![telanjang [Portal Seks]](https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiV73crRpToM9_o7CMK8nafMIbOtv1K4GyBFVpqp26PK2_cs8aUFfBxZhUGhnuZ6uWqKVsZcPvYmimlfrowt4zcbt-aEmJ54WKMpNeYtPKxTukhXRd6RgEO7MXUhE4WatFBWXg4UVv-3UB0/s640/51377103be4c191ceb15d9c09e3e1711d11d842.jpg)
Reaksinya seperti yang kukira. Ia sangat
kaget. Dan dengan merajuk dipeganginya tanganku sambil berucap, "Rin Bibi
minta tolong. Kamu jangan cerita sama siapa-siapa apalagi pada Pak Was. Tolong
ya Rin. Nanti Bibi lah yang belikan sate,"
"Aku tidak kepingin sate kok Bi. Tetapi
kepingin begituan sama Bi Nah," aku menandaskan. Ia terperanjat, tetapi
cuma sesaat. Beberapa saat ia terdiam sambil menatapiku, sampai akhirnya,
"Kalau maumu begitu, nanti kamu boleh melakukannya sepuasmu," katanya
dan kembali membonceng sepedaku.
Sepanjang perjalanan ia banyak bertanya. Soal
apakah aku pernah berhubungan dengan perempuan lain dan sebagaimanya. Bahkan
tangannya sempat iseng menggerayang ke selangkanganku dan membelai-belai
milikku. "Rupanya punya kamu besar juga ya Rin. Belum berdiri saja sudah
begini besar." Aku senang dengan pujian Bi Nah. Pedal sepeda kukayuh
kencang agar cepat sampai dan dapat melakukan segala yang ingin kulakukan.
Di rumah, Bi Nah langsung menarikku ke
kamarnya. Tetapi aku jadi bingung harus memulai dari mana. Canggung karena
belum pernah punya pengalaman intim dengan wanita. Apalagi perbedaan usia kami
yang cukup jauh karena saat itu aku belum genap 19 tahun. Hingga aku cuma duduk
tercenung di tepian ranjang, sedang Bi Nah duduk di sisi yang lain mengawasiku.
Mungkin ia menunggu reaksi dan keberanianku.
Lama aku tak bergeming, Bi Nah akhirnya
mengambil insiatif. Ia turun dari ranjang dan mulai mepreteli sendiri
pakaiannya. Setelah melepasi kancing-kancingnya, dipelorotkannya daster lusuh
yang dikenakannya. Terjatuh dan dibiarkannya teronggok di lantai. Busung
dadanya yang besar nampak menggunung karena masih tersangga oleh kutang hitam
yang dipakai. Namun begitu BH-nya dilepas, ketahuan bahwa bukit kembar itu
telah agak melorot. Putingnya yang coklat kehitaman nampak mencuat menantang.
Aku jadi ingat adegan penari striptease dalam film porno karena Bi Nah seperti
sengaja mempertontonkan bagian-bagian tubuhnya yang merangsang secara perlahan.
Aku menjadi tidak sabar untuk melihat semuanya
karena setelah membuka kutangnya, Bi Nah tidak segera melanjutkan dengan
membuka celana dalamnya. Ia asyik meraba dan meremasi sendiri buah dadanya. Ia
tahu mataku mulai tertuju gundukan di selangkangannya yang masih terbungkus
celana dalam. Namun seperti sengaja ia tidak segera memelorotkan celana
dalamnya yang berwarna hitam itu. "Kalau ingin melihat yang ini, kamu
harus membuka sendiri celana dalam Bi Nah," ujarnya tersenyum sambil
merabai sendiri kemaluannya dari luar CD-nya.
Bi Nah mendekatiku yang tetap duduk di bibir
ranjang. Di hadapanku, dalam jarak yang sangat dekat, sepasang buah dadanya
nyaris menyentuh wajahku. Maka aku langsung menyambutnya dengan mengecup salah
satu puting dari susu montok itu. Lalu dengan rakus kukulum dan kupermainkan
dengan lidahku. "Ssshh.., aahh.., ookkhh..," Bi Nah mendesah, ketika
aku mulai menghisapnya. Tubuhnya kian merapat dan diraihnya kepalaku untuk
dibenamkan di kehangatan payudaranya.
Sambil terus melumati puting susunya
bergantian kiri dan kanan, tanganku meliar ke bagian lain tubuh bahenolnya.
Kuraba-raba pinggulnya dan kemudian beralih dengan meremasi pantatnya. Sedikit
demi sedikit kuturunkan celana dalamnya yang juga berwarna hitam. Celana dalam
Bi Nah sangat longgar, mungkin karena terlalu sering dipakai. Maka setelah
karetnya melewati pinggul dan bongkahan bokongnya, celana dalam itu merosot
turun dengan sendirinya.
Benar rambut kemaluan istri Pak Was itu tumbuh
sangat lebat. Terdengar bunyi kemerisik saat telapak tanganku mengusap-usapnya.
Mungkin karena gesekan tanganku pada rambut lebat dan keriting kecil-kecil itu.
Perhatianku jadi beralih ke vaginanya. Turun dari ranjang, aku langsung
berjongkok. Sementara Bi Nah mengangkat salah satu kakinya untuk bertumpu pada
bibir ranjang. Dalam posisi seperti aku jadi bisa melihat memeknya sampai ke
detilnya. Lubangnya yang sedikit menganga dengan bibir kemaluan yang telah
berkerut-kerut, juga tonjolan daging kelentitnya. Berbeda dengan bibir luar
memeknya yang berwarna kehitaman, di bagian dalam lubang nikmatnya nampak memerah.
"Ayo Rin.., memek Bi Nah bukan tontonan.
Jangan cuma dilihati saja. Kamu bisa menjilati atau menghisapnya," ujarnya
tak sabar. Maka kembali kuturuti perintahnya. Tanpa diminta, sebenarnya aku
sudah mau melakukannya.
Dengan penuh nafsu kujilati memek wanita
setengah baya itu. Baunya sangat khas, sulit kutemukan padanannya. Ketika
lidahku menyapu lebih ke dalam bagian lubang nikmatnya, sedikit terasa asin dan
berlendir. Tetapi tidak kupedulikan. Lidahku terus kugunakan untuk menyapu
sampai ke bagian yang dapat dijangkau. Bahkan kelentitnya yang menonjol
berkali-kali kuhisap. "aahhkkhh.., enak sekali Rin. Ternyata kamu sangat
pintar. Ya.., ya.. begitu.., aahh.., sshh,.. oohh,"
Bi Nah memintaku melanjutkan adegan itu sambil
berbaring di ranjangnya. Tetapi sebelumnya dibantunya aku melepasi pakaianku.
Dan atas perintahnya posisi kepalaku diminta berada di bagian bawah tubuhnya
dengan bagian tubuhku yang lain berada dekat kepalanya. Seperti membentuk hurup
69. Rupanya dengan posisi itu, kami jadi sama-sama memperoleh nikmat. Aku bisa
tetap menilat dan menghisapi kemaluannya, namun ia juga bisa mengulum dan
menjilati kontolku sekaligus. Lidah Bi Nah yang menyapu ujung kepala penisku terasa
panas, namun sangat nikmat. Terlebih saat mulutnya mulai mengulum dan
menghisap-hisapnya. Maka setelah ia telentang dalam posisi mengangkang, aku
segera menubruknya dan kembali menjilati kemaluannya.
Cukup lama kami tenggelam dalam kenikmatan
posisi 69. Seperti menari lidahku menyapu dan menjilat di kebasahan memek Bi
Nah. Menimbulkan bunyi kecipak yang sangat khas, craap.., croop.., srusuup.. Bi
Nah terengah, aku pun sesekali mengerang manahan nikmat karena sedotan-sedotan
mulut wanita itu pada penisku. Terlebih saat ia mengulum dan melumasi biji
pelirku dari luar kantongnya. Sampai akhirnya, tubuh wanita itu mengajang dan
kepalaku dijepitnya kencang dihimpit kedua pahanya. "Aahh..ahh..aauuhh,
enak sekali Rin, akhh Bi Nah sudah keluar Rin,..sshh..aahhkkhh," rintihnya
sambil menggoyang pantat dan pinggulnya. Ia telah mendapatkan puncak
kepuasannya.
Dan tak lama berselang, aku pun mulai
merasakan dorongan sangat kuat di penisku. Dorongan yang telah lama kutahan
agar tidak jebol. "aa.., aku juga Bi. Akhh.. sshh.. auhh," aku
merintih. Berbarengan dengan itu, dari ujung penisku memancar kuat air maniku.
Rupanya Bi Nah terlambat mengeluarkan penisku dari mulutnya saat aku
mendapatkan itu hingga sebagian air maniku yang kental berwarna keputihan masuk
ke dalam mulutnya. Sebagian yang lainnya berleleran di wajahnya. Wajah Bi Nah
tampak puas dengan apa yang diperolehnya.
Sesuai dengan bentuk tubuhnya yang bongkok
udang, nafsu Bi Nah tergolong besar. Terbukti beberapa saat setelah itu, ia
kembali melancarkan serangannya. Kontolku yang kembali mengecil dan layu mulai
dihisap-hisapnya dengan mulutnya. Bahkan entah disengaja atau, tanpa merasa
jijik sapuan lidahnya sampai ke lubang anusku. Geli dan rasanya sangat aneh,
namun sungguh sangat nikmat.
Rudalku kembali mendongak tegak. Besar, keras
dan siap tempur. Senang karena hanya sesaat bisa membangkitkan kembali, dengan
gemas dikocok-kocoknya pelan tonggak daging milikku itu. Wajah Bi Nah tampak
puas, senyumnya terlihat mengembang. Adegan berikutnya, sesuatu yang sangat
kunanti akhirnya terjadi. Ia bangkit lalu mengambil posisi berjongkok persis di
atas pinggangku yang terbaring telentang. Tepatnya persis pada posisi di atas
batang zakarku yang mengacung. Saat itu, di mataku, sosok Bi Nah menjadi sangat
indah. Belahan memeknya nampak terbuka di antara kaki dan kedua pahanya yang
kekar menyangga.
Aku dibuatnya sedikit tegang dan berdebar saat
dengan pelan ia mulai menurunkan pantatnya. Ujung penisku terasa mulai
menyentuh bukit kemaluannya yang membusung. Sambil menggenggam batang penisku
diarahkannya ujungnya tepat di liang sanggamanya. Ssslleesseepp.., bbllees..!
Sedikit demi sedikit kontolku masuk di lubang memeknya. Rasanya hangat dan
basah. Aku mendesis menahan nikmat yang baru pertama kali kurasakan.
"Enak Rin..," ujarnya.
Aku mengangguk. Terlebih saat ia mulai
menggoyang pelan pantatnya. Milikku serasa diremas-remas dalam kehangatan
lubang memeknya. Sepasang payudaranya yang besar dan menggelantung terlihat
ikut bergoyang mengundang. Menarikku untuk kembali memegang dan membelai
susu-susunya itu. Putingnya kupilin-pilin dan di saat yang lain
kuremas-remasnya daging yang terasa kenyal di tangkupan telapak tanganku.
"Ayo Rin.., remas terus susu Bi Nah..,
ah.., ah,..shh akh, enaknya kontolmu," ia terus mendesah sambil
menggoyang-goyang pantatnya. Aku jadi kian bersemangat. Saat posisinya kian
membungkuk, langsung kusambar putingnya dengan mulutku. Kujilat-jilat dan
kuhisap dengan rakus. Bi Nah tambah histeris. Goyangan pinggul dan pantatnya
kian menjadi. Keringatnya berleleran, ikut membasahi tubuhku. Baunya sangat
khas, bau wanita dewasa yang entah kenapa sangat kusuka.
Beberapa saat dalam posisi di atas, rupanya
membuatnya cepat kehabisan tenaga. Ia akhirnya meminta berganti posisi.
"Gantian Rin, kamu yang di atas. Mungkin karena Bi Nah sudah tua ya, jadi
cepat cape," katanya.
"Bi Nah belum tua, kok. Masih cantik dan
montok..,"
"Ah bisa saja kamu,"
"Bener. Saya pengin terus bisa begini
sama Bi Nah," kataku lagi.
"Bisa Rin, bisa. Pokoknya kalau lagi
tidak ada Pak Was dan Pak Dal, Bi Nah pasti siap ngentot sama kamu kapan
saja," ujarnya.
Masih di atas tempat tidur, kini aku bersiap
menindih Bi Nah yang telentang mengangkang. Namun tidak seperti sebelumnya,
penisku kali ini sulit masuk kendati telah kutekan ke lubang vaginanya. Ia
memang sempat menyeka dan membersihkan memeknya menggunakan kain sprei. Mungkin
karena itu lubang kemaluannya jadi kering dan menjadi sulit diterobos.
"Sini Rin kontolmu Bi Nah kulum dulu biar
basah. Jadi nanti masuknya mudah," kata Bi Nah setelah aku berkali tak
berhasil menusuk liang sanggamanya. Ia bangkit dan mulai mengulum batang
penisku yang keras dan berotot melingkar di sekujurnya. Oleh Bi Nah, sekujur
batang penisku seolah diguyurinya dengan ludah.
Hasilnya, saat kutusukkan, penis berlumur
ludah itu jadi lebih gampang masuk. Maka mulailah aku menggoyang dan
memain-mainkan penisku di lubang nikmatnya. Hempasan tubuhku yang mulai
naik-turun di atas tubuhnya menimbulkan bunyi seperti decakan karena kemaluan
kami yang beradu. Dan sambil melakukan itu, tidak puas-puasnya aku meremasi
sepasang susunya yang besar. Putingnya kujilati dan kusedot-sedot penuh nikmat.
Variasi sodokan kontolku dan remasan di payudaranya membuat Bi Nah
menggelinjang dan merintih.
"Aauuhh.., aauuhh.., oohh.., oohh enak
sekali kontol kamu Rin. Ya.. terus sedot susu Bi Nah.., aahh.. ookkhh,"
rintihnya sambil menahan nikmat yang dirasakan. Ia terus merintih dan mendesah
setiap kali batang penisku kusentakkan di lubang vaginanya.
Serangan balik Bi Nah tak kalah garang.
Mengikuti irama turun naik penisku di lubang memeknya, pantatnya kembali
digoyang. Bahkan dinding-dinding vaginanya seperti ikut bekerja. Menjepit dan
meremas mengikuti irama goyangannya. Akibatnya kami sama-sama terbuai dengan
kenikmatan yang tengah kami ciptakan. Kepala penisku mulai berdenyut setiap
menerima reaksi jepitan dinding vaginanya.
Sampai akhirnya, gerakan kami menjadi liar.
Goyangan pinggul dan pantat Bi Nah semakin cepat dan seolah kehilangan irama.
Sama dengan gerakan turun naik tubuhku yang kian terpacu. Dan puncaknya,
pertahanan kami sama-sama ambrol. Bi Nah memeluk erat tubuhku setelah mengejang
hebat dan cengkeraman di lubang memeknya berubah menjadi menyedot dengan kuat.
Maka seiring dengan itu, muncrat pula mani yang kutahan. Kami sama-sama
mengerang menahan nikmat yang tiada tara dan akhirnya ambruk terkulai. Saat itu
sungsum tulangku serasa dilolosi dan tenagaku habis terkuras.
Sejak malam itu, seperti halnya Pak Dal, aku
menjadi kekasih gelap Bi Nah. Dan seperti janjinya, Bi Nah memang tidak pernah
menolak setiap aku meminta layanannya. Bahkan ia yang lebih sering mengajak
bila tengah tidak melayani Pak Was suaminya atau Pak Dal. Kami leluasa
melakukannya di siang hari saat keduanya mencari nafkah.
Hubunganku dengan Bi Nah terputus setelah aku
merantau dan menetap di kota lain. Ah, Bi Nah..
TAMAT
Baca : Part 1
Tidak ada komentar:
Posting Komentar