![Amoy [Portal Seks]](http://www.hot-nudegirls.com/images/naked-chinese-student.jpg)
Sesudah dengan cepat menyelesaikan tugasnya
Herman kembali memasuki kamarnya. Dengan hati-hati dia mulai mengintip dari
celah papan itu dan menyaksikan ulah Pakdenya bersama Rini isterinya. Nafasnya
terdengar memburu sejalan dengan apa yang dia saksikan melalui celah dinding
papan artistik itu. Dia lihat bagaimana Pakdenya bersama istrinya bercumbu.
Nampak celana Pakdenya telah merosot ke lantai dan tangan istrinya menggenggam
kemaluannya yang gede panjang itu.
"Edan, penis Pakde itu.. penis kuda..,
Duh penis Pakdee.. penis ituu..," teriakkan histeris dari hati Herman melihat
kemaluan Pakdenya yang membuatnya terpana.
Dia benar-benar terpesona dengan penis
Pakdenya. Dan lebih-lebih lagi saat menyaksikan tangan indah dan manis
isterinya yang biasa memegang berbagai macam makanan cattering pesanan tetangga
itu kini menguruti batang penis yang berkepala mengkilat kecoklatan. Sementara
Pakdenya dengan buas menyedot dan menggigiti dari leher turun ke susu dan
puting-putingnya hingga membuat Rini menggeliat dan mendesah hebat sambil
matanya merem-melek dan kepalanya tergeleng-geleng dan mendongak
kelangit-langit kamar utama Villa Rimbun Ciawi itu.
Blusnya sudah lepas entah ke mana.
Susu-susunya nampak ranum menggunung dan putingnya mencuat siap untuk lahapan
haus nafsunya Pakde Karto. Sesekali kedengaran sentakan rintihannya. Itu
disebabkan sesekali gigitan Pakde menyentuhi saraf-saraf peka pada buah dadanya
yang sangat ranum itu.
Tanpa melepas pagutannya mereka bergeser dan
bergeser untuk menuju rebah di ranjang. Masih dalam busana atas yang lengkap
dengan dasinya yang setengah copot, sementara bagian bawahnya sudah telanjang
bulat Pakde Karto menindih Rini. Ditelentangkannya kedua lengan Rini ke atas
hingga kedua ketiaknya terbuka. Kemudian dengan penuh kehausannya Pakde Karto
menyosorkan bibirnya melumati lembah-lembah indah ketiak Rini. Rini mendesah
sambil bergelinjangan menggeliat-liat. Tak diragukan, pasti akan banyak nampak
cupang-cupang bekas sedotan-sedotan ganas pada ketiak itu nantinya.
Dan kini Herman melihat mereka sambil mulai
mengelusi kemaluannya sendiri. Kupingnya menikmati rintihan atau desahan
istrinya. Sementara tangannya terus mengikuti alur sedotan dan jilatan Pakde
yang turun dari ketiak ke lembah dan bukit di dada Rini isterinya itu.
Herman agak kesal, posisi Pakde Karto yang
mencumbui istrinya tak nampak jelas disebabkan celah papan ini kelewat sempit.
Yang jelas bisa dia tangkap jelas tinggalah suara-suara penuh iba nikmat.
Betapa rintihan Rini dan dengus Pakdenya saling bersahut telah membuat dirinya
semakin blingsatan karena terbakar birahinya. Tanpa sepenuhnya dia sadari, dia
juga ikut-ikutan melepasi celananya, hingga tinggal kolornya yang tinggal.
Tangannya merogoh kolor itu dan mengurut dan memijit-pijit kemaluannya. Herman
ikut terbawa melayang bersama Pakde yang sedang melahap rakus isterinya.
Saat turun dari ketiak, ciuman dan lumatan
Pakde meratai lembah dan bukit di dadanya, Rini nampak menggelinjang hebat.
Pinggulnya menggeliat dan meliuk-liuk menahan kegelian yang amat sangat seperti
ikan moa yang terlepas buruannya dan secepatnya berusaha menangkapnya kembali.
Dan Herman juga semakin kenceng merabai kemaluannya sendiri sementara wajah
Pakde Karto makin merosot ke perut isterinya.
Tak pelak lagi Rini mendesah keras dan
tangannya seakan mengiringi desahannya menangkap kepala Pakde Karto dan
menjambaki rambutnya untuk menahan badai birahinya. Dan Pakde semakin menggila.
Kini bibirnya sudah me-lamuti bulu-bulu kemaluan Rini dan kemudian meluncur
cepat ke bibir vaginanya.
Nampak banget bagaimana bibir Pakde Karto
mencaplok untuk melumati bbir vagina Rini. Lidahnya yang menjilat sambil
menyeruak menusuki vaginanya membuat Rini histeris. Tingkahnya yang jatuh
bangun disertai derasnya desah dan rintih memaksa Herman mempercepat pijitan
dan remasan pada kemaluannya, bahkan kemudian dengan cepat merubahnya menjadi
kocokkan ritmis.
Sambil terus melototkan matanya untuk
menembusi lubang intaian yang sempit, kocokkan Herman yang semakin cepat nampak
seperti pompa piston lokomotif diesel penarik Parahyangan Ekspres. Herman tak
tahan lagi untuk menahan spermanya. Dan terjadilah orgasme Herman. Yaitu
orgasme pertama yang diraih berkat menyaksikan istrinya meliuk-liuk merasakan
hebatnya nikmat digauli orang lain yang bukan suaminya. Rasanya inilah
spermanya yang paling banyak tertumpah semenjak perkawinannya dengan Rini.
Pakde secara intensif memberikan kepuasan
penuh sensasi syahwat pada Rini. Dia melakukan oral seks secara habis-habisan
padanya. Lidahnya yang besar dan kasar tentunya menyentuhi organ-organ vagina
yang peka dan lembut mlik Rini. Dan akibatnya tak terkatakan lagi, Rini bak
kesetanan. Tenaganya berubah menjadi sangat kuat. Kedua pahanya yang berposisi
menjepit leher Pakde menekan bahu Pakde untuk menaikkan pinggul dan mengangkat
pantatnya. Tujuannya jelas agar tusukkan lidah Pakde bisa lebih jauh menembusi
lubang vaginanya. Kegatalan yang amat sangat pada vaginanya itu pula yang
membuat kedua tangannya terus menariki kepala ataupun rambut Pakde untuk lebih
menekankan ke arah kemaluannya.
Pakde yang sangat berpengalaman 'ngerjain'
para perempuan, tahu bahwa Rini sudah menunggu penisnya yang kini juga telah
melar keras untuk secepatnya menusuki vaginanya. Dengan akar-akar sarafnya yang
mengitari geligir batangnya serta desakkan darah yang menumpuk pada kemaluannya
hingga membuat sang penis itu membengkak besar dan kepalanya licin mengkilat,
kini Pakde sigap merubah posisi. Ditariknya kedua tungkai kaki Rini hingga arah
vaginanya tepat di pinggiran ranjang. Kemudian dia angkat salah satu tungkainya
untuk disandarkan pada panggulnya di bahu. Dengan cara itu Pakde mengasongkan
penisnya yang sudah matang itu ke lubang kenikmatan vagina Rini. Sekali.., dua
kali..
Herman kembali mengintip. Sesudah beberapa
kali kepala penis Pakdenya yang besar sedikit kesulitan menembusi vagina
istrinya yang sempit. Pada tusukkan yang kesekian kali disertai desisan panjang
dan kemudian disusul dengan teriakkan nikmat, akhirnya penis gede itu berhasil
menembus vagina Rini istrinya. Bleesszz..
Menyaksikan itu semua kemaluan Herman cepat
kembali menegang. Dan agar menjadi leluasa, Herman melepas pula celana kolor
berikut celana dalamnya. Dan tangannya kembali mengelusi sambil berharap bisa
selekasnya tegak kenceng lagi. Herman ingin meraih orgasmenya yang kedua.
Disaksikannya Pakde Karto mulai memompa
istrinya. Dan Rini sang istri benar-benar tak berdaya oleh serangan syahwatnya.
Sambil meracau dengan ucapan kata-kata erotis kotor di tengah
desisan-desisannya, dia meremasi sprei atau bantal atau apa saja yang bisa
diraihnya hingga ranjang itu berantakkan. Kepalanya bergoyang keras ke kanan
dan kiri sambil melempar-lemparkan rambutnya yang indah itu.
Dan dari arah lebih tinggi dengan satu kaki
isterinya di panggulannya mata Pakde Karto mengamati tingkah Rini serta
menyimak segala racau dan desisan histerisnya itu. Dia mainkan pompaannya
seakan berputar menyodok ke kanan atau kekiri atau ke atas atau ke bawah.
Itulah 'multi jurus'-nya Pakde. Dengan cara itu vagina Rini serasa
di-ubek-ubek. Gatalnya tak lagi tertolong. Dan karena itu pula kini Rini mulai
menapaki puncak kenikmatannya. Rini mulai menyongsong orgasmenya yang sejati.
Orgasme yang rasanya belum pernah dia raih dari siapapun.
Herman tahu, selama ini belum pernah melihat
isterinya sedemikian histeris sebagaimana yang dia saksikan kini bersama Pakde
Karto. Rupanya Pakdenya ini tahu benar apa yang ditunggu Rini. Dan kini dia
sedang suguhkan itu. Dari racau dan geliat serta menghebatnya remasan-remasan
tangannya pada apapun yang dia raihnya, Rini kini menggelinjang hebat.
Pinggulnya dia angkat-angkat tinggi-tinggi serasa hendak menjeputi kemaluan
Pakde agar menusuk lebih dalam lagi ke vaginanya. Dan ketika akhirnya
puncak-puncak itu benar-benar datang, wajah Rini langsung berubah ganas.
Matanya menjadi nanar tanpa titik pandang. Dengan teriakkan bak hyena kelaparan
Rini bangkit mendorong dan merubuhkan Pakde untuk ganti rebah telentang ke
kasur. Dia 'cengklak' tubuh Pakde seperti seorang joki men'cengklak' kudanya.
Dengan gaya seakan hendak duduk tangannya merogoh dan meraih penis Pakde untuk
dia tusukkan ke vaginanya, dan dengan cepat vaginanya langsung menelan amblas
seluruh batangan kemaluan Pakde. Kini Rinilah pemegang kendali.
Dengan cepat dia menaik turunkan pantatnya
memompakan penis Pakde ke vaginanya. Herman melotot mengamati vagina Rini yang
bisa memuntahkan dan kemudian menelannya kembali kemaluan gede panjang milik
Pakde Karto. Dari arah belakang pantatnya, nampak oleh Herman bagaimana bibir
vaginanya ketarik keluar dan kedorong masuk terbawa oleh keluar masuknya
kemaluan Pakde yang memang sangat sesak dan sarat memenuhi belahan dan rongga
vagina isterinya itu.
Dan akhirnya datanglah malaikat nikmat itu..
Rini seakan membantingkan tubuhnya ke tubuh Pakde. Dia menggigit dada dan
mencakar-cakar punggungnya. Vaginanya berdenyut keras menghisap-isap atau
melumat-lumat batang kenyal milik Pakde. Itulah tanda bahwa orgasme
beruntun-runtun sedang melanda Rini.
Mungkin runtunan orgasmenya itu berlangsung
hingga 20 atau 30 detik sebelum akhirnya tubuhnya gugur dan rubuh dengan
keringatnya yang mengucur menindih dan membasahi tubuh Pakde Karto. Villa
Rimbun Ciawi yang sebelumnya berubah menjadi panas oleh radiasi yang memancar
dari tubuh indah Rini kini sejuk kembali.
Dari balik dinding Herman juga ikutan terkapar
bersama tarikan-tarikan nafas panjangnya. Dimatanya dia menyaksikan Pakde Karto
telah menunjukkan peranannya sebagai pelayan seks yang benar-benar hebat.
Herman merasa banyak belajar dari apa yang dia lihat hampir selama 1 jam ini.
Pakde bisa membaca arah kemana Rini mau. Dia mengejar kepuasan tetapi dia
meyakini kepuasannya akan dia raih apabila Rini, lawannya telah lebih dahulu
terpuaskan. Dan bagi dia, sebagai lelaki, kepuasannya tidak perlu diraih seketika.
Dia masih memerlukan stamina untuk berjalan lebih panjang. Sebagai lelaki
memerlukan stamina macam itu lebih dari perempuan. Dengan cara itu rupanya
Pakde Karto akan menikmati sepanjang malam pertama ini. Dan Herman mulai
mengerti, bagaimana Pakde Karto akan mampu melayani Rini kapan saja, setiap
saat. Dan segala marah, sakit atau cemburu akan sia-sialah di depan Rini
sepanjang dia tidak mampu melakukan seperti yang Pakdenya bisa lakukan.
Sore itu sesudah permainan pertama, yang
mungkin oleh Pakde hanya dipandang sebagai pemanasan, mereka berdua mandi
bersama. Cukup dengan teriakkannya Pakde menyuruh Herman untuk menyalakan gas
LPJ yang membakar water heater di kamar mandi utama. Sesudah mandi air hangat,
dengan keduanya memakai mantel tidur lembut yang tersedia di kamarnya Pakde
bersama istrinya bercengkerama di beranda villa. Atas permintaan Rini Herman
disuruh Pakdenya untuk membeli sate kambing di warung sate sebelah villanya.
Malam itu Rini bersama Pakde menikmati sate
kambing panas di meja makan. Herman mesti sabar menunggu mereka selesai makan
untuk bisa ikut menikmati sate kambing dingin sisa mereka. Dia menerima semua
perlakuan ini dengan sabar dan berpikir positip. Ahh.. Herman.. Herman.., hebat
kau..
Selesai makan Rini dan Pakde pergi ke beranda
dan duduk berhimpit di sofa. Villa bulan madu ini seakan memang dibuat untuk
mereka. Dari balik pot-pot tanaman di samping beranda Herman merunduk mengintip
diantara dedaunannya. Herman yang mentalnya sudah jatuh menjadi mental pelayan
itu melihat bayang-bayang istrinya dalam rengkuhan Pakdenya kembali. Dia amati
betapa asyik istrinya dan Pakdenya saling berpagut bertukar lidah dan ludah.
Dan lihat, betapa agresifnya si Rini. Tak pernah dia bersikap begitu pada dia
selama masa perkawinannya.
Dia saksikan bagaimana tangan Rini yang
demikian lancar melepasi ikatan tali. Dengan sekali renggut lepaslah temali
mantel tidur itu hingga tubuh Pakde langsung terbuka. Kemudian dengan rakusnya
bibirnya kembali menyambar bibir Pakde Karto sambil tangan kanannya, tangannya
yang cantik dengan jari-jarinya yang lentik itu meremas dan mengelusi batangan
gede penis Pakde Karto. Ah, Rini.. Riniku.., batin Herman yang menangisi
isterinya.
Bersambung...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar