![mulus [Portal Seks]](https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgHvTTnUoPZcRxedAYy-GY2btwboHynzcZNrP3rnjs-UXzsAaa4zmnZb-Ep_TfPpt3kcVaidO74ZB8cHp8ALfR46LuRFEQQGk8J-gHlaYAJhGiaixBCIW_hMb0Ah16jPj80op-fS5NlG1jD/s1600/6712490d32cea7ffb49428d5dfe7f2b3f09452b.jpg)
Tiba-tiba aku bertanya,
"Eh kamu hari Minggu koq tidak pergi
main-main sih? kan bisa besok nagih."
"Aa.. aku pengen beresin ini Bu..."
katanya.
"Masih banyak yang mesti ditagih?"
tanyaku lagi.
"Tidak, ini terakhir."
"OK, ini uangnya dan terima kasih
ya," kataku sambil berdiri.
Terlihat mukanya kecewa karena mungkin
inginnya sih apa ya? (mana aku tahu dia mikir apa, yang jelas tegangnya masih
tuh di balik celana pendek jeansnya).
Dia berdiri dan cepat ditutupkannya lagi
tasnya di depan kemaluannya.
"Eh Banu, mau bantu Mbak tidak?"
tanyaku.
Dengan sergap ia menjawab, "Mau..."
katanya senang.
"Ini Mbak mau pakai krim tapi susah kalau
di belakang punggung. Mau tidak kamu bantuin oleskan."
Wah kalian mesti lihat ekspresi mukanya,
seperti orang menang lotere 1 juta dolar tuh.
"Ayo sini naik ke kamar Mbak deh!"
ajakku.
Berdebar-debar aku membayangkan ini semua.
Lubang vaginaku sudah bukan main gatelnya. Aku berbaring telungkup tanpa
melepas handuk setiba di kamar.
"Itu Ban, ada di meja hias yang warna
putih botolnya."
"Ini ya Mbak?" katanya cekatan.
Ia sudah lupa dengan tasnya dan celananya
seperti sebuah tenda dengan tonggak tegak lurus.
"Yep..... itu dia Banu. Ini mulai dari
pundak atasku ya Ban.
Ia duduk di pinggirku dan nafasnya terdengar
terengah-engah. "Srr..." duh dinginnya krim itu ketika ia mulai
mengoles pundakku. Tangannya terasa hangat sekali dan gemetar.
"Banu kamu pernah tidak ngolesin body
cream gini?" tanyaku untuk membuat ia relaks.
"Ahhh... nggak pernah. Mbak cantik sekali
dan kulitnya halus bener deh," katanya sambil terus mengoleskan krim.
Ah enak, dan pahanya terasa menempel pada sisi
tubuh atasku.
"Eh Mbak, ini handuknya
ngehalangin," katanya lebih berani.
Aku berdebar dan... "Oh iya... dorong
saja..." tangannya mendorong sisi atas haduk di punggungku dan
ditambahkannya krim dan dioleskannya ke punggungku.
"Mbak.. eeeh... saya buka saja ya
handuknya."
Ah... batinku, berani juga anak ini. Kuangkat
sedikit badanku dan ditariknya handuk dan jadi longgar dan copot. Buah dadaku
terasa sedikit pedih waktu ditariknya handuk itu dan telanjang bulatlah aku.
Dari kaca meja hias aku lihat Banu ternganga lagi melihat tubuh mulus dan
montok tersaji di depan matanya. Ia lupa mesti memberi krim. Aku pun menahan
nafsuku dan tetap terlungkup.
"Eh Banu ayo dong! ngeliatin apa sih
kayak belum pernah ngeliat wanita," desahku merangsang.
"Oh iya iya..."
Dia mengoles lagi dengan sigapnya, tangannya
teasa tambah hangat.
"Hmm, pantatnya juga tidak Mbak
Etty?"
Hi hi hi dia panggil aku pakai nama Etty, lucu
rasanya karena sudah lama tidak dipakai nama itu.
"Iya," ujarku.
Dan "Seerr..." rabaan tangannya
membuatku mendesah keenakan dan suasana di kamar itu sudah penuh dengan hawa
nafsu saja. Rabaan tangannya mulai mengcengkeram kedua bukit sintal, dan aku
pelan-pelan merenggangkan pahaku dan kuangkat sedikit pantatku. Banu pindah ke
dekat pahaku dan aku geli karena pasti dia ingin lihat vaginaku. Sengaja
kuangkat terus dan kulebarkan lagi pahaku dan tangannya masih meremas-remas
(bukan ngolesin lagi cing).
Kulihat ia menjilatkan lidahnya ke bibirnya
dan tangannya mendekat ke arah paha dan jempolnya kiri dan kanan mendekat ke
vaginaku sambil tetap meremas-remas pantatku sebelah bawah. Aku pun tak sadar
mendesah-desah keenakan dan terasa di sebelah dalam pahaku mengalir cairan dari
vaginaku. Aku diam saja supaya Banu tidak malu dan kuintip terus dari kaca
kelakuannya. Diulurnya jempolnya dan terasa sentuhan halus di tepi bibir
vaginaku. Enak dan aku angkat lagi pantatku dan jempolnya menyentuh lebih
berani. Aku menahan terus nafsuku, maunya sih aku sudah berbalik dan kuterkam saja
si Banu ini tapi itu akan mengurangi nikmat. Banu melihat aku diam saja dan
jempolnya tambah ke dalam pahaku dan ia kelihatan terkejut merasakan lincir dan
hangat, basah sekali bibir vaginaku. Ia melihat aku tetap terdiam, aku
menggigit bantal yang kupeluk dan terasa puting susuku gatal sekali juga.
Kutahan nafsuku dan kubiarkan dia eksplorasi dulu.
Nak Banu... aduhh..." keluhku,
"Shhh... enak sekali..."
Dan kakinya tambah dikangkangkannya
lebar-lebar, pantatnya naik sedikit sehingga vaginaku sudah terpampang di mata
Banu yang terbelalak. Tenggorokannya kering sekali dan tangannya dingin. Bulu
kemaluanku sudah menempel karena kuyup. Jari Banu meremas-remas pantat dan paha
atas. Dilihatnya vagina merekah dan bau khas seperti laut begitu merambah
hidungnya membuat suasananya tambah merangsang. Dasar anak masih
"ijo" dia tak tahu mau ngapain. Aku biarkan jarinya mendekat ke bibir
vaginaku dan kutahan nafas mengantisipasi enak yang bakal kurasakan.
Kutinggikan lagi pantatku dan terasa jarinya menyentuh dan mulai menggosok
dengan rasa ingin tahu sambil takut dimarahi. Aku berbisik, "Terus Banu...
paha dalam ibu itu perlu juga," aku memberanikan dirinya, dan aku lebarkan
lagi pahaku sehingga betul betul sudah bebas terlihat belahan vaginaku dari belakang
situ. Jari-jari Banu mulai mendekat lebih jauh ke lubang dan bibir-bibir kiri
dan kanan vaginaku dan mengorek-ngorek. "Aduhhh... nikmat sekali..."
Jari tengah Banu masuk ke lubang basah dan keluar-masuk, ia mengorek-ngorek
tanpa tahu apa yang harus dikerjakan. Kutuntun tangannya dan kutangkupkan pada
vaginaku dan jari telunjuknya aku letakkan di atas klitorisku "Gosok dan
gelitik Banu!" kataku. Pantatku tambah tinggi sehingga aku hampir
berlutut. Pantatku sudah hampir setinggi mulut Banu yang ternganga selebar pintu
Tol.
Dengan pelan tanganku meraba paha Banu,
seperti orang kena listrik ia mengejang. "Jangan takut Banu, Ibu tidak
apain kok." Aku naikkan lagi dan penisnya yang sudah keras luar biasa
terasa di luar celana pendeknya. Aku elus-elus dan ia seperti orang kesurupan,
matanya terbalik-balik keenakan, dan kutarik celananya ke bawah, ia berdiri dan
bebas merdeka batangnya itu. Kugenggam erat-erat dan aku bilang, "Banu
kamu ke belakang situ dan tempelkan penismu ini ke mulut lubang vagina."
Aku menungging berlutut, pantatku tinggi ke atas dan posisi vaginaku sudah
terbuka lebar. Banu mendekat dan sambil memegang penisnya ia mengarahkan ke
vaginaku.
"Ahhh.. ahhh... enak Banu..."
"Iya Mbak enak sekali..."
Aku pegang penisnya dan pelan-pelan
kuamblaskan ke dalam lubang vaginaku. Gila panas sekali batangnya itu. Dan aku
mulai berayun-ayun ke depan dan ke belakang. Banu pegangan pada pinggulku, buah
dadaku berayun-ayun menggelantung bebas. Dan pelan sekali kusedot penis Banu
dalam vaginaku, kugerakkan otot dinding vaginaku bergelombang-gelombang. Di
kaca aku melihat posisiku dan Banu, sungguh pemandangan luar biasa. Anak masih
"ijo" itu antusias sekali dan kelihatan ia masih bingung-bingung.
Terus kugenjot dan Banu mulai pintar mengikuti gerakannya, dan terasa batangya
maju-mundur menggaruk-garuk dinding vaginaku dengan nikmat sekali.
Dan 2 menit kemudian meledak-ledak orgasmeku
dan ia kujepit dengan kencang dalam vaginaku sampai terasa seperti kuperas
batangnya sampai kering dari spermanya. Terdampar Banu di atas punggungku dan
aku rebah ke ranjang. Penisnya masih setengah tegang dan terasa berdenyut
denyut. Itu pengalaman Banu pertama.
Aku tertidur setelah itu dengan enak sekali,
sungguh segar. Besoknya aku sibuk di kebun sampai sore, dan siangnya aku tidur
lagi sebentar, rencanaku anak kostku yang lain akan kupetik perjakanya. Jam
06.00 sore aku mandi dan dandan sedikit, aku kenakan daster tipis. Setelah itu
aku duduk di kamar tamu membaca koran sore menunggui anak-anak kost pulang
kuliah sore. Di luar terdengar suara orang berjalan menuju pintu depan, hatiku
berdebar menebak siapa yang datang. Ketokan pintu baru 2 kali dan aku sudah
membuka dengan cepat sambil tersenyum manis. Eh Pak RT ayahnya Banu, aku kecewa
dan terkejut. Apa Banu laporan ke Bapaknya? Tidak biasa-biasanya Pak Zainul
kemari.
"Oh selamat sore Mbak Etty, maaf
mengganggu," katanya.
Matanya liar melihat tubuhku dari atas sampai
ke bawah, apalagi dasterku tidak bisa menyembunyikan buah dadaku dengan baik.
"Iya Pak mari masuk," undangku
sambil melebarkan pintu.
"Ada apa Pak RT?"
"Oh ini Bu, ada surat ke sasar di rumah
Pak Anwar pas saya lewat tadi mau pulang dan karena lewat rumah Mbak, ya saya
bawa sekalian," katanya sambil menyerahkan sepucuk surat.
Matanya menatap wajahku dengan tajam kemudian
turun ke arah buah dadaku yang separuh nongol di dasterku. Ih ganas juga orang
ini pikirku.
"Oh terima kasih Pak, mari duduk!"
kataku sopan dengan mengharapkan ia segera pergi.
"Ini Bu, tadi saya ketemu nak Andi dan
titip pesan, anak-anak mau ke undangan pesta anaknya Pak Anwar ulang tahun Bu,
mereka makan malam dan katanya mau nginap di sana."
Aku kecewa sekali mendengar itu.
"Ya, terima kasih Pak ngerepotin
jadinya."
"Oh tidak kok," seringainya seperti
serigala buas.
Umur Pak Zainul aku rasa sekitar 40 tahunan
masih gagah. Kata orang-orang dulu dia atlet renang dan sekarang punya toko
olah raga di jalan besar dekat rumahku.
"Mbak kok kayaknya agak pucat?"
ujarnya lagi.
"Aah masa..." kataku.
"Saya belajar sedikit Mbak tentang
pengobatan," katanya.
"Mau tidak saya pijat telapak
kakinya?" katanya.
"Tidak lama kok, paling 10 - 15
menit."
Aku jadi iseng, "Iya deh Pak, silakan
duduk Pak, saya dimana?"
"Oh itu Mbak duduk saja di kursi rotan
itu dan saya pakai ya dingklik ini," katanya dengan sigapnya.
Aku duduk dan ia duduk di dingklik dan mulai
meraba telapak kakiku. Kemudian ia mulai memijit dan... "Aduh sakit Pak!
kataku. Pahaku terbuka karena terkejut tadi. Aku jadi merah karena ingat tidak
pakai celana dalam. Celaka, batinku. Cepat kurapatkan lagi dan Pak Zainul
tenang seperti orang tidak melihat padahal pasti dia lihat tadi. Ia meletakkan
satu kakiku di atas pahanya dan mulai memijat dengan pelan, "Ah enak
juga," kakiku satu lagi di bawah pahanya dan aku menikmati pijatannya.
Pelan-pelan dari tapak kakiku tangannya naik ke atas kaki kemudian ke betisku
dan didorongnya ke arah luar sehingga aku agak mengangkang lagi jadinya. Aku
diam saja. Kakiku satu lagi sekarang pas di bawah buah zakar dan penisnya,
pelan-pelan kunaikkan dan jempolku pas kena buah zakarnya kugeser-geser di
situ. Pikirku, tidak ada akar rotan pun jadilah, lagi orangnya lumayan bersih
dan tidak bau badan. Aku memejamkan mata dan membiarkan pijatannya naik ke
betisku dan aku mulai merasa basah. Kuelus-elus buah pelirnya dengan jari-jari
dan punggung kaki. Ahh, koq penisnya besar sekali terasa di kakiku. Pak Zainul
pakai celana training dan kuintip, wah sudah jadi tenda tuh. Dan aku sudah
berserah dan Pak Zainul sudah mendesak pahaku dan dasterku sudah tersingkap
sampai ke atas, aku diam saja dan ia mulai menciumi dengkulku, aduh gelinya.
Bersambung...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar