![Amoy [Portal Seks]](http://2.bp.blogspot.com/-mka4jwWdeEI/T6XwfH6qm1I/AAAAAAAAHl0/PH9RMbz5oBc/s640/amoy+mulus+www.bambang-gene+(1).jpg)
Tidak mudah bisa bertahan hidup di Jakarta
apabila seseorang tidak memiliki kepandaian, stamina dan daya tahan terhadap
berbagai tekanan dan kesulitan. Dan itu semakin aku rasakan. Sejak tiga tahun
terakhir aku bersama istri yang baru kunikahi meninggalkan kampungku di Sleman,
Yogya, menuju ibukota Jakarta untuk mencari kehidupan yang lebih baik. Hingga
kini kehidupan yang lebih baik itu belum juga aku memperolehnya.
Aku mau dan pernah melakukan pekerjaan apa
saja sepanjang itu halal. Dari penjaga toko, narik ojek, tukang batu atau
pekerjaan lainnya yang sesuai dengan apa yang aku bisa. Tetapi itu semua
nampaknya belum menjanjikan masa depan yang lebih baik.
Kebetulan ada famili jauhku, Pakde Karto yang
telah lama hidup di Jakarta dan mendapatkan kehidupan yang cukup mapan.
Usahanya sebagai tengkulak tembakau untuk pabrik rokok 'gurem' nampaknya
membuat hidupnya kecukupan. Kalau aku kesulitan uang Pakde Karto selalu menjadi
tujuanku dan biasanya dia mau menolongku. Dia bilang kasihan pada istriku yang
masih muda harus menderita hidup di Jakarta. Dia tidak mau mengajak aku kerja
di tempatnya. Alasannya karena kurang suka mempekerjakan sanak famili. Dia
bilang dirinya punya sifat gampang marah dan kasar. Khawatir sifat itu bisa
menyinggung perasaan dan putus hubungan kekeluargaan. Walaupun begitu dia
sangat memperhatikan kepentingan kami, khususnya kepentingan istriku. Terkadang
dia belikan sesuatu, misalnya baju atau perabot dapur atau lainnya.
Hanya satu hal yang aku kurang sreg dengan
Pakde Karto. Kalau aku minta bantuan pinjam uang dia tidak ijinkan aku ke
kantornya. Dia selalu menyuruh sampaikan saja apa kebutuhanku lewat telpon,
nanti dia akan datang. Dan dia memang datang. Dia berikan pinjamanku dan dia
juga bawa oleh-oleh untuk Rini, istriku.
Selama berada di rumah kuperhatikan matanya
yang selalu nampak melotot memperhatikan tubuh istriku. Beberapa kali dia
bertandang ke rumahku, tak pernah sekalipun dia bawa istrinya. Aku pikir dia
nggak mau kesukaan melototnya saat melihati istriku terganggu. Rasanya Pakde
Karto ini bandot tua. Kadang-kadang sikapnya aku anggap keterlaluan. Seharusnya
dia mengetahui dirinya sebagai panutan karena lebih tua dari aku. Tetapi dia
tidak pernah menampakkan perhatiannya padaku. Kalau aku ngomong, dia menyahut
'ya, ya, ya' tanpa pernah lepas dari pandangan ke Rini dan sama sekali tak
pernah melihat padaku. Terus terang kalau tidak terpaksa aku segan berhubungan
dengan Pakde Karto ini.
Dari sudut fisik, Pakde Karto ini memang masih
gagah. Pada umurnya yang memasuki 57 tahun, disamping wajahnya yang memang
cukup ganteng, tubuhnya juga cukup terawat baik, tangannya ada sedikit berbulu.
Tingginya sama dengan aku 175-an cm. Agak gendut, mungkin karena cukup makmur.
Dan tampang bandotnya memang nyata banget. Aku yakin Pakde Karto suka mencicipi
berbagai macam perempuan dan tidak kesulitan untuk mendapatkan 'daun-daun
muda'.
Akan halnya Rini, istriku, dia adalah gadis
idamanku saat kami masih sama-sama satu sekolah. Aku duduk di kelas 3 dan dia
kelas 1 di SMU 1. Kami langsung berpacaran sejak dia masuk ke sekolah. Aku
bangga dapat dia yang hitam manis dan paling 'macan', begitu teman-teman
menyebut 'manis dan cantik' untuk Riniku ini. Dengan tingginya yang 170 cm, dia
termasuk gadis paling semampai di sekolah kami. Kalau ada lomba volley antar
sekolah Rini selalu menjadi bintang lapangan. Bukan karena menang bertanding
tetapi karena macan-nya tadi. Aku tahu banyak perjaka lain yang naksir berat
padanya. Walau Rini pernah juga mendapatkan julukan 'piala bergilir', aku tidak
merasa keberatan. Dan pada akhirnya akulah pemenangnya yang bisa menggandengnya
ke pelaminan.
Sesudah melewati tahun pertama pernikahan,
kami merasakan adanya kurang seimbang, khususnya dalam hal hubungan seksual.
