
Tak lama kemudian, Bruno menyiramkan spermanya
ke dalam mulutku. Dengan lahap aku menelannya. Sebagian lagi mengucur keluar
dari mulutku dan jatuh melalui daguku ke dadaku yang telanjang. Semprotan air
mani yang encer tapi pekat itu tersebar ke rambut dan seluruh wajahku, bahkan
sampai ke bahu dan kedua payudaraku. Aku merasa puas sekali.
Sementara itu Parulian sejak awal mengabadikan
adegan percintaan kami dengan sebuah handycam. Setelah selesai, dengan wajah
dan badan yang berantakan karena basah kuyup oleh air mani anjing, aku
tersenyum dengan manis ke arah handycam Parulian. Lidahku sesekali masih
menjilati alat kelamin Bruno maupun air maninya yang membasahi jari-jariku.
Sementara itu Parulian meng-close up wajahku selama beberapa saat.
Kupikir aku harus menunggu beberapa lama untuk
memulai ronde berikutnya. Yang kutahu, seorang manusia lelaki bila telah
mengalami orgasme akan menjadi lemas. Ternyata tidak demikian dengan kekasih
hewanku. Kontolnya masih cukup keras. Sandra menyuruhku untuk menambah keras
lagi kontol Bruno dengan mulutku. Aku melakukannya, dan dalam waktu singkat
alat kelamin itu telah kembali ke ukuran maksimalnya. Aku merasa takjub dan
senang memiliki kekasih yang perkasa seperti itu.
"Bagus. Nah, sekarang kita harus
membuatmu dibuahi oleh sperma anjing", kata Sandra yang merasa puas dengan
pekerjaanku. Ia membimbingku ke sofa dan mendudukkan diriku di antara mereka
berdua. Aku segera mengangkat kedua kakiku tinggi-tinggi dan mereka mengambil
kakiku masing-masing satu dan mengangkangkan kakiku lebar-lebar, menawarkan
memekku kepada Bruno. Bruno melompat menaiki tubuhku dan memegangiku dengan
kedua kaki depannya tepat di bahuku. Tanganku menggapai ke bawah dan meraih
kontolnya yang keras, serta membimbing ujungnya ke dalam lubang senggamaku.
Goyangan pinggul Bruno segera memompa
kontolnya yang panjangnya hampir mencapai 16 cm ke dalam tempatnya, yaitu
lubang memekku. Aku merintih-rintih kenikmatan dibuatnya. Aku kehilangan
kontrol. Tak kusadari aku menjeritkan kata-kata kotor yang hanya pantas
diucapkan oleh pelacur murahan yang tak bermoral. "Oh, ya.. Rasanya enak
sekali.. Aaah, enak sekali dikawini anjing.. Ya, ya.. setubuhi aku terus.
Pompa.. ya, pompa lagi anjingku.. kekasihku.. Oooh. Aku milikmu, setubuhi terus
betinamu.. Oooh, hamili aku.. Hamili aku!"
Anjing itu terus memompaku dengan keras dan
cepat selama sepuluh menit sebelum menyemprotkan air maninya yang banyak sekali
ke dalam diriku. Aku dapat merasakan air maninya yang hangat menghujani
rahimku. Aku baru menyadari kalau air mani anjing terasa lebih panas daripada
air mani manusia.
Bruno berusaha menarik kontolnya dari dalam
memekku setelah puas melampiaskan nafsunya terhadap diriku, tetapi ia tak bisa
melakukannya. Kami telah terikat bersama. Kedua alat kelamin kami tak bisa
dipisahkan.
Seekor anjing jantan memiliki buhul atau gumpalan
yang besar di sekitar pangkal kelaminnya. Buhul itu dimaksudkan untuk
meyakinkan bahwa kontol si anjing jantan tetap berada di dalam memek betinanya
dalam waktu yang cukup lama ketika mereka bersetubuh. Dengan demikian sperma si
anjing jantan mempunyai cukup waktu untuk mencapai sel-sel telur betinanya.
