![amoy bugil seksi [Portal Seks]](https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgaLmjkS1YQHgxL-xfwcsdLD0hO2QWvXdgEqgAJWEk5RA4PdBFKcUu4mNakf8vI60pG2QpTmftSEnfOaj5407HzlxAajcoKUKPaHlql9n9vDe8qDaxNVEoOAZMKiDNFqOo0yIr6acqJ59yf/s1600/7153916a49d713c1ffe8c81f0e875d8d80d6ebf.jpg)
Aku segera menggendongnya dan membantunya
duduk di atas meja. Dengan begini aku akan lebih leluasa mencumbunya. Bibir
kami saling melumat. Bergerak lincah saling berlomba memberi kenikmatan tiada
tara. Tanganku mulai bergerak ke arah payudaranya. Aku meraba payudaranya dari
luar. Memberi remasan ringan dan gerakan memutar yang membuat Tante Yeni
menggelinjang. Perlahan aku menyusupkan tanganku ke balik pakaiannya. Kurasakan
tanganku tertahan. Tante Yeni menolak. Rupanya dia hanya ingin bercumbu
denganku.
Dasar cowok, aku mana tahan? Sudah kepalang
tanggung. Aku nekat tetap memasukkan tanganku dan dengan cepat aku berhasil
melepas kait bra-nya. Payudaranya terasa utuh di tanganku, masih sangat
kencang, masih sangat peka dengan rangsangan. Buktinya Tante Yeni bergetar
hebat saat aku meremas payudaranya.
"Gila kamu, Boy. Aku tidak memerlukan ini
semua.. Cukup peluk aku!" tegur Tante Yeni.
Aku tahu pikirannya memang menolak, tapi
tubuhnya tidak. Aku tetap merangsang payudaranya. Gerakan menolak tante Yeni
melemah. Dan akhirnya hanya desahan nafasnya yang memburu yang menandakan
birahinya telah bangkit. Dengan mulutku aku membuka kancing-kancing kemejanya.
Cukup sulit, karena ini baru pertama kali kulakukan. Tapi berhasil juga. Tante
Yeni tertawa melihat ulahku.
Kini aku bebas mencumbu payudaranya. Kujilat
dan kuhisap puting susunya. Tante Yeni melenguh panjang. Kedua tangannya
mencengkeram kepalaku. Wajahnya mencium rambutku. Sesekali dia menggigit
telingaku, sementara kepalaku, lidahku, bergerak bebas merangsang payudaranya.
Ugh, begitu enak dan nikmat. Payudaranya tidak terlalu besar namun seksi
sekali. Warnanya coklat kekuningan dengan puting yang cukup besar.
Aku bermain cukup lama di putingnya. Menggigit
ringan, menyapukan lidahku, menghisapnya lembut sampai agak keras. Kadangkala
hidungku juga kumainkan di putingnya. Nafas Tante Yeni semakin memburu. Tentu
saja untuk masalah nafas, aku lebih kuat darinya karena aku rajin berolahraga
menjaga stamina.
Tak lama tanganku menyusup ke balik roknya
untuk mencari vaginanya dan membelainya dari luar. Kurasakan celana dalamnya
telah basah. Tante Yeni merapatkan kakinya. Itu adalah penolakan yang kedua.
Kepalanya menggeleng ketika kutatap matanya. Aku terus menatap matanya dan
kembali mencumbunya. Aku tidak akan memaksanya. Tetapi aku punya cara lain. Aku
akan membuatnya semakin terangsang dan semakin menginginkan persetubuhan.
Perlahan cumbuanku turun ke lehernya.
"Ergh," kudengar lenguhannya. Wah,
lehernya sensitif nih, pikirku. Dengan intensif aku mencumbunya di leher.
Bergerak ke tengkuk hingga membuatnya semakin erat memelukku dan mencumbu
telinganya.
"Boy.." rintihnya. Telinganya juga
sensitif.
Aku bersorak. Semakin banyak titik tubuhnya
yang sensitif, semakin bagus. Lalu tanganku meraba punggungnya. Membuat gerakan
berputar-putar dan seolah menuliskan sesuatu di punggungnya. Tante Yeni semakin
bergairah.
"Ka.. mu.. Na.. kal. Kamu pin.. Pintar
sekali membuatku.. Bergairah.." jawabnya terputus-putus. Nafasnya semakin
memburu.
