
Akhirnya mereka bertiga nekat pulang dengan
keadaan hujan yang sangat deras sekali, aku dan Tari memandang mereka dari
dalam tenda yang lama kelamaan menghilang di kejauhan. Sambil melipat kedua
tanganku dan duduk dipintu tenda, aku dan Tari berbincang-bincang ringan, lalu
aku merasakan seperti ada sesuatu yang menggelitik di dalam celana panjangku.
Akupun spontan langsung berdiri, "Aduh..
apa ini", kataku khawatir takut ada binatang di dalam celanaku.
Tanpa banyak pikir akupun spontan membuka
celana panjangku yang tanpa aku sadari Tari berada di sampingku. Akupun
sekarang tinggal mengenakan celana dalam.Waktu itu aku memang pakai celana
dalam karena tahu mau jalan jauh. Aku kibas-kibaskan celanaku hendak
menjatuhkan sesuatu apabila ada yang melekat di celanaku sambil meraba-raba
seluruh bagian bawah tubuhku sampai ke ujung kaki, bahkan sempat mengintip
kedalam celana dalamku mencari mungkin ada binatang yang masuk ke situ.
"Mari coba ku periksa", seru Tari
sambil menarik celana panjang yang aku pegang.
Akupun baru sadar bahwa di situ bukan aku
sendiri sehingga aku sedikit malu dalam keadaan setengah bugil didepan Tari.
Iapun memeriksa celana panjangku itu dan hanya mendapatkan sehelai daun dari
dalamnya yang entah kenapa bisa berada di dalam celana panjangku. Mungkin waktu
aku sedang bermain bola tadi yang beberapa kali terjatuh di atas rumput liar.
Tari lalu kembali menyodorkan celana panjang
itu kepadaku yang tanpa sengaja menyentuh penisku yang setengah ereksi akibat
tertiup udara dingin. Spontan penisku semakin ereksi, mungkin tersentuh oleh
tangan dingin Tari. Perubahan pada penisku itu terlihat oleh Tari karena celana
dalam yang aku pakai mengembang keluar seakan ada benda di dalamnya yang memaksa
keluar, tetapi aku coba mengacuhkan kejadian itu sambil mengambil celana
panjangku dari tangan Tari kemudian berbalik membelakanginya.
Saat hendak memasukkan satu kakiku kedalam
lubang celana panjangku aku merasakan penisku ada yang meraba dari belakang, karena
hanya bertumpu pada satu kaki saja aku terpelanting ke samping dan jatuh di
atas lantai karpet di dalam tenda itu. Akupun merasakan ada sebuah tangan ikut
tertindih olehku yang ternyata adalah tangan Tari. Pahakupun terasa dingin oleh
karpet yang lembab akibat hawa air hujan yang merembes dari dari dalam tanah.
Walaupun aku telah menindih tangan Tari dan mengira ia kesakitan yang ternyata
tidak. Justru tangan halus itu bekerja meremas remas batang penisku yang
semakin kuat berdiri. Detak jantung terasa makin cepat.
"Ah.. sst", desahku dengan napas
yang mulai tidak beraturan.
"Ahh.. ayo.. dong Rur", seru Tari
yang sedang memelukku dari belakang sambil memasukan kedua tangannya ke dalam
celana dalamku, kini kedua tangannya mulai beraksi satunya meremas-remas batang
penisku yang satunya lagi memainkan biji penisku.
"Uh.. sst.. ahh", desisku seakan
melayang-layang. Rupanya setan jahat dibukit itu mulai memasuki kami berdua
yang mulai saling bergulatan di atas karpet yang dingin dalam tenda itu.
"Rur.., semenjak kejadian kemarin aku
ingin kamu menusukku lagi", bisik Tari dari belakang persis dekat
telingaku sambil terus memutar-mutar batang penisku. Akupun membalikkan badanku
dan memposisikan diriku berada diatasnya. Kedua lututku yang berada disisi luar
paha kanan dan kiri Tari menjadi tumpuan dibantu tanganku yang berada disisi
kiri kanan lehernya.
"Kalau kamu berdarah lagi,
bagaimana?", sambil menggosok-gosokkan penisku pada celana puntungya yang
ketat persis diatas posisi pepeknya berada.
"Kemarin setelah kalian pulang sst.. aku
mencoba menusukkan jariku kembali kedalam pepeku uh..", seru Tari sambil
sesekali berdesis mungkin mulai terangsang oleh gesekan penisku di pepeknya
yang masih tertutup oleh celana puntungnya.
"Memang.. ah.. ada darah.. sst.. tapi
hanya sedikit keluarnya", sambungnya lagi.
