![amoy [Portal Seks]](https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEit7Ee6ilcMOK5yuX4fHqHcnrlV2PTBook5u5v_N_LfimtPsdyGPNG9JhV-W1CP3JT3-tITBoo3FGGKpykO8rKbxjRPMGJ1SaNhujbNn-sOFGfxGSHezNLf4FPLfnue1Wl-5BWRPNsQJ228/s1600/g_%252810%2529.jpg)
Pembaca, aku ingin berbagi pengalaman
pertamaku bercinta dengan wanita. Ini terjadi saat aku baru duduk di bangku
SLTP kelas 3. Waktu itu aku tinggal di pinggiran kota Jakarta yang masih banyak
penduduk Betawinya. Di sebelah rumahku tinggal keluarga Betawi, anak lelaki
bungsunya teman bermainku. Dia mempunyai 3 orang kakak perempuan. Yang akan aku
ceritakan di sini adalah kakaknya yang bernama Anah. Seorang janda beranak
satu. Usianya saat itu kira-kira 38 tahunan.
Sebagai tetangga sebelah rumah, aku cukup
akrab dengan semua anggota keluarga, sehingga aku bisa keluar masuk rumahnya
dengan leluasa. Oh iya, sebelum aku lupa, mpok Anah ini orangnya hitam manis
dengan payudara lumayan besar (mungkin ukuran 36C). Entahlah, aku sendiri saat
itu tidak tahu persis, karena masih "ingusan". Yang aku tahu,
ukurannya cukup membuat anak seusiaku menelan ludah, kalau melihatnya.
Seperti orang Betawi jaman dulu pada umumnya,
mpok Anah ini suka sekali, terutama kalau hari sedang panas, cuma mengenakan
bra saja dan rok bawah. Mungkin untuk mendapatkan kesegaran. Nah aku seringkali
melihat si mpok dalam "mode" seperti ini. Usiaku saat itu sudah
memungkinkan untuk bergairah melihat tonjolan payudaranya yang hanya ditutupi
bra. Tapi yang paling membuatku menahan nafas adalah bentuk dan goyangan
pantatnya. Pinggul dan pantatnya bulat dan bentuknya "nonggeng" di
belakang. Kalau berjalan, pantatnya bergoyang sedemikian rupa membuat gairah
remajaku yang baru tumbuh selalu tergoda.
Pembaca, mpok Anah ini sudah tiga kali
menjanda, dan semua warga kampung kami sudah tahu bahwa mpok Anah ini memang
"nakal" sehingga tidak ada pria yang betah berlama-lama menjadi
suaminya. Mpok Anah ini suka sekali menggodaku dengan mengatakan bahwa dia
pengen sekali merasakan keperjakaanku (saat itu aku memang masih perjaka, belum
pernah sekalipun merasakan wanita, pacaranpun baru sebatas mencium dan memeluk
saja).
Suatu kali, selepas maghrib, aku ke rumahnya.
Tadinya aku ingin mengajak Udin, adiknya yang temanku untuk main. Aku masuk
lewat pintu belakang karena memang sudah akrab sekali. Tapi di belakang
rumahnya itu, ada mpok Anah yang sedang duduk di kursi dekat sumur (sumurnya
masih pake timba).
Aku bertanya ke si mpok, "Pok, Udin
ada?".
"Kagak, dia ikut baba (Bapak) ama nyak
(Ibu) ke Depok." jawab si mpok.
"Wah, jadi mpok sendirian dong di
rumah?" tanyaku basa basi.
"Iya, asyik kan? Kita bisa pacaran."
sahut si mpok.
Aku cuma tertawa, karena memang sudah biasa
dia ngomong begitu.
"Duduk dulu dong Wan, ngobrol ama mpok
ngapa sih." katanya.
Akupun duduk di kursi sebelah kirinya, si mpok
sedang minum anggur cap orangtua. Aku tahu dia memang suka minum anggur,
mungkin itu juga sebabnya tidak ada suami yang betah sama dia.
"Si Amir mana pok?" tanyaku
menanyakan anaknya.
"Diajak ke Depok." sahutnya pendek.
"Mau minum nggak Wan?" dia nawarin
anggurnya.
Entah kenapa, aku tidak menolak. Bukannya sok
alim pembaca, aku juga suka minum, cuma karena orang tuaku termasuk berada,
biasanya aku hanya minum minuman dari luar negeri. Tapi saat itu aku minum juga
anggur yang ditawarkan mpok Anah. Jadilah kami minum sambil ngobrol ngalor
ngidul. Tak terasa sudah satu botol kami habiskan berdua. Dan aku mulai
terpengaruh alkohol dalam anggur itu, namun aku pura-pura masih kuat, karena
kulihat mpok Anah belum terpengaruh. Gengsi.
Aku mulai memperhatikan mpok Anah lebih teliti
(terutama setelah dipengaruhi alkohol murahan itu). Pandanganku tertuju ke
toketnya yang hanya ditutupi bra hitam yang agak kekecilan. Sehingga toketnya
seperti mau meloncat keluar. Wajahnya cukup manis, agak ke arab-araban,
kulitnya hitam tapi mulus. Baru sekarang aku menyadari bahwa ternyata mpok Anah
manis juga. Rupanya pengaruh alkohol sudah mendominasi pikiranku.
Merasa diperhatikan si Mpok membusungkan
dadanya, membuat penis remajaku mulai mengeras. Dan dengan sengaja dia membuat
gerakan menggaruk toket kirinya sambil memperhatikan reaksiku. Tentu saja aku
belingsatan dibuatnya. Sambil menggaruk toketnya perlahan si Mpok bertanya.
"Wan kok bengong gitu sih?"
Bukannya kaget, aku yang sudah setengah mabok
itu malah menjawab terus terang, "Abis tetek Mpok gede banget, bikin saya
napsu aja."
Eh, dia malah merogoh toket kirinya, terus
dikeluarkan dari branya.
"Kalo napsu, pegang aja Wan. Nih,"
katanya sambil mengasongkan toketnya ke depan.
"Diemut juga boleh Wan." tambahnya.
Aku yang sudah mabok alkohol, semakin pusing
karena ditambah mabok kepayang akibat tantangan Mpok Anah.
"Boleh pok?" tanyaku lugu.
"Dari dulu kan Mpok udah pengen buka
"segel" Irwan. Irwannya aja yang jual mahal." katanya sambil
memegang kepalaku dengan tangan kirinya dan menekan kepalaku ke arah toketnya.
Aku pasrah, perlahan mukaku mendekat ke arah
toket kirinya yang sudah dikeluarkan dari bra itu. Dan hidungku menyentuh
pentilnya yang cokelat kehitaman. Segera aroma yang aneh tapi membuat kepalaku
seperti hilang menyergap hidungku. Dan keluguanku membuat aku hanya puas
mencium dengan hidungku, menghirup aroma toket Mpok Anah saja.
"Waan." tegur Mpok Anah.
"Apa Mpok?" tanyaku sambil
menengadah.
"Jangan cuma diendus gitu ngapa. Keluarin
lidah Irwan, jilatin pentil Mpok, terus diemut juga. Ayo coba" Mpok Anah
mengajariku sambil kembali tangannya menekan kepalaku.
Aku menurut, kukeluarkan lidahku, dan kujilati
sekitar pentilnya yang kurasakan semakin keras di lidahku. Dan sesekali kuemut
pentilnya seperti bayi yang menyusu pada ibunya. Ku dengar Mpok Anah mengerang,
tangannya meremas rambutku dan berkata.
"Naah, gitu Wan. Terusin Waann. Gigit
pentil Mpok Wan, tapi jangan kenceng gigitnya, pelan aja." pinta si Mpok.
Akupun menuruti permintaannya. Kugigit
pentilnya pelan, erangan dan desahannya semakin keras. Dengan lembut si Mpok
menarik kepalaku dari toketnya, wajahku ditengadahkan, lalu dia mencium bibirku
dengan penuh gairah. Bibirku diemut dan lidahnya bermain dengan lincahnya di
dalam mulutku. Aku terpesona dengan permainan lidahnya yang baru sekali ini
kurasakan. Getaran yang diberikan Mpok Anah melalui lidahnya menjalar dari
sekujur bibirku sampai ke seluruh tubuhku dan akhirnya masuk ke jantungku. Aku
terbawa ke awang-awang. TIdak hanya itu, Mpok Anah menjilati sekujur wajahku,
dari mulai daguku, ke hidungku, mataku semua dijilat tak terlewat satu
sentipun. Terakhir lidah Mpok Anah menyapu telingaku, bergetar rasanya seluruh
tubuhku merasakan sensasi yang Mpok Anah berikan ini.
Sambil menjilati telingaku, tangannya menarik
tanganku dan dibawanya ke toketnya, sambil membisikkan, "Remes-remes tetek
Mpok dong Waann." Aku menurutinya, dan kudengar desahan si Mpok yang
membuatku semakin bergairah, sehingga remasanku pada teteknya juga semakin
intens.
"Aauugghh.. Sshh.. Naahh gitu Wan."
Lalu diapun kembali menjilati daerah
telingaku. Aku semakin terbuai dengan permainan Mpok Anah yang ternyata sangat
mengasyikkan untukku ini. Lalu Mpok Anah kembali menciumi bibirku, dan kami
saling berpagutan. Aku jadi mengikuti permainan lidah Mpok Anah, lidah kami
saling membelit, menjilat mulut masing-masing. Kembali kurasakan tekanan tangan
Mpok Anah yang membimbing kepalaku ke leher dan telinganya. Akupun melakukan
seperti yang dilakukan Mpok Anah tadi.
Kujilati telinganya, dan dia mendesah
kenikmatan. Lagi, dia menekan kepalaku untuk mencapai teteknya yang semakin
mencuat pentilnya. Aku mencoba mengambil inisiatif untuk memegang vaginanya.
Tangan kiriku bergerak turun untuk menyentuh bagian paling intim Mpok Anah.
Tapi Mpok Anah menahan tanganku.
"Nanti dong Waan, sabar ya
sayaanng." Aku sudah gemetar menahan gairah yang kurasakan mendesak di
sekujur tubuhku.
"Pook, Irwan pengen pook." pintaku.
"Pengen apa Waan," tanya Mpok Anah
menggodaku.
"Pengen liat itu." kataku sambil
menunjuk ke selangkangan Mpok Anah yang masih tertutup rok merah dari bahan
yang tipis.
"Pengen liat memek Mpok?" Mpok Anah
menegaskan apa yang kuminta.
"Iya pok." jawabku.
"Itu sih gampang, tinggal Mpok singkapin
rok Mpok, udah keliatan tuh." kata Mpok Anah sambil menyingkapkan roknya
ke atas, sehingga terlihat celana dalamnya yang berwarna biru tua.
Dan kulihat segunduk daging di balik CD biru
tua itu. Aku menelan ludah dan terpaksa menahan untuk tidak limbung. Sungguh
luar biasa bentuk gundukan di balik CD itu. Aku memang baru pertama kali
melihat gundukan memek, tapi aku yakin kalo gundukan memek Mpok Anah sangat
montok alias tembem sekali. Dan Mpok Anah memang sengaja ingin menggodaku, dia
menahan singkapan roknya itu beberapa lama, dan saat aku ingin menyentuhnya,
dia kembali menutupnya sambil tertawa menggoda.
"Jangan disini dong Wan. Ntar kita
digerebek lagi kalo ada yang tau." kata Mpok Anah sambil berdiri dan
menuntun tanganku ke dalam rumahnya.
Bagai kerbau dicocok hidungnya akupun menurut
saja. Aku sudah pasrah, aku ingin sekali merasakan nikmatnya Mpok Anah. Dan
yang pasti aku sudah telanjur hanyut oleh permainannya yang pandai sekali
membawaku ke dalam jebakan kenikmatan permainan sorgawinya.
Bersambung...
Baca : Part 2
Tidak ada komentar:
Posting Komentar