![amoy [Portal Seks]](http://img9.uploadhouse.com/fileuploads/6791/6791189413d4643dbbc30a3a55f463d52656fd9.jpg)
Rini meliukkan lehernya. Kepalanya menggiring
bibirnya meluncur ke leher Pakde. Dia memberikan sedotan cupang di seputar
leher dan kuduknya. Bulu-bulu Pakde tegak merinding.
Kecupan dan jilatan itu mendongkrak
saraf-saraf birahinya. Dan bibir seta lindah terus merambat meluncur turun ke
dadanya. Dia kecupi buah dada Pakde dan bibirnya serta lidahnya menggigit dan
menjilati puting-puting susunya. Nampak betapa bibir-bibir mungil istrinya
membuka dan mengatup mengecupi bukit-bukit dada itu. Sesekali lidahya menjulur
untuk menjilati berbagai rasa yang keluar dari pori-pori tubuh Pakdenya. Kini
yang didengar Herman adalah desis Pakde yang menahan geli birahi akibat ulah
istrinya itu. Tak puas-puasnya Rini menyedoti dada Pakde. Terkadang rambatan
bibirnya juga menepi ke kanan atau ke kiri dada hingga semburat aroma ketiak
Pakdenya yang tampan itu menerpa hidung Rini.
Rambatan ciuman itu terus meluncur turun
keperut Pakdenya. Bulu-bulu halus mulai Rini rasakan di lidahnya. Bulu-bulu itu
tumbuh berkesinambungan dari arah lebih bawah lagi. Bulu-bulu itu menjadi awal
bagi lidah dan bibir Rini memasuki wilayah kemaluan Pakde Karto. Nampak
penisnya yang tegak kaku bak tugu Monas itu seakan mengganjal leher dan bahu
Rini. Dengan pipinya Rini menyisihkan batang tegak kaku itu untuk membuka jalan
menggiring bibirnya terus turun hingga ke selangkangan Pakde. Beberapa kali
Pakde menyibak sebaran rambut Rini agar tidak mengganggu alur lidah dan
bibirnya yang terus berkecipak menyedot dan menjilat. Dia rasakan sangat
nikmatnya bak siput sawah yang sedang merambati wilayah selangkangannya.
Tentu saja kini posisi duduk Pakde harus
disesuaikan dengan kejaran nikmat bibir Rini ini. Dia memerosotkan tubuhnya
pada bantalan sofa itu untuk memberikan ruang yang lebih terbuka kepada Rini
saat mulai menggarap kedua selangkangannya. Dan kini wajah Rini benar-benar
terjebak dalam rimbunan bulu kemaluan di seputar selangkangan Pakde Karto.
Sesekali nampak kepalanya menggeleng kecil untuk mendorong agar lidah atau
bibirnya bisa menjangkau pori-pori selangkangan itu.
Nampaknya Pakde tak mampu menahan kegelian
yang melandanya. Dengan kedua tangannya dia merengkuh dan menjambak rambut
Rini. Dia merintih sambil seakan hendak mencabut-cabut akar rambut itu. Dan
rintihan Pakde itu membuat Rini semakin ganas serta liar untuk meningkatkan
serangan birahinya. Pipinya yang semula digunakan untuk menyisihkan penis, kini
dia gunakan untuk menariknya kembali. Batangan penis Pakde yang tonggak kaku itu
mulai dia jilati. Dia tusukkan lidah lembutnya pada lubang kencing Pakde.
Lubang kencing yang nampak macam belahan jamur merang itu langsung merah
merekah menahan desakan darah syahwat yang menjalari penisnya.
Betapa nikmat saat lidah menyentuh saraf-saraf
peka pada lubang itu. Gelinjangnya membuat Pakdenya seakan melonjak dari tempat
duduknya. Mungkin itu semacam kekagetan saraf menerima sentuhan lembut lidah
Rini yang sangat merangsang syahwatnya. Dan kemudian Rini mengkulum seluruh
kepala dan batang penis itu. Dia memompa, menyedot, menjilat, mengkulum tonggak
bulat panas yang kaku dan berkilatan dengan urat-urat yang kasar mengelilingi
seluruh geligirnya.
Pemilik tonggaknya mendesah keras dan merintih
dalam gelombang nikmat yang datang bertubi.
Herman memperhatikan betapa mata istrinya
merem melek menikmati kelakuannya sendiri itu. Dan juga bertanya, kenapa dia
nggak pernah menerima perlakuan macam itu selama 3 tahun perkawinan ini??
Adakah ini karena kepiawaian Pakde Karto dalam menggiring birahi Rini? Sehingga
membuat seluruh potensi syahwat istrinya terdongkrak keluar?
Rambut Rini yang panjang sering menghalangi
pandangan Herman pada apa yang sedang berlangsung. Nampaknya Rinilah yang
sekarang ganti memanjakan Pakde Karto dengan oralnya. Dia ciumi dan jilat
bijih-bijih pelir Pakde. Lidahnya bolak-balik melata merambati pangkal hingga
ujung kemaluan yang tegak kaku itu. Pakde Karto tidak keliru membaca perempuan.
