.jpg)
Sepulang dari kantor Pakde kulihat Mas Herman
sangat tegang, kasihan. Aku berjanji pada diriku, apapun aku akan bantu
suamiku. Aku ingin meringankan bebannya. Dia langsung duduk bengong, linglung.
Aku sodorkan segelas air putih yang langsung diminumnya habis. Dia belum juga
ngomong. Diserahkannya padaku amplop yang penuh. Loh, kok dapat malahan uang,
pikirku. Aku langsung membukanya. Kudapati segepok uang dan secarik kertas. Aku
belum juga ngerti makna semua ini.
Pakde Karto akan menjemput kami besok pagi.
Apa maksudnya? Mau menjemput kemana? Dengan penuh tanda tanya aku
goyang-goyangkan tubuh Mas Herman. Akhirnya dengan tersendat-sendat dia bicara
dan bicara. Aku mencoba menangkap kata per kata. Kemudian aku mencoba memahami
rangkaian kata-kata tadi. Hingga akhirnya aku tetap tak mengerti bahwa seorang
Pakde Karto akan caranya yang demikian buruk untuk bisa mendapatkan dan
menikmati tubuhku. Ah, kenapa mesti begini..?!
Tetapi yang sesungguhnya paling menyedihkan
dan langsung membuatku sangat kecewa adalah sikap Mas Herman sendiri. Dia sama
sekali tidak menunjukkan kapasitasnya sebagai suami. Dia ternyata hanyalah
seorang pengecut. Dia dengan begitu tega mengorbankan aku sebagai isterinya.
Dengan dia menerima amplop berisi uang yang kini ditanganku berarti dia benar-benar
telah menjual aku dan menjadikan aku sebagai alat untuk membayar
hutang-hutangnya dengan sama sekali tidak membicarakannya padaku terlebih
dahulu. Dan kini, aku harus dan harus menerima buah kepengecutan dia. Aku
langsung limbung. Kulihat dinding-dinding kamar oleng dan jungkir balik.
Tubuhku sangat lunglai dan aku langsung terjerembab ke lantai. Aku kini merasa
sebatang kara tanpa ada seorangpun yang melindungiku. Fungsi Mas Herman sebagai
suami sudah musnah karena kepengecutannya. Dia tak akan pernah mampu
menyelamatkanku lagi.
Kurasakan tangan Mas Herman menarikku bangkit.
Pelan-pelan aku bangun dari lantai dan langsung lari ke kamar tidur. Pintunya
kubanting dan aku mengunci diriku. Aku rebah tergolek dan tersedu di ranjang.
Ketukan pintu yang bertubi-tubi dari Mas Herman tak kudengarkan. Kini yang
hadir dalam hati dan pikiranku adalah rasa marah, kecewa dan dendam. Aku marah,
kecewa dan dendam kepada kehidupan ini. Kepada ketidak mampuan dan segala
kelamahan yang aku alami. Kepada sikap suamiku yang bagitu mengabaikan saat aku
melarangnya berjudi. Dan tetap tak habis heranku memikirkan rencana Pakde Karto
itu yang jelas-jelas mengorbankan hubungannya dengan keponakannya. Ber-jam-jam
aku tidak keluar dari kamar. Pikiranku terus melayang-layang memikirkan banyak
hal-hal. Aku menerawang jauh ke hari depan yang begitu gelap dan mendung.
Aku keluar kamar menjelang malam. Tak kujumpai
Mas Herman. Kulihat amplop di meja setengah terbuka. Kuambil. Ternyata isinya
tinggal separuh.
Edaann.., sungguh edaann.. kamu Mas.., dalam
situasi begini kamu masih menyempatkan pergi untuk ke bandar togelnyaa..!!
Edaann..!!
Tiba-tiba aku hatiku jadi menyala berkobar..
Kalau begini jadinya, sudahlah.. terjadilah apa yang mesti terjadi. Seperti
dicambuk jilatan geledek dan petir aku bangkit sebagai banteng betina yang
sangat marah dan kecewa. Aku mau bebas. Aku mau merdeka. Dan, ah, aneh.., tekad
itu langsung membuat marah, kecewa dan dendamku langsung pupus. Kebebasan dan
kemerdekaanku membuka kesadaranku bahwa aku tak perlu tergantung siapapun. Dan
yakin mampu berjalan sesuai dengan rasa bebas dan merdekaku.
Sikap itu langsung membatu dalam diri
sanubariku. Aku akan mengambil langkahku sendiri. Kini kuyakini, akulah yang
harus mengambil keputusan untuk diriku sendiri. Tak ada lagi suami atau Mas
Herman. Yang ada hanyalah aku yang sendirian dengan hari-hari depanku sendiri.
Aku akan jalani apa yang mesti aku jalani. Aku akan jemput Pakde Sastro sesuai
dengan kebebasan hatiku. Aku akan layani dan puaskan hausnya nafsu hewaniah
Pakde Sastro. Aku akan mereguk kenikmatan syahwatku yang selama ini tak
sepenuhnya kudapatkan. Aku akan tunjukkan pada Herman bahwa aku kini bebas
se-bebas-bebasnya.
Cerita Pakde Karto
Setiap mengingat bahwa aku ini hanya jebolan
SMP dari desa kecil di kecamatan Sleman, Yogyakarta, yang kalau aku turun di
terminal saat pulang kampung masih memerlukan 1 jam lagi berjalan kaki dan
nyeberangi kali hingga sampai ke rumahku di kaki bukit Menoreh, maka aku merasa
bahwa apa yang kini aku bisa raih di Metropolitan Jakarta ini sungguh
membanggakan.
Dan kalau aku pulang kini, ibaratnya aku cukup
dengan duduk di jok empuk sambil nginjak-injak rem serta gas mobil Panther-ku
sejak start dari pintu garasi rumahku di Jakarta hingga turun di samping
kandang sapi orang tuaku di desa kecil di kecamatan Sleman itu.
Jakarta memang memberi apa yang kuminta.
Usahaku yang menyalurkan tembakau untuk pabrik-pabrik rokok kecil di Jakarta
membuahkan hasil. Aku menjadi pusat omongan di desaku.
Kalau kudengarkan omongan orang desa, aku kini
sudah menjadi orang yang pantas menjadi contoh mereka. Nggak tahu dari mana
asalnya, kalau mereka ketemu mereka memanggilku dengan 'den Karto'. Aku nggak
menampik panggilan itu. Aku anggap bahwa itu urusan mereka.
Yaahh.., semuanya itu karena kerja keras dan
uang yang kuhasilkan. Terbukti dengan uang aku bisa meraih banyak kesenangan.
Makan enak, rumah, beberapa mobil dan kesengan lainnya.
Bahkan biarpun umurku sudah 57 tahun dengan
uang itu aku tetap dengan gampang menggaet gadis atau janda manapun yang
kumaui. Memang menurut orang-orang aku juga termasuk lelaki yang memiliki
tampang dan seksualitas yang lumayan.
Saat ini aku lagi kesengsem sama Rini istri
Herman keponakan sepupuku. Pada awalnya Herman menemuiku di kantor untuk minta
bantuan keuangan padaku. Aku memberikan bantuan ala kadarnya. Aku pikir nggak
baik terlalu gampang pada famili, nantinya bisa jadi repot. Saat pulangnya,
karena memang masih ada hubungan famili, aku antar pulang ke rumahnya untuk
melihat keadaan rumah tangganya. Saat itulah aku lihat Rini. Isteri Herman ini
benar-benar cantik dan manis. Pikiranku langsung terganggu. Aku tahu, perempuan
macam Rini ini akan sangat galak dan panas saat di ranjang. Dengan warna kulit
yang coklat hitam manis, dengan postur jangkung dan bahunya yang bidang indah
itu, aku pastikan Herman kewalahan menghadapi birahinya Rini. Lihat, betisnya
itu. Betis yang 'merit' bak padi Cianjur yang matang dan padat sebelum dituai.
