![bohay [Portal Seks]](https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi5m6l2laPEMPQPmiOEvk-TGwfa3LbctOi_hjrtdD-5tL3SPn6ASFF571Ph46-wBo7a3nbfKulpux7E84vNNTlZwZZnAJsBgU0PIMHO_EB3ajJZVz0CUoS-7XZUdYbdbQdBfwXcdOOHFian/s640/200809229841314da049f378df1c0c01124c481.jpg)
Mataku gelap rasanya seperti mau pingsan
karena enak sekali. "OK, kamu coba Man," katanya ke Herman, dan
Herman dengan semangat menggoyang klitorisku dan ia juga bereksperimen menjepit
klitorisku dengan kedua jari dan memilin-milin. Pantatku menggelinjang-gelinjang
liar dan Tony aku lihat sepintas ternganga melihat kelakuanku. Andi sementara
itu tak tinggal diam, ia memeperhatikan kedua anak itu sambil meremas-remas
memerah buah dadaku. Aku lemas dengan nafsu yang sudah memuncak sekali. Pahaku
sudah ngangkang lebar sekali dan bau mesum dari vaginaku memenuhi kamar.
Badanku terasa hangat sekali dan betapa lubang vaginaku mengharapkan batang
panas, tapi aku masih mengikuti semua permainan anak-anak ini. "OK,
sudah!" katanya setelah Toni juga mendapat giliran. "Sekarang seperti
ini kalian harus tahu bahwa lubang vagina ini sangat sensitif jadi tidak boleh
kasar kalau mau memeriksa." Andi memasukkan jari tengahnya yang kasap ke
dalam lubang vaginaku dan begitu masuk dinding vaginaku langsung mendenyut
mencengkeram, "Senut... senuttt..."
"Usahakan kuku kalian harus sudah
digunting dan tidak tajam, karena kalau sampai luka sulit nanti
sembuhnya," katanya sok tahu seperti dosen sungguhan. "OK, kalian
coba masukkan dan gosok gosok seperti ini keluar-masuk," katanya. Aku terbadai
saja di ranjang dan kedua anak ini bergantian memasukkan jari tengahnya
memasturbasi aku, entah berapa kali sudah aku orgasme. Seprei ranjang sudah
kusut seperti kapal pecah. Andi terus meremas-remas buah dadaku sambil
memainkan puting susuku. "Nah sekarang kita harus mengerti juga bau vagina
yang sehat seperti ini," kata Andi. Ia mendekatkan hidungnya ke lubang
vaginaku dan hembusan nafasnya yang panas menambah bara nafsuku. Kalau aku
tidak menahan diri sudah kuterkam si Andi ini dan kutunggangi penisnya. Aku masih
play along dengan mereka. Kemudian Andi berbicara lagi. "Dan kita juga
perlu menjilati untuk tahu rasanya cairan ini," katanya sambil bibirnya
langsung menerkam vaginaku. "Ahhhh..." jeritku keenakan. Dan lidah
kasapnya segera bermain di sekitar situ, kira-kira semenit ia dengan berat hati
melepaskan dan..."OK, sekarang Toni kamu coba!" Toni dengan cekatan
mendekat dan memasukkan mukanya di antara selangkanganku yang sudah kubuka
lebar-lebar.
Aku ambil bantal dan kuganjal pantatku
sehingga vaginaku munjung keluar. Mulut Toni terasa panas sekali dan dengan
semangat ia menciumi dan seruput-seruput ia menjilati. Aku terbadai lagi dan
orgasmeku memuncak untuk kesekian kalinya. Lidah Toni berkali-kali masuk ke
lubang vaginaku dan cairan demi cairan dihisapnya. Kadang kadang ia menghisap
dengan kencang dan pahaku sudah tak sadar mengempit kepala Toni. "Sudah
Ton!" kata Herman menarik Toni dan membuka paksa pahaku, dia juga tidak
sabaran jadinya. "Dan gantian Herman!" Aduh, gila digigitnya bibir
kemaluanku, rupanya saking semangat tergigit sedikit bibir vaginaku, tapi ia
juga semangat dan terasa lidahnya lebih panjang dan kasar lagi dari lidah Toni
dan Andi. Aku menggeruskan vaginaku ke mulutnya dan pahaku mengempit kepala
Herman di antara kedua pahaku yang sintal putih. Sementara Andi sudah membuka
celananya dan penisnya sudah keras sekali, disorongkannya ke mulutku dan dengan
rakus aku menerkam dan mengelomohi kepala penisnya. Toni juga tadi melihat
Andi, ia meremas-remas buah dadaku dengan semangat. Kadangkadang aku agak
menjerit karena sakit juga, mungkin gemes si Toni ini.
Herman masih asyik menyeruput vaginaku dan
klitorisku, dia cari dan disedot. Toni tadi tidak sampai mengisap-isap
klitorisku. Tak lama Andi meletup orgasmenya dan dengan rakus aku hisap kencang
sambil meremas-remas batangnya dan mengocok-ngocok supaya spermanya keluar
semua. Kutelan habis semua sperma itu. Toni ternganga lagi melihatku ganas
seperti itu dan binal sekali. "Man, Man sudah Man!" kata Andi. Herman
dengan segan mengangkat kepalanya dari vaginaku. Andi mengatakan, "Mbak
Etty, kami perlu membuat eksperimen lanjutan, boleh tidak?" Aku sudah
tidak bisa berpikir karena ingin sekali penis-penis ini kuremas dalam vaginaku.
Andi mengeluarkan pisau cukur Gillette dan
katanya, "Man kamu ambil itu sabun untuk cukur kita cukur jembut Mbak
Etty!" Toni masih terus meremas-remas buah dadaku dan kadang mempermainkan
puting susuku, dan dihisap-isapnya juga. Tanganku memegang batang penisnya dari
luar celana. Kemudian aku bilang, "Kalian tidak fair masak aku sendiri
yang telanjang bulat kalian semua buka juga dong!" Aku rasa aku mesti
lapor ke Jaya Suprana di MURI karena kalau ada rekor buka baju pasti mereka
menang. Dalam sekejab sudah telanjang semua. Herman dan Toni bulu kemaluannya
masih halus-halus, mereka baru SMU kelas I, kalau tidak salah ingatanku. Herman
mengoleskan sabun di bulu-bulu kemaluanku sambil jarinya iseng mencubiti
klitorisku. Dan Andi mulai mencukur dari mulai perut bawahku dengan hati-hati
sekali, dan terasa bulu kemaluanku berjatuhan dan dingin di tempat yang sudah
bersih. Terus Andi maju dan sekitar bibir tepi-tepi vaginaku juga. Ditariknya
lembar bibir vaginaku dan dicukurnya pelan-pelan. Dan dalam beberapa menit
gundul sudah vaginaku. Andi mengambil kaca kecil dan menyuruhku duduk. Aku
mengangkang sambil duduk dan Andi meletakkan kaca itu di depan vaginaku, ha ha
ha lucu sekali dan klitrosisku tampak jelas nongol, bibir vaginaku merekah dan
kelihatan seperti kerang mentah.
"OK, sekarang giliranku," kataku,
"Kalian bertiga tiduran, kita lihat siapa yang paling kuat, Mbak akan
tunggangi kalian satu persatu dan yang paling kuat lama malam ini boleh tidur
sama Mbak sampai pagi hadiahnya," kataku sambil senyum dengan buas dan
binalnya. Ketiganya cepat berbaring dan aku bilang, "Ambil bantal semua,
taruh bantal di bawah pantatnya!" Aku merasa liar sekali melihat ketiga
tiang bendera dari daging itu sudah berdiri tegak lurus. Hmm, aku mulai dari
Toni, dia berbaring di tengah dan aku jongkok di atas penisnya, kugenggam
batang itu dan kugosok-gosok kepalanya di mulut vaginaku. Pelan-pelan aku
jongkok lebih dalam dan kepala penisnya mulai masuk. Toni merem menikmati dan
mulutnya terbuka dan mendesah-desah keenakan. "Bless..." masuk semua
dan aku turun terus sampai terbenam dan aku mulai bergoyang berputar tanpa
naik-turun dengan cepat, genggaman vaginaku kukerahkan dengan kuat, terus
kuputar searah jarum jam. Buah dadaku yang montok bergoyang, satu di kiri
diremas Andi dan yang kanan diremas Herman, mereka juga ikut terengah-engah. Aku
mulai mengulek penis Toni ke depan dan ke belakang, berayun-ayun, pinggulku
berputar-putar, dan terasa hangat dan kerasnya penisnya di dalam vaginaku dan
mata Toni terbelalak ke atas sehingga kelihatan putihnya saja, dan badannya
melengkung kejang.
Dalam 2 menit sudah orgasme dia dan semprotan
maninya di dalam vaginaku panas sekali. Dan aku sendiri karena buah dadaku
diremas-remas kedua anak ini di kiri dan di kanan juga tak lama ikut meledak.
Suasana yang cabul ini menggelorakan birahi, dan aku mengejangkan badanku
menikmati orgasme entah keberapa. Kempitan vaginaku membuat Toni agak kesakitan
karena kuatnya otot dinding vaginaku. Terasa klitorisku menyentuh rapat ke
penis Toni, dengan terengah-engah aku berlutut dan kucabut vaginaku dari penis
Toni yang kuyup dengan sperma dan cairan kewanitaanku. Aku merangkak pindah
menungging di atas penis Herman, buah dadaku bergantung bebas, aku ingin
mengisap penis Herman dan menelan sumber awet muda, tadinya aku juga maunya
Toni aku sedot dulu spermanya yang penuh protein itu, hanya vaginaku gatal
sekali tadi. Dan setelah digaruk oleh kepala penis itu, enak sekali, agak
mending walau aku masih penuh birahi. Terasa Andi menggosok vaginaku dengan
tissue untuk melap mani Toni yang berleleran dan aku sudah tak perduli. Kuraih
batang penis Herman yang kulihat agak gemetar menahan gejolak senangnya, ia
membayangkan penisnya bakal aku sedot. Kuciumi dulu sepanjang batang penis dari
satu sisi ke sisi lain. kemudian kulekatkan lidahku di bagian bawah kepala
penisnya yang sudah berkilat-kilat basah dan kuputar sekitar penis itu dengan
lincah dan seketika menggelinjang Herman keenakan.
"Aduh Mbak Ettyyy..." dan tangannya
seketika mencengkeram rambutku dan mendorong agar penisnya masuk ke mulutku.
Aku sengaja hanya menyentuh dengan ujung lidahku di atas kepala penisnya, dan
tanganku mengelus-ngelus buah zakarnya yang sudah padat itu. Kuremas-remas buah
pelir itu dan ciuman-ciuman ke batang penis sekitar pelir membuat ia tambah
liar dan sudah seperti kuda liar. Menggeram minta agar aku menyedot. Ah anak
muda perjaka. Aku masukkan kepala penisnya saja ke dalam mulutku dan kukelomoh
seperti makan es krim Walls saja laiknya atau Lolipop. Pembaca wanita yang
belum pernah nyoba anda kehilangan cara-cara yang menakjubkan ini untuk memberi
nikmat pada pasangan anda (pasangan di rumah maupun di luar). Dan tanganku
tetap menggocok pelir dan batang Herman sementara itu dari belakang Toni
memelukku dan memerah-merah buah dadaku dan eh gila si Andi masuk ke
selangkanganku yang sudah di lapnya dan ia menarik pantatku sehingga aku
terduduk dengan vagina di atas mulut Andi. "Uihhh geli sekalii..."
dan Andi karena sudah lebih pengalaman (siapa dong gurunya) memberiku
kenikmatan selangit. "Aahhh..."
Gila deh aku dan tiga anak muda-muda dan telanjang
bulat semua. Sayang tidak ada kamera video waktu itu. Kuhisap kencang sampai
pipiku kempot dan lidahku menyambar-nyambar kepala penis di dalam dan akhirnya
Herman mengangkat tinggi-tinggi pantatnya dan aku hampir tersedak penisnya
masuk ke dalam rongga mulutku yang dalam, dan... "Srot... srott..."
Bertubi-tubi spermanya muncrat dan kusedot dan kutelan habis. Mbak-Mbak, ini
dia obat awet muda, rahasia lho. Dan Andi menyedot terus klitorisku sehingga
aku pun orgasme dan saking naik ke otak, mataku gelap dan aku duduk menekan
vaginaku di mulut Andi sambil berputar di situ. Aku tumbang ke samping dan Andi
bangun, mulutnya berbuih putih di sekitar bibirnya sehingga aku tertawa
melihatnya sambil terengah-engah. Dan Toni sudah ereksi lagi, Andi juga dan Herman
masih mencari nafas, penisnya separuh tegang. Kuambil air di gelas dan sambil
menenangkan nafas aku minum, eh lagi duduk gitu susuku sudah diremas-remas lagi
dan idih ini anak-anak, entah tangan siapa masuk mengorek-ngorek vaginaku dan
aku dipeluk dari belakang, siapapun aku sudah tidak perduli.
Aku menikmati mereka malam ini. Ujian biologi?
Hmm aku tahu mereka hanya buat alasan saja. Telingaku dicium dan dijilat entah
oleh siapa, perutku juga diciumi salah satu anak, dan aku langsung
spanning"Ayo Ton, maju-mundur, Mbak kepit dengan tetek nih penismu, enak
tidak."
"Eeenakk... Mbakkkk..." gumamnya
bingung.
Dia dengan canggung maju-mundur, keringat di
buah dadaku menjadi pelincinnya.
"Man kamu berlutut di atas mulut Mbak dan
sinikan penismu ke dalam mulut Mbak lagi," kataku.
Lalu akhirnya Andi menyemprotkan spermanya ke
dalam vaginaku, dan disusul Herman sambil mengerang kuhisap teras penisnya dan
muncratlah spermanya memenuhi mulutku. Toni masih terus menggesek-gesek
penisnya dikepit buah dadaku, lalu dia menyemprotkan spermanya sampai mengenai
dagu dan muka.
Mereka lalu lemas berbaring di samping kanan
dan kiriku, mereka benar-benar puas, dan ilmu mereka jadi bertambah, ilmu yang
mana? Ah aku tidak perduli, pokoknya aku puas dan dapat pengalaman uang bermacam-macam.
Sampai sekarang aku masih membutuhkan seks terutama yang muda-muda, agar awet
muda, dan aku benar bahagia menikmati semuanya ini.
TAMAT
Tidak ada komentar:
Posting Komentar