Secara sederhana, Rini orangnya 'hot' banget, sementara aku mungkin 'cool'
banget. Aku merasa kewalahan kalau mesti menuruti kemauannya. Dia mau setiap
hari berhubungan seks. Sementara aku merasa cukup 2 kali seminggu. Untuk
memenuhi keinginannya Rini memberikan aku berbagai macam jamu atau obat kuat.
Pertama-tama kuikuti kemauannya itu. Tetapi hal tersebut tidak berlangsung
lama. Bagaimanapun kapasitas normalku ya, seminggu 2 kali itu. Akhirnya
solusinya adalah kompromi, aku akan selalu berusaha menaikkan kapasitasku dan
dia sedikit menurunkan kapasitasnya. Hasilnya? Entahlah.
Walaupun belum mempunyai anak, karena kami
sepakat untuk KB sampai keadaan ekonomi kami mantap, Rini tidak kekurangan
kesibukkan. Dia sering menerima pesanan 'caterring' dari teman atau tetangga
untuk hajatan-hajatan kecil di seputar rumah kami. Terkadang dia juga membuat
makanan kecil untuk dititipkan ke warung-warung. Itu semua dia kerjakan dengan
senang hati untuk mencari sekedar tambahan nafkah rumah tangga.
Dia juga suka mengeluh risih dengan sikap
Pakde Karto. Tetapi dia bilang nggak mau terlampau risau dan tetap menunjukkan
sikap sopan sebagai keponakan mantu.
Sejak beberapa bulan terakhir ini aku terseret
pergaulan teman di kampung ikut main lotere buntut atau yang biasa disebut
'togel'. Pada awalnya aku menyaksikan seorang teman menarik kemenangan sebesar
15 juta rupiah kontan. Aku langsung tergiur. Saat pertama kali aku pasang
togel, Rini marah dan sangat tidak setuju. Tetapi sesudah aku berusaha
menenangkannya akhirnya dia tidak lagi menentang walaupun tidak sepenuhnya menerima
gagasanku. Setelah beberapa kali gagal, akhirnya dari sekian nomer yang
kupasang salah satunya berhasil menang. Aku berhasil menarik 1 juta rupiah.
Dengan gembira uang itu kuserahkan seluruhnya kepada Rini. Ternyata istriku ini
menerimanya dengan dingin. Aku tidak putus asa dengan sikapnya itu. Aku anggap
itu sebagai tantanganku untuk memenangkan kesempatan berikutnya. Kini setiap
hari aku selalu sibuk dengan togel. Setiap hari berusaha mencari kode-kode
nomer bagus. Mungkin lewat mimpi sendiri atau mimpi tetangga, nomer mobil yang
melintas atau mentafsirkan gambar-gambar kode yang kudapat dari bandar atau
tanya ke dukun.Demikianlah hal tersebut berjalan beberapa waktu dan ternyata
aku tak pernah lagi menarik kemenangan yang berarti.
Pada akhirnya aku benar-benar bangkrut. Dan
tak ada jalan lain kecuali aku telpon ke Pakde Karto untuk pinjam uang. Setelah
berbasa basi untuk keperluan apa uang itu dan kapan aku mengembalikannya
akhirnya dia setuju untuk memberi pinjaman. Sebagaimana biasa Pakde Karto datang
ke rumah. Walaupun hatiku resah karena ada satu nomer togel penting yang
kuyakini akan keluar malam ini tetapi aku harus sabar sampai Pakde Karto
menyerahkan uangnya ke istriku Rini. Kali ini rasanya aku nggak keberatan kalau
Pakde Sastro akan melotot untuk menikmati kecantikan istriku. Silahkan, yang
penting duitnya cepet turun.
Sesudah aku menanda tangani pernyataan hutang
yang selalu telah disiapkan Pakde dan saat amplop uang diserahkan ke istriku
yang untuk selanjutnya dibawa dan dia taruh di bawah bantal, aku cepat
bergerilya.
Tanpa sempat menghitung kucomot separo dari
tumpukkan uang itu. Dengan alasan akan ke warung beli rokok kutinggalkan Pakde
Karto di rumah bersama Rini istriku. Aku tak sempat lagi memperhatikan wajah
Pakde yang langsung hingar bingar sambil menganggukan kepalanya padaku. Yang
kupikir sekarang adalah secepatnya menuju tempat bandar togel dan memasang
nomer pilihan. Aku akan tunjukkan pada istriku bahwa memasang togel juga
merupakan usaha yang bisa menghasilkan. Lebih dari separuh uang yang kubawa
kupasangkan pada nomer pilihanku dan sebagian lainnya kupasang sebagai cadangan
apabila nomer pilihan meleset. Aku yakin besok bisa mengembalikan utangku pada
Pakde dan sisanya yang masih sangat besar akan kuserahkan seluruhnya pada istriku.
Demikianlah perputaran kehidupanku akhir-akhir
ini. Nomer togel itu nggak pernah lagi kumenangkan. Rini selalu marah-marah dan
semakin sinis padaku. Dan hutangku pada Pakde Karto sudah tak terhitung lagi.
Pada hari-hari terakhir ini aku selalu lari menghindar kalau orang suruhannya
datang mencari aku. Dan melihat wataknya Pakde Karto pasti akan terus
mengejarku hingga uangnya bisa kembali.
Pada suatu pagi datang utusannya membawa
surat. Aku tak berani menemuinya. Isteriku menerima surat itu,
"Datanglah ke kantor. Jangan khawatir.
Ada jalan keluar yang sama-sama menguntungkan. Saya tunggu siang ini.
Pakdemu."
Ah, nampaknya kali ini Pakdeku benar-benar mau
membantu keponakannya yang sudah pusing tujuh keliling. Aku berpikir dia akan
suruh aku membantu pekerjaannya di kantor agar aku bisa melunasi hutangku.
Sesudah aku pamit istriku tanpa ragu aku datang ke kantornya.
Di kantornya aku langsung diantar Satpam masuk
ke ruangan Pakde. Pakde menyuruh aku duduk di sofa dan menyuruh Satpamnya yang
nampak kekar berotot itu agar berdiri menunggu. Ternyata Pakde menampakkan
wajahnya yang sangar. Dia melihati aku seperti seorang pemangsa melihati
korbannya. Dengan pandangan matanya yang bak elang siap mencabik-cabik
mangsanya Pakde berbicara dengan garang, "Begini Herman. Aku tahu kamu
nggak mungkin bisa membayar hutangmu yang hingga saat ini telah mencapai lebih
dari 15 juta rupiah belum termasuk hitungan bunganya. Sekarang hanya ada satu
pilihan yang menyelamatkan kamu atau urusannya jadi lain," dia mengakhiri omongannya
sambil melirik ke Satpamnya.
Dalam keadaan yang sangat putus asa mana
mungkin aku punya gagasan-gagasan untuk memecahkan masalahku. Dan tekanan Pakde
Karto ini memang pantas aku terima. Aku memang sudah banyak janji tak bisa
kupenuhi. Aku bangkrut dan istriku terus marah-marah. Maka secepatnya aku
pasrah saja. Aku menyerahkan pada Pakde. Apapun jalan keluarnya aku akan
menyetujuinya yang penting hutangku lunas. Nampak sikap Pakde melunak. Dia
suruh Satpamnya meninggalkan ruangan.
Pakde mendekat sambil menepuk pundakku. Dia
minta aku mendekatkan kupingku. Beberapa saat dia membisikkan usulnya. Sejak
awal bisikkan kupingku sudah langsung panas terbakar dan aku benar-benar
terpojok tanpa punya pilihan. Pakde bilang, aku bisa melunasi hutangku kalau
dia boleh mengajak isterku Rini ke villanya. Kalau aku tidak setuju mesti
melunasi hutangku dalam tempo 1 kali 24 jam atau urusannya jadi lain.
Masih ada tambahkan lagi, dia akan tidur
bersama Rini selama 3 hari dan agar aku ikut juga ke villa. Pelayannya sengaja
dia liburkan karena Pakde takut mereka lapor ke istrinya. Aku harus
menggantikan tugas pelayan-pelayan itu untuk membersihkan kamar dan melayani
kebutuhan Pakde bersama Rini istriku selama di sana.
Dia bilang hal itu terpaksa dia lakukan
sebagai pelajaran untukku. Kini aku harus cepat pulang untuk menyampaikan hal
ini kepada istriku. Besok pagi dia akan mengirim mobil untuk menjemput aku dan
Rini. Kami harus berlagak sebagai suami istri yang datang dan menginap di villa
itu. Pakde Karto akan datang sendirian menjelang sore hari yang akan berlagak
seolah-olah sebagai tamu kami.
Rupanya naskah Pakde sudah dirancang secara
matang. Mataku langsung berkunang-kunang mendengar bisikkan iblis itu. Aku tak
ingat apa-apa lagi dan terjatuh lemas ke lantai. Saat aku sadar kulihat Satpam
tadi sudah mendudukkan aku ke sofa. Aku diberinya minum. Aku masih terhenyak
beberapa saat. Pakde Karto tak kulihat lagi. Dia hanya pesan pada Satpam untuk
menyampaikan sebuah amplop. Saat kubuka kulihat dua puluh lembar 100 ribuan rupiah
dan secarik surat, "Herman, besok mobil menjemput kamu bersama Rini, jam 7
pagi. OK?! Pakdemu."
"Bajingan..!"
Aku tak melihat jalan keluar. Dengan
sebelumnya aku minta maaf yang sebesar-besarnya, dengan susah payah aku
sampaikan keinginan Pakde Karto. Istriku Rini menerima amplop Pakde Karto
menengok isinya sambil mendengarkan bicaraku kata demi kata dan kemudian
melihat aku dengan penuh iba. Aku tak mampu membaca perasaan dia. Dia nampak
marah dan sangat kecewa padaku. Pasti sepertinya sangat dihinakan dan itu
sangat menyakitkan. Aku juga langsung membayangkan Pakde akan menjamahi
bagian-bagian tubuhnya yang indah dan sangat rahasia. Pakde akan melahapnya
dengan kerakusan bandot tua. Dasar ibliiss..!!
Bersambung...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar