![toge bugil [Portal Seks]](https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgP6zgQ3UITAER7L-x5xmubnK4fUjNuV6ek9bUWqSg0jxIM_ZvV1Nc9fHWRoK4Qk93JUxIkreR-ahgR3K7a-1Wxy1W6aVEbyfMFvc1A90tmPsFwNOUZ1P2OT34d34Jz191uVA0slXv7Zyfg/s1600/8430362a95c174b34867a7c78a600b5d74134fe.jpg)
Kehidupan itu ada pasang surutnya, ketika saya
sedang jaya, saya mempunyai client yang lumayan banyak untuk ukuran AE pemula
di sebuah advertising.
Dan dengan ketekunan saya, perusahaan tempat
saya bekerja mengalami kemajuan
pesat hingga mencapai Top 5 billing di semua
stasiun TV. Dan kemudian bencana datang, Perusahaan tersebut bangkrut karena
miss management.
Ditengah kesusahan datanglah tawaran dari
Nancy, junior saya yang telah
pindah ke Gokil Advertising, dan mengenalkan
saya dengan Ibu Susan, pemilik
perusahaan tersebut. Ibu Susan dipertengahan
abad usianya, masih mempunyai tubuh yang terawat
dengan baik, body-nya tidak kalah dengan
gadis-gadis yang masih muda yang
menjadi anak buahnya di Gokil Advertising.
Karena prestasi kerja saya yang baik, kami
sering mengadakan meeting after
hours, dan progress kerja saya yang baik,
membuat kami cukup akrab..tapi
pada suatu malam ada kejadian yang benar-benar
mengubah hidup saya! Begini
anak-anak ceritanya..
Suatu malam, ketika karyawan lain telah
pulang, Saya tengah memaparkarkan pendekatan saya terhadap satu perusahaan
rokok
terkemuka, dan kemudian tiba-tiba Ibu Susan
berkata,
"Waduh, kog punggungku gatal ya?"
Saya masih berusaha menahan diri untuk tidak
terlalu cepat menolongnya,
takut nanti dianggap kurang ajar!
Semakin lama gatalnya sepertinya semakin
bertambah,
"Tolong Dik Uki, bisa garuki punggung
Ibu?"
Saya mengangguk dan berusaha membuang pikiran
kotor saya, yang ingin sekali
rasanya mengetahui lebih dalam bentuk tubuh
boss yang cantik dan keturunan
bangsawan ini..
Saya garuk pelan-pelan, tapi lebih tepatnya
hanya mengusap-usap punggungnya
saja, takut kalau Ibu Susan kesakitan.
"Dik Uki, agak keras dikit, masih gatal
lho Dik", pinta Ibu Susan.
Dan saya agak sedikit memantapkan tangan saya
dipungungnya.
"Dik Uki, masih belum terasa, sebentar
saya buka dulu blazer saya."
Dia langsung membuka blazernya, sehingga
tinggalblouse-nya yang putih
dan transparan. Waduh semakin tidak tahan nih
saya, karena kulit tengkuknya
yang mulus dengan sedikit rambut lembut yang
tergerai di tengkuknya (Dia kalau ke kantor
selalu rambutnya disanggul di atas), semakin
menambah feminin, dan semakin
membikin saya langsung terangsang.
Saya menggaruknya tetap tidak mau keras dan
masih cenderung mengusap atau
membelai punggungnya, karena saya menikmati
kehalusan kulit seorang bangsawan
yang berada dibalik bajunya yang tipis. Saya
usap seluruh punggungnya dengan
pelan, ke atas dan ke bawah, ke kiri dan ke
kanan, terkadang tangan saya,
saya telusupkan di bawah ketiaknya, untuk
menggapai payudara yang di depan.
Dia menengadahkan kepalanya, dan
menggeleng-gelengkan kepalanya ke
kiri dan ke kanan, sambil suaranya mendesah,
"Uuhh enak Dik Uki.. enaakk..uuhh.."
Mendengar desahannya yang merangsang, rudalku
langsung tegak bak tugu Monas.
Sekujur tubuhku mulai menggigil dan seperti
dialiri setrum listrik yang
halus merambat di sekujur tubuh dan terpusat di
kemaluanku. Tenggorokanku
terasa kering, dan susah bicara, karena
nafsuku yang langsung menggebu.
Baru kali ini saya bisa menikmati tubuh
seorang bangsawan yang bersih,
terhormat dan sangat terjaga dari tangan
laki-laki lain, selain suaminya.
Karena Dia duduk membelakangiku yang berdiri
sambil memijit-mijit
punggungnya, batang kemaluanku langsung
kutempelkan di punggungnya yang
lembut seperti sutera. Kugesek-gesekkan batang
kemaluanku ke punggungnya
dengan pelan. Dan Dia berkali-kali melenguh,
"Uughh, enachh Dik, enaak, terus
Dik."
Dia membimbing tanganku untuk mengusap dua
gunung kembar yang
kencang dan kenyal. Kuusap payudaranya dengan
lembut, kucium tengkuknya
dengan lembut, dan kugesekkan batang
kemaluanku ke pungungnya dengan lembut.
Aku sangat tahu, kalau melayani tipe wanita
seperti Dia ini harus
dengan lembut dan dengan menggunakan perasaan.
Kucium tengkuknya dengan lembut, Dia sekali
lagi menengadahkan kepalanya
ke atas, matanya sambil terpejam, dan bibirnya
yang tipis terbuka sedikit,
dan mulutnya hanya bergumam, "Emm."
Aku tahu itu artinya dia sangat menikmati.
Tanganku, kuusapkan dengan lembut di
sekeliling payudaranya, dan kulingkari
masing-masing payudaranya dengan kedua
tanganku, sengaja aku tidak sentuhkan
tanganku ke pentilnya, untuk memberikan
sensasi yang sangat halus dan perlahan.
Beberapa kali tanganku mengitari sekeliling
payudaranya, kemudian perlahan-lahan
tanganku kutarik untuk mengusap pipinya.
Kutengadahkan wajahnya, dan kucium
keningnya dengat lembut sekali. Aku bisa
rasakan kelembutan nafasnya di
wajahku, bibirnya yang tipis masih
mengeluarkan gumaman yang lembut,
"Dik Uki.. emm.. eemm.."
Dengan perlahan aku membalikkan badan Dia ke
arahku, dengan cara memutar
kursinya, dan saya membimbing dia untuk
berdiri dengan perlahan, kini aku
dan Dia sudah berhadapan, sama-sama berdiri,
dadaku menempel ke dadanya,
dan aku bisa merasakan kekenyalan susunya, dan
saya membayangkan betapa indahnya bukit kembarnya.
Tanganku kudekapkan ke pinggangnya, dan
telapak tanganku kuusapkan ke pantatnya
yang juga sangat indah dan kencang. Tangannya
memegang pundakku
dengan lembut, kepalanya sudah menengadah ke
atas, dan tatapan matanya..
waduh, jernih dan indah menatap mataku tanpa
berkedip. Kusentuh bibirnya
dengan lembut, kuusapkan perlahan bibirku ke
bibirnya. Dia memberikan
reaksi dengan mengencangkan dekapannya ke
pundakku dan dadanya ditempelkan
lekat ke dadaku, tanganku kudekapkan semakin
erat ke pantatnya dan agak
kutarik ke atas pantatnya, sehingga kakinya
agak diangkat ke atas. Waduh
ciumannya sangat lembut, perlahan-lahan
kuusapkan lidahku ke lidahnya, dia
memberikan reaksi yang sama, menyapukan
lidahnya ke seluruh mulutku. Tanganku
mulai mengusap-usap punggungnya naik turun
dengan lembut. Aku menikmati sekali
kehalusan kulit punggungnya.
Setelah aku puas menciumi bibir, wajah dan
pipinya, ciumanku perlahan-lahan
kuarahkan ke lehernya. Dia
menggeleng-gelengkan kepalanya ke kiri
dan ke kanan, matanya masih terpejam
menikmati, nafasnya agak memburu, dan
mulutnya masih bergumam,
"Mmm.. uhh.."
Ciumanku mulai bergeser ke bawah, ke belahan
dadanya. Kancing blousenya yang di depan dengan mudah kubuka
satu persatu, sehingga tersingkap sudah BH
hitam yang menyangga dua buah
payudaranya yang padat, bulat, kenyal, bersih
dan ranum. Kuciumi lehernya
dengan sangat lembut, ke pundaknya, bergesar
turun ke sebelah atas payudara
yang tidak ditutup BH. Dia semakin
menengadahkan kepalanya, punggungnya
juga semakin melengkung ke belakang, kedua
tangannya memegang kepala saya
dan sedikit meremas rambut saya, tandanya
semakin menikmati gaya permainanku.
Kedua tanganku memegangi dibawah kedua
ketiaknya, biar Dia tidak
terjerembab ke belakang, tapi bibirku masih
mengusap daerah leher dan di atas payudara.
Aku sengaja memperlama untuk menyentuh
payudaranya, apalagi pentilnya.
"Diik..Ukii.. uugghh.. sstt", sambil
mulutnya berdesis kenikmatan.
Blousenya yang masih menempel di pundaknya
perlahan-lahan kulepaskan, sehingga
pemandangan kemulusan dan kemolekan tubuh Dia
terpampang jelas di
hadapanku, dan terkena sinar lampu down light
kekuningan yang berada di
langit-langit tepat di atas kami berdua,
menambah romantisnya suasana malam
itu yang tidak akan pernah kulupakan. Sekali
lagi tanganku kugunakan meremas
sebelah pinggir dari payudaranya, dan tampak
bahwa payudaranya sudah mulai
mengeras.
Tanganku mengusap punggungnya dengan perlahan
sambil membuka tali BH yang
ada di punggungnya. "Click" sekali
jentik langsung terbuka pengait BH-nya.
dengan pelan kuturunkan tali BH yang ada di
pundaknya, akhirnya BH-nya kulepas.
Woow, terlihat pemandangan indah sekali, dua
gunung kembar yang kuning dan
bersih dengan puncaknya yang kecil yang sudah
berdiri tegak. Aku sudah sangat
terangsang tapi aku tidak boleh gegabah.
Kuusap payudaranya dari sebeleh
bawah dengan tangan kananku, tangan kiriku
masih mendekap punggungnya untuk
menjaga agar Dia tidak terjatuh, dan kucium
payudaranya, berkeliling
mengitari pentilnya, dan tangan kananku masih
mengusap-usap sebelah luar
payudara, tapi dengan gaya agak memeras. Kedua
tangan Dia memegang erat pundakku tanda sudah semakin gemes, untuk dicium
pentilnya.
Karena aku sudah merasa waktunya tepat, maka
dengan lembut kukulum pentilnya.
Dan reaksinya,
"Aaaughh, uuhh..ss.. uuhh",
Dia melenguh-lenguh dan mendesis-desis
keenakan, seakan-akan yang dinantikannya telah tiba.
Meskipun kondisinya sangat terangsang, tapi
lenguhan itu tetap lembut dan
terdengar lirih. Kukulum pentilnya,
kugesek-gesek pentilnya dengan lidahku,
dan kugigit lembut pentilnya, tanganku tetap
meremas-remas lembut payudaranya.
Setelah aku puas mempermainkan pentilnya kiri
dan kanan bergantian, kulepaskan
bibirku dari susunya, dan kugeserkan mulutku
ke bawah ke seputar perutnya
yang datar dan mengeluarkan aroma parfum yang
lembut dan semerbak.
Ketika mulutku terlepas dari susunya, Dia
kelihatan menghela napas lega dan
baru bisa bernafas dengan tenang. Aku menciumi
perutnya dengan agak sedikit
jongkok. Kucium pusarnya, dan kujilati
pusarnya dengan lidahku. Dia
menggelinjang kegelian. Karena terlalu lama
berdiri atau karena sudah sangat
terangsang, Dia sudah tidak kuat berdiri dan
dia bergeser ke belakang
duduk di meja kerjanya. Aku berdiri dengan
kedua lututku dan aku tetap jilati
pusarnya dan perutnya. Dia menggelinjang
kegelian, dan mengusap-usap
rambut kepalaku dengan tidak beraturan,
terkadang meremas, menjambak dan
mengusap rambutku. Sehingga rambutku sangat
kacau.
Puas dengan permainan perut, Dia kurebahkan di
meja kerjanya. Untungya
meja kerja Dia cukup besar. Kupelorotkan rok
bawahannya, sekaligus
dengan CD-nya. Sekarang tampak di hadapanku
seorang putri yang kuning, bersih,
dengan kaki dan betis yang aduhai indah,
terbujur pasrah di hadapanku.
Kunikmati tubuh Dia sebentar, karena selama
ini aku hanya bisa membayangkan
keindahan tubuhnya, tanpa berharap untuk dapat
memandangnya. Tapi ternyata
malam ini apa yang kudapatkan jauh dari yang
kubayangkan. Seorang wanita
dengan tubuh montok dan kuning mulus, dengan
kaki dan betis ramping. Dua
buah dada yang tidak terlalu besar, tapi
bulat, padat dan kencang, sehingga
cocok dengan kesan payudara seorang putri.
Bentuk lengan dan bahu yang padat
bulat dan berisi.
Dia telentang di atas meja di hadapanku, aku
masih berdiri. Aku mencium
pipinya sekali lagi dengan lembut, kuusap
payudaranya dengan lembut. Kedua
tangan Dia merangkul leherku dengan erat.
Kedua kakinya bergerak-gerak
dengan halus pertanda sangat terangsang.
Perlahan-lahan tanganku kugerakan
dari susunya turun ke perutnya. Kuusap
sebentar perutnya dan bergerak turun
ke bawah mengusap pahanya. Paha yang selama
ini hanya bisa kupandang. Aku
usap pahanya naik turun dengan tetap mulut
kami masih saling memagut.
Erangan-erangan kecil keluar dari mulut Dia,
"Ugh.. ugh.. emm.. emm.."
Tanganku bergerak dari sekitar pahanya terus
mengusap sekitar bibir kemaluannya.
Dengan perlahan kedua kaki Dia mengembang,
memberi kesempatan tanganku
untuk mengelus kemaluannya. Tetapi kemaluannya
belum kuelus, hanya kedua
selangkangan saja yang aku belai dengan kedua
jari telunjuk dan jari manis
bersama-sama. Kuelus selangkangannya naik
turun, dan Dia menambah
kecepatan gerakan kakinya. Dengan pelan Dia
mengangkat pantatnya,
sehingga kemaluannya juga ikut naik. Aku tahu
ini pertanda agar aku dapat
segera mengelus kemaluannya. Kuusap pelan dan
dengan jarak sentuhan yang
kubuat serenggang mungkin antara bibir
kemaluannya dan telapak tanganku,
membuat gelinjang Dia menaikkan kemaluannya
untuk menyentuh tanganku
semakin tinggi.
Kubelai rambut kemaluannya yang lembut, tipis
dan tertata rapi. Setelah
puas memainkan sekitar kemaluannya, dan liang
kemaluan Dia sudah semakin
terbuka dan semakin basah. Kusentuh
klitorisnya dengan sedikit ujung dari
jari tengahku dengan lembut dan..
"Uuhhgh", lenguhan Susan kenikmatan.
Gerakan kakinya sudah semakin tidak teratur.
Tiba-tiba tanganku dijepit
dengan kedua pahanya.
"Diik Ukii.. aakkuu.. nggakk..
taahh.."
Kemudian tangannya menarik punggungku sebagai
bertanda agar aku segera menaiki
tubuhnya. Kutarik kedua kakinya ke arah
pinggir meja, sehingga kedua kakinya terjuntai,
kemudian Dia membuka kedua selangkangannya
dengan tidak sabar. Aku
sempat memandangi kemaluannya, dan seakan
liang kemaluannya merah seperti
bibir gadis yang memakai lipstik yang sedang
merengek.
Kugesekkan batang kemaluanku pelan-pelan ke
bibir kemaluannya, dan Dia
mengerang lagi,
"Uugghh.. uughhg.."
Kumasukkan dengan pelan batang kemaluanku ke
liang kemaluannya. Belum sampai habis masuk semua, kutarik kembali dan
kumasukkan kembali. Dengan gesekan-gesekan
yang pelan tersebut membuat erangan Dia semakin tidak beraturan.
Untuk melayani tipe seperti Dia ini, kugunakan
gaya gesekan 5:1, artinya
lima kali keluar masuk setengah batang
kemaluan, baru sekali masuk seluruh
batang kemaluan. Dan pada saat masuk yang
seluruh batang kemaluan, erangan
Dia semakin hebat. Dengan gaya lembut dan 5:1
ini kami bisa saling
menikmati.
"Uuugghh.. acchh.. Diikk.. Ukii.. ucchh..
sstt.. uhh.."
Erangan erangan yang tidak beraturan tetapi
artinya hanya satu yaitu Enak.
Sambil kugenjot pelan batang kemaluanku, kedua
tanganku dengan leluasa meremas
kedua susunya, yang bergerak-gerak naik turun
tergantung sodokanku.
Kadang-kadang tanganku mengusap wajah dan
pipinya, kadang-kadang mengusap perutnya.
Setelah cukup lama aku melakukan genjotan 5:1,
tiba tiba kedua paha Ibu
Susan diangkat dan dililitkan ke pinggangku.
Kedua tangannya mendekap diriku,
mulutnya sedikit menganga dan mendesis..
"Diikk..Uuu..Ki.. saa..yaa saampaaii..
uuhhff."
Kupegangi pinggangnya untuk menekan liang
kemaluannya ke batang kemaluanku. Setelah Dia selesai mengejang
dan nafasnya tersengal-sengal, aku mulai lagi
dengan genjotan, tetap dengan gaya 5:1.
Dia melenguh, "Uuff.. uff.. uuff.. Dik
Uki beluumm yaa. Ayo donk.. uff.. uff jangan ditahaan.. uuff.. ugh.."
"Sebentar Bu!" kataku.
"Dik.. uhff, ceepetan dikit.. Dik..
ughf.. uhfgg.. aa.. ku mau uhgf uff uff.. keeluar.. laa.. ggii.."
"Sebentar Bu, aku juga sudah.. mma.. uu..
saammpai.."
Tiba-tiba ada aliran listrik menjalar dari
ubun-ubun turun ke arah kemaluanku dan semakin-lama semakin mengencang. Batang
kemaluanku seakan balon yang ditiup dan mau pecah.
"Aachghh.. accghh.. Buu.. Sussann.. aku
mmau keluarr.."
Dia memegang erat tubuhku dan
"Crret.. crrett.." keluar semua
cairan yang ada di seluruh tubuhku dan "Aaachh.."
Kami berdua terkulai lemas dengan badan penuh
keringat dan nafas terengah-engah.
"Dik Uki, makasih ya Dik, kamu telah
memberi saluran yang selama ini tersumbat."
Aku sangat puas malam itu, karena aku tidak
dapat membayangkan, ternyata
aku bisa menikmati tubuh seorang wanita
terhormat, yang selama ini orang
luar sangat menghormatinya, tapi ternyata
malam ini dia begitu pasrah
menyerahkan tubuhnya kepadaku.
Jam telah menujukkan pukul 22.00 ketika
permainan kami usai, dan kami berdua
segera masuk ke toilet untuk membersihkan dan
merapikan badan kami masing-masing.
Dan sebelum pulang aku mendapat tugas baru
dari Dia, yaitu membantu membersihkan cairan yang membasahi meja kerja Dia, dan
membantu merapikannya. Sambil merapikan mejanya aku berbisik ke telinga Dia,
"Bu meja ini dirapikan ya.. karena besok
malam mau dipakai lagi",
Dia hanya tersenyum dan mencubit mesra
lenganku.
Hal tersebut kuulangi setiap ada kesempatan,
baik di kantor ataupun di hotel,
tapi rahasia tersebut tidak terbongkar dan
kami saling menjaga rahasia.
Dan kalau pagi hari, Dia kembali memerankan
perannya sebagai atasan
yang berwibawa, profesional, tetapi kalau
malam, melenguh-lenguh dan
menggelinjang-gelinjang di bawah
selangkanganku.
Bersambung...
Baca : Part 2
Tidak ada komentar:
Posting Komentar