![amoy [Portal Seks]](http://www.ceritasex.cn/wp-content/uploads/2009/05/amoy-memek-7.jpg)
"Gimana, Mbak.. sudah siap
kuperawani?" tanganku menjangkau CD-nya dan hendak melepasnya.
"Jangan, Mas. Kalau hamil gimana?"
"Ya ditunggu saja sampai lahir to,
Mbak.." gurauku sambil berusaha menarik lepas CD-nya.
Mbak Sum berusaha memegangi CD-nya tapi
seranganku di bagian atas tubuhnya membuatnya geli dan tangannya jadi lengah.
Cd-nya pun merosot melewati pantatnya.
"Kalau hamil, siapa yang ngurus
bayinya?"
"Ya, Mbak lah, kan itu anakmu.. tugasku
kan cuma bikin anak, bukan ngurusi anak.." godaku terus.
"Dasar, mau enaknya sendiri.." Mbak
Sum memukulku pelan, tangannya berusaha menjangkau CD dari bawah pahanya tapi
kalah cepat dengan gerakanku melepas CD itu dari kakinya. Buru-buru
kukangkangkan pahanya lalu kubenamkan lidahku ke situ. Slep.. slep.. slep..
Mbak Sum melenguh dan menggeliat lagi sambil meremasi kepalaku. Nampak dia
berada dalam kenikmatan. Beberapa menit kemudian, aku memutar posisi tubuhku
sampai batang zakarku tepat di mulutnya sementara lidahku tetap beroperasi di
vulvanya. Dengan agak canggung-canggung dia mulai menjilati, mengulum dan
menghisapnya. Vulvanya mulai basah, zakarku menegang panjang. Eksplorasi dengan
lidah kuteruskan sementara tanganku memijit-mijit sekitar selangkangan hingga
anusnya.
"Agh.. agh.. Maas.. ak.. aku.."
Mbak Sum tak mampu bersuara lagi, hanya
pantatnya terasa kejang berkejat-kejat dan mengalirlah cairan maninya mengaliri
mulutku. Kugelegak sampai habis cairan bening itu.
"Isap anuku lebih keras, Mbak!"
perintahku ketika kurasakan maniku juga sudah di ujung zakar.
Dan benar saja, begitu diisap lebih keras
sebentar kemudian spermaku menyembur masuk ke kerongkongan Mbak Sum yang
buru-buru melepasnya sampai mulutnya tersedak berlepotan sperma. Kami pun
terjelepak kelelahan. Kuputar tubuhku lagi dan malam itu kami tidur telanjang
berpelukan untuk pertama kalinya. Tapi zakarku tetap tidak memerawani
vaginanya. Aku masih ingin menyimpan "makanan terenak" itu
berlama-lama.
Selanjutnya kegiatan oral seks jadi kegemaran
kami setiap hari. Entah pagi, siang maupun malam bila salah satu dari kami
(biasanya aku yang berinisiatif) ingin bersetubuh ya langsung saja tancap.
Entah itu di kamar, sambil mandi bersama atau bergulingan di permadani. Tiap
hari kami mandi keramas dan entah berapa banyak bercak mani di permadani.
Selama itu aku masih bertahan dan paling banter hanya memasukkan kepala zakarku
ke vaginanya lalu kutarik lagi. Batangnya tidak sampai masuk meski kadang Mbak
Sum sudah ingin sekali dan menekan-nekan pantatku. "Kok nggak jadi masuk,
Mas?" tanyanya suatu hari.
"Apa Mbak siap hamil?" balikku.
"Kan aku bisa minum pil kabe to
Mas.."
"Bener nih Mbak rela?" jawabku
menggodanya sambil memasukkan lagi kepala zakarku ke memeknya yang sudah basah
kuyup.
"Heeh, Mas," dia mengangguk.
"Mbak nggak merasa bersalah sama
suami?"
"Kan sudah meninggal, Mas."
"Sama anak-anak?"