Tanpa mekanisme itu, sebagian besar air mani yang masuk ke dalam memek si
betina akan langsung keluar lagi sehingga memperkecil kemungkinan si betina
untuk hamil. Kedua sejoli ini baru bisa terpisah setelah kelamin si jantan
mengerut kembali, dan ini memakan waktu antara 15 sampai 45 menit. Paling tidak
demikianlah menurut berbagai literatur tentang perkawinan anjing yang sempat
kubaca dalam rangka menghadapi perkawinanku dengan Bruno.
Dengan demikian aku sama sekali tak terkejut
ketika kami tak terpisahkan setelah selesai bersetubuh. Justru peristiwa inilah
yang kuharap-harapkan. Aku benar-benar menikmati saat-saat yang sangat intim
tersebut. Belum pernah sebelumnya aku merasa begitu dimiliki dan dikuasai.
Belum pernah juga sebelumnya aku merasa begitu pasrah menyerahkan diriku untuk
dihamili, apalagi oleh seekor anjing. Pikiran-pikiran itu saja membuatku
mengalami orgasme.
Sandra meletakkan kedua kaki depan Bruno di
pundakku selama kami menunggu. Sementara aku mengelus-elus tubuh kekasih
hewanku yang berbulu dan kami pun berciuman dengan mesra dan intim. Pasangan
Sandra dan Parulian dapat melihat dengan jelas kedua alat kelamin kami yang
saling terhubung.
Setelah kami berdua terpisah setengah jam
kemudian, Parulian bertanya kepadaku, "Maria, apakah kamu benar-benar bisa
mengatur suamimu supaya ia tak mendahului Bruno jika ingin menyetubuhimu?"
Aku memandang Parulian dan berkata, "Itu
bisa membuat Anda terangsang, ya kan?"
"Ya. Itu membuat kami berdua terangsang."
"Aku merasa senang jika memang demikian.
Ya, aku percaya dapat melakukannya. Apa yang sebenarnya Anda inginkan?"
"Oke, kami akan sangat menyukainya jika
kamu dapat menetapkan bahwa suamimu tak dapat mengintimimu sebelum Bruno
mengintimimu. Dengan sepengetahuan kami tentunya."
"Ada lagi. Kami ingin ada jaminan bahwa
kau tak akan melanggar aturan itu. Kami tak dapat menerima jika kau berbohong
dan berselingkuh terhadap anjing kami", Sandra menambahkan.
"Tentu saja tidak. Apa usulan Anda untuk
itu?"
"Sabuk kesucian, dengan kuncinya kami
sendiri yang memegang."
"Sabuk kesucian! Kedengarannya ide yang
sangat bagus. Apakah Anda memilikinya?"
Sandra tersenyum dan berkata, "Tunggu
sebentar."
Ia kembali dengan sebuah alat yang aneh. Aku
berdiri untuk memeriksa alat itu. Nampaknya seperti bagian bawah dari bikini
tali, hanya saja terbuat dari kombinasi sabuk metal dan rantai besar yang
terbentang di tengah-tengah sabuk itu. Sandra memakaikan sabuk itu di
sekeliling pinggulku dengan erat dan melewatkan rantai itu dari bagian belakang
sabuk melalui celah pantatku, terus menutupi lubang kemaluanku di bagian depan,
lalu mengaitkannya kembali ke sabuk bagian depan dengan ketat dan menguncinya.
Dengan kondisi seperti itu, aku benar-benar tak dapat lagi disetubuhi.
"Nah, begitulah. Kau tetap bisa pipis dan
besar dengan sabuk itu terpasang pada tubuhmu. Hanya saja kau harus bekerja
ekstra untuk membersihkannya. Kau selalu bisa datang kemari dan kami akan
membukakan kuncinya."
Aku segera pulang ke rumah setelah itu. Beni
belum lama tiba di rumah dan baru saja hendak menonton TV sambil membawa
beberapa kaleng bir dan sepiring cemilan. Ia terpaku di tempatnya dan
memandangi sekujur tubuhku. Hampir saja kaleng-kaleng bir itu terlepas dari
tangannya. "Sayang, apa yang terjadi?"
Aku berjalan ke arahnya. Pandangan kedua mata
suamiku tertuju pada alat yang terpasang pada selangkanganku, lalu pada cairan
yang mengalir menuruni kedua kakiku.
"Ini air mani anjing, Beni. Aku baru saja
bersetubuh dengan anjing tetangga kita."
Aku segera berlalu dari hadapannya menuju
pancuran untuk mandi membersihkan diriku. Beni mengikutiku persis seperti yang
kuharapkan. Sementara itu aku menyalakan kran air dan mulai mandi di bawahnya.
"Maukah kau memperjelas apa yang kau
katakan barusan?"
"Kata-kata apa yang tidak kau
mengerti?"
"Kau bersetubuh dengan seekor
anjing?"
"Bagus, Beni. Kurasa kau mengerti
maksudku."
"Mengapa?"
"Karena ia menyetubuhiku lebih baik dan
lebih lama daripada kamu. Ia adalah pemain seks yang hebat. Aku adalah
betinanya. Ia adalah kekasihku. Ada pertanyaan yang lain?"
"Apakah tetangga kita tahu?"
"Justru merekalah yang merencanakannya.
Tugasku adalah melayani anjing mereka. Dan aku mengerjakan tugasku dengan
sungguh-sungguh."
"Lalu alat apa itu dan kenapa kamu
berkeliaran bugil di luar?"
"Aku tidak bugil. Aku mengenakan sabuk
kesucian."
"Sabuk kesucian? Itu kan untuk
perawan-perawan di zaman dulu."
"Bukan, sabuk ini untuk mencegah kontol
yang tak berhak mengakses memek dan lubang pantat yang sudah dimiliki secara
pribadi."
"Siapa yang memegang kuncinya?"
"Keluarga Sandra dan Parulian, tentu
saja."
"Lalu bagaimana caranya kalau aku ingin
menyetubuhimu?"
"Yah, itulah masalahnya. Tetangga kita
mempunyai aturan. Bruno, anjing mereka, akan selalu mendapat jatah pertama. Kau
baru boleh menyetubuhiku setelah itu. Mereka bilang mereka mau saja
mengizinkanmu untuk menyetubuhiku selama kamu mau mengikuti aturan ini dan aku
sudah menjamin mereka dan mengatakan pada mereka bahwa mereka tak perlu
khawatir."
Aku sebetulnya agak terkejut (sekaligus
gembira) ketika Beni ternyata tidak bereaksi negatif. Pandangan matanya tak
terlepas sedikit pun dari sabuk kesucianku. Ia memintaku untuk menjelaskan
secara rinci kejadiannya. Birahinya yang menggebu mengkhianati perasaannya yang
seharusnya timbul akibat perbuatanku mengambil seekor anjing sebagai kekasih.
Aku pun memberinya penjelasan secara rinci tentang semua peristiwa yang terjadi
dan efeknya terhadap diriku. Ia hampir saja berejakulasi di celananya ketika
kusebutkan bahwa Bruno akan selalu mendapatkan jatah memek yang segar dan
bersih, sedangkan ia akan selalu mendapatkan bagian sesudahnya hanya jika
pasangan Sandra dan Parulian merasa puas dengan penerimaannya yang total dan
sungguh-sungguh atas aturan yang berlaku ini. Malamnya, ia sudah sangat siap
untuk menelepon keluarga Sandra dan Parulian dan menjelaskan bahwa ia sudah
memahami peranannya.
Aku hampir-hampir mengalami orgasme hanya
mendengarkan suamiku memberi tahu mereka bahwa ia akan selalu mendahulukan
Bruno dan bahwa aku adalah kekasih dan betina si Bruno yang nomor satu. Mereka
lalu menyuruh Beni untuk membawaku ke sana untuk dikawini lagi oleh Bruno.
Beni pada awalnya tak suka berjalan bersamaku
yang hanya mengenakan sabuk kesucian, tapi aku tak memberinya pilihan lain.
Selesai berkenalan dengan suamiku, pasangan Sandra dan Parulian melepaskan
sabuk kesucianku dan menyuruhku merendahkan diriku dalam posisi merangkak untuk
memberikan pelayanan seks oral kepada anjing mereka di depan suamiku.
Setelah itu Bruno menyetubuhiku dari belakang
dengan gaya anjing dan mengisi peranakanku dengan benih-benihnya. Seperti
sebelumnya, setelah usai aku terikat dengan Bruno selama sekitar setengah jam.
Beni sepenuhnya menikmati, menontonku kawin dengan hewan liar itu. Begitu aku
dan Bruno terpisah, pasangan Sandra dan Parulian menyerahkan sebuah kalung
anjing kepada Beni yang langsung memasangkannya di leherku. Mereka menyuruh
Beni supaya aku selalu mengenakan kalung anjing itu. Kalung itu mempunyai
sebuah tempat nama yang menggantung dengan tulisan "Betina si Bruno"
yang tertulis di kedua sisinya dengan huruf-huruf besar yang mudah dibaca dari
jarak beberapa meter. Aku mengenakan kalung itu dengan bangga dan bermaksud
untuk memakainya terus setiap saat. Parulian mengaitkan seutas tali ke kalung anjingku
dan menyerahkan ujungnya kepada Beni.
Sejak saat itu, Beni tak pernah menyetubuhiku
sebelum Bruno mendapatkan bagiannya. Jika masa suburku tiba, minimal selama
tiga hari aku selalu menginap di rumah keluarga Sandra dan Parulian supaya bisa
kawin setiap saat dengan anjing mereka. Juga untuk meyakinkan bahwa tak ada
benih suamiku yang bisa menghamiliku selama masa itu. Aku mencintai suamiku,
aku senang menjadi istrinya dan sama sekali tak mempunyai keinginan untuk
bercerai dengannya, tapi aku juga sudah tak ingin lagi memiliki anak darinya
karena aku sudah mempunyai kekasih baru, Bruno. Jika aku harus hamil, biarlah
itu berasal dari benih anjing kekasihku.
Selama aku menginap di rumah keluarga Sandra
dan Parulian, aku tak pernah mengenakan pakaian apa pun kecuali kalung
anjingku. Bahkan ketika pergi ke rumah mereka pun aku tak membawa pakaian
secuil pun. Demikian pula ketika aku pulang kembali ke rumah suamiku setelah
masa suburku lewat.
Beni tampak senang menjalani kehidupan seperti
itu. Kami mulai memiliki segudang koleksi foto dan video tentang kehidupan
cintaku bersama Bruno, kebanyakan berisi adegan-adegan percintaan seksual
secara eksplisit. Kadang-kadang Beni serta pasangan Sandra dan Parulian
membawaku dan Bruno ke hutan kecil dekat rumah kami untuk berjalan-jalan. Kami
pergi bermobil ke sana dan memarkir mobil di pinggiran hutan, lalu berjalan
kaki masuk ke dalamnya. Tentu saja aku tak mengenakan apa-apa kecuali kalung
anjingku dan seutas tali kekang yang terkait padanya. Lalu mereka bertiga
berjalan-jalan mengelilingi hutan sambil memegang tali-tali yang terikat pada
leherku dan leher Bruno. Aku diperlakukan sama seperti anjing karena aku adalah
betina Bruno. Jika Bruno tiba-tiba muncul birahinya maka ia akan segera
mengawiniku saat itu juga tanpa mempedulikan tempatnya. Sementara itu suamiku
serta pasangan Sandra dan Parulian pun akan berhenti sejenak dan mengabadikan
seluruh adegan itu dengan kamera dan handycam mereka.
Yah, begitulah kehidupan seekor anjing. Dan
aku sangat menikmatinya!
TAMAT
Tidak ada komentar:
Posting Komentar