![amoy [Portal Seks]](http://1.bp.blogspot.com/-VXG-VIr9DM0/T88g1gqYMpI/AAAAAAAAB4w/Qj3QZut0uts/s1600/TANTE%2BAMOY%2BSEKSI%2BTELANJANG%2BBULAT%2BBAJU%2BBIRU%2B11.jpg)
Umurku baru 28 tahun ketika diangkat jadi
manager area sebuah perusahaan consumer goods. Aku ditempatkan di Semarang dan
diberi fasilitas rumah kontrakan tipe 45. Setelah 2-3 minggu tinggal sendirian
di rumah itu lama-lama aku merasa capai juga karena harus melakukan pekerjaan
rumah tangga seperti nyapu, ngepel, cuci pakaian, cuci perabot, bersih-bersih
rumah tiap hari. Akhirnya kuputuskan cari pembantu rumah tangga yang kugaji
sendiri daripada aku sakit. Lewat sebuah biro tenaga kerja, sore itu datanglah
seorang wanita sekitar 35 tahunan, Sumiyati namanya, berasal dari Wonogiri dan
sudah punya dua anak yang tinggal bersama ortunya di desa.
"Anaknya ditinggal dengan neneknya tidak
apa-apa, Mbak?" tanyaku.
"Tidak, pak. Mereka kan sudah
besar-besar, sudah SMP dan SD kelas 6," jawabnya.
"Lalu suami Mbak Sum dimana?"
"Sudah meninggal tiga tahun lalu karena
tbc, pak."
"Ooo.. pernah kerja di mana saja,
Mbak?"
"Ikut rumah tangga, tapi berhenti karena
saya tidak kuat harus kerja terus dari pagi sampai malam, maklum keluarga itu
anaknya banyak dan masih kecil-kecil.. Kalau di sini kan katanya hanya bapak
sendiri yang tinggal, jadi pekerjaannya tidak berat sekali."
Dengan janji akan kucoba dulu selama sebulan,
jadilah Mbak Sum mulai kerja hari itu juga dan tinggal bersamaku. Dia kuberi
satu kamar, karena memang rumahku hanya punya dua kamar. Tugas rutinnya, kalau
pagi sebelum aku ke kantor membersihkan kamarku dan menyiapkan sarapanku.
Setelah aku ke kantor barulah ruangan lain, nyuci, belanja, masak dst. Dia
kubuatkan kunci duplikat untuk keluar masuk rumah dan pagar depan. Setelah
seminggu tinggal bersama, kami bertambah akrab. Kalau di rumah dan tidak ada
tamu dia kusuruh memanggilku "Mas" bukan "bapak" karena
usianya tua dia. Beruntung dia jujur dan pintar masak sehingga setiap pagi dan
malam hari aku dapat makan di rumah, tidak seperti dulu selalu jajan ke luar.
Waktu makan malam Mbak Sum biasanya juga kuajak makan semeja denganku.
Biasanya, selesai cuci piring dia nonton TV. Duduk di permadani yang kugelar di
depan pesawat. Kalau tidak ada kerjaan yang harus dilembur aku pun ikut nonton
TV. Aku suka nonton TV sambil tiduran di permadani, sampai-sampai ketiduran dan
seringkali dibangunkan Mbak Sum supaya pindah ke kamar.
Suhu udara Semarang yang tinggi sering membuat
libidoku jadi cepat tinggi juga. Lebih lagi hanya tinggal berdua dengan Mbak
Sum dan setiap hari menatap liku-liku tubuh semoknya, terutama kalau dia pakai
daster di atas paha. (Kalau digambarkan bodynya sih mirip-mirip Yenny Farida
waktu jadi artis dulu). Maka lalu kupikir-pikir rencana terbaik untuk bisa
mendekap tubuhnya. Bisa saja sih aku tembak langsung memperkosanya toh dia
nggak bakal melawan majikan, tapi aku bukan orang jenis itu. Menikmatinya
perlahan-lahan tentu lebih memberi kepuasan daripada langsung tembak dan cuma
dapat nikmat sesaat.
"Mbak Sum bisa mijit nggak?" tanyaku
ketika suatu malam kami nonton TV bareng.
Dia duduk dan aku tiduran di permadani.
"Kalau asal-asalan sih bisa, Mas,"
jawabnya lugu.
"Nggak apa-apa, Mbak. Ini lho, punggungku
kaku banget.. Seharian duduk terus sampai nggak sempat makan siang.
"Tolong dipijat ya, Mbak.." sambil aku tengkurap.
Mbak Sum pun bersimpuh di sebelahku. Tangannya
mulai memijat punggungku tapi matanya tetap mengikuti sinetron di TV. Uuhh..
nikmatnya disentuh wanita ini. Mata kupejamkan, menikmati. Saat itu aku sengaja
tidak pakai CD (celana dalam) dan hanya pakai celana olahraga longgar.
"Mijatnya sampai kaki ya, Mbak,"
pintaku ketika layar TV menayangkan iklan.
"Ya, Mas," lalu pijatan Mbak Sum
mulai menuruni pinggangku, terus ke pantat.
"Tekan lebih keras, Mbak," pintaku
lagi dan Mbak Sum pun menekan pantatku lebih keras.
Penisku jadi tergencet ke permadani, nikmat,
greng dan semakin.. berkembang. Aku tak tahu apakah Mbak Sum merasakan kalau
aku tak pakai CD atau tidak. Tangannya terus meluncur ke pahaku, betis hingga
telapak kaki. Cukup lama juga, hampir 30 menit.
"Sudah capai belum, Mbak?"
"Belum, Mas."
"Kalau capai, sini gantian, Mbak
kupijitin," usulku sambil bangkit duduk.
"Nggak usah, Mas."
"Nggak apa-apa, Mbak. Sekarang gantian
Mbak Sum tengkurap," setengah paksa dan merajuk seperti anak-anak kutarik
tangannya dan mendorong badannya supaya telungkup.
"Ah, Mas ini, saya jadi malu.."
"Malu sama siapa, Mbak? Kan nggak ada
orang lain?"
Agak canggung dia telungkup dan langsung
kutekan dan kupijit punggungnya supaya lebih tiarap lagi. Kuremas-remas dan
kupijit-pijit punggung dan pinggangnya.
"Kurang keras nggak, Mbak?"
"Cukup, Mas.." Sementara matanya
sekarang sudah tidak lagi terlalu konsentrasi ke layar kaca. Kadang merem
melek. Tanganku mencapai pantatnya yang tertutup daster. Kuremas, kutekan,
kadang tanganku kusisipkan di antara pahanya hingga dasternya mencetak pantat
gempal itu. Kusengaja berlama-lama mengolah pantatnya, toh dia diam saja.
"Pantat Mbak empuk lo.." godaku
sambil sedikit kucubit.
"Ah, Mas ini bisa saja.. Mbak jadi malu
ah, masak pembantu dipijitin juragannya.. Sudah ah, Mas.." pintanya.
Sambil berusaha berdiri.
"Sabar, Mbak, belum sampai ke
bawah," kataku sambil mendorongnya balik ke permadani.
"Aku masih kuat kok."
Tanganku bergerak ke arah pahanya.
Meremas-remas mulai di atas lutut yang tidak tertutup daster, lalu makin naik
dan naik merambat ke balik dasternya. Mbak Sum mula-mula diam namun ketika
tanganku makin tinggi memasuki dasternya ia jadi gelisah.
"Sudah, Mas.."
"Tenang saja, Mbak.. Biar capainya
hilang," sahutku sambil menempelkan bagian depan celanaku yang menonjol ke
samping pahanya yang kanan sementara tanganku memijat sisi kiri pahanya.
Sengaja kutekankan "tonjolan"ku. Dan seolah tanpa sengaja
kadang-kadang kulingkarkan jari tangan ke salah satu pahanya lalu kudorong ke
atas hingga menyentuh bawah vaginanya. Tentu saja gerakanku masih di luar dasternya
supaya ia tidak menolak. Ingin kulihat reaksinya. Dan yang terdengar hanya eh..
eh.. eh.. tiap kali tanganku mendorong ke atas.
"Sekarang balik, Mbak, biar depannya
kupijat sekalian.."
"Cukup, Mas, nanti capai.."
"Nggak apa-apa, Mbak, nanti gantian Mbak
Sum mijit aku lagi.."
Kudorong balik tubuhnya sampai telentang.
Daster di bagian pahanya agak terangkat naik. Mula-mula betisnya kupijat lagi
lalu tanganku merayap ke arah pahanya. Naik dan terus naik dan dasternya
kusibak sedikit sedikit sampai kelihatan CD-nya.
"Mbak Sum pakai celana item ya?"
gurauku sampai dia malu-malu.
"Saya jadi malu, Mas, kelihatan
celananya.." sambil tangannya berusaha menurunkan dasternya lagi.
"Alaa.. yang penting kan nggak kelihatan
isinya to, Mbak.." godaku lagi sambil menahan tangannya dan mengelus
gundukan CD-nya dan membuat Mbak Sum menggelinjang.
Tangannya berusaha menepis tanganku. Melihat
reaksinya yang tidak terlalu menolak, aku tambah berani. Dasternya makin
kusingkap sehingga kedua pahanya yang besar mengkal terpampang di depanku.
Namun aku tidak terburu nafsu. Kusibakkan kedua belah paha itu ke kiri-kanan
lalu aku duduk di sela-selanya. Kupijat-pijat pangkal paha sekitar
selangkangannya sambil sesekali jariku nakal menelusupi CD-nya.
"Egh.. egh.. sudah Mas, nanti
keterusan.." tolaknya lemah.
Tangannya berusaha menahan tanganku, tapi
tubuhnya tak menunjukkan reaksi menolak malah tergial-gial setiap kali
menanggapi pijitanku.
"Keterusan gimana, Mbak?" tanyaku
pura-pura bodoh sambil memajukan posisi dudukku sehingga penisku hampir
menyentuh CD-nya. Dia diam saja sambil tetap memegangi tanganku supaya tidak
keterusan.
"Ya deh, sekarang perutnya ya,
Mbak.."
Tanganku meluncur ke arah perutnya sambil
membungkuk di antara pahanya. Sambil memijat dan mengelus-elus perutnya,
otomatis zakarku (yang masih terbungkus celana) menekan CD-nya. Merasa ada
tekanan di CD-nya Mbak Sum segera bangun.
"Jangan Mas.. nanti keterusan.. Tidak
baik.." lalu memegang tanganku dan setengah menariknya.
Kontan tubuhku malah tertarik maju dan
menimpanya. Posisi zakarku tetap menekan selangkangannya sedang wajah kami
berhadap-hadapan sampai hembusan nafasnya terasa.
"Jangan, Mas.. jangan.." pintanya
lemah.
"Cuma begini saja, nggak apa-apa kan
Mbak?" ujarku sambil mengecup pipinya.
"Aku janji, Mbak, kita hanya akan begini
saja dan tidak sampai copot celana," sambil kupandang matanya dan pelan
kugeser bibirku menuju ke bibirnya.
Dia melengos tapi ketika kepalanya kupegangi
dengan dua tangan jadi terdiam. Begitu pula ketika lidahku menelusuri
relung-relung mulutnya dan bibir kami berciuman. Sesaat kemudian dia pun mulai
merespons dengan hisapan-hisapannya pada lidah dan bibirku.
Targetku hari itu memang belum akan
menyetubuhi Mbak Sum sampai telanjang. Karena itulah kami selanjutnya hanya
berciuman dan berpelukan erat-erat, kutekan-tekankan pantatku. Bergulingan liar
di atas permadani. Kuremas-remas payudaranya yang montok mengkal di balik
daster. Entah berapa jam kami begituan terus sampai akhirnya kantuk menyerang
dan kami tertidur di permadani sampai pagi. Dan ketika bangun Mbak Sum jadi
tersipu-sipu.
"Maaf ya, Mas," bisiknya sambil
memberesi diri.
Tapi tangannya kutarik sampai ia jatuh ke
pelukanku lagi.
"Nggak apa-apa, Mbak. Aku suka kok tidur
sambil pelukan kayak tadi. Tiap malam juga boleh kok.." candaku.
Mbak Sum melengos ketika melihat tonjolan
besar di celanaku.
Sejak saat itu hubunganku dengan Mbak Sum
semakin hangat saja. Aku bebas memeluk dan menciumnya kapan saja. Bagai istri
sendiri. Dan terutama waktu tidur, kami jadi lebih suka tidur berdua. Entah di
kamarku, di kamarnya atau di atas permadani. Sengaja selama ini aku menahan
diri untuk tidak memaksanya telanjang total dan berhubungan kelamin. Dengan
berlama-lama menahan diri ini lebih indah dan nikmat rasanya, sama seperti
kalau kita menyimpan makanan terenak untuk disantap paling akhir.
Hingga suatu malam di ranjangku yang besar
kami saling berpelukan. Aku bertelanjang dada dan Mbak Sum pakai daster. Masih
sekitar jam 9 waktu itu dan kami terus asyik berciuman, berpagutan, berpelukan
erat-erat saling raba, pijat, remas. Kuselusupkan tanganku di bawah dasternya
lalu menariknya ke atas. Terus ke atas hingga pahanya menganga, perutnya
terbuka dan akhirnya beha putihnya nampak menantang. Tanpa bicara dasternya
terus kulepas lewat kepalanya.
"Jangan, Mas.." Mbak Sum menolak.
"Nggak apa-apa, Mbak, cuma dasternya
kan.." rayuku.
Dia jadi melepaskan tanganku. Juga diam saja
ketika aku terang-terangan membuka celana luarku hingga kami sekarang tinggal
berpakaian dalam. Kembali tubuh gempal janda montok itu kugeluti, kuhisap-hisap
puncak branya yang nampak kekecilan menampung teteknya. Mbak Sum mendesis-desis
sambil meremasi rambut kepalaku dan menggapitkan pahanya kuat-kuat ke pahaku.
"Mbak Sum pingin kita telanjang?"
tanyaku.
"Jangan, Mas. Pingin sih pingin.. tapi..
gimana ya.."
"Sudah berapa lama Mbak Sum tidak
ngeseks?"
"Ya sejak suami Mbak meninggal..
kira-kira tiga tahun.."
"Pasti Mbak jadi sering masturbasi
ya?"
"Kadang-kadang kalau sudah nggak tahan,
Mas.."
"Kalau main dengan pria lain?"
"Belum pernah, Mas.."
"Masak sih, Mbak? masak nggak ada yang
mau?"
"Bukan begitu, tapi aku yang nggak mau,
Mas.."
"Kalau sama aku kok mau sih, Mbak?"
godaku lagi.
"Ah, kan Mas yang mulai.. dan lagi, kita
kan nggak sampai anu.."
"Anu apa, Mbak?"
"Ya itu.. telanjang gitu.."
"Sekarang kita telanjang ya, Mbak.."
"Eee.. kalau hamil gimana, Mas?"
"Aku pakai kondom deh.."
"Ng.. tapi itu kan dosa, Mas?"
"Kalau yang sekarang ini dosa nggak,
Mbak?" tanyaku mentesnya.
"Eee.. sedikit, Mas," jawabnya
bingung.
Aku tersenyum mendengar jawaban mengambang itu
dan kembali memeluk erat-erat tubuh sekalnya yang menggemaskan. Kuremas dan
kucium-cium pembungkus teteknya. Ia memeluk punggungku lebih erat. Kuraba-raba
belakang punggungnya mencari lalu melepas kaitan branya.
"Ja..jangan, Mas.." Bisiknya tanpa
reaksi menolak dan kulanjutkan gerakanku.
Mbak Sum hanya melenguh kecil ketika branya
kutarik dan kulemparkan entah kemana. Dua buah semangka segar itu langsung
kukemut-kemut putingnya. Kuhisap, kumasukkan mulut sebesar-besarnya, kugelegak,
sambil kulepas CD-ku. Mbak Sum terus mendesis-desis dan bergetar-getar
tubuhnya. Kami bergumul berguling-guling. Kutekan-tekan selangkangannya dengan
zakarku.
Bersambung...
Baca : Part 2
Tidak ada komentar:
Posting Komentar