
Melihat keadaan seperti itu Ana lansung memegang
penisku yang berada didalam celana dan meremas-remasnya dari luar, tidak puas
dengan begitu iapun membuka celanaku dan keluarlah senjataku yang sudah berdiri
tegap lalu dikocoknya penisku, aku melirik ke arah Tari yang sedang
memperhatikan kami sambil senyam-senyum mengelus-elus vaginanya.
Napasku semakin tidak teratur perasaanku
seperti terlempar dan melayang keruangan yang kosong apalagi Ana mulai menarik
penisku lalu mendekatkanya ke vagina Tari dan memutar-mutarkan kepala penisku
di sekitar vagina Tari yang baru ditumbuhi bulu-bulu halus. Melihat Tari
menikmati adegan ini akupun mulai berani meraba-raba paha Tari yang mulus dan
putih aku juga mulai mepraktekkan beberapa adegan yang tadi aku lihat di film,
jari-jari tanganku mulai bermain disekitar bibir luar vagina Tari.
"Ah.. uh.. sst..", Tari mulai
bersuara yang sedari tadi hanya memejamkan matanya.
menghadap kami seakan-akan melihat dari jauh
perbuatan aku dan Tari, aku sempat menoleh kearah Ana ternyata ia sudah tidak
mengenakan rok dan celana dalam sehingga boleh dikata ia sudah dalam keadaan
setengah telanjang, bagian paha dan vaginanya sudah terbuka semua, ia juga
memainkan jari-jari tangan di vaginanya bahkan ada cairan yang mengalir di
sekitar vaginanya itu.
Akupun tetap melakukan aktivitas kepada Tari,
kepala penisku aku gesek-gesekan dibibir luar vagina Tari yang sudah licin oleh
cairan bening yang menetes keluar dari penisku. Aku tidak pernah berpikir untuk
menusukkan penisku ke lubang vagina Tari karena adegan itu tidak pernah aku lihat
difilm sehingga aku hanya melakukan sebatas gerakan-gerakan meraba dan
menyentuh saja. Tiba-tiba Ana berdiri dan menuju kami berdua satu tangannya
membuka bibir vagina Tari dengan dua jarinya sementara tangan satunya sibuk
mengocok penisku yang semakin licin bercampur cairan yang ada di tangan Ana.
"Auh.. geli An.. stt..", kataku.
"Sebentar lagi kamu akan merasa lebih
geli Rur (kependekan namaku, Rury)", jawab Ana.
Lalu Ana menuntun penisku dan meggosok-gosokan
kepala penisku ke clitoris Tari yang sudah licin entah kenapa.Selanjutnya
dengan perlahan kepala penisku mulai aku rasakan masuk kedalam lubang vagina
Tari.
"Ah.. sst.. pelan-pelan ya sakit
nih..", seru Tari.Aku hanya diam karena sudah tidak sanggup berbuat
ataupun berbicara apa-apa lagi, sementara Ana sibuk berusaha menuntun penisku
agar bisa masuk dengan aman ke vagina Tari.
Aku mulai merasakan seperempat dari penisku
sudah masuk kedalam vagina tari.
"Aduh.. ahh.. sst.. digoyang sedikit Rur
biar gampang masuknya", ujar Tari kepadaku. Akupun mulai menekan-nekan
pantatku ke bawah sehingga aku mulai merasakan penisku sudah hampir tertelan
semua oleh vagina Tari.
Sementara itu Ana kembali ke tempatnya semula
meninggalkan kami berdua yang sudah bisa mengendalikan keadaan, iapun kembali
memainkan jari-jarinya ke vaginanya bahkan kali ini lebih hebat dari yang
tadi;kedua jarinya ia putar-putarkan di clitorisnya sambil berdesis nikmat.
Di saat aku sudah mulai mempercepat goyanganku
karena merasakan penisku akan masuk seluruhnya kedalam vagina Tari, iapun
berteriak kesakitan, sambil menahan dadaku dengan kedua tangannya.
"Sedikit lagi Tar.. sst.. ahh", kata
Ana dari jauh sambil terus mengesek-gesek clitorisnya.
"Kalau burung Rury sst.. sudah masuk
semua auh.. sakitnya akan hilang ahh..", sambung Ana memberikan instruksi
ringan kepada kami.
"Pelan-pelan ya Rur goyangnya", kata
Tari kepadaku yang aku balas hanya dengan anggukan kepala dan mulai menaik
turunkan pantatku yang perlahan tapi pasti semakin cepat, tetapi tiba-tiba
dorongan Ana ke dadaku dengan kedua tangannya terasa sangat kuat sekali
sehingga dengan segera aku berhenti bergoyang.
"Sa.. kit..", dengan sedikit agak
berteriak Ana mengeluarkan kata itu.
"Sst.. aduh.. cabut dulu Rur",
sambung Ana, dengan sangat perlahan.
Dan dengan rasa tidak menentu aku melepaskan
penisku dari vagina Tari dan akupun kaget ketika aku melihat ke penisku yang
sudah keluar dari vagian Tari ada semacam darah yang melengket dibatang penisku
yang kemudian aku juga melihat ke vagina Tari ada darahnya juga. Aku yang
memang tidak pernah tahu mengenai hubungan sex atau bersenggama tentu menjadi
panik dan heran mengalami keadaan ini otomatis penisku langsung berhenti
ereksi.
Namun setengah meter dari kami, Ana justru
sedang menikmati sekali permainannya bahkan semakin cepat menggosok-gosok
vaginanya sendiri.
"Ah.. uh.. sst.. enaknya", desisnya
sambil kaki Ana menjulur-julur tegang ke depan yang kemudian menusukkan jarinya
kedalam lubang vaginanya dan mencabutnya serta menjilatnya sambil tersenyum
kecil ke arah kami yang masih dalam kebingungan karena darah yang kami lihat.
Aku menjadi berpikiran bahwa Ana sudah sangat berpengalaman dalam hal ini.
Lalu Ana berdiri dan menuju kearah kami.
"Darah itu tidak apa-apa Tar!", kata
Ana kepada Tari yang masih meringis menahan sakit.
"Aku juga begitu awalnya", aku
menjadi kaget mendengar pernyataan Ana yang ternyata benar dugaanku bahwa dia
telah lebih dulu melakukan hubungan sex entah dengan siapa. Lalu Ana membantu
Tari bangkit dari tempatnya.
"Mari aku bantu membersihkan darah itu
dikamar mandi", kata Ana dan mereka berdua berjalan kebelakang.
Aku melihat Tari berjalan disisi Ana sambil
tertatih-tatih seperti orang baru belajar berjalan sementara akupun sibuk
membersihkan penisku seadanya dari darah yang melengket dibatang senjataku itu
dan mengumpulkan pakaianku yang berserakan di lantai lalu memakainya kembali.
Tak lama kemudian mereka keluar dari dalam
rumah menemuiku yang setelah berpakaian menunggu diteras, aku melihat Tari
masih menahan sakit yang mungkin masih tersisa. Lalu akupun pamit pada Tari
hendak pulang yang disusul oleh Ana yang juga ikutan mau pulang, aku berjalan
turun dari teras sementara Ana aku lihat masih berbincang dengan Tari yang
kemudian menyusulku dari belakang. Persis ketika aku hendak menutup pintu
halaman muncul Wati yang baru pulang dari ngerumpi dengan tetangga depan.
*****
Dua hari kemudian tepatnya hari Sabtu pagi dan
kebetulan hari itu libur sekolah, aku lupa libur untuk apa yang jelas tanggal
di kalender berwarna merah. Aku, Awal, Ana dan Nono serta beberapa teman
laki-laki dan perempuan berkumpul dilapangan dekat rumah Nono sesuai dengan
kesepakatan kami sehari sebelumnya.
Jarum jam di arlojiku sudah menunjukan pukul
09.15 pagi dan kami sudah lengkap semuanya, kurang lebih ada 11 orang termasuk
aku, Awal, Ana dan Nono. Kita semua akan melakukan pendakian atau semacam
kemping kecil-kecilan dibukit belakang lorong kami, kebetulan di belakng lorong
kami ada sedikit bukit yang masih teduh sehingga masih enak untuk dijadikan
tempat membuat kemah-kemahan. Tetapi kami tidak bermalam karena jaraknya dekat,
petang hari nanti kami akan pulang juga.
Kamipun menuju bukit itu tetapi sambil lewat
kami akan singgah dulu dirumah Tari untuk mengambil beberapa perlengkapan dan
sekalian menjemput Tari dan memang jalan untuk naik ke bukit itu berada sekitar
200 meter dibelakang rumah Tari. Taripun ternyata sudah siap dihalaman rumahnya
dengan memakai topi berwarna warni, baju kaos berwarna biru dan celana puntung
ketat. Segala perlengkapan yang akan kami bawapun telah siap semua sehingga
kami tidak berlama-lama disitu.
Pikiranku sempat ngeres sedikit ketika melihat
Tari berpenampilan begitu setelah kejadian 2 hari yang lalu, namun ketika Ana
melihat ke arahku aku tersenyum kecil dan mengalihkan perhatianku ketempat
lain. Setelah berjalan satu jam setengah kamipun sampai dipuncak bukit itu dan
mulai membangun beberapa buah kemah untuk dijadikan tempat beristirahat dan
makan. Sementara itu teman perempuan termasuk Ana dan Tari menyiapkan bekal
makanan yang memang telah dimasak dari rumah untuk makan siang kami.
Empat buah kemah telah kami bangun dan siap
untuk dibangun. Salah satu kemah kami gunakan sebagai tempat makan dan
menyimpan peralatan, tas dan segala peralatan untuk bermain serta beberapa
makanan sore hari nanti sebelum kami pulang. Sambil teman-teman perempuan terus
menyiapkan makanan dan menata peralatan yang disimpan di kemah itu kami yang
pria bermain-main sambil menunggu pangilan untuk makan.
"Ayo.. makanan telah siap", seru Ana
kepada kami yang masih sedang bermain dengan nada memanggil, kamipun lalu
bergabung dengan mereka di tenda tempat makanan disediakan.
Selesai kami santap siang bersama kamipun
melanjutkan bermain-main aku bermain bola dengan beberapa orang teman, ada juga
yang masuk ketenda tidur-tiduran mungkin karena kekenyangan.Awal dan Nono aku
lihat asyik bermain gitar dan menyanyi-nyanyi di bawah sebuah pohon jati tua,
disampingya ada Ana sedang membaca majalah. Aku tidak melihat Tari mungkin ia
juga sedang beristrahat didalam salah satu tenda.
Rupanya cuaca kurang bersahabat pada kami hari
itu, tiba tiba hujan turun dengan sangat deras padahal langit pada waktu itu
terang benderang seperti pada waktu kami berangkat tadi.Kamipun berhamburan
masuk ketenda-tenda untuk berteduh, aku masuk ketenda tempat penyimpanan
barang. Kebetulan pada waktu hujan tadi turun aku sedang mengambil bola yang
terlempar disamping tenda itu. Ternyata ditenda itu hanya ada Tari yang sedang
menyiapkan makanan untuk kami makan sore nanti sebelum kami pulang, akupun
membantu Tari di dalam tenda itu sambil kami berbincang-bincang ringan.
Arlojiku di tanganku sudah menunjukan pukul 14.30 siang namun hujan belum reda
juga bahkan langit semakin gelap.
Lalu aku mencoba melihat keluar tenda sambil
mengamati tenda-tenda yang lain ternyata Awal dan dua orang teman perempuan
nekat keluar dari tenda tempat mereka berteduh dan berlari menghampiri aku dan
Tari. Rupanya mereka mau mengambil tas mereka di dalam tenda itu.
"Tolong dong ambilkan tas kami, nanti
kalau kami yang ambil barang yang lain ikut basah", kata Awal kepada Aku
dan Tari dengan nada menyuruh.
"Memangnya kalian mau kemana",
kataku.
"Mereka berdua ini punya acara sebentar
malam", sambil Awal memandang kedua teman perempuan kami yang sudah
menggigil kedinginan.
"Dan mereka memintaku untuk mengantar
mereka pulang", sambung Awal.
"Apa tidak sebaiknya menunggu hujannya
reda", kataku kepada mereka bertiga.
"Justru mereka khawatir hujannya
terlambat berhenti, sehingga mereka bisa terlambat untuk keacara itu",
kata Awal menjelaskan.
Bersambung
Tidak ada komentar:
Posting Komentar