
Keintiman antara aku dan Bruno semakin
bertambah. Aku dapat mengetahui bahwa sandra dan Parulian sangat senang melihat
kami berperilaku sebagai sepasang kekasih. Karena itu aku pun berperilaku
sesuai sudut pandang itu. Kami membiasakan diri untuk bercumbu seperti yang
biasa dilakukan oleh sepasang kekasih. Membuat Bruno untuk menciumku sangatlah
mudah. Aku tak tahu, kadang aku berpikir anjing itu benar-benar mencintaiku
sebagai kekasihnya. Bruno dapat mencium mulutku dalam-dalam, sementara aku
memegang kepalanya dan mencium balik, kadang sambil mengisap lidahnya.
Karena seks oral adalah bagian dari cumbuan
dan permainan pembuka yang biasa dilakukan oleh manusia, dan Bruno telah melakukannya
padaku, aku merasa berkewajiban untuk memberinya pelayanan intim yang sama.
Mengisap dan menjilati alat kelamin seekor anjing benar-benar merupakan hal
paling cabul dan tak bermoral yang pernah kulakukan sampai saat ini. Anehnya
kecabulan itu benar-benar membawaku pada suatu birahi tertinggi yang pernah
kualami. Sementara itu Sandra dan Parulian terus menyaksikan dengan seksama
adegan demi adegan percintaan kami.
Menyenangkan pasangan Sandra dan Parulian
sekarang merupakan urutan tertinggi dalam daftar prioritasku. Aku mencintai
pasangan ini. Sandra khususnya, sudah seperti seorang ibu bagiku. Sedangkan
Parulian tak pernah memanfaatkan keintiman yang kami bagi bersama, walaupun
sebenarnya aku sudah tidak keberatan dan berharap ia melakukannya. Dalam waktu
yang singkat ini, telah tumbuh cinta di antara kami bertiga. Melihat mereka
senang atas semua perbuatanku selama ini adalah satu-satunya yang kubutuhkan
untuk melakukan yang lebih lagi. Karena itu aku langsung mengikut apa yang
mereka inginkan ketika suatu saat akhirnya Sandra menegurku.
"Kau belum melakukannya dengan baik,
Maria. Kau belum belajar bagaimana melayani Bruno dengan benar. Kupikir kau
mengerti apa yang kumaksud kan?"
"Kau ingin agar ia menyetubuhiku dan
mengawiniku serta mengisi rahimku dengan benih anjingnya?"
"Tepat sekali, Maria. Itulah pelayanan
yang kami harapkan dari seorang betina manusia. Dan bukankah itu
perananmu?"
"Ya, Nyonya Sandra. Aku adalah betina
untuk anjing Anda."
"Kau bukanlah betina yang baik kalau ia
tak dapat mengawinimu dan menyemprotkan air mani anjingnya ke dalam memekmu,
tempat semestinya ia berada."
"Nyonya Sandra, Bruno adalah kekasihku,
dan aku adalah betinanya. Ia kini berhak atas memekku, dan aku tak memiliki hak
untuk menolaknya mengakses milikku yang paling pribadi itu. Sperma anjing anda
tempatnya adalah di dalam rahimku. Bahkan ia kini lebih berhak daripada suamiku
sendiri. Hubunganku dengan suamiku semata-mata hanyalah karena ikatan
pernikahan, sedangkan anjing Anda adalah kekasihku."
"Ya, itu sangat penting. Kebutuhan Bruno
harus dilayani lebih dulu, selalu. Akan lebih baik kalau suaminya mengetahui
kenyataan ini", Parulian menimpali.
"Bagaimana seandainya aku menyuruh Beni
untuk selalu terlebih dulu meminta konfirmasi kepada Anda kalau-kalau Bruno ingin
menyetubuhiku sebelum ia melakukan hal yang sama terhadap diriku? Apakah itu
cukup memuaskan?"
"Akankah suamimu melakukan hal itu?"
Tanya Parulian.
Aku tersenyum dan mengangguk.
"Kau yakin?" Sandra ikut bertanya.
"Aku tak akan memberikan tawaran jika aku
tak dapat memenuhinya. Aku akan menceritakan semuanya kepada suamiku. Aku akan
membuatnya mengerti bahwa Bruno adalah kekasihku dan kebutuhannya harus
dipenuhi lebih dulu. Aku akan mengatakan pada Beni bahwa ia hanya dapat
menyetubuhiku setelah Bruno melakukannya terhadapku terlebih dahulu. Dia akan
selalu mendapatkan tubuhku yang habis pakai, dan memekku yang masih bersih dan
wangi hanya disediakan bagi Bruno. Aku akan menyuruhnya menelepon Anda untuk
mengatakan langsung secara pribadi bahwa ia dapat memahami keadaan yang berlaku
mulai sekarang. Sekarang bolehkah aku bersetubuh dengan anjing Anda?" aku
memohon.
"Oh tidak secepat itu", kata Sandra,
"Apakah kau sudah memasuki masa suburmu saat ini?"
Aku menggeleng karena aku memang baru akan
memasukinya sebentar lagi.
"Nah, kau kembalilah lagi ke sini kalau
sudah memasuki masa suburmu, sehingga sel-sel telur di dalam rahimmu sudah
matang dan siap untuk menerima benih-benih dari anjing kami."
Aku seperti tersetrum oleh aliran listrik
mendengar ide itu. Gairahku meledak-ledak. Walaupun kecewa karena tak dapat
bersetubuh dengan anjing mereka hari ini, aku setuju untuk mengikuti
kehendaknya.
"Baiklah, Nyonya Sandra. Aku akan kembali
lagi pada saat tubuhku sudah benar-benar siap untuk dibuahi oleh benih anjing
Anda dan pada saat birahiku sedang mengalami puncaknya. Untuk itu, mulai
sekarang aku akan menghentikan pemakaian pil kontrasepsiku."
"Bagus, tapi jangan lupa. Sampai masa
suburmu habis bulan ini, jangan sekali-kali kau bersetubuh dengan suamimu, dan
selama masa suburmu berlangsung, kau boleh datang ke mari tiap hari untuk
menemui kekasihmu dan kawin dengannya."
"Terima kasih, Nyonya Sandra. Mulai
sekarang, setiap datang masa suburku tempatku adalah di sini bersama Bruno.
Beni tidak berhak menyentuhku selama itu."
"Sebelum kau pulang, bawalah ini dan
minumlah secara teratur. Ini adalah jamu yang manjur untuk meningkatkan
kesuburan wanita", Parulian memberiku sekotak jamu yang diambilnya dari
dalam lemari.
"Terima kasih. Aku berharap aku dapat
mengandung dan melahirkan anak-anak Bruno", aku tersenyum.
"Nah, sekarang pulanglah. Bawalah pakaian
dan sepatumu, tapi kau tak boleh mengenakannya. Pulanglah dalam keadaan
bugil", kata Sandra, "Begitu pula lain kali kau datang kemari, tak
perlu mengenakan pakaian apa pun juga. Mengerti?"
Bukan main, pasangan ini selalu memiliki
ide-ide yang mengejutkanku. Bagaimanapun, aku setuju untuk mengikuti aturannya.
Aku pun tersenyum dan mengangguk. "Ya, Nyonya Sandra."
Aku menyeberangi jalan dengan jantung yang
berdebar kencang sekali. Selain rumahku dan rumah keluarga Parulian yang
berseberangan, rumah-rumah yang lain terletak cukup jauh. Bagaimanapun,
setidaknya ada lima rumah di sekitar situ yang dari dalamnya penghuninya dapat
melihat adanya seorang wanita bugil sedang menyeberang jalan di tempat terbuka
pada siang hari bolong. Tentu saja jika mereka kebetulan memperhatikannya. Yang
jelas jarak ke rumahku yang tak sampai sepuluh meter serasa jauh sekali.
Begitu tiba di pekarangan rumah, tiba-tiba
terdengar suara mobil mendekat. Bulu kudukku segera berdiri? Aku belum lagi
membuka pintu rumah ketika mobil itu melewatiku. Aku hanya bisa berdiri terpaku
tanpa bergerak sedikit pun. Setelah mobil itu berlalu, barulah aku menengok ke
belakang dan menyadari bahwa pasangan yang ada di dalam mobil itu bahkan tak
melihat sedikit pun ke arahku. Perasaan lega dan luapan gairah segera
membanjiri diriku. Aku pun segera masuk ke dalam rumah.
Dua hari kemudian, aku telah memasuki masa
suburku. Sampai saat itu aku sama sekali tidak pernah melayani Beni. Sementara
pil-pil kontrasepsi tak pernah lagi kutelan. Sebaliknya jamu pemberian Parulian
kuminum teratur tiga kali sehari. Setelah membuat janji dengan keluarga Sandra
dan Parulian, dengan hati yang mantap aku keluar rumah dalam keadaan bugil.
Rasa takut terlihat oleh orang lain telah menguap bersamaan dengan panasnya
cuaca di sini. Aku tak lagi peduli. Gairah karena berjalan bugil menyeberangi
jalan di siang hari bolong dengan keluarga Parulian memperhatikannya membuat
tubuhku bergetar senang bercampur tegang.
Perjalananku terinterupsi oleh sebuah mobil
yang lewat ketika aku hampir mencapai pintu rumah keluarga Sandra dan Parulian.
Aku yakin si pria pengemudi mobil melihatku. Mobilnya melambat di depanku. Ketika
satu mobil lagi lewat, aku merunduk di balik semak-semak. Lingkungan rumahku
yang sepi tiba-tiba menjadi ramai. Saat itulah aku sadar bahwa sekarang adalah
waktu penggantian shift di pabrik. Para buruh mulai keluar ke jalan. Begitu
pintu rumah keluarga Parulian terbuka, aku pun segera menyelinap masuk.
Mereka membawaku ke meja makan untuk
pemeriksaan. Mereka membaringkanku seperti bahan percobaan di laboratorium dan
menggunakan pena cahaya untuk melihat ke dalam celah kewanitaanku. Sandra
menyatakan semuanya kelihatan bagus dan bersih.
Bruno mencakar-cakarkan kedua kaki depannya
pada pintu kaca meminta masuk, seolah tak sabar untuk memenuhi hasratnya
mendapatkan diriku. Sandra memutar tubuhku sehingga memekku langsung menghadap
ke arah anjing itu. Sambil memainkan jari-jemarinya di memekku, ia berkata,
"Lihat Bruno, kami membawakanmu memek untuk kau setubuhi. Dia akan jadi
betina yang baik mulai saat ini dan akan mengizinkanmu memompa kontolmu ke
dalam memeknya. Kau bisa kosongkan semua air mani yang kau punya ke dalam rahim
pelacur betina yang cabul ini kapan saja kau mau, sayang."
"Ayolah, sayang. Kita sudah memisahkan
dua kekasih ini cukup lama. Tidakkah kau lihat keduanya sudah sangat ingin
kawin? Lihat denyutan memeknya yang kencang tandanya sudah siap untuk menerima
kontol anjing kita. Dan lihat cairan yang keluar itu, memeknya sudah ngiler
untuk dimasuki kontol anjing. Kau menginginkan kontol anjing itu kan, pelacur
betina?"
"Ya, ya! Aku sangat ingin merasakan
kontol anjing itu di dalam memekku. Aku butuh disetubuhi oleh seekor hewan.
Memekku akan mengisap kontolnya sampai kering", balasku bernafsu.
"Oh, tidak, sebelum mulutmu membuat
kontol anjing kami mengeras dan tegang", kata Sandra. Ia membuka pintu
kaca sementara suaminya membantuku berdiri. Bruno melonjak-lonjak kegirangan
dan memakan memekku sementara aku membukakan bibir memekku untuknya, sambil
berkata, "O ya, sayang. Itu milikmu sepenuhnya sekarang."
Bruno tampak lebih kegirangan daripada
hari-hari sebelumnya, dan alat kelaminnya yang panjang menjuntai keluar dari
dalam sarungnya yang berbulu sementara ia mengelilingiku. Ketika Sandra merasa
kami berdua sudah siap, ia mengangkat kedua kaki depan Bruno. Anjing itu
berdiri di hadapanku dengan kedua kaki belakangnya, kontolnya yang menegang
menjulur ke depan. Aku segera berlutut di hadapannya dan mulai mengisap
kontolnya dengan rakus, menelan seluruhnya sampai masuk ke tenggorokanku
sementara kedua tanganku memijati kedua biji zakarnya. Ternyata alat kelamin
Bruno semakin lama semakin tumbuh berkembang di dalam mulutku. Aku takjub
mengamati besarnya yang jauh melebihi batang kemaluan Beni. Bentuknya pun
tampak gemuk dengan warna pun merah menyala.
Aku benar-benar merasa direndahkan
serendah-rendahnya dan dipermalukan dengan berada dalam keadaan bugil bersimpuh
di hadapan seekor anjing, memberinya pelayanan seks oral sambil diperhatikan
oleh pasangan Sandra dan Parulian. Sepertinya aku benar-benar menghambakan
diriku kepada mereka dan anjingnya. Dan aku menyukainya?!
Sandra berkata, "Aku seharusnya
membiarkan dia berejakulasi di dalam mulutmu."
Aku mendongakkan wajahku dengan penuh harap
untuk berkata, "Anda harus. Ya, Anda harus membiarkan anjing Anda
melakukan itu?!
Suami istri itu saling tersenyum. Sandra
berkata, "Baiklah, betina yang cabul. Kalau kau memang ingin meminum dan
mandi dengan air mani kekasihmu, aku mengizinkannya."
Aku tersenyum senang dan mengangguk.
Bersambung...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar