![miyabi [Portal Seks]](https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjc5Ozkcr0OxZK6g8P_uQ3jDmOfldsMs30NJOf45q0mHomd_jRm6ENyzMRQwtwFBh42W_YBdjStq128FhlliWkwLkQCDcxpyTh0No6K0k3NPFdTYMHi85j8dNToVCTBeINKQASYjLZbhzrS/s400/maria018.jpg)
Nama saya Vita. Kisah saya sudah dua yang
dibagi di dalam 17Tahun tetapi diceritakan oleh teman saya si Arthur. Kisah
saya berjudul "Arthur: Ski, Snow & Sex" dan "Arthur: Vita
& Sex Pertama". Kali ini saya ingin membagikan kisah saya secara
tersendiri.
Nama asli saya bukan Vita, tetapi karena
Arthur sudah memakai nick name itu untuk saya, ya saya tetap pakai nama Vita
saja. Tinggi saya 168 cm, putih, rambut sebahu, dan sejak SMP orang-orang
bilang saya mirip sekali dengan peragawati Donna Harun. Awalnya saya bangga
dibilang begitu karena mirip peragawati tetapi lama kelamaan saya menjadi segan.
Pernah bulan lalu, mungkin karena saking
miripnya dengan si Donna, seorang wartawan Infotainment melihat saya sedang
Jalan-jalan di Plaza Senayan dan ia langsung menghampiri saya dan menanyakan
sesuatu tentang fashion. Saya awalnya terheran-heran tetapi langsung saya
bilang, "Salah orang, Mas!" hehehe..
*****
Saya suka sekali masturbasi. Sejak SMP gairah
seks saya tinggi sekali. Tetapi saya bisa meredam gejolak seks saya. Saya
dibesarkan di lingkungan keluarga yang taat beragama. Pertama kali masturbasi terjadi
ketika saya sudah lulus SMP. Waktu itu saya dan teman-teman (laki dan
perempuan) sedang nongkrong di rumah teman setelah seharian mengurus STTB.
Si Harry datang dan membawa sebuah kaset video
porno dan langsung menyetel film itu di rumah temanku. Kami semua langsung
menonton. Saya sendiri baru pertama kali menonton film porno dan ada perasaan
jijik dan bergairah. Setelah selesai menonton film, kami pun pulang ke rumah.
Karena saya membawa mobil sendiri, saya mengantar Harry dan 3 orang teman ke halte
bis terdekat.
Setiba di rumah, saya memarkir mobil di garasi
lalu sebelum keluar dari mobil perhatian saya tertuju pada kaset video yang
tergeletak di jok mobil bagian belakang. Rupanya kaset itu terjatuh dari tas
Harry. Segera saya masukkan video itu ke tas saya lalu saya langsung masuk
kamar. Saat itu sudah jam 21:30, kedua orang tuaku sudah tidur.
Saya bergegas mandi lalu mengganti baju.
Setelah itu dengan deg-degan, saya memutar film porno itu di kamar saya karena
kebetulan saya punya TV dan video player sendiri. Dengan penuh minat, saya
perhatikan adegan-adegan ML, saya perhatikan bentuk kelamin pria dan wanita.
Saya bisa lebih santai melihatnya dibandingkan tadi sore karena malu apabila
terlihat terlalu serius.
Ada satu adegan dimana si wanita sedang
rebahan di tempat tidur dalam keadaan telanjang. Si wanita memainkan jarinya di
selangkangan dan payudaranya sambil mendesah dengan penuh nikmat. Saya menjadi
penasaran untuk mencoba. Saya selipkan tangan kananku ke dalam celana dalamku
lalu meraba vagina. Saya tidak merasakan kenikmatan. Kemudian saya perhatikan
si wanita itu membuka bibir vaginanya. Saya lalu mencoba membuka bibir vaginaku
dengan jari telunjuk dan jari tengah lalu tangan kiriku mulai mengusap
vaginaku. Sontak tubuhku langsung seperti disetrum.
Saya merasakan sebuah kenikmatan yang luar
biasa. Saya mencoba memainkan klitoris. Saya elus, putar dan pilin. Oh
nikmatnya! Nafas saya mulai mendesah-desah kenikmatan seperti si wanita itu.
Akhirnya saya langsung membuka semua bajuku dan tidur telanjang bulat di tempat
tidur. Kembali tangan kananku memainkan klitoris sedangkan tangan kiriku
meremas-remas payudaraku yang saat itu berukuran 34A. Rasanya seperti mengawang
di surga. Nikmatnya tiada tara.
Saya mulai mempercepat gerakan jariku di klitoris,
semakin cepat hingga akhirnya tubuhku seperti kembali disengat listrik. Tubuhku
mengejang. Ada rasa lega yang tidak bisa saya lukiskan. Vagina dan
selangkanganku basah dengan cairan. Saya merasakan si wanita di film itu juga
merasakan hal yang sama dengan saya. Si wanita itu menjilat jarinya yang basah
oleh cairan dari vaginanya. Saya mencoba menjilat jariku, rasanya sedikit asin.
Setelah masturbasi pertama itu, saya tertidur dengan nyenyak. Sekitar jam 3
pagi, saya terbangun dan kembali hasrat seks saya bangkit kembali dan saya
kembali bermasturbasi.
Semenjak itu, saya senang sekali bermasturbasi
hingga saya pertama kali ML seperti yang sudah diceritakan dalam "Arthur:
Vita & Seks Pertama". Umumnya saya masturbasi hanya dengan tangan.
Saya mencoba memakai ketimun tetapi kurang bisa saya nikmati karena terasa aneh
di vaginaku.
Pada waktu saya kelas 1 SMA di tahun 1990, ada
sebuah long weekend karena ada hari libur nasional yang jatuh pada hari Sabtu.
Orang tua saya meminta saya untuk menemani mereka ke Singapore untuk check up.
Akhirnya berangkatlah kita bertiga ke Singapore. Kami menginap di hotel
Mandarin dan orang tua saya check up di Rumah Sakit Mount Elizabeth. Orang tua
saya perlu melakukan beberapa tes kesehatan yang bisa memakan waktu beberapa
jam.
Daripada bosan menunggu di rumah sakit, saya
minta ijin untuk Jalan-jalan ke Orchard Road dan nanti janjian ketemu di hotel.
Di sepanjang Orchard Road, saya keluar masuk toko-toko hingga saya menjumpai
sebuah toko kecil yang menjual peralatan-peralatan untuk seks. Saya baru
pertama kali melihat toko itu dan dengan terheran-heran saya masuk ke dalam.
Berbagai macam kondom dijual dan dipajang di
rak-rak. Buku-buku seputar seks bahkan dildo juga dijual. Dildo adalah penis
tiruan terbuat dari karet yang dipakai wanita untuk masturbasi. Bentuknya
bermacam-macam. Ada dildo yang dibuat mirip sekali dengan penis, ada dildo yang
dibuat berbentuk tabung oval stainless steel, bahkan ada juga dildo yang dibuat
bercabang sehingga si wanita bisa memasukkannya ke dalam vagina dan anusnya
secara bersamaan. Awalnya saya mau nekat membeli dildo yang bercabang tetapi
saya urungkan niat itu dan saya pilih dildo yang mirip penis asli.
Saya berjalan menuju kasir. Di sebelah saya
ada seorang pria tinggi dan tegap dengan potongan rambut cepak. Ia berkata
kepadaku..
"Jangan lupa beli jel pelumas karena
nanti bisa lecet" seraya menunjuk ke botol yang dipajang dirak.
Sambil tersenyum malu, saya menghampiri rak
botol jel pelumas dan mengambil satu.
"Kamu orang Indonesia ya?" kata pria
itu dalam bahasa inggris.
"Iya, kok tau?" saya membalas dengan
bahasa inggris.
"Banyak orang Indonesia disini, saya bisa
membedakannya. Nama saya Richard Chen"
"Saya Vita"
Richard membayar ke kasir satu kotak kondom
lalu saya kemudian membayar dildo dan botol jel. Selesai membayar, Richard
memberikan kartu namanya padaku dan berkata.
"Kalau anda perlu bantuan dalam memakai
barang itu, saya bersedia membantu"
"Nanti saya pikirkan" kata saya
sambil menerima kartu namanya. Setelah itu kami berpisah.
Dengan tergesa-gesa saya berjalan kembali ke
Hotel Mandarin. Setiba di kamar (saya tidur di kamar sendiri), saya langsung
membuka bungkusan dildo dan botol jel. Kemudian saya membuka seluruh bajuku dan
telanjang bulat di tempat tidur membaca petunjuk pemakaian yang tertera di
kotak dildo. Saya memperhatikan dengan seksama dildo itu. Memang sangat mirip
dengan penis asli. Bentuknya cukup besar sekitar 30 cm, diameter 4cm dan
berwarna coklat muda. Saya berpikir apakah ini muat dalam vagina saya? Mari
kita coba!
Saya merebahkan diri di tempat tidur lalu
membuka lebar kakiku kemudian dildo saya arahkan ke vaginaku. Tak lupa saya
oleskan jel pelumas di seluruh dildo kemudian saya mulai masukkan dengan
perlahan ke vagina. Awalnya agak seret tetapi dengan sabar saya masukkan hingga
mentok diujung vagina. Setelah itu saya mulai tarik lagi keluar.
Saya menikmati setiap senti dari dildo yang
masuk dalam vaginaku. Mataku terpejam menikmati sensasi ini. Setelah dildonya
keluar semua, kembali saya masukkan dan kali ini lebih cepat. Akhirnya vagina
saya sudah terbiasa dengan dildo itu sehingga saya bisa mengocok dildo dengan
cepat. Nafas saya memburu dengan cepat. Keringat saya mengucur disekujur
tubuhku. Payudara kuremas-remas sembari mengocok dildo di vagina.
Ada sekitar lima menit saya memainkan dildo
itu dalam vaginaku hingga saya orgasme pertama. Setelah itu saya membalikkan
badan dalam posisi menungging dan memasukkan dildo dari arah belakang. Saya
melihat bayangan tubuhku di cermin yang digantung di atas meja. Saya merasa
seksi sekali. Mulutku terbuka lebar dan mataku setengah terpejam menikmati
dildo yang dimasukkan ke vaginaku dari arah belakang.
Saya merapatkan kedua belah kakiku hingga
dildo itu rasanya bisa saya tekan dengan kuat dengan otot selangkanganku.
Payudaraku yang bergelantungan tampak bergoyang-goyang mengikuti irama
gerakanku. Beberapa menit kemudian, kembali saya orgasme. Saya langsung roboh
ke kasur. Tubuhku basah oleh keringat. Cairan vaginaku membasahi sedikit sprei
tempat tidur. Saya beristirahat sejenak sementara dildo itu masih di dalam
vaginaku.
Saya lalu mendapat ide baru. Saya mengeluarkan
dildo itu dari vagina lalu saya mengambil kursi. Kursi itu mempunyai sandaran
yang dibuat dari beberapa kayu yang tegak lurus dan ada jarak dari antara satu
kayu ke kayu lain. Saya selipkan dildo itu di antara kayu itu. Karena ukuran
dildo yang besar, maka dildo itu bisa diselipkan dan tidak bergoyang sama
sekali. Dildo itu mengacung membelakangi kursi. Saya lalu menggeser kursi itu
ke arah meja rias. Lalu saya menungging bertopang pada meja rias sedangkan vagina
kuarahkan pada dildo.
Saya melihat posisiku yang cukup lucu karena
saya berada dalam posisi doggy style dan dildo itu ditopang dalam sandaran
kursi. Lalu mulai kembali saya perlahan memaju mundurkan pantatku. Dildo bisa
masuk dengan baik dan kursinya sendiri tidak bisa bergeser kemana-mana karena
tertahan oleh tempat tidur. Saya mulai mempercepat irama gerakanku. Gairah
seksku seperti tiada hentinya bergelora dalam diriku. Sepertinya dildo ini bisa
memahami keinginan seksku yang tinggi.
Berkali-kali saya hunjamkan dildo itu ke dalam
vaginaku. Vaginaku terasa berdenyut-denyut menerima sensasi seks yang diterima
dari dildo itu. Nafasku tersengal-sengal. Rambutku berantakan dan keringat
kembali bercucuran di dadaku. Saya meremas kedua belah payudaraku dengan gemas
sembari terus memacu vaginaku dalam dildo itu. Saya ingat waktu itu dalam tempo
waktu 15 menit bersetubuh dengan dildo dalam posisi tersebut, saya orgasme
kurang lebih 6 kali.
Akhirnya saya berhenti karena kecapaian. Saya
melepaskan dildo itu dari vaginaku dan mencopotnya dari sandaran kursi. Saya
membaringkan tubuhku yang lunglai di tempat tidur lalu tertidur selama 1 jam.
Begitu terbangun, saya langsung buru-buru membereskan kamarku dan membuang
bungkusan dildo dan jel pelumas. Dildo itu sendiri saya cuci lalu saya bungkus
didalam kaos beserta botol jel pelumas supaya tidak ketahuan ibuku.
Saya melihat kartu nama si Richard di tasku.
Sempat terlintas ide untuk menelepon dia dan siapa tahu bisa diajak bersetubuh.
Tetapi saya urungkan niat itu karena beresiko tinggi ketahuan orang tua.
Lagipula saat ini saya sedang senang bermain-main dengan dildo baruku.
Hingga sekarang, saya sudah memiliki tiga buah
dildo. Yang pertama adalah dildo pertama yang saya beli di Singapore, kemudian
dildo yang model bercabang dan ketiga dildo yang bisa bergetar sendiri memakai
baterai. Kedua dildo itu saya beli di Amerika.
TAMAT
Tidak ada komentar:
Posting Komentar