"Pokoknya kamu jangan takut",
seakan-akan coba meyakinkan aku agar mau melanjutkan permainan ini.
Akupun tidak berhenti beraktivitas diatas
tubuh Tari, sedikit demi sedikit aku mulai melucuti celana puntungnya.
"Bajumu dibuka dong!", seruku
menyuruh Tari membuka bajunya.
Sekarang Tari hanya mengenakan celana dalam
saja tanpa merasakan dinginnya udara, mungkin karena pemanasan yang telah kami
lakukan lebih dahulu tadi. Tanganku mulai mengelus-elus paha mulus Tari dan
memainkan jari-jariku di pinggir celana dalamnya di sekitar selangkangannya.
"Ah.. sst.. didalam dong Rur ouh..",
memintaku memasukan tanganku di dalam celana dalamnya sambil tangannya terus
mengocok penisku yang mulai basah dan licin oleh air yang keluar dari senjataku
itu sendiri.
Dengan sedikit permainan tanganku akhirnya
celana Tari sudah terlepas meninggalkan tempatnya melekat dan sebuah bukit
kecil memerah terpampang di depanku, peniskupun semakin kuat dikocoknya.
"Ouh.. sst.. gelinya.. jangan digoyang
terlalu cepat Tar.. sst", sambil tanganku terus bermain dibibir luar
vagina Tari.
"Tusuk.. uhh.. tusukkan jarimu.. ouh..
Rur", pinta Tari. Akupun memasukkan jari tanganku kelubang vaginanya.
"Aduh.. ayo Rur ohh.. goyangin dong
sst..", pinta Tari lagi kepadaku untuk menggerakkan jariku di dalam
vaginanya.
"Ouh.. ayo.. lebih kencang lagi ohh..
ayo.. Rur", kini pantat dan pinggulnya mulai ikut bergoyang seperti sedang
menari mengikuti permainan jariku di dalam vaginanya.
Aku kini merasakan tangannya sudah berhenti
mengocok penisku namun tetap digenggammya erat-erat semakin kencang aku
memainkan jariku didalam vaginanya genggamannyapun semakin kuat sambil terus
merintih dan meliuk-liuk.
"Sst.. oh.. woa..", serunya semakin
tidak karuan karena merasakan kenikmatan.
Kemudian aku mengganti posisiku pindah
diantara kedua paha Tari yang sudah terbuka lebar dan bertumpu pada kedua
lututku sementara dia tetap pasrah berada di bawahku. Tangannya kini sudah
melepaskan penisku, dia hanya terlentang pasrah menunggu permainan dariku dan
merasakan kenikmatannya. Jari tanganku terus beraksi tetapi bukan lagi bermain
di dalam vagina Tari namun aku tusukkan keluar masuk ke dalam vaginanya dan
sesekali memainkan clitorisnya yang sudah licin sekali.
"Oh.. enak Rur.. aduh.. sst..",
sambil Tari terus mendesis-desis nikmat.
"Ouh.. ayo masukkan jarimu semua kalau
bisa oh.. ayo Rur masukan..", pinta Tari sedikit agak berteriak seperti
orang lagi menanti sesuatu yang belum kunjung tiba. Akupun sempat was-was
karena takut kedengaran oleh teman lain, untung saja hujan belum terlalu reda
sehingga bisa sedikit menutup suara Tari tadi.
"Ohh.. sst..", akupun mulai mendesis
melihat kenikmatan yang diekspresikan oleh Tari lalu penisku yang seperti sudah
mau meledak aku masukkan kepalanya di mulut vagina Tari secara perlahan dan
menggoyang-goyangkannya dengan tanganku yang sesekali memutarnya pada clitoris
Tari yang sudah licin oleh campuran air punyaku dan punya Tari sendiri.
"Ahh.. enak ya..", tanyaku perlahan
pada Tari.
"Ouw.. sst.. enak Rur ayo masukkin dong
oh..", balas Tari dengan suara napas yang semakin memburu ditengah suara
hujan yang mulai reda.
Kaki Tari aku rasakan mulai melingkar di
pinggangku dan secara perlahan mendorong pinggulku kedepan sehingga
perlahan-lahan batang penisku mulai terbenam ke dalam lubang vaginanya.
"Ohh.. ayo Rur masukkan sst..",
pinta Tari untuk kesekian kalinya kepadaku.
"Ahh.. aduh enaknya.. oh..", balasku
mulai merasakan setengah penisku sudah masuk ke dalam lubang kenikmatan itu.
"Ayo.. goyang Rur", seru Tari
padaku, akupun mulai menaik turunkan pantatku.
"Ohh.. ohh.. uh..", desisku dengan
suara napas yang semakin memburu merasakan kenikmatan yang baru aku rasakan.
Penisku kini sudah tenggelam semua kedalam
vagina Tari akupun tak berhenti bergoyang bahkan semakin cepat seperti ada
dorongan dari dalam akibat rasa geli yang semakin menggelitik. Kaki Taripun
kini semakin erat terasa melingkar dipinggangku bahkan semakin kuat ketika
penisku aku tekan dalam-dalam.
"Ohh.. yah.. yah.. ohh..", tiba-tiba
Tari mengerang panjang sekali dan terasa penisku dihimpit keras di dalam
vaginanya, kakinya kini terasa semakin erat sekali melingkar di pinggangku
sehingga terasa sakit sedikit di situ.
Perlahan-lahan kaki Tari terjatuh lemas terlepas
dari pinggangku aku yang melihat ekspresi Tari justru semakin bernafsu akupun
semakin kencang menggoyangkan penisku keluar masuk dari vaginanya namun
tiba-tiba pintu tenda terbuka dan aku kaget sembari cepat-cepat turun dari atas
tubuh Tari yang sudah lemas dan pasrah. Ternyata yang masuk itu adalah Ana
ingin menanyakan kapan kita akan pulang karena hujan telah berhenti dari tadi
tanpa Aku dan Tari sadari, akupun melirik ke arlojiku yang telah menunjukkan
pukul 17.15 sore.
Berbeda dengan aku yang sedikit agak gugup
dengan kehadiran Ana dan menyaksikan perbuatan kami, Tari dengan keadaan yang
sedikit lemas menjawab pertanyaan Ana.
"Ayo sekarang kita pulang saja",
sambil mengenakan pakaiannya satu persatu.
Akupun sudah mengenakan pakaianku dari tadi ketika
Ana membuka pintu kemah. Taripun membenahi segala peralatan yang akan dibawa
pulang serta satu persatu teman-teman mengambil barangnya yang disimpan ditenda
itu. Aku mendengar di luar teman-teman mulai sibuk membongkar tenda dan bersiap
untuk pulang.
Kembali Ana masuk kedalam tenda itu dimana aku
masih berada di dalamnya hendak mempersiapkan juga peralatanku untuk dibawa.
Tanpa aku sadari Ana memperhatikan resleting celanaku yang lupa aku naikkan.
"Rur enak ya tadi", aku kaget
mendengar pertanyaan Ana itu.
"An jangan bilang siapa-siapa ya",
balasku kepada Ana.
"Oke! Pasti nikmat sekali ya Rur",
tanya Ana lagi kepadaku dengan santainya.
"Nikmat apanya waktu kamu masuk tadi aku
belum selesai", balasku menjawab pertanyaan Ana dengan nada sedikit
kecewa.
"Ohh..", seru Ana.
Tiba-tiba tangan Ana mengarah ke bagian
penisku sambil berkata, "Itu restnya lupa dikancing".
Aku pikir ia akan membantuku mengancing
restliting celanaku karena kedua tanganku sudah terlanjur penuh dengan
barang-barang yang akan aku keluarkan dari tenda itu. Ternyata ia malah membuka
celanaku dan memerosotkannya sampai di lututku dan mengocok penisku yang tidak
tahu apa sebabnya sudah dalam keadaan ereksi. Karena memang aku masih tanggung
tadi dengan Tari aku membiarkan Ana mengocok penisku sambil menurunkan kembali
barang yang berada di kedua tanganku.
"Ayo Rur.. kasih keluar", seru Ana.
"Oh.. ya.. sst.. cepat sedikit.. An..
oh.. uh..", menyuruh Ana mempercepat kocokannya.
"Ah.. ya.. sudah geli nih..ya..sedikit
lagi..", seruku dengan napas sedikit memburu.
"Oh.. ya.. enaknya.. uhh..", air
maniku muncrat sampai empat kali dan sedikit mengenai wajah Ana. Perasaanku
langsung seperti melayang ke langit ketujuh dan berangsur-angsur merasa lemas
dan berlutut dibawah kaki Ana.
Tak lama kemudian Ana menegurku sambil
tersenyum, "Rur ayo pulang sudah sore nih".
Akupun tersadar dan buru-buru berdiri, menarik
celanaku dan mengancingnya kembali lalu membawa barang yang tadi hendak aku
bawa keluar dari tenda itu. Setelah kami sudah siap semuanya kamipun bergerak
pulang kembali tepat jam di tanganku menunjukkan pukul 17.48 sore.
Tamat
Tidak ada komentar:
Posting Komentar