
Selesai aku bicara Rini rubuh
ke lantai. Ah, kasihan kamu Rini.. Kamu jadi korban ketidak mampuanku. Aku
gagal menunjukkan tanggung jawabku selaku suamimu. Aku sebenar-benarnya adalah
suami yang pengecut. Ayoo.., bangunlah. Kuraih tangannya untuk bangun dari
lantai. Dengan limbung dia tertatih dan bangkit. Dia langsung lari ke kamar
tidur sambil menghempaskan pintunya. Kususul tetapi ternyata pintunya terkunci.
Kucoba mengetok-etoknya. Akhirnya kubiarkan. Sebaiknya kubiarkan. Biarlah dia
melampiskan kemarahan dan kekecewaannya dulu. Pasti dia tidak ingin aku
mendekatinya. Dan pasti, entah bagaimana, Rini saat ini sangat memandang aku
dengan penuh kehinaan.
Aku mencoba sabar dengan menunggunya hingga
sore. Sementara rasa marah, cemburu, dendam, cemburu, cemburu dan cemburu terus
mengejar aku setiap aku mengingat ucapan Pakde Sastro. Tetapi aku langsung
ingat masa-masa masih pacaran dulu. Aku sering memergoki Rini, yang pacarku
waktu itu, nampak jalan berduaan dengan teman lelaki yang lain. Waktu itu aku
selalu berpikir positip. Aku yakin dengan kesabaranku akhirnya Rini akan tetap
kembali ke aku. Dan itulah yang kemudian terjadi. Dialah yang kini menjadi Rini
Herman, khan?! Jadi aku sesungguhnya sudah terbiasa dengan rasa cemburu yang
kali ini berkobar dalam hatiku. Aku tetap akan berpikir positip adanya Pakde
Sastro bersama Rini istriku selama di villa nanti. Apalagi dengan cara ini
Pakde Sastro berjanji akan menganggap lunas seluruh hutang-hutangku.
Dan besok, aku bersama Rini harus telah siap
saat mobil Pakde datang. Dari berbagai pikiranku yang campur aduk, harapanku
tetap pada Rini. Harapanku Rini bisa memahami kondisi ini. Dan Rini siap untuk
melayani keinginan Pakdenya.. Ah.. aku sudah semakin pusing.
Aku tak mampu lagi memikirkan tetek-bengek apa
yang mungkin bisa terjadi. Lebih baik kini aku sedikt mencari hawa segar.
Kulihat amplop di meja. Aku ingat nomer
impianku hari ini. Ah, nggak salahnya kalau aku ambil sedikit uang itu. Aku
langsung bergegas ke bandar togel.
Cerita Rini Sang Istri
Masa sekolah adalah masa yang paling
menyenangkan. Begitu lulus SMP 3 aku diterima di SMU 1 Sleman, Yogyakarta.
Sebagai gadis remaja yang menginjak dewasa aku dimanjakan alamku. Alam telah
bermurah memberikan aku kecantikan. Dan bak kembang yang sedang mekar,
kumbang-kumbang di sekitarku setiap saat mengelilingi aku untuk siap mencicipi
maduku. Dalam kelompok olah raga, dengan tinggi tubuhku yang 170 cm aku
diterima sebagai anggota club volley SMU. Setiap ada kompetisi, biar kalah atau
menang aku selalu menjadi bintangnya. Para jejaka antar SMU pada mengenali
'macan'ku. Demikian mereka memberi julukan padaku yang mereka artikan sebagai
manis dan cantik. Tentu saja hal itu amat membanggakan dan sekaligus membuat
para siswi dan gadis-gadis cemburu dan iri. Aku bersikap ramah pada siapapun
yang berusaha mendekati aku.
Beberapa pria memang memberikan kesenangan
padaku. Aku pikir tidak salah kalau aku memberikan perhatian lebih pada mereka.
Salah satunya adalah Ditto yang anak dokter itu. Dia sangat simpatik. Wajahnya
yang tampan telah membuat aku kesengsem. Aku merasakan ciuman pertamaku dari
Ditto ini. Duh.., rasanya selangit. Aku juga akrab dengan Usman. Dia anak yang
paling cerdas di sekolahnya. Dia bercita-cita menjadi ahli pertanian dan
peternakan. Kesulitan pelajaranku selalu kutanyakan kepadanya. Usmanlah yang
menjadi pria pertama yang berani menjamah dan bahkan menyedoti buah dadaku.
Saat itu, dia cerita tentang proses kelahiran ikan paus. Sesudah sekian bulan
dalam kandungan ikan paus lahir sebagaimana binatang menyusui lainnya. Dia
langsung bisa menyesuaikan lingkungannya yang di tengah samudra. Anak ikan paus
langsung bisa berenang dan mencari susu induknya. Aku sangat menikmati saat dia
memperagakan sebagai anak paus dan aku induknya.
Lain lagi dengan Pandi. Tubuhnya yang jangkung
itu membuat dia menjadi banyak incaran gadis-gadis di kota kecil Sleman ini.
Kuakui memang dengan jangkungnya itu dia nampak sangat menawan. Gadis-gadis
suka cekikikan kalau membicarakan Pandi. Mereka berbisik mengenai penis lelaki
jangkung yang dipercayai pasti panjang dan besar. Aku ingin menjadi yang
pertama bisa menbuktikan bisikkan-bisikkan para gadis itu. Dan akhirnya aku
percaya. Dan aku jadi blingsatan serta penasaran saat berkesempatan jalan
dengan dia.
Saat itu dengan sepeda motornya dia mengajak
aku menyaksikan Samudra Hindia dari Parangtritis yang tidak jauh dari kotaku.
Sesudah menelusuri pantainya yang sangat indah kami beristirahat di tempat yang
sunyi dari pengunjung kebanyakan. Sesudah melalui proses saling raba dan cium
yang cukup lama, dengan tetap duduk di sepeda motornya Pandi membiarkan saat
tanganku merabai tonjolan di selangkangan celananya. Aku juga tidak tahu kenapa
nafas birahiku memburu. Tanganku melepasi resluiting dan menarik kebawah
celananya.
Birahiku semakin tak tertahankan saat kulihat
alur besar agak melengkung melintang dari balik celana dalamnya. Tanganku
merabai, kemudian menyusup lewat tepiannya dan meraih penis itu. Woow.. gede
banget. Telapak tanganku merasakan batangan sebesar pisang tanduk yang keras
kenyal dan hangat. Batangan itu berdenyut-denyut menggoyahkan saraf-saraf
birahiku. Kugerakkan bersama jari-jariku untuk mengelusinya. Kudengar suara
yang sangat nikmat ditelingaku. Suara debur Samudra Hindia dan derai angin
Parangtritis bersamaan erangan nikmat dari mulut Pandi.
Itulah untuk pertama kalinya aku melihat dan
menyentuh dan bahkan mencicipi air mani lelaki. Saat mau muncrat kelakuan Pandi
menjadi kasar. Kepalaku diraihnya untuk dipaksa mengulum penisnya. Air maninya
yang kental keluar dari setiap denyutan penisnya. Karena dorongan birahiku, aku
juga menjilati yang tercecer di pahanya dan juga di jok sepeda motornya. Aku
nggak habis mengerti kenapa sesudah itu Pandi tak pernah lagi mengajak aku
pergi.
Kuperhatikan teman-teman pria itu gede
cemburuannya. Mereka mau monopoli aku. Aku menjadi kurang nyaman dalam
kungkungan macam itu. Biasanya, kalau tidak mereka, ya aku yang meninggalkannya
untuk pergi ke pria lain.
Akhirnya aku menikah dengan Mas Herman.
Ternyata lelaki macam dialah yang bisa menerima aku dengan penuh sabar. Aku
tahu Herman telah naksir berat padaku begitu aku menginjak SMU-nya. Sebagai
yunior aku sering mendapatkan bantuan mengenai perpustakaan, grup olah raga
atau acara antar siwa lainnya.
Herman memang sabar dan penuh toleransi.
Bahkan saat dia melihat aku jalan berdua-an dengan anak lelaki yang lain Herman
tidak merubah sikapnya padaku. Herman juga selalu jadi terminal dan tempat aku
mengadu. Kekecewaanku pada pria lain kuceritakan apa adanya padanya. Dia sabar
mendengarkan aku dan pada sikapku yang labil. Aku merasakan libidoku kelewat
panas. Aku tidak hidup tanpa ada lelaki disampingku. Dan Hermanlah akhirnya
yang selalu mengisi kekosonganku.
Saat kami sepakat pindah ke Jakarta aku sudah
siap untuk menghadapi berbagai cobaan hidup. Aku punya bakat bertualang. Dan
salah satunya sudah kubuktikan dalam hal berhubungan dengan lelaki. Aku tidak
takut kesulitan di Jakarta. Aku yakin pada diriku, aku juga tidak khawatir
dengan Herman yang selama ini mengetahui dan sabar menghadapi berbagai macam
kesulitan.
Yang kurang aku setujui akhir-akhir ini adalah
kesukaannya akan lotere buntut. Aku benci banget kalau lihat lelaki sibuk
dengan lotere buntut atau togel itu. Di mataku mereka itu kumuh. Bayangkan
saja, mandi saja rasanya tidak sempat. Mereka terjebak pada kertas-kertas kode.
Sepanjang harinya hanya memikirkan ramalan-ramalan dukun atau firasat
mimpi-mimpinya bahkan mereka ini sudah demikian rapuh dimana sebuah keyakinan
bisa langsung buyar berkeping-keping oleh nomer plat mobil yang kebetulan
melintas di depannya.
Itulah Herman hari ini. Dalam tempo pendek dia
terlibat hutang yang besar. Pakde Karto adalah Pakde sepupunya yang kebetulan
punya usaha yang cukup maju di Jakarta. Pada Pakdenya inilah Mas Herman minta
pinjaman uang kalau lagi kesulitan. Pada awlnya pinjaman itu tak begitu besar
dan bisa lekas dikembalikan saat ada sedikit rejekinya. Tetapi sejak bermain
togel, kebutuhannya semakin tinggi dengan kemampuan pengembaliannya semakin rendah,
bahkan boleh dibilang nol. Pakde sudah tidak mau memberikan pinjaman lagi.
Bahkan beberapa hari terakhir ini orang suruhannya mencari-cari Mas Herman yang
selalu menghindar. Terus terang aku repot banget menghadapi kenyataan ini.
Tadi pagi orang suruhannya kembali datang
membawa surat. Aku terima dan baca. Dari nada tulisannya Pakde Karto akan
memberikan jalan keluar yang sama-sama menguntungkan. Nggak usah kawatir,
begitu katanya. Aku berpikir, mungkin Mas Herman dimintanya untuk membantu
pekerjaannya agar bisa melunasi hutangnya. Aku sampaikan surat itu kepadanya.
Dia minta pertimbangan aku, apa mesti menemui Pakdenya. Aku bilang itu urusan
Mas Herman, terserah mau datang atau tidak. Aku memang agak ketus. Soalnya aku
sudah kesal. Sejak awal aku sudah sampaikan bahwa aku tidak suka judi.
Akan halnya Pakde Karto, aku memahami sifatnya
sebagai lelaki. Umumnya lelaki memang mata keranjang. Apalagi Pakde ini punya
uang, dan tampangnya juga 'handsome' kata gadis-gadis jaman aku masih SMU dulu.
Walaupun sudah umur, lelaki itu ibarat keladi, makin tua semakin jadi dan
semakin seksi. Dan itu semua dimiliki Pakde Karto. Dan aku juga sepenuhnya
menyadari bahwa Pakde nampak kesengsem padaku. Dari pandangan matanya kurasakan
betapa dia pengin banget melahap tubuhku. Terus terang diam-diam aku menikmati
mata keranjangnya Pakde. Tentu sikapku ini tak akan kutunjukkan pada Herman
suamiku. Aku masih suka mimpi merasakan kembali bagaimana kumbang-kumbang
terbang mengitari aku sebagai kembangnya. Kekaguman lelaki yang nampak matanya
rakus menikmati tubuhku sungguh membuat bergetar hatiku. Mata-mata penuh nafsu
yang seakan melihat aku telanjang itu benar-benar memberikan aku gairah birahi.
Aku memang berdarah panas. Aku selalu rindu
belaian. Aku selalu merindukan sentuhan dan tusukkan erotis. Mas Herman suamiku
berterus terang tidak bisa mengimbangi darah panasku. Aku sering membayangkan
lelaki lain atau semacam Pakde Karto yang mampu memberikan kehangatan semacam
itu. Kalau sudah begitu aku ingat kembali saat-saat bersama Ditto, Usman atau
Pandi. Masih terasa banget dihidungku aroma mereka. Masih terasa banget dibibir
dan lidahku di bibir, leher dan dada mereka dalam kecupan dan jilatan manisku.
Masih terasa banget hangatnya cairan kental dari penis Pandi yang membasahi mulutku.
Ah.., akankah hal itu akan kudapatkan lagi?
Memang Pakde Karto tidak lagi pantas menjadi
panutan Mas Herman sebagai keponakannya. Setiap kali datang ke rumah yang
semestinya urusannya sama Mas Herman, Pakde justru mengumbar matanya seakan
hendak menelanku. Sering aku lihat dia hanya mengangguk-angguk saat Mas Herman
menyampaikan sesuatu, sementara wajahnya melihati ke arahku.
Belum lama ini dia datang atas permintaan Mas
Herman untuk meminjami uang, sesaat sesudah menerima uang Mas Herman yang sedang
kegilaan sama togel pergi ke bandar togel untuk mengejar mimpinya dan
meninggalkan aku yang hanya bersama Pakde Karto. Tentu saja Pakde langsung
menggunakan kesempatan itu untuk lebih mendekati aku.
Dengan gaya seolah-olah orang tua yang
melindungi anaknya, dia mengelusi rambutku,
"Rini, kalau kamu punya masalah biar
Pakde bantu ya. Kamu masih muda dan sangat ayu. Seharusnya kamu nggak perlu
menderita. Kamu perlu apa? Ngomong saja nanti aku bantu ya, Cah Ayu".
Duh, gombalnyaa.. Aku merinding saat tangannya
yang nampak berbulu sempat menyentuh kudukku. Kemudian dia merogoh kantongnya
dan memberikan kepadaku amplop besar,
"Ini buat kamu sayang. Jangan kasih
Herman. Nanti buat judi lagi."
Tentu saja aku terima. Aku juga perlu uang
pribadi. Aku bertemu pandang dengan Pakde,
"Terima kasih," ucapku pelan yang
dia balas dengan senyuman buaya sambil tangannya menjumput daguku kemudian
menariknya untuk mencium bibirku.
Peristiwa itu sama sekali tak kuduga dan
berlangsung sangat cepat sehingga aku tak sempat menghindarinya kecuali dengan
secepatnya aku menarik diri dan melepaskan dari rengkuhannya. Ah, seharusnya
aku tersinggung dengan tingkahnya itu. Tetapi entahlah. Sepertinya aku tidak
bisa berkutik didepan Pakde Karto ini. Pada saat seperti ini rasanya dia sangat
kharismatik. Aku tunduk. Aroma parfum lelakinya semburat menerpa hidungku.
Bersambung...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar