![bugil [Portal Seks]](https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEg1xOWEz2_NDJjI92r3iUkcRklBKlvzQkOvxIwDhlHWyKscxdcVch4rcHwLAwSmPE6V8CA8FKrh52v2KPPIJHAOgHlNx6wbU3QWPN1j73aUUmskFRTX69toTa8i_j9spiiIGTkp7DtNi-mZ/s640/5392400cf74bc83de7c97b252aa28c5431ea390.jpg)
"Ouuhh.. Denn Ovii.. Mmm.. Sss.."
desahnya pelan.
Aku meraba celana dalamnya yang sudah basah
karena sudah terangsang dan kuselipkan jariku ke dalamnya. Kumasukan jariku ke
dalam vaginanya dan kukocok vaginanya dengan jariku. Aku merebahkan Bi Inah
disofa, aku berlutut disampingnya sambil meremas remas payudaranya dan
berciuman dengannya.
"Euh.. Euh Den.. Den ovi.. Bibi mau pipis
Den.. Ah.. Den Ovii.. Ahh.." desahnya panjang, vaginanya terasa berdenyut
dan kakinya menegang serta tangannya memegang erat tubuhku.
"Bi Inah lega?" tanyaku sambil terus
memainkan jariku didalam vaginanya sementara tangan Bi Inah kembali mengelus
dan mengocok batang penisku. Kusodorkan penisku ke arah mulutnya.
"Isep Bi, jilat penisku.. Ouh.. Yes..
Euh.. Euh.." desahku ketika Bi Inah mulai memasukan batang penisku ke
dalam mulutnya dan lidahnya menjilati batangnya.
"Den ovi gede amat sih penisnya, bibi
sudah lama nggak ngerasain ini." sambil kembali menghisap dan menjilati
batang penisku. Bi Inah menghisap sambil mengocok penisku dengan tangannya.
"Ouh.. Bi Inah.. terus Bi.. Ahh. Enak
Bi.. Lagi Bi Inah.. Isep.. Kocok Bi.. Enakk.. Ahh"
Desahku menikmati hisapan, permainan lidah
serta tangannya di batang penisku. Kepalanya bergoyang tak beraturan kekiri
kekanan, rambutnya yang panjang bergoyang tak beraturan.
"Ouh.. Bi Inahh.. terus Bi.. Enak Bi..
Aaahh.." desahku panjang dan muncratlah air maniku didalam mulut Bi Inah.
Bi Inah membuka mulutnya sehingga air maniku bertumpahan diatas kain penutup
sofa.
"Den Ovi koq enggak ngomong sih kalau mau
keluar, jadi ketelen sedikit deh pejunya."
"Maaf Bi, aku nggak sengaja, habis Bi
Inah enak sih ngisep penisku."
Bi Inah mengambil tissue diatas meja dan
membersihkan sisa air maniku. Aku mencium bibir Bi Inah dan membuka rok terusan
yang dipakainya dan selanjutnya BH dan celana dalamnya. Bi Inah sudah telanjang
dihadapanku. Payudaranya masih kencang dan putingnya berwarna coklat tua
menantang untuk dihisap. Bi Inah duduk disampingku dan mulai mengocok penisku,
kuremas remas payudaranya dan kuhisap putingnya, Bi Inah mendesah tak karuan
sementara tangannya terus mengocok penisku yang sudah tegang kembali. Kutarik
kepala Bi Inah agar menghisap lagi penisku, setelah Bi Inah membuat basah
penisku kurebahkan Bi Inah diatas karpet lalu kurentangkan kedua kakinya dan
kugesekan penisku di vaginanya sambil kumainkan klitorisnya dengan ibu jariku.
"Uuuhh.. Den Ovii.. Masukin penisnya..
Masukin Den.. Bibi sudah nggak tahan nih.." desahnya dan tangannya mencoba
menarik penisku agar dimasukkan ke dalam vaginanya tapi tidak kubiarkan dia
memegang penisku. Kubiarkan dirinya memohon dan memintaku agar segera memasukan
penisku ke liang kehangatannya.
