
Setelah puas dengan payudaraku, aku mengambil
posisi tengkurap, sambil begitu tangan kananku menarik kaki anjingku sampai dia
mendekat dan akhirnya kupegang kemaluan anjingku dan mengarahkannya ke duburku,
dan dengan animal instinct-nya, anjingku memainkan batang kemaluannya di dalam
duburku. "Aaahh.. hhmmpph.. aahh", masuk, keluar, masuk, keluar,
"Aaahh". Kedua kaki depannya bertumpu pada punggungku. Kocokannya cepat
sekali, kemaluannya menggesek-gesek dinding lubang pantatku dengan gerakan yang
cepat, rasanya, "Aah.. aahh.. aahh.." Aku tidak sabar lagi, aku ingin
merasakan batang kemaluan anjingku di liang kemaluanku.
Aku memang sudah tidak perawan. Gara-gara godaan
yang kulakukan terhadap para tukang becak di dekat rumahku, aku diperkosa oleh
mereka. Aku disuruh melayani nafsu mereka yang sudah tidak terbendung lagi.
Waktu itu mereka berlima, sedang menunggu pelanggan mereka di persimpangan
jalan dekat rumahku. Pada saat itu aku sengaja memakai kaos tipis berwarna
putih, dan seperti biasa aku tidak memakai BH, sehingga putingku terlihat
menonjol dan warnanya terlihat samar-samar dari balik kaos. Jarak antara rumah
dengan persimpangan jalan itu tidak begitu jauh, dan kebetulan saat itu keadaan
di sekitarnya memang sedang sepi. Aku setengah berlari menghampiri mereka.
Payudaraku tentu saja tidak bisa diam, dan bergelantungan ke segala arah.
Setelah berada di dekat mereka, aku meminta salah seorang dari mereka untuk
mengantarkan aku ke toko kecil dekat rumahku, sebenarnya hal ini hanya
kujadikan alasan.
Waktu naik becak, aku sengaja naik dengan
posisi agak membungkuk menghadap ke tukang becak itu, sehingga sebagian
payudara besarku kelihatan menggantung, baru kemudian aku berputar untuk duduk.
Setelah sampai aku membeli sesuatu, kemudian naik lagi ke becak dan memintanya
untuk mengantarkan aku pulang. Jalan menuju rumahku memang jelek, banyak
lubangnya, sehingga becaknya bergoyang-goyang, ini membuat payudaraku juga bergoyang-goyang.
Kami pulang melewati para tukang becak yang dari tadi menunggu pelanggan, dan
mungkin karena melihat payudaraku yang bergoyang-goyang itu membuat mereka
tidak dapat menahan nafsu. Kulihat mereka mengikuti. Beberapa rumah di dekat
rumahku memang rumah kosong, sehingga keadaan di sekitar rumahku memang sepi
sekali. Setelah sampai, aku turun dan membayar tukang becak itu. Baru saja aku
berbalik, mulutku sudah disekap dari belakang, dan payudaraku diremas dengan
kasar. Orang yang menyekapku itu mengancamku untuk tetap diam, kalau tidak aku
akan dibunuhnya. Aku menurut saja, karena takut dengan ancamannya. Aku
dibawanya masuk ke rumah kosong di sebelah rumahku.
Ternyata setelah kulihat, dia adalah tukang
becak yang tadi, dan dia ternyata tidak sendiri, keempat temannya juga
bersamanya, mereka masih sibuk memasukkan becak-becak mereka ke halaman rumah
kosong itu. Setelah selesai, mereka menyusul masuk. Tanpa berkata apa-apa,
mereka semua membuka celananya. Kemaluan mereka semua berwarna coklat gelap,
dengan urat-urat di sekelilingnya. Melihat itu aku menjadi takut sekali, tetapi
aku tidak berani melawan, karena takut dibunuh. Mereka semua maju ke arahku dan
menyuruhku untuk membuka semua bajuku, kuturuti kemauan mereka dengan sangat
terpaksa.
"Ayo! Emut kontolku!" kata salah
seorang dari mereka. Dengan agak ragu-ragu dan takut kumasukkan kemaluannya ke
mulutku. Kepalaku dipegang dan digerakkan maju mundur. "Ayo! Kayak ngemut
permen gitu loh, kalo enggak tak bunuh kamu!" bentaknya. Aku menjadi semakin
takut, dan menuruti kemauannya. Kukulum batang kemaluannya seperti kemauannya
dengan kedua tangannya masih di kepalaku. Beberapa saat setelah itu kurasakan
cairan kental dengan rasa yang sangat aneh keluar dari kemaluannya. Ingin
rasanya aku muntah, tetapi apa daya, kedua tangannya memegang erat kepalaku.
"Ayo, jangan muntah!" Dengan perasaan jijik kutelan spermanya sampai
habis. Hal ini berlangsung sampai kelima tukang becak itu mengeluarkan
spermanya di mulutku, dan semua sperma yang keluar di mulutku, kutelan habis
semuanya. Lama-kelamaan aku menikmati hal ini.
Kemudian aku diperintahkan untuk bertumpu pada
kedua tangan dan kakiku. Di bawahku diselipkan sebuah meja panjang yang
kaki-kakinya pendek, yang ada di dekat kami. Sebelum aku bertumpu pada kedua
tangan dan kakiku, seorang tukang becak sudah dalam posisi telentang di atas
meja itu. Dia memasukkan batang kemaluannya ke dalam liang kemaluanku dengan
paksa. Untuk pertama kalinya liang kemaluanku dimasuki oleh kemaluan laki-laki,
kemaluan seorang tukang becak. Pertama rasanya memang sakit, perih, tetapi
beberapa saat setelah digesek-gesek terus oleh batang kemaluannya, aku mulai
dapat merasakan kenikmatan itu. Seorang tukang becak lagi dengan posisi
bertumpu pada lututnya sudah berada di depanku dan memintaku untuk mengulum
kemaluannya. Dari belakang, seorang tukang becak dengan posisi yang juga
bertumpu pada lututnya, menyodokkan kemaluannya ke dalam anusku. Sementara dua
tukang becak lainnya meremas-remas kedua payudaraku dengan sangat kasar. Kemaluan
kedua tukang becak yang dimasukkan ke dalam liang kemaluan dan anusku bergerak
keluar masuk dengan kasarnya. Karena merasakan nikmatnya kedua batang kemaluan
mereka, aku semakin menikmati kemaluan tukang becak yang sedang kukulum.
Aku semakin agresif, kukulum kemaluannya
dengan gerakan yang cepat, maju, mundur, maju, mundur. Sampai-sampai tukang
becak yang kemaluannya kukulum menjambak rambutku, dan tangannya ikut
menggerakkan kepalaku. Pada saat yang bersamaan, ketiga tukang becak yang
memainkan kemaluannya di tubuhku berhenti, kelihatannya mereka sudah mau
keluar. Aku disuruh duduk di lantai, kemudian aku disuruh membuka mulutku.
Mereka bertiga memintaku untuk mengocok kemaluan mereka secara bergantian tepat
di depan mulutku. Dua tukang becak yang lain sedang sibuk menghisap puting
payudaraku, tiap orang menguasai satu dari sepasang payudaraku. Sambil
menghisap, mereka meremas-remas payudara yang mereka kuasai dengan kedua
tangannya, seperti seorang bayi yang sangat kehausan.
Sesaat kemudian sperma ketiga tukang becak
tadi keluar, muncrat ke dalam mulutku, dan sebagian lagi muncrat ke wajahku.
Tanpa diperintah, kutelan sperma mereka. Sekarang gantian dua tukang becak yang
tadi menghisap puting susuku, memaksaku untuk menghisap batang kemaluan mereka berdua
secara bergantian. Seperti seorang anak kecil yang kalau makan es berlepotan,
aku yang berlepotan sperma di wajahku mengulum kemaluan mereka berdua secara
bergantian dengan agresif. Sambil kukocok, kuhisap-hisap batang kemaluan mereka
dengan hisapan yang kuat. Sebentar saja mereka kelihatan sudah tidak kuat,
melihat itu kubuka mulutku lebar-lebar, kemudian kukocok dengan cepat kedua
kemaluan mereka di depan mulutku. "Crut.. crut.. crut.. crut.."
sperma mereka masuk ke dalam mulutku. Langsung saja kutelan habis. Kujilat
sisa-sisa sperma yang masih menempel di sekitar mulutku.
Mungkin karena mereka melihatku sangat
menikmati perkosaan ini, mereka menjadi tenang. Mau apa lagi, karena tidak bisa
melakukan apa-apa, lebih baik kunikmati saja perbuatan mereka itu. Salah satu
dari mereka kemudian berkata, "Mbak, jangan bilang siapa-siapa, ya?"
aku hanya mengangguk sebagai tanda 'ya'. Kemudian mereka berlima keluar dari
rumah kosong itu dengan tenangnya, dan meninggalkan aku di rumah kosong itu
masih dalam keadaan telanjang bulat. Terus terang saja aku masih belum puas,
tetapi ya mau apa lagi. Kupakai lagi baju dan celanaku, kemudian aku pulang.
Sesampainya di rumah aku langsung mandi.
Sambil mandi aku membayangkan bagaimana rasanya kalau bercinta dengan anjing,
karena kebetulan waktu itu ada tiga ekor anjing di rumahku, dan semuanya dari
jenis anjing yang bertubuh besar. Belum selesai aku mandi, aku langsung keluar
dengan keadaan telanjang bulat, aku tenang saja, karena kedua orang pembantuku
seperti biasanya sedang menjaga toko dari pagi sampai sore. Aku berjalan menuju
halaman samping, tempat dimana ketiga ekor anjingku berada. Dag-dig-dug,
jantungku berdegup dengan kencang, seiring dengan nafsuku yang semakin
memuncak. Kuhampiri mereka, kurangkul dan kubelai-belai tubuh mereka secara
bergantian.
Pelan-pelan aku mendekat ke anjing yang paling
besar badannya, kuelus-elus, kemudian aku mulai memegang kemaluannya.
Kupijat-pijat sampai kemaluannya tegang, warnanya membuatku semakin terangsang.
Pelan-pelan mulai kukulum kemaluannya, karena nafsuku yang sangat besar, aku
sama sekali tidak merasa jijik. Kukulum kemaluannya dengan posisi bertumpu pada
kedua tangan dan kakiku, dengan pantat yang sengaja kudongakkan ke atas, aku
berpikir mungkin dengan begitu anjing yang lainnya mau menyodok entah itu anus
atau liang kemaluanku, aku tidak peduli. Eh, benar, di saat aku keenakan
menghisap, aku merasa ada yang menjilat-jilat kemaluanku, "Aaahh.."
rasanya nikmat, sesaat kemudian kurasakan ada batang kemaluan yang menyodok
liang kemaluanku. Dengan gerakannya yang khas, dia mainkan kemaluannyanya di liang
kemaluanku. Wah, aku menjadi semakin lupa daratan. Entah berapa kali secara
bergantian mereka memasukkan kemaluannya ke liang kemaluanku, demikian juga
mulutku, semua sperma yang keluar dari kemaluan anjingku waktu kuhisap-hisap,
kutelan sampai habis. Permainan kali itu, yang kulakukan dengan ketiga ekor
anjingku itu membuat aku puas sekali.
Wah, kalau aku ingat peristiwa itu rasanya aku
pingin lagi. Bayangkan, mulut, lubang kemaluan dan anusku dimasuki oleh batang
kemaluan para tukang becak, ditambah lagi dengan payudaraku yang mereka
'siksa', dan kemudian aku bercinta dengan ketiga ekor anjingku. Wah, sensasi
yang kurasakan waktu itu luar biasa, aku benar-benar menikmatinya. Entahlah,
mungkin aku mengalami sedikit gangguan, sehingga hal yang tidak wajar dapat
membuatku merasa ketagihan. Tetapi memang rasanya luar biasa nikmat (kalau
tidak percaya, coba sendiri, nanti kan tahu rasanya).
Tetapi aku rasa tidak cuma aku yang mempunyai
masalah seperti itu. Kalau ada dari kalian yang punya masalah yang sama, tolong
kirim email pada saya, mungkin kita bisa saling curhat.
TAMAT
Tidak ada komentar:
Posting Komentar