Betul-betul kini dia serasa terbang melayang diangkasa nikmat. Apa yang kini
sedang dilakukan Rini sesuai dengan bacaannya. Rini adalah perempuan seksual
yang sangat galak dan panas. Perempuan dengan betis 'merit' macam istri Herman
ini tak mudah dipuaskan. Oleh karenanya pada garapan awal tadi Pakde Karto
pusatkan pada bagaimana Rini bisa cepat disambar syahwatnya hingga tinggal
kehendaknya sendirilah yang akan mendorong cepat atau lambat datangnya
orgasmenya. Dan itu sudah terjadi.
Kini perempuan ini sudah kembali menimba
birahinya. Kenikmatan orgasme beruntun yang dia rasakan tadi membuatnya
ketagihan. Lihat, kini dia akan berusaha orgasmenya berulang kembali. Dia pikir
dengan merangsang penisnya Pakde Karto akan cepat mengejar nafsunya. Dan
harapan Rini untuk digenjoti lagi oleh Pakde akan kesampeyan. Tetapi dia
keliru. Pakde Karto bukan anak kemarin sore. Dia bukan Herman. Kenikmatan yang
kini diberikan Rini akan di 'follow up' di mulut Rini sendiri. Kini Pakde
sedang mengamati dengan penuh nafsu bagaimana mulut cantik mungil Rini
mengecupi penisnya. Dia mengamati bibir-bibir seksi istri Herman ini berkecipak
melahap batang penisnya. Dia ingin bibir ini nantinya belepotan oleh semprotan
spermanya. Dia ingin sekali menumpahkan air maninya ke mulut Rini. Dia pengin
menyaksikan bagaimana Rini menenggak cairan kentalnya. Ya, dia ingin sekali.
Bahkan dia mungkin akan sedikt paksa Rini untuk menjilati cairan kentalnya yang
tercecer. Itulah nafsu hewaniah Pakde Karto yang kini merundung dirinya.
Tangan-tangannya kembali mengelusi lembut kepala Rini, sementara khayalan
birahinya terbang melesat ke awang-awang untuk menjemput puncak-puncak
nikmatnya. Dia mulai mengerang dan mendesis. Dan Rini terjebak.
Dia menikmati erang dan desis Pakde dengan
cara lebih meliarkan jilatan dan gigitan-gigitannya.
Tetapi situasi berikutnya berubah. Kendalinya
terlepas dan diambil alih Pakde Karto. Tanpa mau melepas rengkuhan Rini pada
penisnya Pakde bangkit dari sofa empuk itu. Dibimbingnya Rini untuk naik kesofa
dengan kepalanya bersandar pada ke bantalannya. Dengan penisnya yang tak pernah
lepas dari mulut lembut Rini, kini posisi Pakde berada di atasnya dengan
selangkangnnya mengangkang di atas dada Rini. Sementara Rini masih berpikir
bahwa sesaat lagi Pakde akan merambati tubuhnya untuk menusukkan kembali
kemaluannya pada vaginanya.
Tetapi sekali lagi harapan Rini ini keliru.
Kini Pakde seperti sedang kerasukan nikmat dan merasakan bagaimana seakan
spermanya datang dari seribu arah menjalari berjuta saraf-saraf di seputar
selangkangannya untuk meledak dan tumpah di mulut Rini. Dan ketika batas batas
sarafnya telah terlanggar oleh birahi, dengan suara erangan yang keras dari
mulutnya dengan disertai tangan-tangannya yang kuat menekan kepala Rini agar
tetap terpaku di sofa selama penis Pakde tetap menghunjam-hunjam ke rongga
mulut Rini, Pakde telah siap menyemprotkan air maninya ke mulutnya. Dan Rini
memang tak lagi mampu berkutik. Tekanan tangan Pakde terlampau kuat untuk
ditolak. Akhirnya dia menyadari apa yang Pakde mau. Dia langsung pasrah. Bahkan
selintas dia sempat berpikir tentang Herman. Biarlah Herman menyaksikan apa
yang memang dia harus saksikan.
Sperma Pakde tumpah ruah menyemprot membanjir
memenuhi mulutnya. Anggukan-anggukan penis Pakde menandai setiap semprotan
spermanya. Mulut manis mungil Rini tak mungkin menampung seluruhnya. Sebagian
tertelan membasahi tenggorokannya, sebagian lainnya muncrat tercecer ke
dagunya, dadanya dan juga ke jok kulit sofa buatan Italy itu. Saat akhirnya
Rini benar-benar menjilati sperma yang tercecer dia ingat kembali saat bersama
Pandi di Parangtritis itu. Dan Pakde Kartopun terpenuhi harapannya.
Herman terbengong-bengong menyaksikan
bagaimana nafsu liarnya Rini di atas sofa bersama Pakde Karto itu. Benar-benar
tak habis mengerti, bahwa Rini yang kesehariannya cantik dan lembut itu bisa
berubah menjadi malaikat seks yang dengan ganas membawa prahara birahi untuk
menenggelamkan nafsu Pakdenya kedalam nikmat syahwat yang tak pernah dia
berikan pada siapapun sebelumnya. Pakde Karto merasa bahwa menganggap lunas
hutang suaminya amat sepadan dengan apa yang di berikan Rini kepadanya.
Dielusinya dengan penuh kasih sayang kepala Rini yang kini bersandar di
dadanya. Pakde mendapatkan kepuasan yang luar biasa dengan hadirnya Rini ini.
Dari balik pot-pot yang tidak jauh dari sofa
Pakde dan istrinya Herman terduduk loyo. Sekali lagi ia semakin tak mampu
berkilah lagi. Kepengecutannya sebagai lelaki membuat semakin tak mungkin mampu
menyaingi kelebihan Pakdenya. Kesalahannya yang membuat tenggelam dalam judi
togel itu membuat dia benar-benar tak lagi merasa punya hak untuk marah maupun
cemburu. Dia akan sepenuhnya menerima apa yang dilakukan Pakde pada isterinya.
Dari berbagai sudut dia sudah salah dan kalah total. Apalagi nampaknya Rini
sendiri akhirnya demikian menikmati hubungannya dengan Pakde. Mungkin juga bagi
Rini Pakde lebih bisa memberikan kepuasan nafsunya dibanding dia. Ya,
sudahlah..
Yang kini masih dia miliki adalah hak untuk
ikut menikmati. Dia jadi begitu menyala birahinya kalau melihat isterinya
di'entot' orang lain. Dia sangat terobsesi saat melihat wajah isterinya begitu
histeris oleh kenikmatan syahwat yang diterima dari Pakde. Dia sangat terobsesi
pula saat melihat isterinya begitu rakus menjilati dan minum air mani Pakde
Karto. Rasanya Herman juga ikut merasakan bagaiman lendir hangat Pakdenya
mengalir membasahi tenggorokan isterinya. Dan lepas dari semua hal itu, yang
benar-benar melegakan Herman sekarang adalah lunasnya hutang-hutangnya dari
Pakde Karto. Dia kini siap menjalani hidup baru tanpa beban hutang-hutang. Dia
kini bertekad untuk tidak lagi main togel. Dia akan mencoba menepis godaan
teman-temannya. Atau mungkin dia tak akan bergaul lagi dengan mereka. Karena
merekalah kini Herman merasa sengsara. Dan nyatanya pada saat seperti ini
mereka tak mampu membantu apapun.
Terlihat Pakde dan isterinya bangkit dari sofa
menuju ke kamarnya. Adakah mereka akan melanjutkan permainannya. Sangat mungkin.
Bukankah situasi macam begini yang Pakde impikan sejak pertama kali beberapa
waktu yang lalu dia melihati Rini tanpa berkedip. Dan bagi Rini, bukankah
lelaki macam Pakde ini yang telah terbukti bisa memuaskan syahwat birahinya?!
Dan bagi Herman, apa yang bisa dibuat selain
kembali ke lubang pengintaian di balik dinding kamarnya?! Rupanya sate kambing
tadi telah memberikan semangat dan kekuatan pada semua orang.
Dari kamarnya Herman melihat Rini langsung
rebah ke ranjang. Dalam jubah tidurnya yang nyaris tak dipakai secara utuh,
Rini setengah tengkurap memeluki bantalnya. Nampak kaki dengan paha dan
betisnya yang tersingkap dari pakaiannya terjuntai ke tepian ranjang. Dan Pakde
dengan jubah tidurnya yang telah terbuka pula siap menyusul. Tetapi tidak.
Pakde tidak menyusul naik ke ranjang. Pakde kini simpuh di lantai tepat di
ujung kaki Rini. Apa yang akan dia lakukan? Ah, ini sangat menarik, pikir
Herman.
Pakde pelan menjamah kemudian mengelusi kaki
Rini. Dia raba betisnya yang 'merit' itu. Kemudian nampak kepalanya menunduk.
Pakde mencium kaki Rini. Mencium telapak kakinya. Menciumi kemudian menjilati.
Kemudian juga mengulumi jari-jari kakinya. Jari kaki Rini yang selalu terawat
apik itu demikian indahnya dalam kuluman Pakde. Dan Rini seakan kena stroom
ribuan watt langsung berteriak mendesisi-desis.
Dia terbangun-bangun menahan geli yang
menjalari kakinya. Tanpa terpengaruh oleh ulah isterinya nampak Pakde sangat
tenang. Ditahannya dengan tangannya yang kuat kaki-kaki Rini sehingga
berontaknya tidak membuat lepasnya kaki dalam pagutannya. Jilatan dan kuluman
bibir dan lidah Pakde semakin meratai telapak kaki dan mulai naik ke betisnya.
Gelinjang nikmat membadai menghempas-hempaskan gelegak nafsu Rini.
Bersambung...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar