![amoy [Portal seks]](https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhCSci9fNAicI1V7NX9Qj_ckqgNoqaEUU5Yn5YbMbsiqA1yn3Wzt3oGbNpKw2mAY5NeyDUqdnDFRpdixIchCaD1ab7Bhr_-oysaYYPuSZoQUA-xcaYgSuh8rqIjFDG0ycj32u4vOj9ScAcH/s640/28k1p2f.jpg)
Waktu itu teman saya mengajak saya menjadi
panitia pernikahan salah satu sepupunya disalah satu gedung pertemuan di daerah
Tebet. Ketika aku sedang mengambil makanan handphone-ku bergetar.
"Hallo.."
"Hallo Ovi.. Apa kabar? Koq kalau makan
nggak ngajak ngajak aku sih."
"Eehh.. Mbak Amy. Apa kabar?"
"Aku baik. Kamu?"
"Baik.. Mbak dimana sih? Koq tahu aku
lagi mau makan?"
"Ada di belakang kamu."
Aku menoleh dan Mbak Amy melambaikan tangan.
Mbak Amy memakai kebaya dan rambutnya yang sebahu dibiarkan tergerai dengan
model shaggy.
"Apa kabar Mbak.?" sambil mencium
pipinya.
"Aku baik Vi, kamu ngapain disini?"
Mbak Amy menggandeng tanganku dan menarik aku kesudut ruangan.
"Sepupu teman kawin, terus aku dimintain
tolong jadi panitia. Mbak Amy ngapain disini? sendirian?"
"Undangannya buat suamiku tapi dia lagi
ke luar negeri, jadi aku wakilin dia deh. Aku nggak sendirian, kan ada
kamu," sambil tersenyum manis dan menyalakan rokoknya.
"Yee. Naik apa Mbak?"
"Naik mobil dong, masa naik becak."
"He.. he.. aku juga tahu kalau itu."
"Kamu pulang sama siapa Vi?"
"Aku pulang sendiri aja, habis makan aku
ganti baju terus pulang kali. Capek banget dari siang aku sudah disini."
"Kamu balik bareng aku aja ya Vi. Nanti
kalau sudah selesai ganti baju, aku tunggu di mobil ya."
Aku mengangguk lalu berganti baju memakai
celana pendek, t-shirt dan sepatu kets sementara celana panjang dan lainnya aku
letakkan di ranselku. Aku menuju tempat parkir dan masuk ke mobil Mbak Amy. Aku
duduk di sebelah kiri, Mbak Amy mengemudikan mobilnya keluar dari gedung. Mbak
Amy mengemudikan mobil menuju ke arah rumahnya di bilangan Permata Hijau, dan
memasukkan mobilnya langsung ke dalam garasi rumahnya.
"Katanya mau anterin aku pulang, kok aku
diculik ke sini sih?"
"Kamu temanin aku ya malem ini, aku bete
nih sendirian di rumah"
"Terserah Mbak aja deh."
"Nah gitu dong, masuk yuk Vi."
Mbak Amy mengajak aku masuk dan mempersilahkan
duduk diruang keluarga. Di ruang itu terdapat sofa besar dan TV berukuran besar
lengkap dengan sound systemnya. Mbak Amy memanggil Bi Inah pembantunya dan
menyuruhnya untuk membuatkan minum. Aku memang sudah mengenal semua anggota
rumah Mbak Amy termasuk supir dan pembantunya, karena mantan pacarku dulu
pernah bekerja menjadi asisten pribadi Mbak Amy.
"Makasih ya Bi, apa kabar?"
"Baik Den Ovi, silahkan minum lho."
"Minum gih, aku ganti baju dulu ya
vi."
"Oke Mbak."
Aku menyalakan TV dan menonton film sex and
the city di Trans TV, Mbak Amy menganti bajunya dengan celana pendek dan kaos
lengan dan rambutnya diikat pony tail. Mbak Amy duduk disebelahku dan
menyalakan rokok. Aku terus memperhatikan Mbak Amy.
"Kenapa sih kamu koq lihatin aku
terus?"
"Mbak cakep sih."
"Ngerayu nih atau ngeledek?" sambil
mencubit pahaku.
"He.. he.. he.. Dua duanya donk."
sambil kupeluk pundaknya.
Mbak Amy menggeser posisi duduknya sehingga
tubuhnya bersandar di tubuhku sementara tanganku memeluk pinggangnya dari
belakang. Sesekali aku meraba payudaranya dan mencium lehernya. Aku terus
mencium leher dan telinganya.
"Sss.. Mmm.. Vi.. Mmm.. Mph.. Mph.."
sambil aku terus meraba dan meremas payudaranya.
Mbak Amy mematikan rokok lalu memutar tubuhnya
dan aku mencium Bibirnya. Aku dan Mbak Amy berciuman dan saling memainkan
lidah. Mbak Amy mulai mengelus penisku dan memasukkan tangannya ke dalam
celanaku. Aku membuka bajunya dan meremas remas payudaranya.
"Ouh.. Vi.. Remes tetekku say.. Remes
sayang.. Ovi buka celana kamu dong." sambil tangannya mengocok dan
mengelus batang penisku.
"Mmmpphh.. Ssshh.. Ouh.. Ouh.. Mbak aja
deh yang buka."
Mbak Amy kemudian menarik turun celana pendek
dan celana dalamku, Mbak Amy menunduk dan menjilati serta menghisap batang
penisku yang sudah tegang.
"Aahh.. Mbak.. Isep penisku Mbak..
Ssshh.. Ouh enak banget.. Ouh mmpphh.. Mmpphh.. Yes.. Ouh.. Uh. Aahh.."
Mbak Amy terus menjilati batang penisku dan
memainkan lidahnya diseluruh batang penisku juga urat dibalik kepala penisku.
Aku membuka baju serta BH dan menarik turun celananya berikut celana dalamnya.
Aku meraba vaginanya dan menusukan jariku ke dalam vaginanya.
"Oouuhh.. Vi.. Yes.. terus say. terus.
Ouh ouh.. Yess. Yess. Fuck me.. Fuck me.. Cepet say.. Gerakin jari kamu yang
cepet.. Yes.. Ouh. Ouh.. Yeess.."
Aku semakin cepat mengocok dan memainkan
jariku didalam vaginanya, tak lama kemudian tanganku terasa basah dan vagina
Mbak Amy terasa menjepit dan tangannya mencengkeram pahaku serta Mbak Amy
mencium dan menggigit Bibirku.
"Mmmpphh.. Mmpphh.. Yyyeess.. Aku keluar
sayangg.. Yyeess" Mbak Amy setengah menjerit tertahan.
Mbak Amy melanjutkan aksi mulutnya di penisku
yang sempat tertunda sebentar, tangannya terus mengocok dan memijat naik turun
batang penisku.
"Aaahh.. Mbaakk.. Euh euh.. Yess.. Euh..
Ahh.. Aku mau keluar.." tubuhku menegang dan air maniku tumpah didalam
mulut Mbak Amy dan belepotan di tangannya, Mbak Amy terus menjilati dan
menghisap sisa sisa air maniku yang masih menetes dari penisku. Aku memeluk
Mbak Amy dan mencium Bibirnya lalu kurebahkan Mbak Amy diatas sofa langsung
saja aku menjilati vaginanya dan menghisap klitorisnya.
"Oouuhh.. Vi. Yes.. Jilat terus say..
Jilat vaginaku. Aahh. Ouh ouh.. Yes. Masukin vi.. Masukin sayang.. Aku sudah
nggak tahan nih.."
Mbak Amy memintaku untuk duduk di sofa, Mbak
Amy membuka kakiku dan menjilati batang penisku hingga basah dengan air
liurnya. Setelah beberapa saat, Mbak Amy mengangkangi pinggangku dan menuntun
masuk penisku menuju vaginanya. Penisku perlahan tapi pasti hilang ditelan
vagina Mbak Amy, Mbak Amy menaik turunkan tubuhnya dan sesekali memutar
pantatnya dan aku menghisap, meremas remas kedua payudaranya.
"Ouuhh.. Vi.. Enak banget sayang.. Yess..
Yess.. Vi.. Dorong sayang.. Dorong yang kenceng.." desah Mbak Amy setengah
menjerit tertahan sewaktu aku mengocok penisku di vaginanya dengan cepat dan
keras. Mbak Amy terus memompa tubuhnya naik turun dan sesekali memutar
pantatnya, payudaranya bergoyang tak menentu, tubuhnya bertumpu pada tangannya
yang mencengkeram pahaku. Rambutnya yang panjang sesekali menggelitik dadaku
pada saat Mbak Amy menundukkan kepala dan menggelitik pahaku waktu Mbak Amy
menengadahkan kepalanya kebelakang. Aku menggendong Mbak Amy dan merebahkannya
diatas karpet dan kupompa tubuhnya dengan cepat.
"Ouhh.. Vii.. Yes yes.. Ouh.. Mmpphh..
Mmpphh.. Yess.. Kenceng sayang yang kenceng say.. Aku sudah mau..
Keluarr.." Mbak Amy mendesah panjang, tubuhnya menegang dan bergetar dan
penisku terasa dibasahi oleh cairan kehangatan Mbak Amy. Hal ini membuatku
semakin terangsang dan terus memompa tubuh Mbak Amy. Setelah beberapa lama aku
berdiri dan menarik Mbak Amy agar berlutut, kukocok penisku dihadapannya
sementara Mbak Amy memegang pahaku dan sesekali menjilati terkadang menghisap
kepala penisku.
Aku terus mengocok di hadapan wajahnya dan
tanpa sengaja aku melihat pintu dapur yang sedikit terbuka dan tampak Bi Inah
sedang berdiri dibalik pintu mengintip perbuatanku dengan majikannya. Aku terus
mengocok dan memasukan penisku ke mulut Mbak Amy minta dijilat atau dihisap.
"Ouuhh.. Mbaakk.. Yes.. terus Mbak.. Isep
terus.. Yess.. Ouh.. Bentar lagi Mbak.. Bentar lagi.. Aku mauu.. ahh.."
desahku panjang bersamaan dengan keluarnya airmaniku dan mengenai wajah Mbak
Amy serta sebagian menetes ke payudaranya. Mbak Amy menjilat dan menghisap sisa
sisa air maniku. Aku dan Mbak Amy berciuman. Kami berdua membereskan pakaian
yang berantakan di ruang TV dan menuju kamar. Aku langsung tertidur sambil
memeluk Mbak Amy. Esok harinya Mbak Amy membangunkan aku dan berpesan agar aku
jangan pulang dulu sebelum Mbak Amy pulang.
"Jangan pulang dulu ya Vi, sebelum aku
dateng."
"Memang Mbak mau kemana?"
"Aku mau ke bank dulu terus mau studio
dulu ada yang mau aku urus, kalau mau sarapan minta siapin Bi Inah aja
ya."
Mbak Amy mencium Bibirku dan pergi
meninggalkan kamar. Terdengar suara Mbak Amy meminta Bi Inah agar menyiapkan
sarapan buatku. Tak lama kemudian terdengar suara mobil Mbak Amy meninggalkan
rumah.
Aku bangun dan berjalan keluar kamar dan
mencari Bi Inah dan ternyata Bi Inah sedang mandi. Kamar mandi Bi Inah terletak
di belakang rumah dan diatasnya terdapat lubang angin yang cukup besar. Aku
mengambil kursi dan mengintip Bi Inah yang sedang mandi. Bi Inah umurnya hampir
sama dengan Mbak Amy sekitar 39 tahun. Tubuh Bi Inah lebih kurus dibanding
dengan majikannya tingginya sekitar 165cm, kulitnya sawo matang, wajahnya biasa
tapi manis tipikal orang Jawa Tengah. Aku mengintip melalui lubang angin diatas
pintu tampak Bi Inah sedang menyabuni tubuhnya dan meremas remas payudaranya
yang berukuran 34 secara bergantian, tampak bulu bulu lebat di vaginanya.
Penisku kembali tegang melihat pemandangan itu. Ketika Bi Inah mengambil
handuk, aku langsung buru buru masuk ke dalam rumah dan duduk menonton acara
TV. Tak lama kemudian Bi Inah masuk dengan rok terusan panjang semata kaki
berwarna biru muda memetakan bentuk tubuhnya dan rambutnya yang panjang sebatas
pinggang dibiarkan tergerai lepas.
"Eh Den Ovi sudah bangun, mau sarapan
Den?"
"Mau dong.. Laper nih, masak apa Bi?
Habis mandi ya Bi Inah?" Bi Inah mengangguk, aku berdiri menuju meja
makan, sementara penisku yang berdiri tegang tampak jelas tercetak dibalik
celana pendekku karena aku memang sengaja tidak mengenakan celana dalam.
"Bibi masak nasi goreng sama telor ceplok
setengah mateng nih."
Aku sengaja berdiri disamping Bi Inah dan
melihat makanan apa yang disediakan olehnya sehingga tanpa sengaja penisku
menyenggol pinggulnya. Bi Inah hanya diam dan tak bereaksi lalu kusengaja
kugesekan penisku di pinggulnya terdengar nafasnya mulai tak beraturan. Lalu
aku duduk dan mulai makan. Tak lama kemudian Bi Inah datang membawa minuman.
"Ini minumnya, sama tadi ibu suruh Bibi
untuk kasih vitamin ini." sambil memberikan vitaminnya kepadaku.
"Makasih ya, Bi Inah nanti pijitin aku
ya, pegel nih badanku."
"Baik Den, nanti kalau sudah selesai
makan panggil Bibi aja ya."
"Ehh.. Bibi nggak usah kemana mana,
temanin aku ngobrol aja disini, kan nggak enak makan sendirian."
Aku dan Bi Inah banyak mengobrol, Bi Inah
bercerita bahwa suaminya bekerja di perkebunan daerah Sumatra dan pulang hanya
dua tahun sekali.
Selesai makan Bi Inah membereskan meja makan
dan sekalian membersihkan ruangan. Aku menyalakan TV dan memutar film yang ada
di rak dvd yang ada disamping TV. Film yang aku putar tergolong kategori X2
sehingga banyak menampilkan adegan adegan panas yang tidak terlalu vulgar
seperti dalam film kategori X3. Aku menonton film sambil berbaring disofa dan
penisku yang tegang akibat melihat adegan panas di film mencetak bentuk penisku
di celana bicycle pants yang aku pakai. Bi Inah membersihkan karpet diruangan
itu sambil sesekali melihat adegan di film dan melirik ke arah penisku. Setelah
selesai membersihkan rumah, Bi Inah menanyakan apakah aku jadi dipijat atau
tidak. Aku mengangguk mengiyakan.
"Bentar ya Den Ovi, Bibi mau cuci tangan
dulu ama ambil cream pijitnya ibu."
"Ya Bi.. Disini aja sambil nonton
TV."
"Ya Den, disofa saja, Ibu juga kalau
dipijit suka disofa koq."
Bi Inah masuk kekamar Mbak Amy dan mengambil
sebotol cream juga selembar sprei untuk melapisi kain sofa dan selembar handuk.
Aku membuka bajuku dan Bi Inah mulai memijat punggungku, setelah selesai
memijat punggungku Bi Inah mulai memijat kakiku.
"Den Ovi celana pendeknya dibuka aja ya,
biar nggak kena cream, soalnya kalau kena cream, susah hilangnya kalau
dicuci."
"Nggak ah. Malu kan."
"Ndak pa pa koq, kan nanti ditutupin pake
handuk."
"Iya deh." sambil melepas celana
pendekku dan mengenakan handuk yang diberikan oleh Bi Inah, lalu aku langsung
kembali tengkurap di sofa.
Bi Inah mulai memijat telapak kedua kakiku.
Setelah telapak kaki dan betisku Bi Inah mulai memijat paha kananku dan
sesekali jari jarinya menyerempet buah zakarku, selesai dengan yang kanan Bi
Inah mulai memijat paha sebelah kiri.
"Balik badan dong Den ovi, sekarang
dadanya Bibi pijitin ya."
Aku membalikkan tubuh terlentang, handuk di
pinggangku sedikit terbuka. Bi Inah menggeser tanganku diatas pangkuannya agar
dia lebih leluasa memijat dadaku. Bi Inah memijat dadaku sementara aku mengelus
elus punggung Bi Inah dan Bi Inah tidak bereaksi hanya tersenyum manis.
"Bi.. Kakiku pijit lagi ya, masih pegel
nih."
"Sebentar ya Den ovi, dikit lagi nih
tinggal perutnya." sambil memijat perutku sesekali tangannya menyenggol
penisku yang sudah tegang dari tadi.
Selesai memijat perutku Bi Inah mulai memijat
pahaku lagi dan kubiarkan handukku terbuka sehingga memperlihatkan penisku yang
sudah tegang. Aku pura pura tidur, kuintip Bi Inah yang sesekali melihat
penisku. Selesai dengan kakiku Bi Inah menarik tangan kiriku untuk dipijat,
waktu Bi Inah memijat tanganku posisi telapakku persis di depan payudaranya dan
dengan sengaja kugerakkan tanganku sehingga menyenggol payudaranya. Demikian
juga pada saat Bi Inah memijat tangan kananku.
Kuberanikan meraba payudaranya dan mengelusnya
dari luar pakaiannya.
"Den Ovi, jangan dong." setengah
menolak tapi tidak berusaha menyingkirkan tanganku dari payudaranya. Aku terus
memberanikan diri meremas remas kedua payudaranya.
"Ssshh.. Den Oovvii.. Mmm.." dia
mendesah, aku duduk dan menarik tangannya ke arah penisku. Bi Inah hanya
meremas remas penisku.
"Bi Inah, jangan diremes gitu dong kan
sakit."
"Maaf Den, abis Bibi gemes sih." Bi
Inah merubah remasan tangannya menjadi kocokan yang lembut di batang penisku.
Aku mencium Bibirnya dan Bi Inah membalas ciumanku, aku mulai meraba pahanya
dan mengangkat roknya.
Bersambung...
Baca : Part 2
Tidak ada komentar:
Posting Komentar