"Den.. Masukin dong.. Ooohh.. Masukin ke
vaginaku dong.. Jangan digesek terus.. Den Ovii.." Bi Inah setengah
berteriak ketika aku mendorong masuk penisku dengan tiba tiba. Aku terus
mengocok vaginanya dengan penisku, setelah beberapa lama.
"Ohh.. Denn.. Aahh.. terus Den.. Bibi mau
dapet lagi.. Iyaa.. Ohh.. Den kocok yang keras.. Bibi mau dapet lagi.. Ahh..
Aahh.. Bibi dapet Den.. ahh.." desah Bi Inah dan vaginanya terasa lebih
basah karena cairan kenikmatannya membanjiri vaginanya. Aku terus menggenjot
tubuhnya lalu kuputar tubuhnya sehingga posisi tubuh Bi Inah tengkurap dan aku
menindih tubuhnya dari belakang.
"Den ovi.. Ouh ouh.. Enak Den.. Enakk..
Euh euh.. terus Den.. Den ovi.. Mpphh.. Den ovvii.. Bibi mau dapet lagi..
ahh.." Bi Inah mendesah panjang dan terasa vaginanya berdenyut kencang.
Hal ini membuat penisku terasa lebih dijepit, aku terus memompa vagina Bi Inah.
"Ouh.. Ouh Den.. terus Den.. Enak
banget.. Dorong Den.. Yang dalem Den.. Ouh.. Denn"
"Ouh Bi Inah.. Aku mau keluar Bi.. Mau
keluar.."
"Bareng Den.. Den Ovi.. Bareng Den.. Bibi
juga sudah mau lagi.."
"Iya Bi.. Kita keluar bareng ya.. Bi
Innaahh.. Aahh.. Ouhh.. Ouhh.."
"Tahan Bi.. Bi Inah tahan.. Bentar lagi
Bi.. Aku sudah mau keluar.." aku terus memompa tubuhnya sementara Bi Inah
mencengkeram kaki meja dengan kencang dan kepala bergoyang tak beraturan.
"Den Ovi.. Bibi sudah nggak kuat.. ahh..
Ayo Den.. keluar bareng Den Ovi.."
"Bi aku mau keluar.. Sekarang Bi.."
"Ouh Den.. Enak Den.. Bibi enak Den..
Keluarin Den.. Keluarin pejunya di vagina bibi Den.. Ouh.. Anget Den.. Peju Den
ovi anget.. Jangan dicabut dulu Den penisnya.. Ouh ouh.. Den ovii.. Enak Den.."
Lalu kucabut penisku dan dilapnya penisku oleh
Bi Inah. Bi Inah mencium penisku dan menghisapnya sebentar dan membiarkanku
istirahat.
"Makasih ya Bi Inah, vagina bibi enak
banget."
"Sama Ibu enak mana?" aku hanya
tersenyum.
"Sama enaknya koq Bi.. Tadi malam Bibi
ngintip ya?"
"Lho koq Den ovi tahu?" wajahnya
menunjukan keterkejutannya.
"Aku liat koq Bi Inah ngintip dari pintu
dapur."
"iya Den.. Maaf ya.. Abis tadi malem bibi
nggak bisa tidur.. Pas mau nonton TV, eh liat Den Ovi lagi diisepin ama
Ibu."
"Jadi bibi lama dong ngintip aku ama ibu
lagi 'main'?"
"Iya.. Makanya bibi jadi nafsu banget
tadi malem, apalagi waktu Den Ovi ngocok depan muka ibu.."
Bi Inah memakaikan celanaku dan membereskan
pakaiannya lalu dia berjalan ke belakang. Terdengar suara air dibelakang,
rupanya Bi Inah sedang membersihkan badan. Aku segera mandi dan berganti
pakaian. Selesai mandi Bi Inah sudah mengenakan pakaiannya kembali, rambutnya
yang panjang digelung ke atas dan sedang menyiapkan makan siang.