Ia terdiam sesaat, lalu jawabnya lirih,
"A.a.. aku kan juga masih butuh seks, Mas.."
"Mana yang Mbak butuhkan, seks atau
suami?" tanyaku terus ingin tahu isi hatinya.
Kuangkat lagi kepala zakarku dari mulut
memeknya lalu kusisipkan saja di sela-sela pahanya.
"Pinginnya sih suami, Mas.. tapi kalo Mas
jadi suamiku kan nggak mungkin to.. Aku ini kan cuma orang desa dan
pembantu.." jawabnya jujur.
"Jadi, kalau sama aku cuma butuh seksnya
aja ya Mbak? Mbak cuma butuh nikmatnya kan? Mbak Sum pingin bisa orgasme tiap
hari kan?"
Mbak Sum tersipu. Tidak menjawab malah
memegang kepalaku dan menyosor bibirku dengan bibirnya. Kami kembali berpagutan
dan bergulingan. Zakar besar tegangku terjepit di sela pahanya lalu cepat-cepat
aku berbalik tubuh dan memasukkan ke mulutnya. Otomatis Mbak Sum menghisap
kuat-kuat zakarku sama seperti aku yang segera mengobok-obok vaginanya dengan
tiga jari dan lidahku. Sejenak kemudian kembali kami orgasme dan ejakulasi
hampir bersamaan. Yah, bisakah pembaca bersetubuh seperti kami? Saling memuasi
tanpa memasukkan zakar ke vagina.
Hubungan nikmat ini terus berlangsung hingga
suatu sore sepulangku kerja Mbak Sum memberiku sekaplet pil kabe dan sekotak
kondom kepadaku.
"Sekarang terserah Mas, mau pakai yang
mana? Mbak sudah siap.." tantangnya.
Aku jadi membayangkan penisku memompa
vaginanya yang menggunduk itu.
"Mbak benar-benar ikhlas?" tanyaku.
"Lha memang selama ini apa Mas? Saya kan
sudah pasrah diapakan saja sama Mas."
"Mbak tidak kuatir meskipun aku nggak
bakalan jadi suami Mbak?" lanjutku sambil berjaga-jaga untuk menghindari
resiko bila terjadi sesuatu di belakang hari.
"Saya sudah ikhlas lega lila, mau
dikawini saja tiap hari atau dinikahi sekalian terserah Mas saja. Saya
benar-benar tidak ada pamrih apa-apa di belakang nanti.. Saya hanya ingin kita
berhubungan seks dengan maksimal.. tidak setengah-setengah seperti sekarang
ini.."
Haah, ternyata Mbak Sum pun jadi berkobar
nafsu syahwatnya setelah berhubungan seks denganku secara khusus selama ini.
Ternyata wanita ini memendam hasrat seksual yang besar juga. Sampai rela
mengorbankan harga dirinya. Aku jadi tak tega, tapi sekaligus senang karena
tidak bakal menanggung resiko apapun dalam berhubungan seks dengan dia. Aku
selama ini kan memang hanya mengejar nafsu dan nampaknya Mbak Sum pun terbawa
iramaku itu. Ya, seks hanya untuk kesenangan nafsu dan tubuh. Tanpa rasa cinta.
Tidak perlu ada ketakutan terhadap resiko harus menikahi, punya anak dsb. Kapan
lagi aku dapat prt sekaligus pemuas nafsu dengan tarif semurah ini (gajinya
sebulan 150 ribu rupiah kadang kutambah 50 atau 100 ribu kalau ada rejeki
lebih). Bandingkan biayanya bila aku harus cari wanita penghibur setiap hari.
Dan kayaknya yang seperti inilah yang disukai para pria pengobral zakar dan
mungkin sebagian besar pembaca 17Tahun inipun termasuk di dalamnya. Mau
nikmatnya, nggak mau pahitnya. Begitu, kan? Ngaku ajalah, nggak usah cengar-cengir
kayak monyet gitu. Soal seks kita sama dan sebangun kok. He he he..
"Sekarang aku mau mandi dulu, Mbak.
Urusan itu pikirin nanti saja," jawabku sambil melepas pakaian dan jalan
ke kamar mandi bertelanjang.
Kutarik tangan Mbak Sum untuk menemaniku
mandi. Pakaiannya pun sudah kulepasi sebelum kami sampai ke pintu kamar mandi.
Hal seperti ini sudah biasa kami lakukan. Saling menggosok dan memandikan
sambil membangkitkan nafsu-nafsu erotis kami. Dan acara mandi bersama selalu
berakhir dengan tumpahnya sperma dan mani kami bersama-sama karena saling isep.
Dan godaan untuk bermain seks dengan tuntas
semakin besar setelah ada pil kabe dan kondom yang dibeli Mbak Sum. Esok
malamnya eksperimen itu akan kami mulai dengan kondom lebih dulu. Soalnya aku
takut kalau ada efek samping bila Mbak Sum minum pil kabe. Kata orang kalau
nggak cocok malah bikin kering rahim. Kan kasihan kalau orang semontok Mbak Sum
rahimnya kering. Malam itu seusai makan malam dan nonton TV sampai jam
sembilan, kami mulai bergulingan di permadani. Satu persatu penutup tubuh kami
bertebaran di lantai. Putingya kupelintir dan sebelah lagi kukemut dan
kugigit-gigit kecil sementara tangan kananku menggosok-gosok pintu memek Mbak
Sum sampai dia mengerang-erang mau orgasme.
"Sekarang pakai ya, Mas," bisiknya
sambil menggenggam kencang zakarku yang tegang memanjang.
"Heeh," jawabku lalu dia menjangkau
sebungkus kondom yang sudah kamu sediakan di sebelah TV.
Disobeknya lalu karet tipis berminyak itu
pelan-pelan disarungkannya ke penisku. Mbak Sum nampak hati-hati sekali.
"Wah, jadi gak bisa diisep Mbak
nih," kataku.
"Kan yang ngisep ganti mulut bawah,
Mas.." Guraunya membuatku tersenyum sambil terus meremas-remas teteknya.
Sleeb.. lalu karet tipis itupun digulungnya
turun sampai menutupi seluruh batangku.
"Sudah, Mas," katanya sambil
menelentangkan tubuh dan mengangkan pahanya lebar-lebar.
Perlahan aku mengangkanginya.
"Sekarang ya, Mbak," bisikku sambil
memeluknya mesra.
Mbak Sum memejamkan mata. Perlahan zakarku
dipegang, diarahkan ke lobang nikmatnya. Kuoser-oser sebentar di depan pintunya
barulah kudesakkan masuk. Masuk separuh. Mbak Sum melenguh..
"Sakit Mbak?"
"Sedikit.."
Kuhentikan sebentar lalu kudorong lagi pelan-pelan
dan dia mulai melepasnya. Bless.. slep.. kugerakkan pantatku maju-mundur
naik-turun. Matanya merem melek, tangan kami berpelukan, tetek tergencet
dadaku, bibir kami saling kulum. Kugenjot terus, kupompa, kubajak, kucangkul,
kumasuki, kubenamkan, dalam dan semakin dalam, gencar, cepat dan kencang.
Sampai akhirnya gerakkanku terhambat ketika mendadak Mbak Sum memelukkan
pahanya erat-erat ke pahaku.
"Akk.. aku sampai Mas.. egh.. egh.."
Dan seerr.. terasa cairan hangat menerpa
zakarku. Kuhentikan gerakanku, dan hanya membenamkannya dalam-dalam. Menekan
dan menekan masuk. Rasanya agak kurang enak karena batangku terbungkus karet
tipis itu.
Kubiarkan Mbak Sum istirahat sejenak sebelum
aku mulai memompanya lagi bertubi-tubi sambil kueksplorasi bagian sensitif
tubuhnya hingga dia kembali terangsang.
"Mbak pingin keluar lagi?" tanyaku.
"Kk.. kalau bisa, Mas.. keluar
sama-sama.." ajaknya sambil mulai menggoyang dan memutar-mutar bokongnya.
Aku merasakan nikmat yang belum pernah
kurasakan. Soalnya kan baru pertama kali ini zakarku menancapi lubangnya.
Ternyata hebat juga goyangannya. Goyang ngebornya Inul, ngecornya Denada atau
ngedennya Camelia Malik kalah jauh deh.. soalnya mana mungkin aku ngrasain
vagina mereka kan? Dan kenikmatan itu semakin terasa diujung batangku. Gerakan
pompaku semakin cepat dan cepat.
"Mbak.. hh.. hh.. hh.." dengus
nafasku terus memacu gerak maju mundur pantatku.
Sementara dengan tak kalah brutalnya Mbak Sum
melakukan yang sama dari bawah.
"Ak.. aku sudah mau Mbak.." pelukku
ketat ke tubuhnya.
Kutindih, kuhunjamkan dalam-dalam, kuhentakkan
ketika sperma keluar dari ujung batangku. Yang pasti Mbak Sum tak bakalan
merasakan semburannya karena toh sudah tertampung di ujung kondom. Sejenak kemudian
Mbak Sum pun meregang dan berkejat-kejat beberapa kali sambil membeliak-beliak
matanya. Dia orgasme lagi. Tubuhnya tetap kutelungkupi. Nafas kami memburu.
Mata kami terpejam kecapaian. "Puas, Mbak?" bisikku sambil mengulum
telinganya. Dia mengangguk kecil. Kami kembali tidur berpelukan. Mungkin dia
tengah membayangkan tidur dengan suaminya. (Sementara aku tidak membayangkan
apapun kecuali sesosok daging mentah kenyal yang siap kugenjot setiap saat).
Hehehe.. kasihan Mbak Sum kalau dia tahu otak mesumku. Tapi kenapa mesti
dikasihani kalau dia juga menikmati? Ya kan? Ya kan? Aku sering bertanya-tanya:
Bila seorang wanita orgasme ketika dia diperkosa, apakah itu bisa disebut
perkosaan? Siapa bisa jawab?
Sambil menunggu jawab Anda, aku dan Mbak Sum
terus mereguk kepuasan dengan pakai kondom. Sayangnya satu kondom hanya bisa
dipakai satu kali main. Kalau lebih dikuatirkan bocor. Makanya hanya dalam
sehari itu kondom satu dus habislah sudah. Anda bisa hitung sendiri berapa kali
aku ejakulasi.
Esoknya, "Mbak, kondomnya habis, mau
pakai pil?" tanyaku.
"Boleh," jawabnya santai.
Dan malam itu mulailah ia minum pil sesuai
jadwal dan hasilnya.. ternyata kami lebih puas karena tidak ada lagi selaput
karet tipis yang menahan semburan spermaku memasuki gua garba Mbak Sum.
"Mas.. Mas.. semprot terus Mas, enak
banget.." serunya ketika aku ejakulasi sambil berkejat-kejat diatas
pahanya belasan kali menghunjamkan zakar yang menyemprot puluhan kali.
Dari cret, crit, crut, crat sampai crot crot
crot lalu cret cret cret lagi!! Soal rahim kering sudah tak kupikir lagi. Biar
saja mau kering mau basah wong yang melakukan manggut-manggut saja tuh. Yah,
dalam semalam minimal kami pasti sampai tiga kali orgasme dan ejakulasi.
Sedangkan pagi atau siang tidak selalu kami lakukan. Kami bagaikan sepasang
maniak seks. Ditambah vCD-vCD triple-x yang kutontonkan padanya, Mbak Sum jadi
semakin ahli mengolah persetubuhan kami jadi kenikmatan tiada tara.
TAMAT
Baca : Part 1
Tidak ada komentar:
Posting Komentar