![amoy [Portal Seks]](https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgmXLhbhfEL8HNf0cxF2g4RRAwdCIVjNiFuwuia3xOoeihASUtIp89JmtSWViD4uT3Irxn0GJBwyRGfCIXCm8-ryAy8UEHi6FU9Jqj0S8FRzDSF3hfOgTQqLkJhe5wva06X6T1s7zLDqpZg/s1600/71539223d057691f90f923f33c2923c6b5231a3.jpg)
Tante Yeni seorang keturunan chinese dan jawa.
Orangnya mungil dengan tinggi 155 cm dan berat 50 kg. Cukup seksi untuk seorang
berusia 35 dengan tiga orang anak. Payudaranya berukuran 36A. Rambutnya lurus
dan berkacamata minus. Tante Yeni cukup cantik karena sebagai pengusaha dia
sangat memperhatikan penampilan dan kebugaran tubuhnya. Orangnya teliti, tegas,
agak acuh dan tipikal wanita yang mandiri
Setelah aku menyelesaikan program mini
marketnya, aku mengantarkannya ke rumahnya yang hanya berjarak sepuluh menit
dari rumahku. Tante Yeni tidak ada dan di rumahnya hanya ada si bungsu Cynthia
dan pembantunya, Mbak Ning. Cynthia yang masih kelas 4 SD sedang bermain-main
boneka. Aku sangat menyukai anak kecil. Melihat Cynthia, aku jadi ingin
bermain-main dengannya. Beralasan menunggu Tante Yeni pulang, aku kemudian
meluangkan waktuku untuk bercakap-cakap dengan Mbak Ning dan bermain boneka
dengan Cynthia.
Tak lama aku mulai akrab dengan Mbak Ning dan
Cynthia. Mbak Ning ini, biar pun pembantu rumah tangga, tetapi sikap dan cara
berpikirnya tidak seperti gadis desa. Dia cukup cerdas dan bagiku, hanya
kemiskinanlah yang membuatnya harus rela menjadi pembantu. Seharusnya dia bisa
menjadi lebih dari itu dengan kecerdasannya.
Setelah hampir satu jam aku di sana, Tante
Yeni pulang. Kulihat dia agak heran melihatku bermain-main dengan Cynthia dan
mengobrol santai dengan Mbak Ning.
"Kamu bisa akrab juga dengan Cynthia..
Padahal si Cynthia ini agak sulit berinteraksi lho dengan orang baru.."
sapa Tante Yeni ramah. Harum tubuhnya membuatnya terlihat semakin cantik.
"Iya nih.. Mungkin Cynthia suka dengan Om
Boy yang lucu.. Ya kan Cynthia?" candaku sambil mengusap kepala Cynthia.
Gadis kecil itu tersenyum manis.
"Kau bawa programnya ya? Ada petunjuk
pemakaiannya kan?"
"Ada dong. Tapi untuk mempercepat,
sebaiknya aku menerangkan langsung pada karyawanmu, Cie." Aku sengaja
memanggil Tante Yeni dengan panggilan "Cie" karena dia masih terlihat
sebagai wanita Chinese. Lagipula, panggilan "Cie" akan membuatnya
merasa lebih muda.
Sejak hari itu, aku semakin akrab dengan
keluarga Tante Yeni. Apalagi kemudian Tante Yeni memintaku untuk memberikan
kursus privat komputer pada Edy dan Johan, dua anaknya yang masing-masing kelas
duduk di kelas 1 SMP dan kelas 6 SD. Sedangkan untuk Cynthia, aku memberikan
privat piano klasik. Karena rumahnya dekat, aku mau saja. Lagi pula Tante Yeni
setuju membayarku tinggi.
Aku dan Tante Yeni sering ber-SMS ria,
terutama kalau ada tebakan dan SMS lucu. Dimulai dari ketidaksengajaan, suatu
kali aku bermaksud mengirim SMS ke Ria yang isinya, "Hai say.. Lg ngapain?
I miz u. Pengen deh sayang-sayangan ama u lagi.. Aku pengen kita bercinta
lagi.."
Karena waktu itu aku juga baru saja ber-SMS
dengan Tante Yeni, refleks tanganku mengirimkan SMS itu ke Tante Yeni! Aku sama
sekali belum sadar telah salah kirim sampai kemudian report di HP-ku datang:
Delivered to Ms. Yeni! Astaga! Aku langsung memikirkan alasan jika Tante Yeni
menanyakan SMS itu. Benar! Tak lama kemudian Tante Yeni membalas SMS salah
sasaran itu.