"Makasih ya Bi Inah." sambil kupeluk
dari belakang dan kuremas peyudaranya dan kucium lehernya.
"Iya Den, sama sama. Bibi sudah lama
nggak kayak tadi, jangan bilang Ibu ya, nanti Ibu marah sama saya." sambil
menggelendot manja padaku.
Aku mengangguk dan menciumnya sekali lagi.
Tubuhnya wangi sabun dan rambutnya digelung ke atas sehingga menampakan
lehernya yang bersih. Bi Inah memang selalu merawat tubuhnya. Hanya nasib yang
membedakan Bi Inah dengan Mbak Amy. Menurutku jika Bi Inah dandan dan
mengenakan baju mahal, dia tidak tampak seperti pelayan. Menjelang sore Mbak
Amy datang dan membangunkan aku yag tertidur di depan TV. Aku segera mandi dan
keluar kamar mandi hanya mengenakan handuk. Mbak Amy hanya mengenakan daster
pendek dan sedang membereskan lemari pakaiannya. Kupeluk Mbak Amy dari belakang
dan kuciumi lehernya yang putih sambil kuremas remas kedua payudaranya yang
tidak mengenakan bra.
"Ouuhh.. Vvii.. Sshh.. Mmm.. Terus..
Say.. Ouh.. Sshh.. Mmpphh.."
Tangan Mbak Amy menarik handukku, memegang
penisku dan mengelus elus penisku yang sudah tegang. Kudorong tubuhnya
menghadap tembok lalu kuangkat dasternya dan kuciumi serta kujilati pantatnya
sambil kutarik turun CD-nya.
Mbak Amy membalik tubuhnya, kujilati serta
kuciumi bulu tipis dibawah perutnya sementara ibu jariku memainkan klitorisnya
dan jari tengahku bermain didalam vaginanya. Mbak Amy mendesah tak karuan dan
mendorong kepalaku agar menjilati vaginanya. Setelah kujilati beberapa lama
tubuhnya menegang, tangannya menekan kepalaku dan Mbak Amy mendesah sedikit
berteriak menikmati orgasmenya. Aku duduk disofa dan Mbak Amy menghisap penisku
tiba tiba Bi Inah membuka pintu dan masuk membawa pakaian Mbak Amy, tampak
kaget dan menjatuhkan pakaiannya kelantai.
"I.. Ibu?" dengan nada terkejut.
"Sini Bi.."
Bi Inah duduk disamping Mbak Amy.
"Maaf bu, saya ndak tahu kalau
ibu.." sambil menundukan kepala.
"Ya sudah ndak pa pa koq Bi. Tapi lain
kali ketok pintu dulu ya."
Mbak Amy memegang dan membimbing tangan Bi
Inah ke penisku. Bi Inah tampak malu.
"Sudah Bi, ndak usah malu. Ayo
sini." Mbak Amy sambil menarik Bi Inah menggantikan posisinya dihadapanku.
Tangan Bi Inah mengelus penisku dan Mbak Amy memeluknya dari belakang. Bi Inah
tersenyum melihatku dan mulai mengocok penisku, Mbak Amy membuka baju Bi Inah.
Bi Inah hanya mengenakan bra dan CD saja, Mbak Amy memegang penisku dan
tangannya yang satu lagi menarik kepala Bi Inah agar menghisap penisku.
"Ouh. Bi. Oh. Yeess.. Jilat Bi.. Ouh.
Ouh. Aahh." Bi Inah menjilati dan mengulum penisku, Mbak Amy meremas remas
payudara Bi Inah dan membuka bra-nya.
"Terus jilat penis ovi Bi, isep Bi."
Bi Inah mengikuti semua perkataan majikannya. Bi Inah mengulum penisku, Mbak
Amy meremas payudara Bi Inah, menciumi tubuhnya dan menelanjanginya. Bi Inah
dan Mbak Amy bergantian menghisap dan menjilati penisku. Kuraih tubuh Bi Inah,
kududukan dia diatas sofa, kucium bibirnya, lehernya, kuremas payudaranya dan
kuhisap putingnya bergantian. Mbak Amy disebelahnya juga meremas payudara Bi
Inah dan memainkan klitoris dan vaginanya sendiri. Aku lalu menjilati vagina Bi
Inah dan Mbak Amy bergantian. Kedua tanganku memainkan vagina mereka. Terkadang
kuhisap puting payudara Mbak Amy dan Bi Inah bergantian.
"Ouh Vii. Yes. Isep say.. Isep putingku..
Ouh.."
"Denn.. Kocok vagina bibi.. Aahh.. Enak
Den.. Uh uhh.."
Mereka mendesah tak karuan dan Bi Inah menarik
kepalaku agar menjilati vaginanya.
"Oh oh.. Denn.. Jilat Den. Jilat vagina
bibi.. Bibi mau dapet.. Ah.." tubuhnya menegang dan vaginanya berdenyut,
Bi Inah mencapai orgasmenya yag pertama lalu aku menjilati vagina Mbak Amy.
"Ouh Vii.. Mphh.. Mmpphh. Jilat say..
Jilat klentitku. Isep say.. Aah.. Vii." tubuh Mbak Amy menegang dan
bergetar, kedua kakinya menjepit kepalaku, tak berapa lama jepitannya
mengendur.
"Ayo Vii.. Entot aku sayang. Aku sudah
nggak tahan nih.."
"Iya Den.. Bibi juga mau rasain penis Den
ovi.."
Aku merebahkan mereka berdua diatas kasur,
kugesekan penisku divagina Mbak Amy. Bi Inah meremas payudara Mbak Amy dan
sesekali menghisap putingnya.
"Uh.. uh.. Vii. Masukin sayang.. Ouh..
Ouh. Isep Bi.. Isep tetekku.. Vii.." tubuh Mbak Amy melengkung ketika aku
memasukan penisku hingga mentok ke dinding rahimnya.
"Vii.. Ahh terus sayang.. Yang kenceng.
Ahh. Aahh.. Bii Inaahh.. Isep.."
Mbak Amy mendesah tak karuan, tangannya
memegang kepala Bi Inah di payudaranya dan tangannya satu lagi memainkan
klitorisnya sendiri. Aku terus memompa Mbak Amy sambil memainkan vagina Bi Inah
dengan dua jariku. Aku kocok vaginanya dan ibu jariku memainkan klitorisnya.
"Ouh denn.. Enak Den.. Mmpphh mmpphh..
Terus Den.." Bi Inah mendesah dan rambutnya yang disanggul ditarik lepas
oleh Mbak Amy.
"Ouh Mbak. Yess.. Aku mau keluar Mbak..
Aku mau keluar.. Mbak Amy.. Ouh.. Yess.."
"Vii.. Bareng Vi.. Aku sudah diujung
nih.. Bi isep terus.. Ouhh.. Yess.. Aahh." tubuh Mbak Amy bergetar,
kakinya menjepit pinggulku, vaginanya terasa berdenyut dan membasahi vaginanya.
Penisku terasa lebih dijepit vaginanya. Terus kugenjot tubuh Mbak Amy dan
kuputar tubuhnya sehingga membuat posisi doggy style, kutarik tubuh Bi Inah dan
kucium bibirnya sambil terus kugenjot tubuh Mbak Amy.
"Terus Vii.. Keras Vi.. Lebih kenceng
say.. Aku mau keluar lagi.. Yeess." desahnya dan tangannya mencengkeram
sprei, kepalanya bergerak tak beraturan. Aku terus berciuman dengan Bi Inah dan
tangan Bi Inah memijat buah zakarku menambah kenikmatanku.
Aku rebahkan Mbak Amy dan kakinya kuletakan
dipundakku, kupompa tubuh Mbak Amy dengan keras.
"Ouhh.. Vii.. Terus say.. Aahh.. Aku mau
dapett.. Ovii.. terus say.. terus vi.. Ahh ahh.. Ouhh ouuhh.. Yeess.."
"Uh uh Mbak Ammyy.. AaARRGGHH.. AH
AAHhh." aku mendesah panjang berbarengan dengan Mbak Amy juga tumpahnya
air maniku di vagina Mbak Amy.
Aku merebahkan diri disampingnya. Kucium
bibirnya lembut. Aku menarik tubuh Bi Inah agar mengangkangi mukaku dan kujilat
vaginanya serta kuhisap hisap klitorisnya. Bi Inah mendesah dan mengerang
keenakan, rambutku dijambaknya agar terus menjilati vaginanya.
"Jilat Den.. Isep klitoris bibi.. Ouh uh
denn.. Bibi mau dapet.."
Bi Inah menggoyang pantatnya, vaginanya terasa
basah dan kuhisap cairan yang menetes dari vaginanya. Kurebahkan Bi Inah
disamping Mbak Amy dan kumasukan penisku ke dalam vaginanya yang sudah basah.
"Ouhh Den Ovii.. Enak Den.. terus Den..
Ouh ah ah ah.. Denn ovii." aku terus menggenjot vaginanya dan kuputar
pinggulku. Aku miringkan tubuhnya dan kuangkat kakinya satu kepundakku. Setelah
beberapa lama kuputar tubuhnya dan kuangkat pantatnya sehingga Bi Inah dalam
posisi tengkurap dan pantatnya menungging lalu kumasukan panisku ketubuhnya.
"Ouh Denn.. Enak Den.. Enak banget.. Oh
oh.. Bibi mau dapet denn.. Bibi mau dapet lagi.. Ayo Den keluar bareng.. Ouh
ouh.."
Bi Inah mencengkeram pinggir tempat tidur,
Mbak Amy terus meremas remas payudara Bi Inah dan sesekali mencium bibirnya.
"Ayoo Den.. Bibi sudah nggak kuatt.. Aahh
aahh.. Denn.. Cepett.. Bibi sudah nggak tahann.." desahnya berbarengan
dengan denyut vaginanya dan terasa basah, rupanya Bi Inah mencapai orgasmenya
lebih dulu. Aku terus memompa vaginanya.
"Bibii.. Aahh aahh.. Aku mau keluar.. Bi
Inahh.. Aahh.." aku cabut penisku dan kukocok penisku, Mbak Amy memutar
tubuh Bi Inah agar terlentang dan mencium bibirnya serta meremas payudaranya
dan aku menyaksikan adegan ciuman antara Bi Inah dan Mbak Amy. Aku genjot
kembali tubuh Bi Inah.
"Bi Inahh.. Oouuhh.." desahku dan
tumpahlah air maniku didalam vagina Bi Inah, kucabut penisku lalu Mbak Amy dan
Bi Inah bergantian mengulum penisku membersihkan mengharapkan sisa sisa air
maniku. Aku mencium Mbak Amy dan merebahkan diriku diatas tubuh Bi Inah.
"Makasih ya Bi, vagina bibi enak
banget."
"Iya Den, penis Den Ovi gede pas di
vagina bibi." lalu aku memeluk Mbak Amy dan mencium lembut bibirnya.
"Makasih ya Mbak."
"Iya vii sama sama, kamu sudah ngasih
Mbak kepuasan." sambil memelukku dan mencium keningku.
Aku sempat melakukannya sekali lagi dengan
Mbak Amy dikamar mandi. Kemudian aku memesan taksi dan berpamitan untuk pulang.
Demikianlah kisahku yang lain dengan Mbak Amy. Kepada para pembaca dapat
memberikan saran dan kritik melalui email.
TAMAT
Baca : Part 1
Tidak ada komentar:
Posting Komentar