"Cie Yeni cantik sekali. Aku sangat
menginginkanmu, Cie.. Aku ingin membuatmu merasakan kenikmatan tertinggi
bersamaku.." bisikku sambil terus mencium telinganya.
"Aku juga menginginkanmu Boy.. Tapi aku
takut.." jawab tante Yeni.
Ya, aku harus membuatnya merasa aman. Dengan
gerakan cepat aku melepaskan pelukanku, mengganjal pintu dengan kursi dan
kembali mencumbunya. Saat itu di pikiranku cuma satu. Mengunci pintu justru
tidak baik. Mengganjal pintu jauh lebih baik. Kulihat Tante Yeni merespons
ciumanku dengan lebih kuat. Tanganku kembali mencoba merangsang vaginanya. Kali
ini kakinya agak terbuka. Aku berhasil memasukkan jariku dan menyentuh
vaginanya.
"Aahh.." Tante Yeni semakin
terangsang. Kakinya terbuka semakin lebar. Kini aku sangat leluasa merangsang
vaginanya. Jariku masuk menemukan klitoris dan membuatnya makin hebat dilanda
badai birahi.
Entahlah, aku sangat tenang dalam
melakukannya. Semakin intensif aku merangsang titik-titik lemah tubuhnya, aku
semakin tenang. Aku seperti maestro yang sangat ahli melakukan tugasnya. Wah,
rupanya aku berbakat dalam menyenangkan wanita, pikirku sampai tersenyum
sendiri.
Tante Yeni semakin dilanda birahi. Tangannya
kini tidak malu-malu melepas kancing celanaku dan mencari penisku. Setelah
menemukannya di balik celana dalamku, dia meremas dan mengocoknya. Aku semakin
terbakar. Kami sama-sama terbakar hebat. Perlahan aku melepas turun celana
dalamnya. Tidak perlu dilepas. Aku menatap matanya meminta persetujuannya. Mata
Tante Yeni nanar. Dia sangat kehausan dan sudah pasrah menerima apa pun
perbuatanku.
Perlahan penisku menembus liang vaginanya
tanpa kondom. Aku merasakan kenikmatan yang dahsyat. Benar-benar jauh lebih
nikmat dibandingkan dengan memakai kondom. Aku berani tanpa kondom karena aku
yakin dengan kesehatan Tante Yeni.
Aku mulai melakukan tugasku. Mendorong masuk,
menarik keluar, memutar, memompa kembali dan kami bercinta dengan dahsyat.
Suara penisku yang mengocok vaginanya terdengar khas. Aku mengerahkan segenap
kekuatanku untuk menaklukkannya. Tetapi benar-benar tanpa kondom membuatku
penisku lebih sensitif hingga belum begitu lama, aku sudah merasakan di ambang
orgasme.
Segera kuhentikan aksiku. Kucabut penisku dan
aku menenangkan diri. Kami berciuman. Aku tak mau birahi Tante Yeni surut.
Setelah agak tenang aku kembali memasukkan penisku. Kali ini aku tidak menggebu
dalam memompa penisku. Aku memilih menikmatinya perlahan-lahan. Setiap sodokan
aku lakukan dengan segenap hati hingga menghasilkan desahan dan rintihan nikmat
Tante Yeni yang sudah dua bulan tidak merasakan nikmatnya bercinta.
Gelombang badai birahi kembali melanda.
Keringat kami bercucuran, lumayan untuk membakar lemak. Kami memang sedang
berolahraga, olahraga paling nikmat sedunia. Making love. Bercinta sangat baik
untuk tubuh. Tidak hanya tubuh, tetapi pikiran juga jadi fresh. Secara
teoretis, ada semacam zat penenang yang dihasilkan tubuh saat kita bersenggama,
dan zat itu membuat kita sangat nyaman.
Aku heran juga dengan diriku yang ternyata
cukup kuat bercinta tanpa kondom. Penisku terasa agak panas. Aku belajar
menahan nafas dan sesekali saat kurasakan aku hendak mencapai puncak, aku
menghentikan kocokanku. Cukup sulit memang menahan orgasme. Aku berusaha
seperti menahan kencing. Dan usahaku berhasil. Setidaknya aku bisa bercinta
cukup lama mengimbangi Tante Yeni yang perlahan tapi pasti semakin menuju
puncak. Muka tante Yeni semakin kemerahan. Wajahnya yang mungil tampak sangat
cantik ketika sedang dilanda birahi.
"Cie Yeni cantik sekali.. Hebat juga
ketika bercinta.." bisikku. Lidahku kembali mencumbui payudaranya yang
semakin penuh dengan keringat.
"Arg.., kamu juga.. Enak sekali,
Boy.." ceracaunya.
Tante Yeni bolak-balik memejamkan mata,
membuka mata dan menggigit bibirnya. Nafasnya sangat tidak teratur. Ngos-ngosan
dan rambutnya semakin acak-acakan terkena keringat. Wah, pemandangan yang seksi
sekali saat seorang wanita bercinta.
Sebenarnya aku ingin mengubah posisi lagi. Aku
ingin lebih lama bercinta. Tetapi aku agak khawatir juga. Sudah cukup lama kami
di dalam ruangan ini. Aku khawatir Mbak Ning nanti tiba-tiba mengintip atau
mencuri dengar. Aku khawatir karena Mbak Ning cukup punya kecerdasan untuk
berpikir yang tidak-tidak.
Dari bahasa tubuh Tante Yeni, aku yakin
orgasmenya sudah semakin dekat. Gerakan tubuhnya semakin cepat. Cengkeraman
tangannya di punggungku kurasa telah melukai punggungku. Terkadang giginya
bergemeretak menahan nikmat. Dia tampak sekali berusaha untuk tidak menjerit.
"Agh.. Arrhhk.. Aku sudah ham..
pir.." rintihnya.
Tanganku meraih bra Tante Yeni dan
meletakkannya di mulutnya supaya dia bisa menggigit bra itu. Daripada menjerit,
lebih baik menggigit bra sekuatnya. Penisku semakin gencar menghunjam
vaginanya. Sodokanku semakin kuat dan temponya kupercepat. Aku belajar untuk
sama-sama mencapai orgasme dengan Tante Yeni walaupun menurutku sangat sulit
untuk bisa orgasme bersamaan. Setidaknya, aku berencana membiarkannya orgasme
terlebih dulu, baru aku menyusul.
"Arghh.. Ya.. Terus.. Yah.. Dikit
lagi.." erang Tante Yeni agak tidak jelas karena sambil menggigit bra.
Aku menjaga semangat dan menjaga penisku agar
tetap kuat bertempur. Kurasakan penisku juga semakin panas. Aku juga sudah
mendekati puncak. Aliran sperma dari bawah sudah merambat naik siap menyembur.
Gerakan Tante Yeni semakin menyentak-nyentak. Untung meja di ruangan itu adalah
meja kayu yang kosong. Kalau seandainya ada buku atau ballpoint pasti sudah
berantakan terlempar.
Beberapa saat kemudian aku merasakan tubuh
Tante Yeni bergetar hebat. Menghentak-hentak dan tangannya mencengkeram
sangat-sangat-sangat-kuat. Dia memelukku sangat erat. Dari mulutnya keluar
semacam raungan yang tertahan.. Seandainya ini di kamar hotel, pasti dia sudah
menjerit sepuasnya.
"Aargghh.. Sstt.."
Aku merasakan ada cairan hangat meleleh
keluar. Tidak seberapa banyak tetapi membuat penisku semakin panas. Tante Yeni
orgasme sementara aku juga sudah semakin dekat. Inilah saatnya. Aku mempercepat
kocokanku. Cepat.. Dan aku mencabut penisku.
Crot..!! Srr.. R.. Srr.. Srr.. Spermaku berhamburan
muncrat di perut dan dada Tante Yeni. Ah.., nikmat sekali mencapai puncak.
Perjuanganku tidak sia-sia. Aku yang selama ini rutin berlatih menahan kencing,
melatih otot-otot perut dan penisku, sukses mengantarkan Tante Yeni menggapai
orgasmenya. Dibandingkan ketika making love dengan Ria dan Ita, kali ini lebih
mendebarkan dan menantang. I did it.
Tante Yeni segera mencari tissue dan
membersihkan ceceran spermaku. Kurang dari semenit kemudian dia sudah memakai
bra dan kemejanya kembali. Celana dalam dan roknya tinggal merapikan saja. Aku
pun tinggal merapikan celanaku.
Beberapa saat kami berpandangan. Ada rona puas
di wajah Tante Yeni. Dia tersenyum manis. Sekarang dia bukan lagi sekedar
clientku. Bukan lagi sekedar orang tua muridku. Sekarang dia adalah partner
sex-ku. Ada rasa aneh menjalar di tubuhku. Aku tiba-tiba merasa begitu
menghormati wanita di hadapanku ini. Sinar matanya yang tegas, pembawaannya
yang mandiri, dikombinasi dengan senyum dan kelembutannya, sungguh mempesona.
Aku sangat bangga bisa memberinya kenikmatan.
"Maaf Cie.. Sudah melangkah jauh
sekali.." kataku.
"Ya! Kamu tidak sopan sekali, tadi!"
katanya bergurau tetapi dalam nada agak tegas.
Kami pun tertawa bersama. Aku memeluknya.
Mencium dahinya. Merapikan rambutnya yang agak basah terkena keringat. AC di
ruangan itu sangat membantu tubuh kami cepat kering.
"Habis Cie Yeni, sudah tahu aku lagi
horny malah diundang kemari.." kataku membela diri.
"Terus terang aku juga lagi pengen, Boy.
Begitu tahu kamu ternyata sudah pengalaman, aku jadi tergoda denganmu. Tapi
memang tadi aku sangat takut melangkah. Untung kamunya nekat.. Aku jadi
terpuaskan, deh. Makacih ya.."
Ya ampun.. Bisa-bisanya Tante Yeni bicara
manja seperti ini. Aku sampai merasa bagaimana.. gitu. Aneh. Wanita memang
makhluk paling aneh sedunia. Di balik penampilannya yang keras dan tegar, toh
dia tetap wanita juga. Sisi lembutnya tetap ada.
"Ya.. Aku juga senang sekali bisa
memuaskan Cie Yeni. Aku juga belajar banyak lho. Sepertinya tadi Cie Yeni
kurang suka dengan permainan tanganku di vagina ya?"
"Bukan begitu. Aku tidak tahu apakah
tanganmu bersih atau tidak. Tapi lama kelamaan karena enak, ya sudah..
diteruskan saja.."
"Oh jangan kuatir.. Aku selalu sedia
handy desinfectant kok. Biar tanganku bebas kuman." Kataku menenangkannya.
Aku tadi memang pakai handy desinfectant, tapi kan tetap saja aku pegang setir
mobil. Haha.. Yang ini tidak aku ceritakan. (Kalau Cie Yeni baca cerita ini, maafin
ya..)
"Yah baguslah. Aku juga suka karena kamu
selalu terlihat bersih dan harum.." tante Yeni mencium bibirku lagi. Kami
kembali berpagutan. Lidahku kembali menerobos mulutnya. Menekan lidahnya,
saling bergelut. Kami terus berciuman sambil berpelukan.
Banyak pria melupakan kenyataan bahwa ada
hubungan yang harus dibina setelah kita berhubungan sex. Setelah terjadi
orgasme, wanita tetap membutuhkan sentuhan, pelukan dan ciuman. Wanita sangat
berharga. Jangan sampai kita para pria, begitu mendapatkan orgasme, langsung
selesai begitu saja. Harus Ada after orgasm service. Ini adalah salah satu
kunci yang aku pegang untuk membuat wanita merasa nyaman bersamaku. Kami
berpelukan dan dengan jelas aku mendengar suara Tante Yeni..
"Aku menyayangimu, Boy. Terima kasih buat
semuanya. Aku merasa dihargai dan dibutuhkan olehmu.." kata-kata ini tidak
akan pernah aku lupakan. Kalau Cie Yeni membaca cerita ini, Cie Yeni pasti
ingat bahwa kata-katanya sama persis dengan yang kutulis. (Kecuali namaku,
yaa.. Hehe).
Sebetulnya aku harus menanyakan arti sex bagi
Tante Yeni. Tapi aku menundanya. Aku pikir aku bisa menanyakannya lain kali.
Entah mengapa aku tidak bertanya.
Lalu kami keluar dari ruangan itu. Aku tidak
melihat Mbak Ning. Sengaja aku ke kamar mandi dan kemudian aku mengintip ke
kamar Mbak Ning dari kaca nako kamarnya. Astaga, dia sedang berganti baju.
"Hayo.. Ngintip! Dasar cowok!"
hardik Mbak Ning. Aku terkejut tapi tertawa.
"Maaf-maaf, kupikir dimana tadi kok tidak
ada.. Aku pulang dulu ya.."
"Ya.. Ya.. Buka sendiri pagarnya
yaa"
TAMAT
Baca : Part 1
Tidak ada komentar:
Posting Komentar