meneruskan perkataannya.

"Imah tahu kalau Mas nggak ada keinginan untuk menikahiku dan aku nggak menuntut untuk menjadi suamiku, 2 tahun ini aku merasa sangat bahagia dan sebelum itu aku telah mencintai Mas dan menjadi semakin besar saat aku tahu Mas sangat perhatian denganku."

Imah terdiam lagi dan aku memeluknya erat penuh rasa sayang dan Imah pun membalas pelukanku.

"Tapi.., aku ingin lebih dari ini. Aku ingin bisa menikmati cinta dan kasih sayang seorang suami dan itu yang membuatku menerima pinangan seorang pria yang rumahnya tidak jauh dari desaku." Aku terhenyak dan menjadi lebih bingung lagi dan belum bisa menerima kabar yang benar-benar mengagetkanku.

Kami berdua hanya bisa diam dan tanpa terasa meleleh air mataku dan aku baru merasa bahwa aku ternyata benar-benar menginginkannya, namun ternyata sudah terlambat. Keesokan harinya aku mengantar Imah ke terminal untuk kembali pulang ke desanya dan menikah dengan seorang duda tanpa anak, menurutnya calon suaminya akan menerimanya meskipun dia sudah tidak perawan. Dengan langkah gontai aku kembali ke mobilku dan melalui hari-hariku tanpa Imah.


TAMAT

Read More