
Sekitar 20 tahun silam, aku "Anis"
sudah mengenal yang namanya nafsu sex, meskipun aku belum banyak kenalan dengan
wanita. Aku termasuk pria yang tidak suka, bahkan tak pernah melakukan onani
seperti kebanyakan pria. Namun aku sangat mudah terangsang ketika melihat
kemaluan lawan jenis, apalagi jika menyaksikan melakukan hubungan intim,
sekalipun itu adalah hewan atau binatang.
Ceritanya bermula ketika aku masih duduk kelas
2 di bangku SMTP di kecamatanku. Saat itu usiaku sekitar 15 tahun. Maklum
sebagai orang yang tinggal dan dibesarkan di suatu desa yang agak terpencil
dari keramaian kota, aku sehari-hari bekerja sebagai penggembala kerbau
sebagaimana umumnya laki-laki seusiaku di desaku itu. Sebelum dan sepulang dari
sekolah, aku mempunyai tanggung jawab untuk mengurus hewan-hewan piaraan
keluargaku, sebab biaya pendidikan dan keperluan pokok sehari-hari kami,
umumnya diperoleh dari harga kerbau. Kurang lebih 15 ekor kerbau yang harus
saya urus setiap harinya yakni mengembalakan di padang rumput, memandikan di
sungai, memasukkan ke kandang dan sebagainya.
Walaupun sejak kecilku aku sudah seringkali
menyaksikan bagaimana hewan-hewan itu melakukan hubungan sex (kuda, ayam, sapi,
kambing, anjing, burung misalnya), namun entah saat itu pengaruh setan dari
mana sehingga aku tiba-tiba mulai terangsang memperhatikan sepasang kerbauku
melakukan hubungan sex. Mungkin karena keduanya merupakan tungganganku
sehari-hari yang paling jinak, bersih dan sedikit gemuk, apalagi masih mudah
(belum pernah melahirkan), atau memang karena aku sudah terkena puber pertama,
atau karena aku kesepian dari teman-teman penggembala lainnya. Yang jelas aku
sangat terangsang melihat dengan asyiknya penis kerbau jantanku menyentuk dan
menembus vagina kerbau betinaku dari belakang. Aku semakin mendekatkan wajahku
ke dekat vagina yang tertusuk dengan penis yang panjang itu dan melihat
bagaimana keduanya melakukan aksinya. Si jantan dengan keras dan cepat sekali
menggocok-gocok vagina si betina, sehingga terdengar bunyi yang agak khas.
Ketika keduanya mencapai klimaks yang ditandai
dengan amblasnya seluruh penis si jantan ke dalam vagina si betina dan sedikit
terdiam lalu meneteskan cairan putih dari dalam kemaluannya, aku mencoba
mencium dan meraba kedua bibir vagina si betina yang sedikit basah dan montok
itu. Bahkan aku dengan mudah membuka kedua bibir vaginanya dan melihat dengan
jelas dinding-dinding vaginanya yang agak keputihan setelah penis si jantang
keluar, lalu memasukkan dua jari tanganku ke dalamnya, sehingga terasa agak
panas dan halus. Keduanya masih terdiam di tempatnya, karena aku mengelus-elus
kepalanya agar tidak bergerak dulu.
Kebetulan saat peristiwa itu, aku berada di
atas kerbau jantanku dan menungganginya, sehingga punggungku bergerak-gerak
mengikuti irama gerakan pinggul si jantan ketika ia menggocok vagina si betina.
Hal itulah barangkali yang membuatku sangat terangsang.
Konsentrasiku saat peristiwa itu mulai
terganggu. Aku semakin penasaran ingin juga menikmati vagina si betina itu,
tapi aku masih takut jika ada orang lain yang melihatku karena aku berada di
padang rumput yang luas dan terbuka. Belum aku turun dari atas kerbau jantanku
itu, tiba-tiba datang lagi kerbau jantanku yang lainnya menaiki tubuh kerbau
betinaku tadi dan langsung memasukkan penisnya hingg amblas seluruhnya. Aku
cepat-cepat lompat dan memisahkannya agar tidak sembarang yang menggaulinya,
apalagi si jantan yang satu itu sedikit kurus dan kotor. Akal kotorku mulai
jalan. Menjelang tengah hari nanti, aku dapat salurkan nafsu bejatku lewat
kerbau betinaku di sungai, sebab kebetulan setiap tengah hari aku bawa mereka
berendam dan mandi di sungai bersama dengan teman-teman gembala lainnya. Hal
itu sudah rutin kami lakukan, selain membersihkan tubuhnya juga untuk
mengistirahatkannya sambil minum-minum.
Berbeda dengan hari-hari sebelumnya, di mana
kami berangkat sama-sama dengan teman gembala lainnya ke sungai, tapi hari itu
aku sengaja cepat-cepat membawa kerbauku ke sungai karena didorong oleh maksud
lain sehingga menjelang tengah hari aku sudah ada di sungai itu berendam
bersama dengan kerbauku. Suasana di sungai itu masih sangat sepi. Sejak dari
padang rumput hingga tiba di sungai yang jaraknya kurang lebih 1 km dari rumah
penduduk, aku memang sudah menunggangi kerbau betinaku yang cantik dan mudah
itu. Mungkin karena ia dalam keadaan suburnya (musim kawinnya) sehingga ia
tenang sekali jika disentuh, apalagi ditunggangi. Aku banyak main-main di
atasnya, kadang mengelus, meraba-raba kepala, dada dan pantatnya, bahkan
berbaring di atasnya.
Sesampainya di sungai, aku langsung buka baju
dan celanaku sekalian mumpun belum ada orang lain di sungai itu, apalagi hal
itu sudah menjadi kebiasaan kami jika mandi di sungai. Aku sudah tidak peduli
lagi kerbau lainnya. Aku hanya konsentrasi dan mengurusi kerbau betinaku yang
sedang mengalami masa subur itu. Mula-mula kubersihkan seluruh tubuhnya dari
ujung kepala hingga ujung kaki dan terakhir aku bersihkan bagian belakangnya,
terutama di bawah ekornya itu. Aku coba mainkan tanganku dengan mengelus
vaginanya, menusuk-nusuknya dengan telunjuk, membuka kedua bibir vaginanya
dengan kedua tanganku. Terasa panas dan halus. Si betina itu hanya sedikit
bergerak merendam tubuhnya sambil menikmati kehangatan air sungai yang masih
jernih itu.
Pantatku dan pantat si betina itu tidak
kelihatan karena terendam air. Hanya kepala kami yang nampak di permukaan air,
sehingga sekalipun ada orang lain yang melihatku, tidak mungkin langsung
curiga, karena ia tidak akan bisa melihat penisku bersentuhan dengan vagina
kerbauku. Aku terus menggosok-gosok tubuh si betina dengan kedua tanganku,
namun penisku mulai menyentuh bibir vagina si betina dan mulai terasa agak
hangat. Entah apa si betina itu juga terangsang atau tidak, tapi yang jelas ia
hanya diam dan kemaluannya terasa hangat. Aku semakin sulit menahan nafsuku
ketika pantat si betina itu sedikit bergerak ke kiri dan ke kanan sebagaimana
layaknya manusia yang sedang terangsang. Penisku yang berdiri sejak pagi hari akibat
rangsang oleh persetubuhan antara kerbau jantan dengan kerbau betinaku,
nampaknya sulit lagi kukendalikan. Akhirnya kuputuskan untuk mencoba saja
menyalurkannya melalui vagina si betina mumpun belum ada orang lain yang
melihatku.
Karena memang bukan fitrah untuk berpasangan
dengan manusia, maka wajar saja jika aku tidak kesulitan menembus vagina si
betina. Penisku amblas seluruhnya tanpa hambatan sedikitpun. Nikmat sekali
kurasakan saat itu, sebab baru kali itu penisku merasakan yang namanya vagina,
meskipun vagina hewan, tapi kurasa tidak jauh beda rasanya dengan vagina
manusia apalagi bagi orang yang dirundung nafsu birahi. Cukup lama juga aku
keluar masukkan penisku di kemaluan si betina itu, meskipun dalam air. Si
betina nampaknya juga menikmatinya. Ia tidak banyak bergerak dan seolah memberi
kesempatan padaku untuk memperlakukannya hingga aku bisa mencapai kepuasan.
Bahkan sedikit aneh, sebab punggungnya sesekali bergoyang ke kiri dan ke kanan
namun agak lambat. Getaran dinding vaginanyapun terasa sekali menambah gairahku
sehingga terasa lebih nikmat. Meskipun saat itu aku belum bisa bandingkan
dengan vagina manusia karena aku sama sekali belum pernah merasakan sebelumnya,
tapi belakangan kuketahui ternyata bagi orang yang bernafsu tinggi seperti
diriku sulit membedakan kenikmatan dan kehangatan dari keduanya.
Dalam tempo hampir satu jam, aku sempat
memuncratkan spermaku ke dalam vagina si betina sebanyak 3x hingga teman-teman
gembalaku berdatangan. Mereka hanya bertanya padaku tentang sebabnya aku tidak
menunggu mereka namun dengan alasan kerbaku haus dan kepanasan, akhirnya mereka
bisa mengerti juga tanpa sedikitpun rasa curiga pada diriku. Kami tetap kembali
ke padang rumput secara bersama-sama dan pulang ke rumah bersama pula, tapi
telah mengalami sesuatu peristiwa luar biasa selama hidupku, sementara mereka
tidak. Itulah kegembiraan dan kebanggaan yang dapat kami raih saat itu, bahkan
menjadi kenangan hidupku sepanjang masa. Hampir setiap hari aku peraktekkan
pengalamanku itu lewat kerbau betinaku. Kadang aku lakukan di padang rumput
dikala sepi dari temanku, kadang di kandangnya dan kebanyakan kulakukan di
sungai. Sesekali pula aku mencobanya pada kerbau betinaku yang lain, namun
kebanyakan pada kerbau betinaku yang pertama kali memuaskan nafsuku itu. Pernah
sekali kuperaktekkan lewat anak kerbauku yang berusia 5 bulan dengan harapan
vaginanya lebih sempit, namun malah aku ditendang lalu ia lari.
*****
Teman-teman penggemar cerita porn, mungkin
tidak menarik dan merangsang bagi anda jika membaca ceritaku ini, namun bagi
orang tertentu, terutama yang bernafsu tinggi seperti aku, tidak bisa
membedakan mana vagina kerbau dan mana vagina manusia jika sudah sama-sama
bersentuhan. Aku tidak mampu menghitung lagi berapa kali kuperaktekkan pada
kerbau dan mungkin di atas ratusan kali sebab sejak kurasakan kenikmatan itu,
aku hampir tiap hari melakukannya hingga aku berhenti menggembala karena
melanjutkan pendidikan di kota Kabupatenku. Sungguh banyak sekali spermaku yang
bakal jadi janin manusia terbuang sia-sia di kemaluan kerbau, namun belum
sempat kusesali karena hingga usiaku di atas 30 tahun, nafsu syahwatku belum
juga reda, bahkan semakin meningkat rasanya. Anehnya lagi, hampir tidak ada
wanita yang kuanggap jelek dan membosankan selama mereka masih normal dan
menyukai hubungan sex. Inilah kelebihannya bagi pria yang memulai petualangan
sexnya lewat binatang atau hewan, apalagi bila nyata-nyata manusia. Sebab
selalu dianggap lebih baik yang dirasakan belakangan dari yang pertama.
Entah diriku ini tergolong pria normal atau
tidak, tapi yang jelas aku tidak memilih-milih wanita asal ia punya vagina yang
bisa disetubuhi. Tua atau muda, berbulu atau tidak, harum atau tidak, basah
atau tidak, montok atau tidak, sempit atau tidak, rasanya semuanya nikmat dan
dapat merangsangku untuk mencapai tujuan pokok yang sebenarnya. Sejak
peristiwaku bersama kerbau betinaku, aku senang sekali terhadap vagina wanita,
sehingga muka, payudara, kelentit, rambut, bau, dan penampilan tubuhnya seolah
hanya soal yang kedua bagiku. Aku belum mau dikatakan menyerah dan menolak jika
ditawarkan vagina wanita. Aku belum pernah menolak tawaran sex dari wanita
hanya karena kurang menarik.
Sebelum aku melanjutkan pendidikan ke Kota,
aku memang sempat merasakan nikmatnya vagina wanita selama dua kali. Pertama
kali di sawah sewaktu menjelang musim panen dan yang kedua sewaktu menjelang
pendaftaran/penerimaan siswa baru. Kedua perstiwa itu sama-sama sulit
terlupakan karena mempunyai kesan tersendiri yang luar biasa. Keduanya pun
sama-sama masih perawan desa dan masih tergolong di bawah usia. Namun kisahnya
belum sempat kuutarakan melalui ceritaku ini, sebab terlalu panjang sehingga
bisa membosankan pembaca.
TAMAT
Tidak ada komentar:
Posting Komentar