![Amoy [Portal Seks]](http://www.indobugils.com/wp-content/uploads/2011/06/pelajar-amoy-toket-gede-3.jpg)
Bibir Pakde terus melata hingga lutut dan siap
memasuki wilayah paha belalang Rini. Ya, paha ini dulu sangat terkenal. Saat
Rini bermain volley dalam pertandaingan antar SMU, paha Rinilah yang selalu
membuat para siswa lelaki meneteskan air liur. Anak-anak SMU bilang 'paha dan
betis belalang Rini' selalu terbawa dalam mimpi mereka. Mungkin maksudnya saat
anak-anak itu masturbasi khayalannya terbang menciumi paha Rini.
Dan paha itu kini bukan dalam impian Pakde.
Paha itu kini nyata dalam rengkuhannya. Pakde mengecupi dan menjilat setiap
sentimeter areal paha Rini. Duh, bukan main gatalnya. Ciuman Pakde dari mulut
dan pipi serta dagunya yang bercukur bulu-bulu pendeknya begitu menggelitik
sanubari Rini. Gatalnya telah manembus ke hulu hatinya. Rini kelabakan
kewalahan menahan derita gatal nikmatnya. Dia menjerit-jerit minta Pakde
melepaskannya. Kakinya menendang menolak tubuh Pakde.
Tetapi mana mungkin. Tubuh Pakde telah
sempurna menindih dan tangannya menjepit dengan kuatnya. Aroma yang menebar
dari paha Rini membuat tenaga Pakde semakin kukuh untuk tetap menguasai tingkah
Rini. Tidak akan ada kata menyerah. Dan jilatan Pakde itu merambah terus hingga
ke selangkangan Rini yang ditumbuhi bulu-bulu kemaluan yang sangat lembut.
Pakde merem melek saat lidah dan bibirnya melumat-lumat selangkangan Rini. Dan
tak ayal lagi, rambahan itu sampai ke lubang vaginanya. Namun Pakde tidak
melanjutkannya. Dia hanya mampir sejenak untuk kemudian dengan tangannya mendorong
balik tubuh Rini hingga posisinya tengkurap di kasur.
Kini nampak pantat Rini yang menjumbul dengan
indahnya. Pakde sudah kesetanan. Wajahnya langsung nyungsep ke belahan pantat
Rini. Dia menjilati lubang duburnya. Tentu saja hal ini membuat Rini tersentak.
Bagi Rini lubang dubur adalah hal yang sangat tak senonoh untuk didekati,
apalgi dicium atau bahkan dijilati macam yang dilakukan Pakde pada dirinya
sekarang ini. Tabu, katanya. Pemali, orang bilang. Tetapi tidak bagi Pakde
Karto. Jilatannya terasa 'keri' menusuk-nusuk lubang pantat Rini. Bahkan dengan
tenaganya dia mengangkat pinggul Rini sehingga dia berposisi nungging.
Pantatnya lebih menonjol dengan lubang duburnya tepat di arah wajah Pakde. Rini
yang belum sepenuhnya mau menerima ulah Pakde yang tabu berontak mati-matian
untuk menghindarkan Pakde menciumi pantatnya. Dia berusaha bangun sambil,
"Tidaakk.. jangaann.. jangaann.."
Tetapi larangannya itu justru semakin memicu
kehendak nafsu Pakde Karto. Dia cepat berpikir bahwa pantat Rini masih pantat
perawan. Kalau dulu Herman merawani vaginanya, kini dia berkesempatan merawani
lubang pantatnya. Dia telikung Rini dengan sekuat tenaganya. Dia pegang
erat-erat pinggulnya sambil mulutnya tidak melepaskan sedotan-sedotan pada
lubang anal yang perawan itu. Dan Pakde sangat kuat. Rini tak mampu melawannya.
Perasaan tabunya membuat Rini ketakutan. Tetapi yang dia bisa perbuat sekarang
hanyalah menangis sambil memohon,
"Jangaann Pakdee.. ampuunn, jangaann..,
ampuunn Pakdee.."
Apapun rintihan Rini tak lagi didengarnya. Ini
sudak perkosaan. Dari balik dinding Herman juga mengutuk Pakdenya. Isak tangis
istrinya benar-benar membuatnya iba. Akankah Pakde menyakitinya? Apa yang bisa
dia perbuat untuk membantu Rini? Dan ternyata itu baru awal dari hal berikutnya
yang akan membuat tangis Rini serasa tak berkesudahan.
Ciuman Pakde bergeser ke atas. Pinggul Rini
dilumat-lumatnya. Juga punggung kemudian bahu dan kuduknya. Rini yang masih
terisak kembali menemukan gelinjangnya. Tetapi itu tak lama. Di bawah sana penis
Pakde yang demikian hebat ukurannya terasa mendesaki bokong Rini. Rini puny
firasat. Sekali lagi dia berontak untuk mencegah nafsu setan Pakde Karto.
Tetapi sekali lagi Pakde Karto mampu membuat isteri Herman itu tak berdaya.
Kini rambut Rini yang terurai dijambaknya. Dia
gunakan rambut Rini ibarat tali kekang kuda. Dia hela rambut itu kebelakang
sementara penis itu mulai menumbuk-numbuk lubang anal Rini. Rasa sakit yang
hebat menimpa Rini. Lubang analnya serasa dicolok dengan kayu menyala, Panas
dan sakitnya bukan main. Beberapa kali Pakde melumasi dengan ludah pada
penisnya agar bisa menembus dengan lubang anal Rini. Memang ada kemajuan.
Tetapi apa yang dirasakan Rini? Setiap mili kemajuan penis itu masuk menembus
analnya, kepedihan tak terkatakan datang menjemput.
Dan disinilah dramatiknya. Akhirnya penis itu
memang tenggelam tertelan anal Rini, tetapi akibatnya Rini kelenger, pingsan.
Pakde tahu, tetapi dia sangat tenang. Dia bisa mengendalikan dirinya. Tanpa
melepaskan kemaluannya pada lubang itu, dia raih wewangian aroma terapi yang
tersedia di meja samping ranjang. Dia kecroti hidung Rini dengan wewangian itu.
Dan, ah manjur benar. Rini terbangun dan langsung kembali menangis karena
menahan rasa sakit di pantatnya. Dia tak lagi menolak karena pasti hanyalah
sia-sia. Justru tolakannya semakin merangsang nafsu setannya Pakde. Dan Pakde
sendiri berusaha sabar.
Untuk beberapa saat dia tidak bergerak.
Pikirnya, biarlah Rini menyesuaikan diri dulu, dimana penisnya kini sedang
menghunjam ke dalam pantatnya. Dia hanya peluki punggung Rini sambil merajuk
dan mencumbu. "Nggak apa-apa Rin, jangan takuutt.. nanti ennaakk.. jangan
takutt.." sedu sedan Rini masih terdengar.
Kembali ke Herman yang kini mengutuk
habis-habisan ulah Pakdenya. Tetapi mana berani dia menyampaikan kutukkan itu
hingga ke kuping Pakdenya. Yang ada tinggal rasa cemas dan semakin merasa
betapa semua itu karena kesalahan dirinya. Rini telah menjadi korban tingkah
lakunya yang pengecut. Ooo.., kenapa jadi beginii..??!!
Aneh, ternyata cumbuan Pakde Karto seperti
menyihir Rini. Isakan tangisnya tak lagi terdengar. Walaupun masih sering
terdengar kata
"Aduuhh, sakiitt.., yang pelaann.."
namun tak ada uapaya menolak dari Rini saat Pakde kembali menggoyang
kemaluannya pada anal isteri Herman itu. Dan setelah beberapa saat kemudian
goyangan Pakde berubah menjadi pompaan sebagaimana dia memompa vaginanya, Rini
sama sekali tidak mengaduh tetapi, nah lihatlah.. Herman melotot keheranan.
Kini dia menyaksikan isterinya mengimbangi
goyangan saat penis panjang Pakde menusuki pantatnya. Ternyata Rini dengan
cepat memahami kenikmatan yang dijanjikan Pakde Karto. Bahkan ketika beberapa
kali penis itu copot dari analnya, tangan Rini dengan sigap menjemputnya
kembali untuk diarahkan tepat ke lubang duburnya. Sungguh sebuah pemandangan
yang sangat atraktip. Seorang dewi cantik manis dalam posisi menungging dia
atas ranjang beralaskan sutra melengkungkan pinggulnya untuk mengangkat
tinggi-tinggi pantatnya. Sementara di arah belakang seorang lelaki gagah sedang
menusuk-tuskkan penis monsternya ke arah lubang pantat sang dewi. Kini Herman
mempercepat kocokkan tangannya. Dia ingin meraih orgasmenya, entah untuk yang
keberapa kali sejak sore tadi, saat menyaksikan pemandangan yang sangat
atraktip itu.
Pakde Karto benar-benar nampak seperti joki.
Kuda betina cantiknya diraih surainya. Dia memompa Rini sambil menarik
rambutnya sebagai tali kekang. Dan ketika nafsu-nafsu menjemputi puncak-puncaknya.
Ketika Rini merasakan betapa benar kata Pakde bahwa dia akan menerima
kenikmatan yang kini sedang menapaki puncaknya. Ketika Herman dari balik
dinding tak lagi merasakan lecet-lecet pada kulit kemaluannya karena kenikmatan
puncak sedang merambatinya. Dan ketika Pakde Karto tak lagi mampu menahan
sperma untuk tidak tumpah, dan bahkan kini telah berada di ambang nikmatnya
yang paling tinggi.
Maka badai gaduh, jerit, desah dan rintih pada
berhamburan. Mulut Rini menjerit dalam rintihan menahan gelora birahi sambil
pantatnya dengan kencang maju mundur menjemputi kemaluan Pakde Karto. Dan
Herman dari balik dinding merintih tertahan, karena khawatir tertangkap basah,
sambil mempercepat koncokkan penisnya yang juga ngaceng berkilatan. Pakde Karto
sendiri yang bagai serigala lapar sedang mengejar mangsa, meracau dan mendesah
keras-keras menjemput spermanya yang .. naahh.. achirnyaa.. tak tertahan..
tumpah ruah.
Pantat Rini masih terus menjemputi, penis
Pakde masih memompa, tangan Herman semakin menambah guratan-guratan pedih
sebelum ketiganya tumbang, roboh. Rini dan Pakde bergelimpang di ranjang
beralaskan sutera. Tetapi Herman bergelimpang di lantai dingin di kamarnya
sendiri. Herman langsung tertidur. Hari ini begitu banyak hal yang sagat melelahkan.
Tekanan fisik dan mental serta kesenangan birahi silih berganti. Dia terbangun
saat matahri telah tinggi. Dia kaget geragapan. Pakde Karto pasti akan marah,
pikirnya. Tetapi hal itu tak terjadi. Pakde Karto bersama Rini semalaman merguk
kenikmatan madu. Mereka baru usai dan tertidur menjelang subuh. Kini nampak
oleh Herman dari balik dinding, isterinya dalam pelukan Pakde Karto meringkuk
dalam selimut tebal. Herman yakin mereka sama-sama bertelanjang.
Herman menjerang air untuk membuat kopi. Dia
perlu ngopi. Dia juga membuat kopi untuk yang sekarang masih tidur dalam
pelukan.
Perpisahan
Akhirnya Herman terbuka pikirannya. Dia akan
dan harus meninggalkan Rini. Tak mungkin lagi baginya merintis dan memperbarui
hubungan suami isteri dengan Rini. Hal itu dia yakini akan baik untuk dirinya
dan juga baik untuk Rini. Dan dia merasa tak perlu bertanya setuju atau
tidaknya pada Rini. Keputusan dia memang sepihak, tetapi itu sudah merupakan
keputusan final. Mana mungkin, seorang isteri telah melakukan hubungan seksual
dengan penuh nikmat dan sukacita, sementara tahu persis suaminya berada di
kamar sebelahnya. Apapun alasannya.
Herman juga yakin Pakdenya bisa menerima jalan
pikirannya. Dan bahkan mungkin setengahnya bersyukur. Bukankah dia sangat
tergila-gila pada Rini. Dan kini kehendaknya telah kesampaian. Dan Pakde Karto
menujukkan kepuasannya yang luar biasa. Siapa tahu, Pakde Karto akan meneruskan
keinginannya untuk melamar dan kemudian menikahi Rini.
Pagi yang sangat cerah di Villa Rimbun Ciawi
yang sejuk. Pagi itu kedua insan yang sedang mengumbar nafsu syahwatnya kembali
saling bercumbu. Mereka menikmati udara segar dan cahaya matahari pagi yang
hangat. Dengan latar belakang dedaunan pakis, pohon pinus dan gemericiknya kali
kecil yang aitnya jatuh ke bebatuan Pakde Karto menuntun Rini ke rimbunan
tanaman hias yang penuh bunga. Wewangian bunga-bunga yang warna-warni itu
mengantarkan mereka terbang mengawang-awang nikmat syahwat dan birahi tanpa
batas. Lama mereka berpagut. Saling kecup dan jilat pada bagian-bagian tubuh
mereka yang paling merangsang nafsu dilakukan di kebun indah di belakang villa
itu.
Pakde Karto tak puas-puasnya menggeluti Rini
yang isteri orang lain itu. Dan sebaliknya Rini yang tak pernah lagi memikirkan
Herman suaminya tak lelah-lelahnya melakukan tingkah untuk merangsang syahwat
Pakdenya. Dia memang benar-benar perempuan panas yang selalu ingin hubungan
seksual dengan lelaki perkasa ini. Dia merasakan betapa Pakde mampu menggali
seluruh rahasia nikmat syahwat yang ada pada dirinya. Kini Rinilah yang
tergila-gila pada Pakde Karto. Dia bersedia melakukan apapun yang akan diminta
Pakde. Bahkan sebagaimana yang kini terjadi. Pakde menggelandang Rini untuk
berasyik masyuk di dalam taman Villa Rimbun Ciawi yang sejuk dan indah ini.
Mereka kini telah bergulingan di atas matras yang sebelumnya telah disiapkan
Herman atas permintaan Pakdenya.
Dan Herman juga baru tahu apa maksud
permintaan Pakde Karto untuk menggelar matras tadi. Tetapi Herman sekarang juga
bukan Herman yang kemarin. Walaupun di depan matanya kini dia saksikan
isterinya Rini bergelut nikmat bersama Pakde Karto, dia tidak lagi terbawa
emosi. Yang dia pikirkan sekaranga adalah, "Pergi.., pergi, pergi, pergi,
pergi..!!"
Begitulah. Herman telah berketatapan untuk
meninggalkan semuanya. Meninggalkan isterinya, meninggalkan Pakde yang telah
menghancurkannya dan dia juga akan meninggalkan judi togel. Selamat tinggal
masa lalu!
Sementara Pakde bersama Rini sedang mendayung
kenikmatan, Herman menyelinap. Dia pergi tanpa pesan.
"Mereka akan tahu, tanpa harus
kuucapkan," demikianlah tekad dan keyakinannya.
TAMAT
Tidak ada komentar:
Posting Komentar