Itu menandai bahwa nafsu perempuan ini tak mudah terpuaskan.
Aku langsung kasmaran. Dalam hatiku aku
langsung bertekad. Rin, kamu pasti akan tidur bersamaku. Aku akan meraihmu,
lambat atau cepat. Sejak saat itu aku selalu menunggu kesempatan. Aku tak
pernah menolak permintaan pinjaman uang Herman, karena memang aku selalu
gunakan kesempatan itu untuk melihat Rini.
Suatu saat bisnisku mendapatkan kesulitan
keuangan. Tagihan-tagihanku agak tersendat karena para langgananku mengulur
waktu pembayarannya. Sementara para pemasokku yang dari berbagai daerah gencar
banget menagih aku. Bahkan salah satu dari mereka mengancam aku secara fisik
hingga aku khawatir akan keselamatanku maupun keluargaku. Aku menghadapi krisis
berat, krisisnya bisnis di tengah metropolitan yang kejam. Aku kewalahan. Aku
coba tengok-tengok kembali dimana uang-uangku. Dimana tunggakan-tunggakan macet.
Dan kudapatkan dari sekian penunggak hutang
salah satunya adalah Herman. Ternyata pinjaman Herman padaku sudah kelewat
besar dan telah jauh melewati batas waktu pembayaran. Ah, ini tak boleh
kubiarkan. Aku tahu bahwa tak akan gampang bagi Herman melunasi hutang-hutang
ini. Tetapi aku harus menagihnya. Bukankah terakhir ini dia suka pasang lotere
buntut. Siapa tahu dia dapat pukulan telak yang bisa langsung melunasi seluruh
hutangnya. Dan kalau toh tak bisa juga?
Bukankah ada Rini istrinya yang sangat seksi
itu? Aku pikir biarlah hutang itu kuanggap lunas kalau aku bisa meniduri Rini
barang 2 atau 3 hari saja. Kini kuperintah orangku untuk mendatangi Herman dan
mengajukan surat tagihannya.
Setelah beberapa kali mencari-cari orangku tak
berhasil menemui Herman aku mulai kesal. Masak bantuan dan kebaikanku padanya
selama ini tidak dihargai. Setidak-tidaknya ada omongan atau janji kapan,
begitu loh. Aku tersinggung dan marah. Herman ini mesti dikasih pelajaran. Dia
harus tahu bagaimana aku Pakdenya menyelesaikan masalah-masalahnya. Aku harus
cari siasat. Aku coba pikirkan dan analisa.
Kesimpulanku akhirnya, bahwa Herman tak akan
mampu membayar hutangnya. Kuhitung telah lebih dari 15 juta rupiah, belum
termasuk bunganya. Itu jumlah yang besar buatku kini. Aku tak mau rugi. Aku tak
mau hasil jerih payahku begitu saja diambil Herman yang memang dasarnya pemalas
itu. Aku harus mendapatkannya kembali uang itu. Kalau nggak bisa juga, aku
harus dapatkan pengganti yang kira-kira nilainya sepadan. Rini, istrinya!
Kini Herman tinggal pilih, bayar hutang dengan
uang atau Rini. Aku bergegas ke mejaku. Kutulis surat untuknya. Kuperintahkan
orangku kembali mengantarkannya dengan pesan, kalau tak ketemu Herman, serahkan
saja ke isterinya, suruh dia baca untuk disampaikan ke suaminya. Aku bersiasat
dengan memberikan nada harapan pada surat itu. Aku minta datang ke kantor siang
hari itu. Aku bilang jangan khawatir, ada jalan keluar yang sama-sama
menguntungkan, tulisku.
Nah, akhirnya datang juga si pecundang ini.
Dengan diantar Satpam dia masuk keruangan kerjaku. Aku menampakkan wajah
sangarku. Kuperintah Satpamku agar menunggu dan mendengarkan bicaraku. Nampak
wajah lelahnya. Aku bicara garang tentang hutangnya yang sama sekali belum
dibayar. Aku berikan padanya kesempatan untuk mendengar bicaraku atau urusannya
jadi lain. Nada bicaraku kubuat sangat menekan dia. Dan ternyata Herman
langsung menyerah. Dia bilang terserah bagaimana aku. Yang penting dia ingin
lekas terbebas dari hutang-hutangnya yang menumpuk itu.
Aku langsung bayangkan bahu bidangnya Rini.
Juga betisnya yang bak beras Cianjur yang matang itu. Kutolehkan kepalaku ke
Satpam. Kusuruh dia keluar ruangan. Kemudian aku mendekat ke Herman, kupegang
bahunya dan kudekatkan bibirku ke telinganya, aku berbisik. Kuucapkan apa
mauku. Aku mau mengajak Rini ke villaku selama 3 hari dan aku mau juga dia ikut
untuk menggantikan tugas pelayanku yang kusuruh pulang selama aku bersama Rini
di sana. Hal ini aku lakukan agar pelayanku itu tidak melihat apa yang kuperbuat
dan lapor pada istriku. Kutekankan pula bahwa semua ini karena ulahnya yang
tidak bertanggung jawab. Dia harus menerima pelajaran dariku.
Aku belum selesai bicara saat kulihat Herman
nampak limbung dengan cahaya matanya yang layu. Dia rebah lemas ke lantai. Aku
panggil kembali Satpamku untuk mengurusinya. Kuserahkan amplop berisi 20 lembar
ratusan ribu rupiah berikut sedikit catatanku agar Rini bersama dia telah siap
aku jemput besok jam 7 pagi. Aku percayakan pelaksanaan selanjutnya pada
Satpamku, aku tinggalkan ruangan. Aku monitor sorenya. Tidak ada reaksi
penolakkan dari Herman. Yaa.., dia nggak mungkin punya lain pilihan. Dan
mengenai Rini. Aku yakin Rini tak akan menolakku. Aku masih ingat beberapa hari
yang lalu saat aku mencuri ciuman dibibirnya, dia tidak menunjukkan kemarahan.
Ah.. besok aku akan menikmati tubuh sensualnya. Aku menggigil menahan gelora
birahiku yang langsung menyala.
Tiga hari di Villa Rimbun Ciawi
Pada suatu pagi hari, sekitar jam 7 pagi
sebuah sedan Honda Civic keluaran terbaru dengan remnya yang berdernyit
berhenti di depan rumah keluarga Herman. Seorang sopir yang amat sopan nampak
turun, masuk kehalaman dan memberikan salam hormat kepada nyonya rumah yang
rupanya sudah nampak tak sabar menunggunya. Tidak terlalu lama sang sopir
menunggu, tuan dan nyonya rumah mengambil koper atau cangkingan lainnya yang
telah disiapkan sebelumnya. Sesudah semua barang bawaan masuk ke begasi, Herman
sang tuan dan Rini sang nyonya memasuki mobil. Ada sedikit insiden kecil. Rini
mau Herman duduk di depan bersama sopir dan dia sendirian di belakang. Semula
Herman menolak, dia ingat pesan Pakdenya mereka harus nampak sebagai suami
istri yang akan memakai villanya.
Tetapi melihat kukuhnya Rini akhirnya Herman
mengalah. Sepanjang hampir 1 jam perjalanan keduanya tidak banyak bicara. Hanya
sesekali terdengar Herman ngomong sama sopir mengenai apa yang nampak sepanjang
perjalanan. Adapun Rini kelihatannya sedang berusaha untuk menenangkan dirinya.
Dia yang telah memutuskan dirinya sebagai pengambil keputusan bagi dirinya
sendiri kini nampak tegar dan yakin akan keputusannya sebagai orang yang bebas
dan merdeka untuk menentukan apapun yang terbaik bagi dirinya.
Bersambung...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar