![amoy [Portal Seks]](https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhrUlskMGaloiKCney6FSo5k4aXh-ZGDiwTOd4WDscRnTpbco4hpbdO8f_4Z7hyphenhyphenBzUiyUNdZT_BexawyXhN9JoRN0PyXlOzERknwzHnBAxtVGBF6SunPoKTIYLP2KVaNezuDQkAGb9jyO4B/s1600/g_%25285%2529.jpg)
Sudah dua tahun ini aku menikah dengan Virni,
dia seorang model iklan dan enam bulan lalu, dia menjadi seorang bintang
sinetron, sementara aku sendiri adalah seorang wiraswasta di bidang pompa
bensin. Usiaku kini 32 tahun, sedangkan Virni usia 21 tahun. Virni seorang yang
cantik dengan kulit yang putih bersih mungkin karena keturunan dari ibunya. Aku
pun bangga mempunyai istri secantik dia. Ibunya Virni, mertuaku, sebut saja
Mama Mona, orangnya pun cantik walau usianya sudah 39-tahun. Mama Mona
merupakan istri ketiga dari seorang pejabat negara ini, karena istri ketiga
jadi suaminya jarang ada di rumah, paling-paling sebulan sekali. Sehingga Mama
Mona bersibuk diri dengan berjualan berlian.
Aku tinggal bersama istriku di rumah ibunya,
walau aku sndiri punya rumah tapi karena menurut istriku, ibunya sering
kesepian maka aku tinggal di "Pondok Mertua Indah". Aku yang sibuk
sekali dengan bisnisku, sementara Mama Mona juga sibuk, kami jadi kurang banyak
berkomunikasi tapi sejak istriku jadi bintang sinetron 6 bulan lalu, aku dan
Mama Mona jadi semakin akrab malahan kami sekarang sering melakukan hubungan
suami istri, inilah ceritanya.
Sejak istriku sibuk syuting sinetron, dia
banyak pergi keluar kota, otomatis aku dan mertuaku sering berdua di rumah,
karena memang kami tidak punya pembantu. Tiga bulan lalu, ketika istriku pergi
ke Jogja, setelah kuantar istriku ke stasiun kereta api, aku mampir ke rumah
pribadiku dan baru kembali ke rumah mertuaku kira-kira jam 11.00 malam. Ketika
aku masuk ke rumah aku terkaget, rupanya mertuaku belum tidur. Dia sedang
menonton TV di ruang keluarga.
"Eh, Mama.. belum tidur.."
"Belum, Tom.. saya takut tidur kalau di
rumah belum ada orang.."
"Oh, Maaf Ma, saya tadi mampir ke rumah
dulu.. jadi agak telat.."
"Virni.. pulangnya kapan?"
"Ya.. kira-kira hari Rabu, Ma.. Oh..
sudah malam Ma, saya tidur dulu.."
"Ok.. Tom, selamat tidur.."
Kutinggal Mama Mona yang masih nonton TV, aku
masuk ke kamarku, lalu tidur. Keesokannya, Sabtu Pagi ketika aku terbangun dan
menuju ke kamar makan kulihat Mama Mona sudah mempersiapkan sarapan yang
rupanya nasi goreng, makanan favoritku.
"Selamat Pagi, Tom.."
"Pagi.. Ma, wah Mama tau aja masakan
kesukaan saya."
"Kamu hari ini mau kemana Tom?"
"Tidak kemana-mana, Ma.. paling cuci
mobil.."
"Bisa antar Mama, Mama mau antar pesanan
berlian."
"Ok.. Ma.."
Hari itu aku menemani Mama pergi antar pesanan
dimana kami pergi dari jam 09.00 sampai jam 07.00 malam. Selama perjalanan,
Mama menceritakan bahwa dia merasa kesepian sejak Virni makin sibuk dengan
dirinya sendiri dimana suaminya pun jarang datang, untungnya ada diriku
walaupun baru malam bisa berjumpa. Sejak itulah aku jadi akrab dengan Mama
Mona.
Sampai di rumah setelah berpergian seharian
dan setelah mandi, aku dan Mama nonton TV bersama-sama, dia mengenakan baju
tidur modelnya baju handuk sedangkan aku hanya mengenakan kaus dan celana
pendek. Tiba-tiba Mama menyuruhku untuk memijat dirinya.
"Tom, kamu capek nggak, tolong pijatin
leher Mama yach.. habis pegal banget nih.."
"Dimana Ma?"
"Sini.. Leher dan punggung Mama.."
Aku lalu berdiri sementara Mama Mona duduk di
sofa, aku mulai memijat lehernya, pada awalnya perasaanku biasa tapi lama-lama
aku terangsang juga ketika kulit lehernya yang putih bersih dan mulus kupijat
dengan lembut terutama ketika kerah baju tidurnya diturunkan makin ke bawah
dimana rupanya Mama Mona tidak mengenakan BH dan payudaranya yang cukup
menantang terintip dari punggungnya olehku dan juga wangi tubuhnya yang sangat
menusuk hidungku.
"Maaf, Ma.. punggung Mama juga
dipijat.."
"Iya.. di situ juga pegal.."
Dengan rasa sungkan tanganku makin merasuk ke
punggungnya sehingga nafasku mengenai lehernya yang putih, bersih dan mulus
serta berbulu halus. Tiba-tiba Mama berpaling ke arahku dan mencium bibirku
dengan bibirnya yang mungil nan lembut, rupanya Mama Mona juga sudah mulai
terangsang. "Tom, Mama kesepian.. Mama membutuhkanmu.." Aku tidak
menjawab karena Mama memasukkan lidahnya ke mulutku dan lidah kami bertautan.
Tanganku yang ada di punggungnya ditarik ke arah payudaranya sehingga putingnya
dan payudaranya yang kenyal tersentuh tanganku. Hal ini membuatku semakin
terangsang, dan aku lalu merubah posisiku, dari belakang sofa, aku sekarang
berhadapan dengan Mama Mona yang telah meloloskan bajunya sehingga payudaranya
terlihat jelas olehku.
Aku tertegun, rupanya tubuh Mama Mona lebih
bagus dari milik anaknya sendiri, istriku. Aku baru pertama kali ini melihat
tubuh ibu mertuaku yang toples.
"Tom, koq bengong, khan Mama sudah
bilang, Mama kesepian.."
"iya.. iya.. iya Mah,"
Ditariknya tanganku sehingga aku terjatuh di
atas tubuhnya, lalu bibirku dikecupnya kembali. Aku yang terangsang membalasnya
dengan memasukkan lidahku ke mulutnya. Lidahku disedot di dalam mulutnya.
Tanganku mulai bergerilya pada payudaranya. Payudaranya yang berukuran 36B
sudah kuremas-remas, putingnya kupelintir yang membuat Mama Mona menggoyangkan
tubuhnya karena keenakan. Tangannya yang mungil memegang batangku yang masih
ada di balilk celana pendekku. Diusap-usapnya hingga batangku mulai mengeras
dan celana pendekku mulai diturunkan sedikit, setelah itu tangannya mulai
mengorek di balik celana dalamku sehingga tersentuhlah kepala batangku dengan
tangannya yang lembut yang membuatku gelisah.
Keringat kami mulai bercucuran, payudaranya
sudah tidak terpegang lagi tanganku tapi mulutku sudah mulai menari-nari di
payudaranya, putingnya kugigit, kuhisap dan kukenyot sehingga Mama Mona
kelojotan, sementara batangku sudah dikocok oleh tangannya sehingga makin
mengeras. Tanganku mulai meraba-raba celana dalamnya, dari sela-sela celana dan
pahanya yang putih mulus kuraba vaginanya yang berbulu lebat. Sesekali kumasuki
jariku pada liang vaginanya yang membuat dirinya makin mengelinjang dan makin
mempercepat kocokan tangannya pada batangku.
Hampir 10 menit lamanya setelah vaginanya
telah basah oleh cairan yang keluar dengan berbau harum, kulepaskan tanganku
dari vaginanya dan Mama Mona melepaskan tangannya dari batangku yang sudah
keras. Mama Mona lalu berdiri di hadapanku, dilepaskannya baju tidurnya dan
celana dalamnya sehingga aku melihatnya dengan jelas tubuh Mama Mona yang bugil
dimana tubuhnya sangat indah dengan tubuh tinggi 167 cm, payudara berukuran 36B
dan vagina yang berbentuk huruf V dengan berbulu lebat, membuatku menahan ludah
ketika memandanginya.
"Tom, ayo.. puasin Mama.."
"Ma.. tubuh Mama bagus sekali, lebih
bagus dari tubuhnya Virni.."
"Ah.. masa sih.."
"Iya, Ma.. kalau tau dari 2 tahun lalu,
mungkin Mamalah yang saya nikahi.."
"Ah.. kamu bisa aja.."
"Iya.. Ma.. bener deh.."
"Iya sekarang.. puasin Mama dulu.. yang
penting khan kamu bisa menikmati Mama sekarang.."
"Kalau Mama bisa memuaskan saya, saya
akan kawini Mama.."
Mama lalu duduk lagi, celana dalamku
diturunkan sehingga batangku sudah dalam genggamannya, walau tidak terpegang
semua karena batangku yang besar tapi tangannya yang lembut sangat mengasyikan.
"Tom, batangmu besar sekali, pasti Virni
puas yach."
"Ah.. nggak. Virni.. biasa aja Ma.."
"Ya.. kalau gitu kamu harus puasin Mama
yach.."
"Ok.. Mah.."
Mulut mungil Mama Mona sudah menyentuh kepala
batangku, dijilatnya dengan lembut, rasa lidahnya membuat diriku kelojotan,
kepalanya kuusap dengan lembut. Batangku mulai dijilatnya sampai biji pelirku,
Mama Mona mencoba memasukkan batangku yang besar ke dalam mulutnya yang mungil
tapi tidak bisa, akhirnya hanya bisa masuk kepala batangku saja dalam mulutnya.
Hal ini pun sudah membuatku kelojotan, saking
nikmatnya lidah Mama Mona menyentuh batangku dengan lembut. Hampir 15 menit
lamanya batangku dihisap membuatnya agak basah oleh ludah Mama Mona yang sudah
tampak kelelahan menjilat batangku dan membuatku semakin mengguncang keenakan.
Setelah itu Mama Mona duduk di Sofa dan sekarang aku yang jongkok di
hadapannya. Kedua kakinya kuangkat dan kuletakkan di bahuku. Vagina Mama Mona
terpampang di hadapanku dengan jarak sekitar 50 cm dari wajahku, tapi bau harum
menyegarkan vaginanya menusuk hidungku.
"Ma, Vagina Mama wangi sekali, pasti
rasanya enak sekali yach."
"Ah, masa sih Tom, wangi mana dibanding
punya Virni dari punya Mama."
"Jelas lebih wangi punya mama
dong.."
"Aaakkhh.."
Vagina Mama Mona telah kusentuh dengan
lidahku. Kujilat lembut liang vagina Mama Mona, vagina Mama Mona rasanya sangat
menyegarkan dan manis membuatku makin menjadi-jadi memberi jilatan pada
vaginanya.
"Ma, vagina.. Mama sedap sekali.. rasanya
segar.."
"Iyaah.. Tom, terus.. Tom.. Mama baru
kali ini vaginanya dijilatin.. ohh.. terus.. sayang.."
Vagina itu makin kutusuk dengan lidahku dan
sampai juga pada klitorisnya yang rasanya juga sangat legit dan menyegarkan.
Lidahku kuputar dalam vaginanya, biji klitorisnya kujepit di lidahku lalu
kuhisap sarinya yang membuat Mama Mona menjerit keenakan dan tubuhnya
menggelepar ke kanan ke kiri di atas sofa seperti cacing kepanasan. "Ahh..
ahh.. oghh oghh.. awww.. argh.. arghh.. lidahmu Tom.. agh, eena.. enakkhh..
aahh.. trus.. trus.." Klitoris Mama Mona yang manis sudah habis kusedot
sampai berulang-ulang, tubuh Mama Mona sampai terpelintir di atas sofa, hal itu
kulakukan hampir 30 menit dan dari vaginanya sudah mengeluarkan cairan putih
bening kental dan rasanya manis juga, cairan itupun dengan cepat kuhisap dan
kujilat sampai habis sehingga tidak ada sisa baik di vaginanya maupun paha mama
Mona.
"Ahg.. agh.. Tom.. argh.. akh.. akhu..
keluar.. nih.. ka.. kamu.. hebat dech.." Mama Mona langsung ambruk di atas
sofa dengan lemas tak berdaya, sementara aku yang merasa segar setelah menelan
cairan vagina Mama Mona, langsung berdiri dan dengan cepat kutempelkan batang
kemaluanku yang dari 30 menit lalu sudah tegang dan keras tepat pada liang
vagina Mama Mona yang sudah kering dari cairan. Mama Mona melebarkan kakinya
sehingga memudahkanku menekan batangku ke dalam vaginanya, tapi yang aku
rasakan liang vagina Mama Mona terasa sempit, aku pun keheranan.
"Ma.. vagina Mama koq sempit yach.. kayak
vagina anak gadis."
"Kenapa memangnya Tom, nggak enak
yach.."
"Justru itu Ma, Mama punya sempit kayak
punya gadis. Saya senang Ma, karena vagina Virni sudah agak lebar, Mama hebat,
pasti Mama rawat yach?"
"Iya, sayang.. walau Mama jarang ditusuk,
vaginanya harus Mama rawat sebaik-baiknya, toh kamu juga yang nusuk.."
"Iya Ma, saya senang bisa menusukkan
batang saya ke vagina Mama yang sedaap ini.."
"Akhh.. batangmu besar sekali.."
Vagina Mama Mona sudah terterobos juga oleh
batang kemaluanku yang diameternya 4 cm dan panjangnya 28 cm, setelah 6 kali
kuberikan tekanan.
Pinggulku kugerakan maju-mundur menekan vagina
Mama Mona yang sudah tertusuk oleh batangku, Mama Mona hanya bisa menahan rasa
sakit yang enak dengan memejamkan mata dan melenguh kenikmatan, badannya
digoyangkan membuatku semakin semangat menggenjotnya hingga sampai semua
batangku masuk ke vaginanya. "Tom.. nggehh.. ngghh.. batangmu menusuk
sampai ke perut.. nich.. agghh.. agghh.. aahh.. eenaakkhh.." Aku pun
merasa keheranan karena pada saat masukkan batangku ke vaginanya Mama Mona
terasa sempit, tapi sekarang bisa sampai tembus ke perutnya. Payudara Mama Mona
yang ranum dan terbungkus kulit yang putih bersih dihiasi puting kecil
kemerahan sudah kuterkam dengan mulutku. Payudara itu sudah kuhisap, kujilat,
kugigit dan kukenyot sampai putingnya mengeras seperti batu kerikil dan Mama
Mona belingsatan, tangannya membekap kepalaku di payudaranya sedangkan
vaginanya terhujam keras oleh batangku selama hampir 1 jam lamanya yang
tiba-tiba Mama Mona berteriak dengan lenguhan karena cairan telah keluar dari
vaginanya membasahi batangku yang masih di dalam vaginanya, saking banyaknya
cairan itu sampai membasahi pahanya dan pahaku hingga berasa lengket.
"Arrgghh.. argghh.. aakkhh.. Mama..
keluar nich Tom.. kamu belum yach..?" Aku tidak menjawab karena tubuhnya
kuputar dari posisi terlentang dan sekarang posisi menungging dimana batangku
masih tertancap dengan kerasnya di dalam vagina Mama Mona, sedangkan dia sudah
lemas tak berdaya. Kuhujam vagina Mama Mona berkali-kali sementara Mama Mona
yang sudah lemas seakan tidak bergerak menerima hujaman batangku, Payudaranya
kutangkap dari belakang dan kuremas-remas, punggungnya kujilat. Hal ini
kulakukan sampai 1 jam kemudian di saat Mama Mona meledak lagi mengeluarkan
cairan untuk yang kedua kalinya, sedangkan aku mencapai puncak juga dimana
cairanku kubuang dalam vagina Mama Mona hingga banjir ke kain sofa saking
banyaknya cairanku yang keluar. "Akhh.. akh.. Ma, Vagina Mama luar biasa
sekali.." Aku pun ambruk setelah hampir 2,5 jam merasakan nikmatnya vagina
mertuaku, yang memang nikmat, meniban tubuh Mama Mona yang sudah lemas lebih
dulu.
Aku dan Mama terbangun sekitar jam 12.30 malam
dan kami pindah tidur ke kamar Mama Mona, setelah terbaring di sebelah Mama
dimana kami masih sama-sama bugil karena baju kami ada di sofa, Mama Mona
memelukku dan mencium pipiku.
"Tom, Mama benar-benar puas dech, Mama
pingin kapan-kapan coba lagi batangmu yach, boleh khan.."
"Boleh Ma, saya pun juga puas bisa
mencoba vagina Mama dan sekarangpun yang saya inginkan setiap malam bisa tidur
sama Mama jika Virni nggak pulang."
"Iya, Tom.. kamu mau ngeloni Mama kalau
Virni pergi?"
"Iya Ma, vagina Mama nikmat sih."
"Air manimu hangat sekali Tom, berasa
dech waktu masuk di dalam vagina Mama."
"Kita Main lagi Ma..?"
"Iya boleh.."
Kami pun bermain dalam nafsu birahi lagi di
tempat tidur Mama hingga menjelang ayam berkokok baru kami tidur. Mulai hari
itu aku selalu tidur di kamar Mama jika istriku ada syuting di luar kota dan
ini berlangsung sampai sekarang.
TAMAT
Tidak ada komentar:
Posting Komentar