"Wah.. Ini SMS ke siapa ya kok romantis
begini.." Wah, untung aku dan Tante Yeni sudah akrab. Jadi walaupun
nakalku ketahuan, tidak masalah.
"Maaf, Cie. Aku salah kirim. Pas lagi
horny nih. :p Maaf ya Cie.." balasku. Aku sengaja berterus terang tentang
'horny'ku karena ingin tahu reaksi Tante Yeni.
"Wah.. Kamu ternyata sudah berani
begituan ya! SMS itu buat pacarmu ya?"
"Bukan Cie. Itu TTH-ku. Teman Tapi Hot..
Hahaha.. Tidak ada ikatan kok, Cie.."
Beberapa menit kemudian, Tante Yeni tidak
membalas SMS-ku. Mungkin sedang sibuk. Oh, tidak, ternyata Tante Yeni
meneleponku.
"Lagi dimana Boy?" Tanya Tante Yeni.
Suaranya lebih akrab daripada biasanya.
"Di kamar sendirian, Cie. Maaf ya tadi
SMS-ku salah kirim. Jadi ketahuan deh aku lagi pengen.." jawabku. Kudengar
Tante Yeni tertawa lepas. Baru kali ini aku mendengarnya tertawa sebebas ini.
"Aku tadi kaget sekali. Kupikir si Boy
ini anaknya alim, dan tidak mengerti begitu-begituan. Ternyata.. Hot sekali!"
"Hm.. Tapi memang aku alim lho,
Cie.." kataku bercanda.
"Wee.. Alim tapi ngajak bercinta.. Siapa
tuh cewek?"
"Ya teman lama, Cie. Partner sex-ku yang
pertama." Aku bicara blak-blakan. Bagiku sudah kepalang tanggung. Aku rasa
Tante Yeni bisa mengerti aku.
"Wah.. Kok dia mau ya tanpa ikatan
denganmu?" tanyanya heran. Aku yang dulu juga sering heran. Tetapi memang pada
kenyataannya, sex tanpa ikatan sudah bukan hal baru di jaman ini.
"Kami bersahabat baik, Cie. Sex hanya
sebagian kecil dari hubungan kami." Jawabku apa adanya.
Aku tidak mengada-ada. Dalam beberapa bulan
kami berteman, aku baru satu kali bercinta dengan Ria. Jauh lebih banyak kami
saling bercerita, menasehati dan mendukung.
"Wah.. Baru tahu aku ada yang seperti itu
di dunia ini. Kalau kalian memang cocok, kenapa tidak pacaran saja?"
"Kami belum ingin terikat. Terkadang
pacaran malah membuat batasan-batasan tertentu. Ada aturan, ada tuntutan, ada
konsekuensi yang harus ditanggung. Dan kami belum menginginkan itu."
"Lalu, apa partnermu cuma si Ria dan
partner Ria cuma kamu?" selidik Tante Yeni.
"Kalau tentang Ria aku tidak tahu. Tapi
tidak masalah bagiku dia bercinta dengan pria lain. Aku pun begitu. Tapi tentu
saja kami sama-sama bertanggung jawab untuk berhati-hati. Kami sangat selektif
dalam bercinta. Takut penyakit, Cie."
"Oh.. Safe Sex ya? "
"Yup! Oh ya dari tadi aku seperti obyek
wawancara. Tante sendiri bagaimana dengan Om? Kapan terakhir berhubungan
sex?" tanyaku melangkah lebih jauh. Kudengar Tante Yeni menarik nafas
panjang. Wah.. Ada apa-apa nih, pikirku.
"Udah kira-kira 2 bulan yang lalu,
Boy." Jawabnya.
Lama sekali. Pasti ada yang tidak wajar. Aku
jadi ingin tahu lebih banyak lagi.
"Ko Fery Impotent ya Cie?"
"Oh tidak.. Entah kenapa, dia sepertinya
tidak bergairah lagi padaku. Padahal dia dulu sangat menyukai sex. Minimal satu
minggu satu kali kami berhubungan."
"Lho, Cie Yeni berhak minta dong. Itu kan
nafkah batin. Setiap orang membutuhkannya. Sudah pernah berterus terang,
Cie?" tanyaku.
"Aku sih pernah memberinya tanda bahwa
aku sedang ingin bercinta. Tetapi dia kelihatannya sedang tidak mood. Aku tidak
mau memaksa siapa pun untuk bercinta denganku."
"Oh.. Kalau Boy sih tidak perlu dipaksa,
juga mau dengan Cie Yeni.." godaku asal saja. Toh kami sudah akrab dan ini
memang waktu yang tepat untuk mengarah ke sana.
"Boy, kamu itu cakep. Masa mau dengan
orang seumuran aku? Suamiku saja tidak lagi tertarik denganku.."
"Cie Yeni serius? Aku tidak menyangka lho
Cie Yeni bisa bicara seperti ini. Cie Yeni masih muda. 35 tahun. Seksi dan
modis. Kok bisa-bisanya rendah diri ya? Padahal Cie Yeni terlihat sangat
mandiri di mataku.." aku tak bisa menyembunyikan keterkejutanku. Bagaimana
bisa, sebuah SMS salah sasaran, dalam waktu singkat bisa berubah menjadi
obrolan sex yang sangat terang-terangan seperti ini.
"Kamu lagi nganggur kan? Datang ke
rumahku sekarang ya? Suamiku tidak ada di rumah kok. Dia masih di kantor."
Telepon ditutup. Darahku berdesir. Benarkah
ini? Seperti mimpi. Sangat cepat. Bahkan aku tidak pernah bermimpi sebelumnya
untuk mendapatkan Tante Yeni. Selama ini aku sangat menghormatinya sebagai
clientku. Sebagai orang tua dari murid privatku.
Bergegas aku mengambil kunci mobil dan pergi
ke rumah Tante Yeni. Di sepanjang jalan aku masih tak habis pikir. Apakah benar
nanti aku akan bercinta dengan Tante Yeni? Rasanya mustahil. Ada Cynthia dan
Mbak Ning di rumahnya. Belum lagi kalau ternyata Edy dan Johan juga sudah
pulang dijemput sopirnya.
Sampai di rumah Tante Yeni, ternyata rumahnya
sedang sepi. Cynthia sedang tidur dan hanya Mbak Ning yang sedang santai
menonton televisi.
"Di tunggu Ibu di ruang computer,
Kak." Kata Mbak Ning. Dia memanggilku 'kakak' karena usiaku masih lebih
tua darinya.
"Oh iya.. Terima kasih, Ning. Ada urusan
sedikit dengan programnya nih." Kataku memberikan alasan kalau-kalau Mbak
Ning bertanya-tanya ada apa aku datang.
Aku masuk ke ruang computer yang di dalamnya
juga ada piano dan lemari berisi buku-buku koleksi Tante Yeni.
"Tutup saja pintunya, Boy." Kata
Tante Yeni.
Tiba-tiba jantungku berdebar sangat keras.
Entah mengapa, berbeda dengan menghadapi Lucy, Ria dan Ita, aku merasa aneh
berdiri di depan seorang wanita mungil yang usianya di atasku. Setelah aku
menutup pintu, belum sempat aku duduk, Tante Yeni sudah melangkah
menghampiriku. Dia memelukku. Tingginya cuma sebahuku. Harum tubuhnya segera
membuatku berdesir. Pelukannya sangat lembut. Kepalanya disandarkan ke dadaku.
Aku tak tahu harus berbuat apa. Ini adalah
pengalaman pertamaku dengan wanita yang usianya di atasku. Aku takut salah. Apa
aku harus berdiam diri saja? Memeluknya? Menciumnya? Atau langsung saja
mengajaknya bercinta? Pikiranku saling memberi ide. Banyak ide bermunculan di
otakku. Beberapa saat lamanya aku bingung. Pusing tidak tahu harus berbuat apa.
Akhirnya aku memilih tenang. Aku ingin tahu apa yang Tante Yeni inginkan. Aku
akan mengikutinya. Kali ini aku main safe saja. No risk taking this time.
"Cie Yeni adalah masalah?" bisikku.
Kurasakan pelukan Tante Yeni semakin erat. Dia tidak menjawab. Aku juga diam.
Benar-benar situasi baru. Pengalaman baru. Kurasakan penisku tidak bergerak.
Rupanya pelukan Tante Yeni tidak membangkitkan gairahku.
"Aku cuma ingin memelukmu. Sudah lama aku
tidak merasa senyaman ini di pelukan seorang laki-laki. Kamu tidak keberatan
kan aku memelukmu?" akhirnya Tante Yeni berbicara.
"Tentu saja aku tidak keberatan, Cie.
Peluk saja sepuas Cie Yeni. Apapun yang Cie Yeni inginkan dariku, kalau aku
mampu, aku akan melakukannya." Kurasakan tangannya mencubitku.
"Sok romantis kamu, Boy. Aku bukan gadis
remaja yang bisa melayang mendengar kata-kata rayuanmu.. Wuih, apapun yang kau
inginkan dariku.. Aku akan melakukannya.. Hahaha.. Gak usah pakai begituan. Aku
sudah sangat senang kalau kamu mau kupeluk begini.."
Benar juga kata Cie Yeni. Hari itu aku belajar
menghadapi wanita dewasa. Belajar apa yang mereka butuhkan. Bagi Tante Yeni,
kata-kata manis tidak diperlukan. Tapi tentu saja, aku tidak seratus persen
percaya. Bagiku, tidak ada wanita di dunia ini yang bisa menolak pujian dengan
tulus. Perasaan wanita sangat peka. Wanita punya sense untuk mencerna setiap
kata-kata pria. Apakah rayuan, apakah pujian yang tulus, atau hanya bunga
bahasa untuk tujuan tertentu. Dan aku memilih untuk memujinya dengan setulus
hatiku.
"Cie Yeni, aku beruntung bisa dipeluk
wanita sepertimu. Siapa sangka SMS salah kirim bisa berhadiah pelukan?"
candaku. Memang benar aku merasa beruntung. Ini bukan bunga bahasa, bukan
rayuan. Dan aku yakin perasaan Cie Yeni akan menangkap ketulusanku.
"Yah.. Aku simpati denganmu yang bisa
bergaul akrab dengan anak-anakku. Kamu juga tidak merendahkan si Ning. Kulihat
memang pantas kau mendapatkan pelukanku, Boy.." bisik tante Yeni lagi.
Kali ini wajahnya mendongak menatapku. Ada senyum tipis menghias bibirnya. Ugh..
Aku jadi ingin menciumnya.
Di satu sisi aku tahu bahwa aku salah. Tante
Yeni sudah berkeluarga dan keluarganya harmonis. Tapi di sisi lainnya, sebagai
cowok normal aku menikmati pelukan itu. Bahkan aku ingin lebih dari sekedar
pelukan. Aku ingin menciumnya, melepaskan pakaiannya, dan memberinya sejuta
kenikmatan. Apalagi Tante Yeni sudah 2 bulan lebih tidak mendapatkan nafkah
batin. Pasti dia sangat haus sekarang. Aku mulai memperhitungkan situasi. Kami
dalam ruang tertutup yang walaupun tidak terkunci, cukup aman untuk beberapa
saat. Mbak Ning tidak mungkin masuk tanpa permisi. Satu-satunya kemungkinan
gangguan adalah Cynthia.
Perlahan aku memberanikan diri menyentuh wajah
Tante Yeni. Dengan dua buah jariku, aku membelai wajahnya lembut. Mataku
menatapnya penuh arti. Kulihat Tante Yeni gelisah, tetapi ia menikmati
sentuhanku di wajahnya. Aku menggerakkan wajahku menunduk mencari bibirnya.
Sekejap kami berciuman. Bibirnya sangat penuh. Sangat hangat. Baru beberapa
detik, ciuman kami terlepas. Tante Yeni menyandarkan kepalanya ke dadaku.
"Aku salah, Boy. Aku mulai
menyayangimu.." bisiknya nyaris tak kudengar.
Aku yang sudah merasakan ciumannya mendadak
ingin lebih lagi. Dasar cowok!, rutukku dalam hati. Apalagi aku sedang horny.
Aku mencoba mengangkat wajahnya lagi. Ada sedikit penolakan, tapi wajahnya
menatapku kembali. Aku tak berani menciumnya. Dan Tante Yeni menciumku,
menghisap bibirku, memasukkan lidahnya, menggigit kecil bibirku. Dan akhirnya
kami bercumbu dengan hasrat membara. Kami sama-sama kehausan.. Agh.. Aku tak
peduli lagi. Wanita yang kuhormati ini sedang kupeluk dan kucumbu. Dia
membutuhkanku dan aku juga membutuhkannya. Yang lain dipikirkan nanti saja.
Nikmati saja dulu, pikirku cepat.
Bersambung...
Baca : Part 2
Tidak ada komentar:
Posting Komentar