![Amoy [Portal Seks]](http://img2.uploadhouse.com/fileuploads/5652/5652092e643f1b1c13d9c73a5e3fcf50126980f.jpg)
Walaupun saat ini dia masih dikuasai rasa muak
dan telah kehilangan selera sama sekali untuk berbicara atau melihati tingkah
suaminya itu, dia tetap berusaha untuk menghilangkan berbagai rasa kecewa dan
dendam kepada siapapun teristimewa kepada Herman. Yang dia inginkan sekarang
adalah menunjukkan kepada Herman bahwa dia berbuat apapun yang bisa dia perbuat
sesuai keinginan hatinya.
Herman yang tadi malam baru pulang jam 11
malam untuk menunggu keluarnya nomer togel tidak memahami apa yang tengah
berkecamuk pada diri istrinya Rini. Yang dia simpulkan hanya bahwa Rini
ternyata mau menerima apa yang menjadi keputusan Pakde Karto. Dan itu artinya
dia telah sukses dalam menjalankan misinya demi terbebasnya beban hutangnya
pada Pakde Karto. Dia sudah tidak lagi dikuasai rasa cemburu atau rasa tertekan
yang lain. Memang Herman termasuk lelaki yang paling mudah menyerah. Dengan
sikapnya yang sabar dan selalu mau berpikir positip dia dengan cepat
beradaptasi dengan kekalahannya. Tentu saja cara begini ini membuat rancu
antara orang sabar dengan pikiran positif yang sejati versus orang yang memang
tidak memiliki motivasi, daya juang dan stamina untuk bertahan di tengah
berbagai kesulitan hidup macam si Herman ini.
Bangunan Villa Rimbun Ciawi milik Pakde Sastro
ini relatip kecil dibandingkan halamannya yang hampir seluar 2 hektar itu.
Dalam vila ada 2 kamar tidur, 1 utama yang besar lengkap dengan kamar mandi di
dalam dan yang lainnya lebih kecil. Ada dapur yang lengkap dan ruang tamu
berikut perabotannya yang sangat nyaman. Di belakang rumah ada taman yang asri
lengkap dengan kali kecil yang mengalir di dalamnya. Nampak dikejauhan lebih ke
belakang hutan pakis dan pinus yang bersuasana sangat alami. Kesejukkan
pegunungan di kawasan Ciawi ini membuat villa ini terasa sangat romantis dan tepat
bagi mereka pasangan yang sedang berbulan madu. Setelah menyerahkan kunci villa
bersama amplop surat Pakde Karto khusus untuk Rini dan bungkusan besar berisi
makanan untuk siang itu, Pak sopir minta pamitan untuk balik ke Jakarta.
Sepulang Pak sopir, Rini cepat membuka surat
itu. Herman tahu menempatkan diri. Dia berpura tak acuh, berdiri dan jalan ke
beranda. Pakde bilang agar Rini menempati kamar utama yang besar, dan Herman
memasuki kamar di sebelahnya yang kecil. Pakde akan datang sekitar jam 3 sore,
karena masih ada beberapa pertemuan di Jakarta. Tanpa bicara Rini kemudian
menyerahkan surat itu kepada Herman agar tahu apa yang dimaui Pakdenya. Dengan
membanting pintu dan menguncinya Rini memasuki kamar utama sesuai kemauan Pakde
Karto. Dan Herman langsung mengangkat tasnya sendiri ke kamarnya.
Ah.. kamar ini.. betapa mewah dan nyamannya..
Diarah samping nampak jendela besar dengan pintu ke beranda yang memberikan
pemandangan indahnya alam pegunungan. Sesudah menaruh kopernya Rini mengamati
interior kamarnya. Di samping ranjang mewah yang beralaskan sutra dia dapati
vas besar dengan kembang mawar merah yang segar. Haahh.. tentunya sesorang
telah menatanya sebelum dia datang. Mungkin Pakde yang, siapa tahu, nginap
disini tadi malam dan menyiapkan segalanya, kemudian subuh balik ke Jakarta.
Ah.. ada surat kecilnya..
"Rini sayangku.. aku mencintaimu ..
Karto."
Lihat di pojok itu. Bukankah itu wewangian
aroma therapy di atas lilin kecil dari Korea yang sangat mahal itu? Sangat
romantis. Rini sangat tersanjung dengan pernik-pernik itu. Sungguh pintar
bulusnya Pakde Karto ini.
Rini ingin tahu lebih banyak lagi apa yang
telah diperbuat Pakde Karto. Dia temukan baju tidur lembut tergantung di lemari
pakaiannya disamping beberapa gaun-gaun mewah dan baru yang juga siap pakai.
Dia pastikan semuanya itu untuk dia. Sesuatu yang belum pernah dia dapatkan
dari suaminya sendiri. Dia ambil gaun-gaun itu dan bak peragawati dia
memantas-pantaskan gaun-gaun itu pada tubuhnya di depan cermin. Sesekali dia
senyum ketika menerawang ke cermin. Ah, bukankah kamu memang cantik dan luwes,
Rin. Semua busana-busana itu dalam ukuran yang sungguh tepat untuk tubuhnya.
Bukan main Pakde ini.
Berjam-jam dan hampir sepanjang hari Rini
menyibukkan dirinya di kamar utama itu. Dia kembali membaca surat kecil
romantis itu, Dia kembali mengamati wewangian mahal dari Korea itu dan
berkali-kali mencoba pakaian-pakaian indah dan mewah yang bermacam dalam lemari
itu.
Sementara itu Herman memasuki kamarnya. Tidak
ada yang istimewa dia temukan dalam kamar itu. Mungkin ini kamar yang biasa
dipakai pelayan atau penunggu villa ini. Nampak ranjangnya ditutup dengan sprei
yang sudah lusuh. Kalau toh ada semburat wewangian itu karena aroma therapi
yang semerbak menyebar keluar dari kamar utama dimana kini Rini berada.
Sementara satu-satunya pemandangan adalah jendelanya yang justru menghadap ke
arah jalanan dengan lalu lalang berbagai macam kendaraan yang melintas.
Selebihnya adalah dinding-dinding kamar yang menjadi batas kamarnya dengan
kamar Rini.
Ohh.. tunggu dulu. Bukankah ini dinding
artistik buatan dari papan-papan kayu pegunungan. Dan lihatlah, papan-papannya
yang artistik ini penuh celah-celah dimana sesorang bisa mengintip ke kamar
sebelahnya. Nah, aku bisa ngintip Rini, dong. Sedang apa dia?
Dan itu yang kemudian dilakukan Herman. Dan,
ah.. benar.. dia kini bisa melihat istrinya sedang memantas-mantas dirinya
dengan busana-busana indah yang pasti telah tersedia baginya. Ah, betapa cantik
istriku Rini, begitu kata hatinya. Memang dia selalu bangga akan kecantikkan
istrinya. Dan Herman tahu banyak lelaki yang kepingin bisa tidur dengan Rini.
Kemudian dia membayangkan sesaat nanti akan
menyaksikan dari celah papan ini bagaimana Pakde Karto si bandot tua itu
melahapi tubuh cantik isterinya itu. Ah, jangaann..!!
Tiba-tiba kembali Herman disergap rasa sakit
dan cemburu yang menyala-nyala. Rasanya tak mungkin dia bisa rela menyaksikan
Rini dalam pelukan Pakdenya. Dan akan melihat bagaimana Pakdenya melepasi
satu-satu pakaiannya hingga istrinya bertelanjang. Dan bahkan dia akan dalam
rengkuhan penuh birahi Pakde Karto yang juga akan sama-sama telanjang.
Tiddaakk..!!
Herman kepingin membenturkan kepalanya ke
dinding-dinding kamar itu. Tetapi kenapa?? Bukankah karena pengorbanannya dan
juga pengorbanan istrinya hutangnya yang kini mencekik lehernya itu akan lunas?
Bukankah dia akan terlepas dari beban yang tak tak terelakkan itu? Dan Pakdenya
tidak lagi mengejar-kejarnya? Ah.., aku rasa pantas apa yang mesti aku terima
kini. Dan itu artinya, nilai istrinya tidak murah. Bayangkan hutang yang lebih
dari 15 juta rupiah cukup dibayar dengan membiarkan Pakdenya tidur dengan
isterinya selama 3 hari. Dan bukankah sesudah itu dia bisa kembali memiliki
Rini untuk selamanya? Hanya 3 hari, Man!
Pikiran terakhirnya ini langsung meredakan
perasaan marah, sakit dan cemburunya. Dia kembali ke lubang pengintipan.
Tiba-tiba dia merasakan hal yang aneh pada dirinya..
Celananya langsung berasa sesak. Kini kemaluan
Herman ngaceng saat membayangkan istrinya digauli Pakdenya. Memang terbersit
rasa cemburunya kembali, tetapi dia juga membayangkan bagaimana nanti saat Rini
menerima kenikmatan syahwat yang dilepaskan oleh Pakdenya. Bagaimana nanti dia
mendengar rintihan dan desahan-desahan nikmat Rini sekaligus nafas-nafas yang
memburu dari Pakde Karto. Bagaimana nanti tubuh telanjang Rini bergesekkan
dengan tubuh telanjang Pakdenya untuk bersama-sama mendayung birahi dan
melepaskan dendam-dendam nafsunya. Bagaimana nanti bibir Pakdenya yang melumati
pentil susu istrinya dan sementara kemaluan Pakde berusaha mencari jalan untuk
menembusi kemaluan istrinya. Dan bagaimana nanti saat kemaluan Pakde, yang dia
yakin ukurannya pasti lebih hebat dari miliknya, menerjang dan merobek bibir
kemaluan isterinya. Dan bagaimana nanti dinding-dinding vagina Rini dirundung
rasa gatal kemudian mencengkerami batangan bulat besar dan panjang milik
Pakdenya.
Ah.. sudah, sudah, sudaahh..!! Herman langsung
lari keluar kamar. Dia nggak mau dikejar bayangannya sendiri. Dia menghambur ke
taman dimana ada kali kecil yang mengalir di dalamnya. Dia hendak melupakan
segala sakit dan cemburunya dengan menyibuki diri menangkapi ikan dan udang
kecil dari kali itu untuk dilepaskannya kembali.
Hingga Pakde Karto datang Rini tidak pernah
keluar dari kamarnya. Hari itu sama sekali tak ada dialog antara Herman dan
Rini sebagai suami isteri. Nampaknya Rini memang menghindar dari kemungkinan
dialog itu. Rini pasti kecewa padaku, demikian pikir Herman. Ah biarlah, yang
penting dia sudah mau menuruti kemauan Pakdenya. Bayangkan seandainya Rini
menolak, apa yang akan menimpa dirinya nanti. Dia bayangkan Satpam Pakdenya
yang kekar berotot itu.
Pakde Karto datang lebih lambat dari janjinya
disebabkan kemacetan lalu lintas saat memasuki gerbang tol Jagorawi. Begitu
mobilnya memasuki halaman Pakde Karto turun dan melemparkan kuncinya kepada
Herman yang telah siap di depan gerbang untuk berlaku sebagai pengganti
pelayannya. Kini dialah yang harus membersihkan atau mencuci mobilnya sesudah
perjalanan yang penuh debu dan kotor dari Jakarta itu.
Dari dalam rumah nampak Rini yang istrinya
memperhatikan perlakuan Pakde pada suaminya. Tak terbersit sedikitpun keharuan
Rini pada Herman. Rini akhirnya bisa menerima apa yang kini harus dilakukan
suaminya. Suatu imbalan yang setimpal atas kepengecutannya sebagai lelaki
maupun sebagai suami. Dan kini juga ingin menunjukkan pada Herman bahwa kini
dia bulan Rini yang dulu. Dia kini adalah Rini yang bebas dan merdeka yang bisa
mengambil keputusan apapun yang dia mau.
Begitu Pakde Karto memasuki teras rumahnya,
secara menyolok didepan suaminya Rini keluar dari dalam untuk menyongsongnya.
Sambil menebar senyuman dia menggait lengan Pakde Karto memasuki villanya.
Herman hanya bisa mengikuti dengan ekor matanya. Dan Rini, lihatlah, dia
seperti dewi dari surga. Rini mempersiapkan dirinya secara maksimal untuk
menyambut Pakde. Dia memakai busana yang paling sensual. Nampak dari bahu dan
dadanya yang setengah terbuka. Bahunya yang bidang itu menyajikan pesona
sebersit ketiaknya sedemikian sensual.
Pakde Karto terpana. Dia tidak menduga bahwa
Rini sedemikian antusias menyambut kedatangannya. Sebelumnya dia masih berpikir
bahwa akan ada sedikit atau banyak kesulitan dalam menghadapi Rini ini. Ada
apa? Mungkinkah ini merupakan ungkapan kekesalan Rini pada Herman suaminya? Ah,
.. Pakde Karto tak sempat berpikir jauh. Parfum Rini telah menyeret naluri
syahwatnya terbang ke-awang-awang. Rini langsung menggelandang Pakde menuju
kamarnya. Ah, nanti aku akan tahulah, demikian acuhnya sambil menyambut
rangkulan Rini pada lehernya, tangan-tangan Pakde merengkuh pinggul Rini.
Mereka kini saling berpagut. Kehausan
bertahun-tahun Pakde Karto pada Rini kini tertumpahkan. Dan bagi Rini inilah
puncak pelampiasan dari tumpukkan kemarahan, kekesalan dan kekecewaan pada
kehidupannya yang telah beberapa waktu terus menjepit dan menyengsarakannya.
Dia terus berusaha menapaki kehidupan yang baru ini. Tanpa ragu-ragu, tangannya
dengan terampil melepasi ikat pinggang Pakde Karto. Dia ingin selekasnya menjamah
khayalannya. Dia ingin merasakan apa yang pernah dia rasakan dulu bersama Pandi
di pantai Parangtritis. Kalau waktu itu gemuruhnya ombak Samudra Hindia, maka
kini gemuruh nafsu birahi di dadanya yang akan mengiringi pelampiasan
syahwatnya. Gemuruh nafsu birahi Rini dan kehausan syahwat yang amat sangat
Pakde akhirnya bertemu dalam kamar Villa Rimbun Ciawi ini.
Akan halnya Herman yang telah siap menerima
apapun yang harus dia saksikan. Bahkan kini dia sudah memiliki solusi. Dia akan
ikut menikmati apa yang terjadi dari balik dinding artistik kamarnya. Dia akan
menyaksikan adegan-adegan yang pasti bisa merangsang birahinya. Dan dia akan
bisa meraih kepuasan syahwat juga seperti mereka berdua. Dan kini kembali rasa
sesak langsung memenuhi selangkangan celananya. Tangannya bergerak membetulkan
letak kemaluannya untuk mengurangi jepitan celananya yang menyakitkan.
Bersambung...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar