
Namaku Mei, umur 19 tahun, tinggal bersama dua
orang pembantuku, yang satu bernama Siti, dan yang satunya lagi bernama Jono.
Kami tinggal di sebuah rumah kontrakan. Aku seorang siswi SMU swasta di
Surabaya, aku memang tidak terlalu cantik, tetapi kulitku putih mulus. Kedua
orang tuaku tinggal di Jakarta dengan kedua adikku. Kebetulan saat ini adalah
liburan sekolah, jadi aku sama sekali tidak punya kegiatan. Liburan kali ini
aku sedang malas pulang.
Aku mempunyai kebiasaan yang agak aneh, yaitu
aku suka apabila ada orang, apalagi dari golongan tukang becak, tukang sampah,
tukang bangunan, maupun para penjual makanan dan minuman, memperhatikan
payudaraku. Dan untuk ukuran anak seusiaku, ukurannya terlalu besar, yaitu 40C,
tetapi agak menggantung, dengan puting berwarna merah kecoklatan, karena sering
kupelintir-pelintir. Ada saja caraku menarik perhatian mereka. Kalau aku
memanggil bakso, aku sengaja tidak memakai BH, sehingga putingku menonjol dari
balik kaosku. Orang belakang rumahku sedang membangun rumah, sehingga banyak
tukang di sana. Aku sengaja berolah raga lompat tali tanpa memakai BH di
halaman belakang, sehingga payudaraku bergoyang kesana-kemari, dan tentu saja
hal ini diperhatikan oleh tukang-tukang itu.
Setelah puas berolah raga, kaosku menjadi
basah oleh keringat, sehingga payudara dan juga putingku terlihat jelas dari
balik kaos. Aku memanggil seorang penjual minuman keliling. Tentu saja itu
membuat dia tercengang, karena melihat payudaraku yang besar ini dengan jelas
dari balik kaosku yang basah. Setelah selesai minum, aku bertanya, "Berapa
mas?" tanyaku, dia tidak menjawab, hanya terdiam dan mengagumi keindahan
payudaraku.
Lalu aku pura-pura menjatuhkan uang dan
mengambilnya. Spontan saja payudaraku ini bergelantungan dengan indahnya, dan
terlihat sebagian dari lubang leher kaosku. Sesaat kemudian dia menjawab,
"Mbak, kalo dibayar pake itu gimana?" katanya sambil dengan agak
ragu-ragu menunjuk payudaraku. Masih dalam posisi menunduk dan sebagian
payudaraku terlihat, aku berkata "Apa, pake ini?" sambil kutarik
lubang leher kaosku ke bawah, sehingga payudara besar milikku terlihat
seluruhnya. Dia hanya bisa menelan ludah, lalu kemudian menjawab "Iya."
Aku kemudian berdiri tegak lagi. Sambil pura-pura berpikir, aku menyilangkan
tangan dan menjepit kedua payudaraku dengannya, tidak ada pilihan lain bagi
payudaraku selain mencuat ke depan dengan indahnya, dengan kedua puting
berwarna kecoklatan yang semakin mencuat keluar. Hal ini membuat penjual
minuman itu semakin terangsang dan tak sabar menunggu jawabanku. Lalu kujawab
"Iya deh Mas." Lalu kami berdua masuk setelah penjual minuman itu
memasukkan barang dagangannya.
Setelah berada di dalam ruang tamu, aku bilang
begini "Mas, netek dulu ya?" Kepalanya langsung kutuntun untuk masuk
ke dalam kaosku. Dengan ganasnya dia kulum kedua putingku bergantian, dan
kadang-kadang digigitnya. Sambil mengulum putingku dia meremas-remas
payudaraku, dan terkadang dia menarik-narik putingku dengan gigitan giginya.
"Aaahh", lirihku. Kunikmati kuluman-kulumannya. Sesaat kemudian
kusuruh dia untuk berhenti sebentar. Kubuka baju dan celana beserta celana
dalamku, dan kuambil tali rafia. Kuikat kedua pangkal payudaraku, sehingga
payudaraku terjepit dan semakin terdorong ke depan. Hal ini membuat darah tidak
dapat mengalir ke payudaraku, sehingga warnanya berubah menjadi agak
kebiru-biruan. Lalu kusuruh dia untuk mengulum putingku lagi. Aku tidak dapat
merasakan kuluman-kulumannya. Tetapi rasanya lain jika kulihat dia mengulum
dengan ganasnya, meskipun aku tidak dapat merasakannya.
Sesaat kemudian aku disuruhnya bertumpu pada
kedua tangan dan kakiku. Dia membuka celananya dan menyuruhku untuk
mengulumnya. Batang kemaluannya berwarna coklat gelap, dan bentuknya lucu, agak
tertunduk dan miring ke kanan. Tanpa ragu kukulum batang kemaluannya. Kusedot
sambil kugigit-gigit, "Hmmphh", kupermainkan batang kemaluannya
dengan mulutku, sebentar saja spermanya sudah keluar, langsung saja kutelan
sampai habis. Tapi aku tak peduli, setelah kukeluarkan sebentar, langsung
kumasukkan lagi kemaluannya ke mulutku, dan kusedot lagi, "Mmpph..
aahh.." payudaraku yang sejak tadi bergelantungan, terus menerus diremas
oleh penjual minuman itu, kedua putingnya ditarik-tarik seperti sedang memerah
susu, hanya bedanya dia sedang memerah susu Mei, bukan susu sapi (iya kan?).
Ikatan tali rafia tadi dilepasnya, sehingga darah kembali mengalir ke
payudaraku, dan aku dapat merasakan kembali remasan-remasannya. Untuk kedua
kalinya spermanya keluar ke dalam mulutku. Sebelum kutelan, kutunjukkan
kepadanya sperma yang ada di mulutku. Dia menghentikan remasannya sejenak.
Melihat spermanya ada di mulutku membuatnya lebih terangsang.
Setelah menelan spermanya, aku bertanya,
"Mas, tidak pingin ngerasain anusku?" Tanpa ragu dia langsung
menyuruhku untuk tengkurap dengan pantat diangkat tinggi. "Sebentar Mas,
aku ambil mentega dulu, ya?" Sebelum anusku disodok, aku memintanya untuk
melumuri seluruh badanku dengan mentega, dari atas sampai ke bawah, termasuk
lubang anusku. Melihat tubuhku yang mengkilat oleh mentega, dia menjadi semakin
tidak sabar dan langsung menyodok anusku. Sambil merasakan nikmatnya batang
kemaluannya di dalam duburku, aku meremas-remas payudaraku yang menjadi licin
oleh mentega.
Sekitar 10 menit kemudian, kurasakan
spermanyanya keluar di dalam duburku. Dia tampak puas sekali. Kami berdua
tergeletak di atas karpet.
"Mbak, enak banget rasanya. Lain kali
boleh lagi tidak?"
"Kenapa harus lain kali? Sekarang aja
kenapa?"
"Wah, nggak kuat Mbak."
"Ya udah deh, tapi jangan pulang dulu,
aku mau minta tolong, mau tidak?"
"Minta tolong apa sih?" tanyanya.
Aku beranjak dari karpet dan pergi ke halaman
samping, dan mengajak anjing herder yang selama ini setia menjagaku. Setelah
sampai ke ruang tadi, aku bilang, "Mas, aku mau tanya, payudaraku besar
tidak sih?"
"Wah, kalo itu sih bukan payudara lagi,
tapi udah tuueeteek.."
"Iya? Makasih loh Mas atas pujiannya.
Tapi aku masih ngerasa kalo payudaraku ini kurang besar. Mas mau tidak tiap
hari mijetin payudaraku ini, biar tambah besar lagi, ya?"
"Iya deh, tapi Mbak juga harus mau ngemut
kontolku tiap hari, biar tambah panjang."
Karena aku memang suka menghisap kemaluan
laki-laki, maka syarat yang dia berikan sama sekali tidak membuatku keberatan,
sehingga aku menjawab, "Boleh, siapa takut?"
"Oh ya, ini anjingku, temen main
setiaku."
Mungkin karena tidak tahu maksudku, dia
bertanya, "Temen main apa Mbak?"
"Main ini.." kataku sambil
menidurkan anjingku.
Aku melirik ke arahnya, kemudian pelan-pelan
kukulum batang kemaluan anjingku itu. Dia tampak tercengang.
"Loh Mas, kok diam? Ayo dong pijetin
payudaraku", kataku.
Dia mulai meremas-remas payudaraku sambil
tetap menunjukan pandangannya ke arahku yang mulai asyik menghisap batang
kemaluan anjingku itu.
"Mas, tolong ambilkan terong di dapur
dong", pintaku.
Dia menuju ke dapur, dan kemudian segera
kembali dengan terong yang lumayan besar. Tanpa membuka mulutku, karena masih
keenakan menghisap, salah satu tanganku menunjuk ke arah anusku. Dia rupanya
mengerti. Karena masih ada sisa-sisa mentega dan peju, maka tak sulit baginya
memasukkan terong itu ke dalam anusku, lagi pula aku memang sering
melakukannya. Satu tangan penjual minuman itu meremas-remas payudaraku secara
bergantian, sedangkan tangan yang satunya lagi memainkan terong itu di dalam
anusku. Keluar, masuk, keluar masuk, "Aaahh", enak rasanya. Aku
semakin giat mengulum batang kemaluan anjing tersayangku. Sesaat kemudian
anjingku mengeluarkan air maninya di dalam mulutku. "Hmmhh",
kumainkan spermanya di mulutku, seperti orang yang sedang berkumur.
Penjual minuman tadi masih melakukan tugasnya
dengan giat. Dengan isyarat tanganku, aku memintanya untuk berhenti. Aku
berbalik ke arahnya, menunjukkan air mani anjingku yang masih ada di dalam
mulutku. Dia bertanya, "Mbak mau telan itu?"
Dengan tersenyum kuanggukkan kepalaku,
kemudian kutelan habis air mani anjingku itu. Dia hanya terpaku melihat
tingkahku itu.
"Mas, aku mau tidur dulu ya? Tolong pijetin
payudaraku, ya?" kataku.
Lalu aku menuju ke sofa dan tidur. Aku mulai
tertidur sambil merasakan remasan-remasan tangannya. Saat aku membuka mataku,
penjual minuman itu masih memijat-mijat payudaraku.
"Udah Mas, terima kasih ya?" kataku
sambil beranjak bangun dari sofa.
Dia menghentikan kegiatannya.
"Mbak, yang Mbak bilang tadi jadi
tidak?"
"Yang apa?"
"Katanya aku disuruh mijetin payudaranya
Mbak tiap hari?"
"Ooh itu, ya jadi dong, tapi sekarang Mas
pulang dulu ya, soalnya sebentar lagi Siti sama Jono pulang, tadi mereka
kusuruh jaga toko", alasanku, kalau tidak begitu dia tidak pulang-pulang.
"Ya deh Mbak, besok lagi ya?" aku
menganggukkan kepalaku.
Kupakai lagi celana dan kaosku. Kuantar dia
sampai keluar dari pagar. Aku masuk lagi ke rumah, lalu aku mandi. Payudaraku
agak memar, mungkin karena dari tadi diremas-remas oleh penjual minuman itu.
Masih dalam keadaan telanjang bulat dan basah,
aku keluar mencari anjingku, rupanya anjingku masih ada di ruang tamu. Kuajak
anjingku masuk ke dalam kamar mandi. Kunyalakan shower-nya, di bawah pancuran
shower itu aku bercinta lagi dengan anjingku. Kutidurkan dia, tanpa pikir
panjang kukulum lagi kemaluannya sambil kukocok, kusedot-sedot, dan
kadang-kadang agak kugigit-gigit, anjing kesayanganku itu kelihatannya sangat
menikmati sedotan-sedotanku. Beberapa saat setelah itu, kurasakan spermanya
mulai muncrat di dalam mulutku. Kupercepat kocokan tanganku dan kemaluannya
kusedot dengan lebih kuat, sampai akhirnya spermanya keluar semua di dalam
mulutku. Aku berdiri sebentar untuk mematikan shower-nya. Aku duduk di lantai
kamar mandi, dan memandangi kedua payudara indahku. Sperma anjingku yang masih
ada di mulut, kukeluarkan dan kutumpahkan ke atas payudaraku. Kuratakan sperma
anjingku ke seluruh payudaraku, sampai payudaraku kelihatan mengkilat dan
licin. Kuremas-remas payudaraku, dan kadang-kadang kutarik-tarik putingku.
Karena payudaraku besar, aku bisa mengulum putingku sendiri, kujilat-jilat
payudaraku, kurasakan nikmatnya sperma seekor anjing yang melumuri sepasang
payudara berukuran 40C ini.
Bersambung...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar